Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#18


__ADS_3

Hai readers... maaf banget author updatenya telat. Karena ada hal-hal yang diluar ekspektasi author sehingga menghambat author menyelesaikan cerita ini.


So, Happy reading aja ya…


*********************


"Ayah," Maryam ingin protes. Namun saat melihat Qameella menjauh buru-buru wanita itu beranjak dari duduknya. "Lala..."


"La, elo mau kemana? Ini rumah kita, rumah lo juga," Qarmitha segera beranjak dan menahan kepergian saudari kembarnya.


"Ya, Nak. Lala tidak boleh pergi. Mama sudah susah payah membujuk Lala pulang. Sekarang baru sebentar tinggal di rumah, masa sudah mau pergi lagi?" bujuk Maryam suaranya terdengar bergetar. Wanita itu berjalan menghampiri lalu berdiri di hadapan putri yang sangat dirindukannya itu. Matanya sudah menua tampak basah oleh air mata.


"Mama masih kangen Lala," lanjutnya lirih.


Qameella speechless. Dipandangnya Maryam dan Qarmitha bergantian.


"Tolong jangan diambil hati ucapan Ayah. Lala kan tahu gimana sifat Ayah. Kaku, egois dan sedikit otoriter juga diktator," Maryam memelankan suaranya pada kalimat terakhir ucapannya agar orang dimaksud tidak marah.


"Iya, La," timpal Qarmitha seraya menganggukkan kepala.


Qameella tersenyum kecil menyambut keramahan kedua orang yang hampir dilupakannya. Ya, dia memang hampir lupa bila dia adalah salah satu anggota keluarga. Sejak memutuskan hidup sendiri jauh dari keluarga. Dia selalu merasa sendiri dan sebatang kara. Hanya mengingat yang orang telah mati. Malah mengabaikan orang-orang yang masih hidup. Sungguh sangat ironi!


Gusti masih berada pada tempatnya, tidak bergeser sedikit pun. Tatapan matanya pun bertambah tajam menunjukkan ekspresi ketidaksukaan.


Kepekaan Qameella menangkap bahwa dirinya tidak lagi diinginkan keberadaannya di sini oleh pria yang dipanggilnya Ayah. Seorang yang sudah terlalu banyak membuatnya lebih mencintai kesendirian dalam kesunyian, di bandingkan keramaian dan kebisingan di kelilingi manusia-manusia dengan beraneka rupa, baik fisik maupun sifat.


Maryam dan Qarmitha berhasil membawa Qameella kembali duduk.


Gusti membenarkan posisi duduknya.


"Ayah sudah menetapkan pernikahan Thatha dan Dicky tiga bulan lagi," ujarnya tidak lagi menyinggung Qameella.


Qarmitha sangat senang mendengar kabar ini. Hampir melompat bersorak kegirangan.


Maryam langsung memeluk Qarmitha bahagia.


Qameella pun turut senang dengan rencana pernikahan saudari kembarnya. Memberinya pelukan hangat serta ucapan selamat. Akhirnya Qarmitha tetap yang paling beruntung dalam segala hal. Pikirnya.


"Dan Ayah menginginkan Lala sudah mempunyai calon pendamping saat itu. Maka dari itu, Ayah sudah mengatur perjodohan untuk Lala dengan anak kenalan Ayah," lanjut Gusti sontak menghentikan kegembiraan yang terpancar di wajah wanita-wanita di depannya.

__ADS_1


Tubuh Qameella membeku. Tatapan matanya nanar melihat sang Ayah.


"Ayah, gak boleh sembarang memutuskan sebelum berbicara terlebih dahulu sama Lala," suara Qarmitha menginterupsi.


"Mengapa Ayah harus berbicara terlebih dahulu padanya? Sedangkan selama ini dia sendiri tidak pernah peduli dengan masa depannya," Gusti terang-terangan tidak ingin mengakui kesalahannya.


"Tapi, Yah... seenggaknya Ayah hormati..."


"Mengapa Ayah harus menghormatinya?" sela Gusti tidak ingin disalahkan. Menegakkan tubuhnya menunjukkan arogansinya pada Qarmitha. Satu-satunya putri Gusti yang biasa menjadi rival dalam adu mulut.


Mulai deh dramanya... hhh...


