Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Pacar Saya


__ADS_3

Hai readers...


Tolong dukungan kalian dengan memberikan like, vote dan hadiah pada karya ini ya...


Happy reading...


**********************************


Semilir angin sore menerpa ujung-ujung rambut Qameella. Menari-nari mengikuti gerak angin yang berhembus. Dalam kesendiriannya gadis itu duduk di bangku taman, di mana kenangan untuk pertama kalinya Garda mengajaknya keluar. Di taman yang sangat luas ini, Qameella tidak sendiri. Ada puluhan orang yang datang berkunjung. Tidak seperti dirinya yang datang sendirian. Mereka datang bersama pasangan bahkan ada juga yang bersama keluarga.


Sebenarnya taman ini bukan area komersil. Berhubung banyaknya pengunjung yang datang silih berganti setiap harinya. Maka para pedagang kaki lima banyak yang menggunakan kesempatan itu untuk mengais rezeki. Biasanya mereka akan meletakkan gerobak dagangan mereka di pinggir jalan dekat taman. Supaya memudahkan para pembeli membeli dagangan mereka. Harga yang mereka tawarkan tidak membuat kantong kering. Dengan merogoh kocek tidak terlalu dalam para pengunjung dapat menikmati aneka makanan yang dijajakan para pedagang kecil itu.


Melihat keramaian dan kehangatan keluarga yang tercipta di tempat sederhana ini, membuat hati Qameella iri. Entah sudah berapa lama dia dan keluarganya tidak pergi berlibur. Sejak usaha Gusti mulai berkembang, Pria itu sudah tidak ingat lagi untuk menghabiskan waktu bersama atau pergi berlibur di tempat-tempat wisata keluarga. Waktu, tenaga dan pikirannya habis terkuras untuk menyusun strategi penjualan. Bagaimana caranya tempat usahanya yang bergerak di bidang kuliner dapat berkembang serta maju pesat. Kendati kenyataannya grafik perkembangannya naik dan turun, masih belum stabil hingga kini.


Pandangan mata Qameella kini beralih pada danau yang cukup luas yang terletak di tengah taman. Ada beberapa orang lelaki dewasa sedang duduk berjongkok di sekitar bibir danau sambil memegang kail. Ternyata selain menikmati taman yang indah, pengunjung juga dapat mengisi waktu senggang dengan memancing ikan di danau. Yang katanya lumayan banyak ikan di sana.


Qameella mendengus pelan hanya menjadi penonton. Ya, gadis itu hanya bisa menjadi penonton yang kesepian. Menyaksikan kehangatan keluarga orang lain juga pasangan lain. Memang tidak enak hanya menjadi penonton pasif. Tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada pilihan lain selain rasa sedihnya. Dan hal itu juga tidak mungkin mengeksposnya di tempat seramai ini. Hanya menjadi tontonan yang tidak bermutu.


*


Garda kembali memutar mobilnya ke rumah Qameella setelah menurunkan Qarmitha, adik iparnya secara tidak sopan. Dia terpaksa melakukannya karena gadis itu sudah membuatnya terkecoh. Dan sialnya ini bukan yang pertama kali. Juga yang paling bodoh adalah dirinya sendiri yang masih belum bisa membedakan mana Qameella dan Qarmitha. Padahal hubungan mereka sudah lumayan berkembang. Hanya saja satu minggu kemarin mereka harus break lantaran Gusti terlalu memprotek Qameella.


Inilah resiko punya pasangan yang memiliki saudara kembar identik. Semoga saja kekeliruan ini tidak berlangsung lama. Dan dia pun berharap Qameella tidak melakukan kesalahan yang sama dengan dirinya. Karena Garda juga memiliki saudara kembar identik, yaitu Rega.


Garda benar-benar kesal pada dirinya sendiri karena tidak dapat menemukan Qameella. Rumah mertuanya yang disambangi terlihat sepi tanpa berpenghuni. Sudah berkali-kali mengetuk pintu, memberi salam dan tidak ketinggalan memencet bel yang ada di dekat pintu utama, tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang perlahan terasa membunuh batinnya.


Tiba-tiba dia teringat dengan salah satu aplikasi yang terdapat dalam ponsel pintarnya. Aplikasi yang dapat melacak keberadaan seseorang hanya dengan menggunakan nomor ponselnya. Setelah mendapatkan posisi Qameella dengan jelas dalam map. Secepat kilat dia beranjak pergi.


*


Qameella masih termenung seorang diri. Larut dalam pikiran sendiri mengenang masa lalu. Masa sejak kecil hingga saat ini. Semua itu berputar bagai tayangan film dalam memori otaknya. Hatinya sedih kembali teringat saat Garda membawa Qarmitha dengan mobilnya. Dan mengabaikannya seperti orang asing. Tanpa terasa bulir-bulir bening dari sudut matanya mengalir begitu saja melewati pipinya yang mulus.


Gadis itu sengaja melepas kacamata minusnya. Menghapus air matanya dengan jari tangan. Namun bukannya berhenti, malah keluar bertambah banyak. Tanpa sadar satu isakan lolos dari bibir penuh dan mungilnya. Agar tidak keterusan menangis di tempat umum itu, buru-buru dia membuka sling bag-nya, mengambil selembar tisu seraya menyimpan kacamata minusnya di sana. Selanjutnya menyeka air matanya yang keluar seperti mata air.


