
Happy reading...
Mitha membuka matanya perlahan. Lalu mengerjap beberapa kali saat cahaya putih terang terasa menyilaukan matanya. Mengedarkan pandangan ke segala arah. Meneliti tempat yang ditempatinya saat ini. Di dominasi warna serba putih.
Tempat apa ini?
Apa iya ini namanya akhirat?
Kalo iya, berarti gue jadi mati dong!
Sedih banget gue belum pamitan...
Ah, tapi...
"Kamu udah sadar?" suara berat itu menyapa rungu Mitha dalam bentuk pertanyaan.
Sepasang iris hitam Mitha langsung membelalak lebar. Menggerakkan kepalanya mencari sumber suara. Dia sempat terperanjat kaget melihat seseorang yang sangat familiar di matanya.
"Baguslah jika kamu sudah sadar," pria berkemeja hijau melon memasang stetoskop di telinganya, setelah sebelumnya memeriksa laju saluran infus yang menancap cantik di punggung tangan Mitha.
Mitha terdiam membeku menatap wajah pria yang kini sedang memeriksa dada atasnya menggunakan stetoskop. Matanya hampir tidak berkedip. Berusaha menyadarkan jiwanya sendiri yang seakan masih di awang-awang. Kemudian mengedarkan pandangannya sekali lagi. Meneliti tempat yang semula dia kira alam akhirat... Rupanya masih berada di alam dunia.
"Tenang, sekarang kamu udah aman," ujarnya seakan sedang memberi konfirmasi.
Mendadak Mitha terlonjak kaget dari posisi berbaringnya menjadi duduk. Saat menyadari dirinya berada di suatu tempat yang sepertinya ruang perawatan. Ah... Sialnya perut Mitha sangat sakit ketika tubuhnya bergerak tiba-tiba. Hingga meringis kesakitan.
"Jangan banyak bergerak dulu," ucap pria itu santai sambil merapikan stetoskop yang digunakannya.
"Perut kamu masih memar. Jadi, sebaiknya bila bergerak perlahan aja."
"Ah?" wajah Mitha tampak bingung. "I-ini di mana?" tanyanya merebahkan kembali tubuhnya yang terasa lemah. Dan terasa sakit-sakit juga nyeri dibeberapa bagian tubuhnya.
"Rumah sakit," sahut pria itu singkat.
"Kok bisa?"
"Kenapa?" bukannya menjawab pria itu malah melempar pertanyaan balik.
"Ya... aneh aja. Perasaan..." Mitha berusaha mengingat apa yang sudah terjadi padanya.
"Kamu pingsan dipukulin preman," sambung dokter tidak berseragam itu.
"Jadi, kamu yang nolong gue dari preman-preman itu?"
Lagi, Mitha terkejut. Langsung mengingat semua peristiwa yang dialaminya. Termasuk pengkhianatan Dicky dan perempuan sialan itu. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Pria itu tidak berkata apa pun. Hanya diam dengan wajah datarnya. Namun Mitha dapat membaca dari sikap diamnya yang menandakan iya. Dan tampak lusuh seperti orang yang kurang tidur. Tentu saja wajahnya tampak kucel walau pada kenyataannya tidak melunturkan ketampanannya yang hakiki. Lantaran tadi malam saat pulang praktek di rumah sakit dia melihat kejadian janggal di pinggir jalan raya.
Siapa lagi yang dilihatnya selain Mitha dengan keenam preman berwajah garang dan sangar. Sangat kaget dan aneh saat melihat fenomena itu. Walau bukan fenomena alam tetap saja hal itu bisa menggemparkan jagat raya bila sampai viral di media sosial.
Buru-buru pria itu menghentikan mesin mobilnya lalu keluar dengan terburu, untuk segera menolong Mitha yang sudah tidak berdaya. Bila sampai dia datang terlambat satu detik saja. Maka mustahil pisau di tangan preman itu berpindah ke perut rata Mitha serta merobeknya.
Dengan satu tendangan kerasnya mampu membuat pisau itu melayang di udara, terhempas jatuh ke tanah. Dia juga terpaksa melawan preman-preman bengis itu dengan pukulan dan tendangan sekuat tenaga. Alhasil mereka dapat ditundukkan, lari tunggang langgang meninggalkan dia dan Mitha.
"Kamu pikir siapa yang sudah menolong kamu?" lagi dia balik bertanya. Seakan bibirnya enggan memberikan jawaban.