Kepala Qameella terasa mulai berdenyut sakit. Ingin rasanya ia kabur dari situasi ini. Sungguh melelahkan hati dan akal sehatnya.


"Anak yang tidak pernah menghormati orang tua."


Mendadak semua yang ada dalam ruangan terdiam.


"Anak yang selalu menyusahkan. Anak yang selalu membuat malu keluarga."


"Ayah!" pekik Maryam menghentikan Gusti. "cukup!" wanita itu tidak mau mendengar semua cacian Gusti.


Qameella tidak lagi bisa menahan air matanya lagi. Bulir-bulir bening itu luruh dari pelupuk matanya. Hatinya terlalu sakit dan perih menahan kata-kata Gusti yang terasa menusuk.


Maryam menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, meredam suara tangis yang tidak dapat ditahannya. Tubuhnya bergetar dengan bahu naik turun.


Qarmitha tidak bisa lagi membela saudarinya setelah melihat amarah Gusti. Dia hanya menatap pilu sang kakak seraya menepuk lalu mengelus pelan bahunya.


Qameella menatap sendu saudarinya itu. Menyentuh lengan Qarmitha, menganggukkan kepala seolah dia berkata, 'Jangan khawatir gue gak papa, gue baik-baik aja.'


Dengan wajah merah padam Gusti tiba-tiba bangkit berdiri. Tatapan matanya tajam seakan menembus tubuh Qameella. Yang ditatap pun hanya diam pasrah tidak dapat berbuat apa-apa.


"Besok, jam sepuluh pagi, Ayah sudah mengatur pertemuan kamu dengan anak kenalan Ayah di kafe jalan Kali Malang," tuturnya tegas dan tidak mau dibantah.


"Jika kamu masih menganggap Ayah sebagai orang tua kamu, maka datanglah tepat waktu," begitu ucapnya sebelum beranjak pergi.


Qameella speechless. Hatinya tercabik tapi tak nyata. Rasanya sakit mendengar keputusan Gusti. Mendadak dia merasa menjadi orang yang jahat bila menuruti keinginan Gusti. Karena mengkhianati cintanya pada Garda. Sementara jika menolak, maka dia akan dicap sebagai anak durhaka.


*

__ADS_1


Malam ini Qameella kembali tidur di dalam kamarnya sendiri. Ya, malam ini dia memutuskan tidak kembali ke rumah kontrakannya. Sudah lama tidak pulang kini rumah ini terasa asing di matanya. Semula berencana akan tidur di kamar Qarmitha sambil mengobrolkan tentang Dicky. Tetapi, obrolan setelah makan malam tadi yang berakhir dengan kemarahan Gusti. Membuatnya memutuskan untuk menenangkan diri dalam kamarnya sendiri.


Di dalam benaknya masih terekam jelas setiap kata-kata Gusti. Terasa pahit dan terdengar berisik menabuh gendang telinganya. Hingga menggema menembus tengkorak kepalanya.


Malam yang sulit untuk Qameella menemukan ketenangan. Sampai membuatnya kesulitan untuk dapat tertidur pulas. Padahal sudah satu jam lebih Qameella membaringkan tubuhnya dalam gelungan selimut. Matanya nyalang dan terasa sepat untuk dipejamkan. Gara-gara memikirkan pertemuannya dengan seorang lelaki yang


pilihan Gusti. Pikirannya menjadi berlarian tanpa arah dan tujuan. Walau pun pertemuan itu belum terjadi. Tetapi dia sudah memikirkan hubungan yang akan dijalaninya bersama lelaki itu. Benar-benar membuatnya resah. Hhh... Qameella menghela napas berat.


Wajah yang sangat mirip dengan Qarmitha bila Qameella menanggalkan kacamata minusnya. Tampak suntuk tidak ada gairah. Kemudian menyibak selimutnya, beranjak bangun dari pembaringannya. Dan memutuskan turun dari tempat tidurnya. Berjalan menuju jendela kamar yang tertutup tirai putih.


Dari balik tirai samar-samar Qameella bisa melihat cahaya bulan berpendar di tengah gulitanya malam. Sepertinya sang rembulan sedang bercanda padanya, memberikan senyum ironi atas jalan hidupnya yang tak indah ini. Sedih, itulah yang dirasakannya saat ini. Tidak ada tempatnya mengadu. Walau pun Maryam dan Qarmitha selalu siap sedia mendengarkan curahan hatinya. Namun dia tidak bisa mencurahkannya. Jangan tanyakan mengapa, karena inilah yang terjadi padanya.


