
Hai… para readersku yang baik hati dan budiman… maaf ya tema cerita kali ini rada mengandung bawang dan gadi alias galau dikit hehehe... maklum authornya juga galau. Tapi bukan gadi ya... kalo author gagaje alias galau gak jelas wkwkwk ckckc...
Happy reading ya…
*****************************
Gusti sudah berulang kali mencoba melupakan semua ucapan wali kelas Qameella, saat penerimaan rapot ujian akhir semester genap. Namun masih belum bisa hingga membuatnya sulit tidur pada malam hari. Seperti kaset suara wanita itu terus saja berputar-putar di otaknya. Apalagi saat makan malam tadi Qameella berkali-kali mengatakan maaf karena sudah mengecewakannya dengan nilai rapot yang tidak memuaskan. Rasa sedih, terluka dan takut ditumpahkan menjadi satu dalam tangisnya. Berharap meminta pengampunan dari Gusti. Dan berjanji akan belajar dengan giat lagi kelak.
Walau pun dari penampilan luarnya pria itu tampak biasa dan terkesan tidak peduli dengan salah satu putri kembarnya, Qameella. Terkesan gadis polos itu tidak memiliki bakat dan minat di bidang apa pun. Tetapi di dalam hati dia sangat menyayangi putrinya itu. Dia pun tidak tega melihatnya menjadi seperti itu.
Entah tidak peka atau memang terlalu cuek sikapnya pada Qameella, sampai Gusti tidak pernah menanyakan apa keinginan salah satu putri kembarnya itu. Yang notabene jarang berbicara dengannya secara intens selayaknya teman. Selama ini dia hanya bisa menitah tanpa memberinya kesempatan untuk berdiskusi. Tidak seperti Qarmitha, putri kembarnya yang lain. Sikapnya lebih terbuka dan ekspresif. Sementara Qameella lebih tertutup dan cenderung pasif. Yang dia tahu anak itu terlalu penurut tanpa berani menuntut. Terkadang sorot matanya cenderung menunjukkan rasa takut jika menginginkan sesuatu. Atau malah hanya bisa memendamnya.
"Ada apa, Yah?" tegur Maryam duduk di sisi ranjang berlawanan dengan Gusti.
"Hm, Ma?" pria yang sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur, tersentak seraya menoleh melihat kehadiran istrinya yang dirasa tiba-tiba. Menampilkan senyum kaku yang terkesan dipaksakan.
"Sedari pulang dari mengambil rapot anak-anak, Mama perhatikan Ayah jadi murung dan pendiam. Ada apa?" selidik Maryam. "apakah ada masalah besar pada anak-anak di sekolah?"
Gusti menundukkan wajahnya sejenak seraya mengatur napasnya.
"Kenapa Ayah gak cerita sama Mama?"
Gusti tersenyum getir seraya mengelus lembut punggung tangan Maryam. Kemudian menceritakan semua kegusarannya pada wanita itu. Semburat kesedihan terpancar jelas di wajah pria itu. Tersirat sesal di hatinya atas apa yang terjadi pada putrinya. Selama ini dia selalu berpikir akan baik-baik saja. Namun kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Maryam menitikkan air mata setelah mendengar cerita dari Gusti. Hatinya pilu mengetahui kenyataan menyedihkan salah satu putrinya. Sama seperti suaminya, dia pun tidak menyangka hal itu. Putrinya terbilang anak rumahan yang tidak suka keluyuran seperti Qarmitha, saudari kembarnya. Gadis itu sangat bisa diandalkan dalam hal pekerjaan rumah. Namun baik Maryan mau pun Gusti tidak pernah mengarahkan Qameella untuk bersosialisasi di lingkungan luar rumah. Bahkan mereka tidak tahu, apakah Qameella punya teman atau tidak di luar sana?
"Yah, mungkin Ayah jangan terlalu mengekang Lala kedepannya. Biarkan dia berkembang, menikmati masa remajanya," cetus Maryam.
"Tapi Ayah gak mau Lala menjadi seliar Thatha, Ma..."
"Yah, Ayah lihat dulu sisi positifnya dari sikap Thatha. Dia cukup berkarya dan berprestasi. Lihat berapa banyak tropi yang memenuhi rumah kita?"
"Tapi, Ma..."
"Ayah, tolong beri kesempatan untuk Lala berekspresi. Ini demi perkembangan psikologisnya. Mama gak mau anak kita yang satu itu sudah banyak menderita... hiks hiks hiks," Maryam tidak kuasa menahan tangisnya jika mengingat penderitaan Qameella sewaktu kecil.
Dulu, setelah Gusti menjadi salah satu korban PHK. Akibatnya istri dan anaknya ikut terpuruk dan hidup serba kekurangan. Akhirnya untuk mengurangi penderitaan mereka selama tinggal di kota. Gusti memutuskan menitipkan Qameella pada adiknya di kampung. Sementara Qarmitha tetap ada dalam asuhannya bersama Maryam.