"Rega, oh maaf Pak dokter, makasih," ujarnya canggung. Karena memang tidak akrab sejak zaman masih SMA.
Pria itu tersenyum aneh. Mungkin sedang menertawakan Mitha yang berkelakuan ajaib. Berhasil mengingatkan Rega pada saudara kembarnya, Garda. Pasalnya pada SMA dulu, Garda memang sangat terkenal dengan kenakalannya.
"Kamu ini aneh, kenapa di tengah malam buta rata bukannya tidur, istirahat menjaga stamina, kamu malah berkelahi dengan enam preman sekaligus. Sepertinya kamu punya nyawa sembilan, ya?" tutur Rega mengolok Mitha.
"Gue bukan kucing!" sahutnya ketus. "jadi gak punya nyawa sembilan." memutar bola matanya jengah.
Rega tersenyum miring.
"Terserah! Sekarang kamu istirahat saja dulu. Jam lima sore nanti kamu baru bisa pulang,"
Rega bergerak hendak beranjak meninggalkan Mitha.
"Jam lima sore baru bisa pulang?" ucap Mitha membeo pelan. Menatap plafon rumah sakit dengan pikiran kosong.
__ADS_1
Mendadak dia teringat sesuatu. Tapi apa??? Sejenak gadis itu bingung sendiri.
Apa iya otak gue jadi gesrek gara-gara dihajar preman-preman semalam? Pikirannya.
Oh, my God!
Tiba-tiba Mitha baru bisa mengingat tentang sesuatu yang dimaksudnya. Apalagi bila bukan pernikahannya.
"Tunggu!" Mitha menghentikan langkah Rega yang sudah ada di ambang pintu.
"Apa?" Rega memutar kepala melewati bahunya.
"Jam! Jam berapa sekarang?" tanya Mitha serius.
Rega mengangkat pergelangan kanannya. Melihat arah jarum jam pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Jam tujuh pagi."
"Apa?!" pekiknya terkejut.
Rega mengernyitkan heran.
Dengan terburu Mitha bangkit duduk walau harus menahan rasa sakitnya. Sebelah tangannya bergerak menarik jarum infus yang menancap di punggung tangan lainnya. Tanpa menghiraukan darah yang mengalir bekas tusukan jarum infus, dia turun dari brankar rumah sakit. Lalu melangkah maju meninggalkan ruangan.
"Kamu mau kemana?" Rega panik melihat darah yang mengucur dari punggung tangan Mitha. Berusaha menahan kepergian gadis keras kepala itu.
"Kenapa kamu mencabutnya? Apakah kamu tidak takut bahaya yang ditimbulkannya oleh perbuatan konyol kamu barusan?" semprot Rega mencekal tangannya yang berlumuran darah.
"Lepasin! Gue harus pulang sekarang juga!" seru Mitha lemah.
"Kamu gak boleh pulang sekarang. Tubuh kamu masih lemah. Selain itu, lihat nih darah kamu terus mengalir! Bila terus dibiarkan seperti ini kamu bisa mati kehabisan darah," semprot Rega kesal melihat kekonyolan gadis itu.
"Gue gak peduli! Pokoknya gue harus pulang sekarang! Gue gak boleh terlambat!" pekik Mitha begitu keras kepala. Matanya berkaca-kaca. Hampir menangis.
"Oke. Tapi setidaknya kamu tutup dulu luka di tangan kamu," untuk pertama kalinya Rega berbicara dengan nada tinggi pada pasiennya.
"Lihat! Banyak darah yang keluar!" mengangkat tangan Mitha seraya menunjukkan pada si empunya.
"Makasih," ujar Mitha pelan saat Rega selesai memberi perban pada punggung tangannya. Tatapan matanya mengarah pada wajah lelah lelaki itu.
"Makasih? Untuk?" tanya Rega menggantung namun Mitha mengerti arah pertanyaannya. Sontak pandangan matanya bersirobok dengan gadis yang masih menatapnya.
"Untuk kebaikan kamu. Karena udah mau nolong gue. Mungkin kalo kamu gak nolong gue saat itu, nyawa gue udah melayang kali."
"Hanya itu?" Rega memutus kontak matanya dengan Mitha.
"Iya. Karena sebelumnya gue pikir, gue udah koit. Sampai mengira gue udah ada di alam akhirat," Rega tersenyum lebar seakan sedang menertawakan kebodohan Mitha.
