
Siapkan tisu ya readers... episode kali ini mengandung bawang. Juga jangan lupa nyalain kipas angin atau AC ya karena sedikit panas pada part ini hehehe...
Happy reading...
****************
Entah sudah berapa ribuan tetes air mata yang dikeluarkan oleh Meella dan Mitha hari ini. Hingga mata mereka sembab. Mengurung diri dalam kesunyian. Walaupun berada di tempat berbeda keduanya memiliki kebiasaan yang sama.
Mitha masih terisak di dalam kamar pengantinnya, yang sudah hancur berantakan oleh ulahnya sendiri yang sunyi. Dia sengaja mengacak dan menghancurkan semua dekorasi yang sudah tertata rapi. Mulai dari taburan kelopak bunga mawar merah dibentuk hati di atas seprei putih. Sepasang boneka angsa yang sengaja diletakkan dekat taburan kelopak bunga mawar. Juga bunga-bunga hidup serta balon-balon yang dibentuk sedemikian rupa ditempel di dinding kamar pengantin. Kini tampak hancur lebur tak berbentuk. Setelah mendudukkan bokongnya di lantai yang dingin bersandar di bawah tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya.
Sementara Meella, setelah masuk ke dalam apartemen mewah milik Garda yang juga sama sunyinya. Gadis itu tidak kuasa menahan bulir air mata menetes dari pelupuk matanya. Saat telapak kakinya baru menapaki di ruang tamu yang sangat hening, tanpa adanya tanda-tanda kehidupan kecuali bersumber hanya padanya. Langsung ambruk jatuh terduduk di lantai yang dingin, dengan posisi kedua lututnya mendarat terlebih dahulu. Baru kedua kakinya menekuk ke belakang setelahnya, bersamaan dengan tas tangan yang dibawanya juga menyentuh lantai marmer di bawahnya.
Meella sedang patah hati yang entah sudah keberapa kalinya. Lantaran tidak bisa mempertahankan hubungannya dengan Mirza. Ups, ralat! Bukan tidak bisa tapi tidak mau, karena rasa malu yang tidak bisa mempertahankan kehormatan diri sendiri. Tidur dengan lelaki lain. Juga rasa sakit hatinya pada Raisya selaku orang yang paling bertanggung jawab atas dosa yang ditanggung Meella.
Walau pun saat di gedung pernikahan tadi pagi, setelah hampir dua bulan tidak pernah bertemu. Meella tidak sengaja berjumpa Mirza. Tanpa rasa malu pria itu masih menginginkan dan memintanya kembali. Dia pun berjanji mau menerima Meella apa adanya. Dengan mengesampingkan penghianatan yang tidak sengaja dilakukan Meella. Karena ulah licik adik kandungnya sendiri.
Namun hal itu tetap saja tidak merubah pendirian Meella. Dia benar-benar tidak berani melangkah menapaki gerbang pernikahan bersama Mirza. Takut! Ya, Meella takut dan tidak punya banyak nyali menatap masa depan yang telanjur sudah hancur berkeping-keping. Mimpi-mimpi indahnya pun sudah sirna menyisakan kesuraman.
Selain itu, Meella juga sangat patah hati saat Gusti tidak lagi mengenalinya. Seakan wujud nyatanya bagai bayangan semu yang tidak terlihat oleh mata. Di mata pria yang dipanggil Ayah olehnya hanya ada sosok Mitha semata. Rasa sakitnya ini kian menambah deretan rasa tidak menyenangkan. Sungguh sangat menyiksa batinnya. Apalagi hingga detik ini Meella belum menemukan obat yang bisa menjadi penawar sakit hatinya.
"Tha, kenapa kamu tiba-tiba berpenampilan seperti Lala? Pakai kacamata segala," pria itu melirik wajah sendu Meella yang masih dianggap Mitha. Dengan seringai kecil dia mengalihkan pandangannya pada langit-langit berwarna putih di atas wajahnya.
Gusti mendengus berat.
"Ayah tahu kalian kembar. Tapi tolonglah, jangan mentang-mentang Ayah sakit, kamu mau kelabui Ayah dengan berpenampilan menyerupai Lala. Ayah mohon jangan ulangi lagi. Ayah bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi. Kesalahan Lala memang sangat besar dan mencoreng nama baik keluarga. Tapi kamu juga ingat, Tha... kamu juga punya masalah tidak kecil. Dan gara-gara hari ini nama baik keluarga kita tambah buruk di orang-orang."
__ADS_1
Dalam hati Meella nelangsa. Sang Ayah tidak bisa mengenalinya dengan baik. Entah sengaja atau tidak, tetap saja hal ini melukai hatinya.
Jauh di tempat sana, jauh dari tempat Meella berada. Tampak seseorang duduk dengan yang penuh selidik, tengah mengawasi Meella dari balik layar laptopnya.
Tanpa ada seorang pun yang tahu. Bahkan orang yang sedang diawasinya pun tidak menyadarinya. Bila orang itu sudah memata-matai Meella sejak lama. Juga sudah mengantongi informasi tentang aktivitas apa saja yang dilakukan gadis cantik berkacamata minus di sana.