Semula Gusti pikir hidup salah satu putri kembarnya akan lebih baik dibandingkan dengan kehidupan mereka di kota. Karena dia percaya pada adiknya yang pada saat itu kehidupan ekonominya lebih mumpuni. Ditambah sang adik belum memiliki keturunan.
Sebagai orang tua yang menitipkan anak pada orang lain, dia tidak lupa akan kewajibannya. Meskipun ekonominya belum stabil Gusti selalu mengirimi uang jajan untuk putri tersayangnya. Sesekali menengoknya di kampung untuk melepas rindu sekaligus melihat kondisi sang putri.
Pada mulanya semuanya baik-baik saja. Gusti pun bahagia melihat putrinya diperlakukan dengan baik oleh adik kandung dan adik iparnya. Anaknya amat dimanja tidak ubahnya seperti anak kandung. Tetapi seiring berjalannya waktu semuanya berubah. Saat itu Gusti sengaja datang sendiri ke kampung tepat pada hari ulang tahun putrinya itu. Pria itu berniat memberikan kejutan manis sambil membawa hadiah kecil untuknya.
__ADS_1
Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara anak kecil menangis. Suara itu terdengar sangat familiar di indera pendengarannya. Suara yang hampir mirip dengan suara Qarmitha saat menangis. Karena bocah itu sangat manja dan cengeng bila dia berada di rumah. Kemudian dia mempercepat laju langkahnya agar cepat tiba di rumah adiknya itu.
"Ayah, Lala kangen... Mama..." lirih dan pilu suara anak itu mengusik rungu Gusti.
"Sedang apa kamu diam di situ?" Bentak seorang wanita muda itu berang dengan mata seakan menyala merah.
Bocah itu terperanjat kaget mendengar suara yang menggelegar di telinganya. Kemudian tubuhnya bergetar saat wanita yang biasa dipanggilnya Bibi, melempar satu bak penuh pakaian kotor ke wajahnya. Kala itu usianya baru berusia enam tahun. Tangan mungilnya tidak bisa menerima dengan baik. Hanya bisa pasrah mendapati dirinya nyaris terkubur oleh pakaian kotor yang baunya sangat menusuk hidung mungilnya. Lalu memunguti pakaian-pakaian yang jatuh berceceran di atas tanah satu demi satu. Setelahnya dimasukkan ke dalam bak cucian.
"Sana, cepat cuci semua pakaian kotor itu di sungai!" titahnya yang tidak bisa dibantah oleh gadis kecil itu.
"Iya, Bibi... Lala kerjakan semuanya. Tapi, tapi Lala lapar..."
"Dasar bocah tidak tahu diri. Kerjakan dulu tugasmu, baru kamu boleh makan," ucapnya sarkas.
Qameella kecil yang malang hanya bisa menangis dalam diam. Perutnya yang lapar terpaksa dibiarkan berpuasa dulu sampai pekerjaannya selesai.
"Kamu jangan hanya bisa makan dan tidur saja di sini secara gratis. Kamu harus bekerja untuk membayar sewa selama kamu tinggal di sini. Cepat kerjakan sekarang! Jika tidak, kamu tidak boleh tidur di dalam rumah. Jatah makan kamu Bibi kasih kucing!"
Brak!
Gusti terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Juga kenyataan pahit yang menimpa putri kesayangannya. Tanpa sengaja dia menjatuhkan barang bawaannya di tanah. Sontak wanita dan bocah yang menoleh ke sumber suara.
"Ayah, Ayah..." Qameella segera berlari memeluk Gusti yang langsung disambut hangat olehnya. Kemudian menggendong tubuh mungil itu.
"Oh, jadi begini caramu memperlakukan putriku yang katanya kau anggap seperti putrimu sendiri?" suara Gusti terdengar berat syarat akan amarah. Matanya memerah karena luapan emosi.
"Ayah, Lala mau pulang. Lala janji gak nakal lagi," ujar bocah polos itu pilu.
"Anakku tidak tinggal gratis di rumahmu. Aku setiap bulan mengirimi uang pada suamimu untuk putriku. Tapi mengapa kau bilang putriku tinggal gratis di rumahmu?" wanita itu tertunduk dalam. Mulutnya terkunci rapat tidak berani menyanggah.
Tidak lama berselang adiknya baru saja pulang dari ladang. Pria itu terkejut melihat keramaian di depan rumahnya. Tidak biasanya banyak orang yang datang ke rumahnya. Yang dia pikir tamu entah dari mana. Setelah tiba di rumahnya. Dia melihat sang kakak sedang memarahi istrinya sambil membentaknya hingga wanita yang dicintainya menangis.