"Sorry. Mungkin sekarang gue belum bisa balas kebaikan kamu. Tapi satu saat nanti gue bisa," lanjutnya mantap.
Rega hanya diam tidak menanggapi.
"Udah selesai kan?" tanya Mitha memastikan.
"Hm." Rega menganggukkan kepala.
"Sekali lagi gue ucapin makasih," ucapnya sebelum benar-benar beranjak pergi. Tanpa menunggu jawaban dari Rega, Mitha langsung beranjak pergi.
*
Pukul delapan kurang lima belas menit.
Dengan wajah babak belur Mitha tiba di gedung tempatnya melangsungkan rangkaian acara pernikahannya. Semua dekorasi sudah rapi. Meja dan kursi tamu, meja dan kursi akad, pelaminan, meja prasmanan lengkap dengan tempat-tempat meletakkan makanan, piring, sendok makan serta garpu, gelas air semuanya sudah tertata rapi sesuai pada tempatnya.
Beberapa orang berseragam, mereka adalah staf dari pihak wedding organizer yang disewanya, tampak lalu lalang masih memeriksa setiap sudut ruangan. Untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
Beberapa orang tamu tampak sudah berdatangan menempati kursi-kursi yang telah disediakan. Mereka tampak mengacuhkan Mitha yang mematung di tengah ruangan. Mungkin mereka tidak menyadari jika calon pengantin yang akan mereka Salami nanti sudah ada di tempat. Namun mereka tidak bisa disalahkan begitu saja. Salahkan Mitha sendiri yang berpenampilan begitu aneh. Hingga tidak sedikit orang yang bergidik ngeri melihatnya.
Tiba-tiba air matanya menetes pilu. Bagaimana ini? Semuanya sudah siap tetapi calon pengantinnya?...
"Mbak Mitha?" tegur salah satu staf datang menghampirinya. Mungkin sedang mengenali wajah Mitha yang terlihat berbeda.
__ADS_1
Buru-buru Mitha mengusap air matanya kasar. Menyunggingkan senyum yang dipaksakan.
"Mbak kok baru datang?" raut wajah staf wanita itu tampak sedikit marah dan gusar. "sedari tadi semua orang nyariin Mbak. Mbak kemana aja?"
Tadi pagi-pagi sekali memang sempat terjadi kehebohan gara-gara Mitha tidak ada di rumah. Bahkan Gusti dan Maryam sudah mencarinya di mana-mana. Bahkan sampai menghubungi pihak wedding organizer yang sedang bertugas di gedung pernikahan ini.
"Maaf, saya bangun kesiangan," dustanya. Mungkin lidahnya mampu berbohong. Tetapi lebam di sekitar wajahnya tidak bisa berdusta.
"Ya ampun... Mbak. Kenapa wajahnya lebam-lebam gitu, abis berkelahi, ya?" sorot keterkejutan tampak jelas di mata staf itu. Lalu menyentuh dagu Mitha hati-hati.
"Oh, gak papa. Saya cuma kepentok aja kok sewaktu tidur tadi malam. Soalnya saya tidur di kamar kakak saya," terangnya mencari alasan. Dia tidak berpikir bila alasannya itu tidak masuk akal sama sekali.
Staf wanita itu hanya mengerutkan keningnya heran. Lalu menyeret Mitha ke ruangan make up yang memang sudah disediakan. Dan seharusnya Mitha menginap di hotel ini bersama keluarga. Namun dia memilih tidur di rumah.
Tidak hanya staf yang menemuinya barusan yang kaget melihat penampilan Mitha. Melainkan semua orang yang melihatnya. Termasuk pihak MUA yang mendandaninya. Bahkan sampai terheran-heran. Untunglah Gusti dan Maryam tidak melihat kondisi Mitha yang seperti itu. Kalau sampai melihat dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya?
"Mbak, boleh gak saya ketemu Mama saya dulu?" ucap Mitha menginterupsi.
"Aduh, Mbak... kita udah gak punya waktu lagi. Acara mau dimulai jam delapan. Sedangkan Mbak belum di make up dan belum berpakaian pula," protes perempuan itu keberatan.
"Tapi, Mbak... ada yang saya mau omongin ke Mama saya, penting!" lanjutnya menekan kata terakhirnya.
Staf perempuan itu menghela napas berat. Memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut sakit.
"Re, gimana? Mbak Mitha nya udah ketemu belum?" tanya seorang staf lelaki yang tiba-tiba muncul dengan wajah panik menghampiri mereka.