Netranya sangat menelisik setiap gerakan yang dilakukan spontan oleh targetnya. Mulai dari awal masuk dengan posisi tubuh sedikit membungkuk disertai getaran yang menandakan sedang menangis. Lalu jatuh terduduk di atas lantai, melepaskan kacamata minusnya, menampakkan indahnya bola mata hitamnya. Terbukti dari ekspresi dan air mata membasahi pipinya, yang tertangkap dari layar yang sedang ditatapnya. Gadis itu berakhir terbaring di atas lantai dalam posisi miring. Entah pingsan atau malah tertidur setelah lelah menangis.
Menyaksikan gadis itu tidak baik-baik saja. Sontak ada perasaan aneh yang menjalar di sudut hatinya yang terdalam. Entah perasaan apa yang sedang dialaminya, dia tidak tahu dan tidak penting. Dia hanya tahu jika hatinya saat ini tengah berdenyut sakit disertai sesak. Hingga membuatnya tersiksa.
Mendadak matanya memanas juga perih. Sedetik kemudian ada titik bening yang meluncur dari sudut matanya. Refleks sebelah tangannya terangkat, dengan jari telunjuk mengacung menyentuh pipinya yang basah. Dan benar saja itu adalah air.
Air matakah? Mungkinkah dia menangis? Untuk apa dia menangis? Tapi dirinya bukan tipikal pria cengeng. Apa karena terbawa perasaan kah? Mungkin, mungkin saja. Walau terkesan aneh.
Meella tiba-tiba merasa Dejavu. Antara sadar dan tidak dia merasa tubuhnya melayang di udara. Kemudian dia mencoba membuka matanya yang terasa berat sedikit. Netranya yang bebas tanpa benda berlensa yang selalu menutupi kedua manik mata cantiknya, melihat ada sosok pria yang sedang membopongnya. Seketika tubuh Meella terasa hangat dalam pelukannya.
"Garda," gumamnya lirih.
Tidak lama tubuh Meella mendarat lembut di atas kasur. Tidak rela bila ditinggalkan sendiri, buru-buru tangan Meella segera terulur menyentuh juga menahan pergelangan tangan pria yang hendak beranjak pergi meninggalkannya.
Sontak pria itu terdiam membeku di tempatnya. Membisu tidak ada aksara merangkai kata meluncur dari bibirnya.
"Garda, saya kangen banget sama kamu. Tolong jangan pergi. Bawa saya bersama kemana pun kamu pergi. Jangan tinggalin saya sendiri lagi," pintanya lirih menahan kepergian kepergian pria itu.
Meella yang sepertinya sudah kehilangan kewarasannya, tiba-tiba menghambur dalam pelukan pria yang dianggapnya Garda. Tanpa tedeng aling-aling dia melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Berjinjit guna menyamakan tinggi badannya yang jauh lebih pendek dari sang pria. Dengan berani mendaratkan bibirnya pada bibir lawan jenisnya. Lalu memejamkan matanya.
__ADS_1
Meella benar-benar sudah hilang kendali. Mungkin karena sudah terlalu rindu pada Garda hingga tidak menghiraukan siapa pria yang dipeluknya ini. Apakah sedang bermimpi atau nyata otaknya sudah tidak mampu berfungsi dengan baik.
Ciuman yang dilakukan Meella sangat kaku. Dan hanya menempel tidak ada pergerakan apa pun. Namun Meella sangat menikmati dan meresapi sampai ke tulang sumsumnya.
Meella tersentak saat ciuman yang dilakukan berbalas. Tetapi tidak berusaha untuk melepaskan. Dia memilih menikmati setiap sentuhan bibir pria itu atas bibirnya.
Awalnya terasa lembut namun lama-kelamaan menuntut. Sampai perbuatan yang mereka lakukan tidak hanya sebatas ciuman semata. Kemudian berlanjut pada perbuatan panas membakar gelora jiwa.
Akal sehat Meella benar-benar sudah tidak bisa bekerja normal. Hilang semua logika dan kewarasannya. Malam ini Meella menyerahkan tubuhnya pada lelaki itu tanpa ragu. Tidak peduli dia sungguh Garda atau bukan. Dia hanya pasrah saat satu demi satu kain-kain yang menutupi tubuhnya dibuka oleh pria itu tanpa melepaskan lumayan di bibirnya.
Di otak Meella hanya ingin mencurahkan rasa cinta dan segenap rindunya yang sudah membumbung tinggi pada Garda. Tidak peduli bila perbuatannya seperti wanita ****** yang haus belaian tangan seorang pria.
"Garda... akhhh..."
"Bi..."
"I love you, Garda..."
"I love you more," bisik pria itu di telinga Meella.
Pergulatan Meella dan pria itu begitu panas di atas ranjang dengan tubuh polos. Keduanya menyalurkan perasaan yang tidak bisa diungkapkan hanya sekedar kata dan rangkaian kalimat indah.
***
Hai readers... maaf kelamaan update ya. lebih lama dari biasanya hehehe... maklum author lagi badmood. Dan emang lagi gak mood buat update juga sih. Tapi sekarang author langsung double update nih buat membayar penantian para readers.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak-jejak manjanya ya supaya author gak badmood lagi hehehe...
See you next episode ya...😘🥰❤️