Qameella memutar tubuhnya membelakangi jendela. Lalu sengaja menyandarkan tubuhnya pada kusen jendela.


Mendongakkan wajahnya ke atas, memejamkan mata sejenak. Hening dan sunyi menyelimuti ruangan berukuran tiga meter itu. Perlahan pikirannya pun tenang. Tapi saat membuka mata kembali, kegelisahan kembali melanda hatinya.


Garda sayang... maaf bila saya gak lagi bisa setia pada cinta kita. Karena harus menjalani fitrah manusia pada


umumnya. Tapi kamu harus selalu percaya, bahwa cinta saya akan selalu ada untuk kamu. Gak peduli jika suatu saat nanti ada lelaki lain yang menggantikan posisi kamu di samping saya. Cinta saya masihlah hanya untuk kamu. Batin Qameella lirih.


*


Pukul sepuluh pagi. Qameella tiba di kafe yang telah ditentukan Gusti. Ragu namun tetap melaju masuk melewati pintu kaca kafe. Gadis yang kini sudah berusia dua puluh lima tahun itu duduk di meja dekat dengan jendela. Entah lelaki model seperti apa yang akan ditemuinya nanti. Apakah dia gemuk atau kurus. Mungkin kah dia tinggi atau pendek. Ganteng atau jelek. Klimis atau malah berantakan. Karena Gusti tidak menjelaskan apa pun tentang lelaki yang akan ditemuinya saat sebelum berangkat dari rumah. Selain menyebut nama Mirza, merupakan nama dari lelaki itu. Qameella pun tidak bisa menebaknya dengan pasti. Karena dia bukan cenayang atau ahli nujum.


Sejak memasuki pintu kafe, Qameella sudah menyisir seluruh ruangan. Hanya ada empat atau lima meja yang telah terisi oleh pelanggan. Di antara mereka ada yang bersama pasangan, teman dan ada juga yang duduk sendiri seakan sedang menunggu seseorang. Lagi, lagi Qameella tidak berani berspekulasi. Khawatir akan keliru mengenali orang yang memang kenyataannya tidak kenal. Jadi, dia memutuskan duduk diam di tempat sambil menikmati jus dan kudapan ringan. Berhubung masih pagi perut belum lapar, tidak ada salahnya makan yang ringan-ringan saja. Tentu sambil menunggu lelaki itu datang menghampirinya.


Syukur-syukur dia gak jadi datang. Semoga aja begitu. Pikirnya penuh harap.


Suasana dalam kafe ini tidak terlalu ramai pelanggan pada saat ini. Hingga tidak terlalu riuh. Karena kafe ini akan ramai pada saat menjelang jam makan siang, atau setelah makan siang hingga sore dan malam. Apalagi pada hari minggu seperti ini, pelanggan yang datang pasti akan lebih banyak dari hari biasanya. Lumayan sedikit banyak dapat menenangkan pikiran Qameella yang sedang ruwet.


Setelah menyesap sedikit jus yang sengaja dipesan tidak dingin, dia melihat pandangannya keluar jendela. Sementara kudapan yang dipesannya masih utuh belum tersentuh.


Qameella melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Kemudian melihat ke sekitar untuk memastikan apakah orang yang ditunggunya sudah tiba atau belum.


Mungkinkah orang itu gak jadi datang? Tiba-tiba batinnya bertanya setelah lima belas menit berlalu.


Itu artinya... syukurlah bila dia gak datang. Saya jadi punya alasan buat menggagalkan perjodohan ini.


Qameella tersenyum samar. Dalam hati dia memiliki niat pergi mengunjungi tempat peristirahatan terakhir Garda, setelah keluar dari kafe ini. Dan akan kembali pulang setelah selesai menghabiskan waktu di luar. Entah akan pergi kemana itu urusan nanti. Yang terpenting saat ini harus keluar dari kafe ini terlebih dahulu.

__ADS_1


*


Ceritanya sampai di sini dulu ya. Kita sambung lagi nanti dengan kejutan-kejutan yang gak akan kalian duga. Oke, see you at next episode...


__ADS_2