"Udah," sahutnya singkat.
"Mana?" staf lelaki itu celingukan.
"Nih!" serunya menunjukan ke arah Mitha.
"Elo yakin?"
Ekspresi wajah pria muda itu tampak menyorot ragu. Pasalnya wajah Mitha yang terlihat berbeda dari biasanya membuat begitu aneh. Dan Mitha sangat memakluminya.
Staf perempuan mengendikkan bahu. Mungkin dia juga sebenarnya tidak yakin.
Mitha tidak mau ambil pusing dengan perdebatan mereka. Masa bodoh!
"Pelan-pelan ya, Mbak," pesan Mitha saat wajahnya akan dipoles bedak. Karena wajahnya masih terasa sakit bila disentuh. Tapi sebenarnya bukan kalimat itu yang harus diucapkannya. Melainkan kalimat penolakan karena pernikahannya dengan Dicky batal dilaksanakan.
Ya Tuhan... bagaimana ini?
Dengan terpaksa Mitha mau didandani lantaran salah satu staf wedding organizer berkali-kali mengingatkan acara akad nikah dimulai tepat jam delapan. Sedangkan saat jam sudah menunjukkan delapan kurang sepuluh menit. Waktu yang dibutuhkan memoles wajah saja bisa memakan waktu satu jam lebih. Belum bagian rambut yang harus di sasak lah, pakai sanggul lah, tusuk konde dan lain-lainnya. Juga kostum serta atributnya.
Pihak MUA berdecak kesal karena keterlambatan Mitha. Dan kondisi wajahnya yang butuh banyak dempulan akibat lebam-lebam. Tentu saja tidak cukup hanya sepuluh menit kelar. Karena mereka bukan pesulap yang hanya bim salabim maka semuanya bisa beres.
"Mbak, santai aja make up nya. Belum tentu calon mempelai prianya datang tepat waktu," celoteh Mitha membuat orang yang akan memake upinya mengerut heran.
*
Pagi ini Meella sengaja izin tidak masuk kantor untuk menghadiri acara pernikahan saudara kembarnya, Mitha. maka dari itu dia berangkat pagi-pagi sekali agar tidak datang terlambat menyaksikan acara sakral itu. kendati sebenarnya dalam hati dia tidak yakin 100% acara akan tetap terlaksana, setelah tadi malam Mitha sambil menangis mengabarkan tentang Dicky yang telah berselingkuh dengan wanita lain.
Meella ikut bersedih atas apa yang telah dialami Mitha kendati bukan dirinya sendiri yang mengalami penderitaan itu secara langsung. Mungkin ini yang disebut ikatan batin antara sepasang saudara kembar.
Hh... ternyata brengsek juga si Dicky!
Jam 09.15 Meella baru tiba di gedung tempat acara akad nikah Mitha dan Dicky. Cukup terlambat bila menyesuaikan waktu yang tertera dalam kartu undangan. Bukan niat hati Meella datang terlambat. Melainkan karena kemacetan yang merajalela di jalan raya. Otomatis menghambat waktu.
Ketika baru memijakan kaki di lantai gedung, di ambang pintu masuk. Meella melihat beberapa orang yang berusaha merangsek masuk ke dalam, dan berjalan cepat mendahuluinya. Bahkan orang tersebut sampai menabrak bahunya. Entah karena terlambat juga seperti Meella, atau ada hal lainnya. Sungguh dia tidak tahu, dan memang tidak mau tahu.
Tiba-tiba saja gadis berkacamata minus itu meragu saat langkah kakinya sudah melewati ambang pintu. Ada perasaan khawatir dan takut menyelimuti hatinya. Khawatir bila Gusti melihat kehadirannya. Takut kehadirannya tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya. Kendati kedatangannya begitu diharapkan oleh Mitha.
Seakan keberanian Meella terkikis dan menciut. Lalu menghembuskan napas panjang. Setidaknya untuk membantu melegakan dua rongga dadanya yang terasa mulai sesak. Juga untuk menguatkan hati agar bisa tetap tegar dalam menghadapi semua yang dikhawatirkannya bakal terjadi nanti.
*
Hai readers... nih author up lagi.... Semoga readers semua senang.
Jangan lupa tinggalkan jejak-jejak cantik dan manjanya di bawah ini.
__ADS_1
See you next episode 😁😘🥰❤️❤️🙏