Sejak saat itu hubungan persaudaraan Gusti dengan adiknya tidak lagi harmonis. Meskipun sang adik bersujud meminta maaf padanya. Hatinya terlanjur sakit dan sulit untuk diobati. Dan sejak saat itu pula rumah tangga adiknya ikut tidak harmonis hingga terjadi perceraian.
Mungkinkah karena trauma saat itu yang mempengaruhi Lala?
*
Qameella termenung seorang diri di dalam kamarnya. Duduk di atas kasurnya sambil memeluk kedua lututnya. Hatinya pilu mengingat nilai rapotnya yang tidak cukup memuaskan. Rasa khawatir dan takutnya begitu tinggi hingga nyaris membuatnya depresi. Bagaimana tidak, alih-alih ingin membuat bangga Gusti malah sebaliknya. Oleh sebab itu, dia mengira jika diamnya Gusti adalah bentuk kekecewaannya padanya yang tidak dapat dibanggakan sama sekali. Air matanya pun menetes membasahi pipinya. Akankah Ayahnya akan menghukumnya seperti saat kecil dulu? Sudah pasti dia tidak menginginkannya. Dia kapok!
Karena terlalu kalut memikirkan masalahnya sendiri, Qameella lupa memikirkan Garda. Entah cowok itu masih setia atau tidak padanya. Merindukannya atau malah membencinya, otaknya sulit memprosesnya. Padahal jauh di mata sana cowok itu selalu merindukannya. Siang dan malam tersiksa menahan berat menyimpan rindu yang menyesakkan dadanya.
"Ayah... jangan tinggalin Lala. Lala janji akan jadi anak yang baik juga penurut. Asalkan Ayah jangan tinggalin Lala lagi... Ayah..." lirih dan pilu Qameella meracau dalam mimpinya hingga mengigau. Berulang kali memanggil Ayahnya. Gadis itu benar-benar takut akan berpisah lagi dengan keluarganya lagi seperti dulu. Kemudian bayang-bayang kepahitan masa lalunya terbawa sampai ke alam tidurnya.
__ADS_1
Tidak lama berselang terbangun dari mimpi dengan peluh membasahi keningnya. Wajahnya pias dengan napas yang tidak teratur. Setelahnya dia mengusap wajahnya kasar. Namun dia malah sedih. Air mata pun meluncur begitu saja dari pelupuk matanya. Isak tangisnya memecah keheningan malam.
*
Gabut! Begitulah yang saat ini dirasakan Garda. Setelah tiga hari pasca pertemuan di depan sekolah. Dia masih belum bisa menemui pujaan hatinya, Qameella secara langsung atau menghubungi via telepon. Entah ponselnya masih disita oleh Gusti atau memang tidak punya pulsa. Garda tidak tahu pasti, yang jelas ponselnya masih tidak bisa dihubungi. Rasa rindunya meronta meminta ingin segera bertemu. Namun dia tidak bisa memaksakan kehendaknya sebelum mendapat persetujuan dari Qameella.
Tari yang selalu menjadi sebagai penyambung lidahnya dan Qameella, sekarang sudah tidak bisa lagi. Karena dua hari yang lalu gadis itu sempat bilang akan pulang kampung bersama keluarganya ke rumah kakeknya di Malang. Makliumlah saat ini sedang musim liburan akhir semester.
Garda pun sempat berpikir untuk menghubungi Qarmitha, saudari kembar Qameella. Namun setelah dipikir ulang dan menimbang semua peristiwa yang sempat mencederai hubungannya dan Qameella. Akhirnya dia memilih untuk mengurungkan niatnya.
Garda menghela napas panjang mendapati basecamp-nya yang selalu ramai dengan celoteh, canda, dan gelak tawa. Bahkan tingkah konyol mereka yang terkadang bikin geli juga emosi. Kini tampak sunyi dan sepi. Kemudian duduk di sofa tempatnya biasa diduduki. Termenung sendiri mengingat masa-masa yang pernah
dilewatinya bersama semua temannya yang tergabung dalam geng ABABIL.
Musim liburan seperti ini seharusnya diisi dengan pergi traveling. Banyak spot wisata yang patut dikunjungi baik domestik maupun manca negara. Biasanya Garda akan pergi ke Bali, Singapure atau Jepang sebagai
destinasi wisatanya. Dia akan memboyong hampir semua anggota geng ABABIL. Tentu saja free untuk mereka, lantarang sang ketua yang merogoh koceknya sendiri. Dan sebagian kecil dari mereka memutuskan pulang ke
kampung halaman bersama keluarga masing-masing.
Tetapi tidak untuk tahun ini. Garda tidak ada gairah untuk melakukan aktifitas apa pun. Hanya ingin bertemu dengan orang-orang yang dikasihinya. Selain ingin bertemu dengan Qameella, ada keinginan terbesarnya yang
jika bisa saat ini juga terlaksana. Yaitu menemui Karina, wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini.
__ADS_1