Greb!


Tiba-tiba sepasang tangan kokoh memeluknya dari belakang. Kepalanya bersentuhan dengan kepala orang itu. Sontak Qameella terlonjak kaget bukan kepalang. Berteriak ketakutan.

__ADS_1


"Aaaa... toloooong!" Qameella menjerit histeris, langsung mengundang perhatian pengunjung sekitar taman. Refleks menggerakkan tangannya menyerang orang iseng yang tiba-tiba datang. Dan kurang ajarnya sudah berani memeluknya dari belakang.


Orang-orang yang melihat kejadian itu, kontan menghampiri sepasang muda-mudi itu. Dengan tatapan tajam dan membunuh sepertinya sudah siap melayangkan bogem mentah pada cowok tengil yang kurang ajar itu.


Salah seorang diantara mereka maju dan langsung menarik kerah baju sang pemuda. Pria berbadan tinggi dan besar, dengan otot-otot yang menonjol serta kepalan tangan yang membulat erat.


Bugh!


Satu pukulan sukses mendarat mulus di wajah pemuda tampan itu. Dasar bocah songong, gak ada akhlak!


"Akh!" pekiknya saat bogeman itu benar-benar mendarat tepat di wajahnya.


Pemuda yang tidak lain adalah Garda, tidak sempat menghindar hingga tersungkur jatuh ke tanah. Lagian siapa juga yang bisa menghindari pukulan orang yang lebih mirip algojo itu dalam kondisi terdesak seperti ini. Pipinya terasa panas juga nyeri.


Busyet! Anteb beud pukulannya. Gue kaya dipukul sama algojo aja. Batin Garda miris sambil mengusap bekas pukulan di wajahnya.


"Garda!" pekik Qameella menginterupsi orang itu yang sudah mengangkat kembali tangannya hendak melayangkan bogemannya lagi.


"Pak, Pak, Pak, stop! Stop!" Qameella berhambur memeluk Garda, seakan memberikan perlindungan pada cowok itu.


Orang yang hendak memukul Garda pun spontan menghentikan aksinya. Dahinya mengernyit bingung. Kepalan tangannya mengambang di udara.


Dengan kesal orang itu menghempaskan pukulannya di udara. Disambut sorak kekecewaan dari orang-orang yang menonton pertunjukan gratis itu.


"Huuuuuuuh..." pekik mereka kecewa. Kemudian mereka pergi secara teratur meninggalkan sepanjang sejoli itu sambil mengucapkan umpatan yang ditujukan pada Qameella.


"Kamu gak papa?" tanya Qameella khawatir seraya membantu Garda berdiri. Sepertinya gadis itu lupa dengan rasa sakit dan kecewanya pada cowok yang diakuinya sebagai pacar.


Garda menggeleng lemah menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.


"Gak papa," sahutnya meyakinkan gadisnya agar tidak mengkhawatirkannya. Senyum kecut tersembul di ujung bibirnya.


*


"Sialan si Garda, gue diturunin di tengah jalan. Padahal baru ngucapin terima kasih sama dia. Ah, bener-bener gak ada akhlak tuh bocah," umpat Qarmitha saat berada dalam taksi online dipesannya dadakan. Untung lah posisi tempatnya berada tidak terlalu jauh dengan posisi taksi online tersebut. Hingga dia tidak perlu menunggu lama.


Gadis itu sedang menuju Mall Metropolitan, Bekasi. Dia akan menjumpai tiga sahabatnya, Yasmin, Sarah dan Amelia. Rencananya mereka berempat akan pergi nonton film di XXI. Kebetulan ada film romantis yang bertema remaja anak sekolahan gitu yang lagi booming. Dan dengar-dengar tiketnya selalu ludes diborong orang-orang yang penasaran dengan film itu.

__ADS_1


Alhasil Yasmin sampai harus beli satu hari sebelum hari jadwal penayangan di bioskop. Itulah sebabnya dia tidak bisa menjemput Qarmitha. Sementara Sarah dan Amelia datang bersamaan karena rumah mereka yang searah.


"Awas aja nanti, gue bantai dia!" lanjutnya dengan nada mengancam.


Di depan kemudi, sopir taksi online itu sesekali melirik penumpangnya yang duduk di kursi belakang dari kaca spion depan. Sepertinya pria itu kebingungan melihat sikap penumpangnya yang ngoceh sendiri mirip orang gila. Tapi yang satu ini cantik hehehe...


Setelah dua puluh menit perjalanan, karena ada macet sedikit di jalan akhirnya Qarmitha sampai di Mall Metropolitan.


Kehebohan terjadi saat keempat sahabat itu bertemu. Mereka memang kadang-kadang suka alay. Juga cuek bebek dengan lingkungan sekitar yang mungkin terganggu atas tingkah polah mereka yang lebih mirip anak TK.


Tanpa menunggu lama mereka langsung masuk ke dalam gedung bioskop. Menyaksikan sebagus apa film yang segitu dipuji oleh banyak orang.


Selesai menonton film yang ternyata memang menarik. Keempat cewek cantik itu pergi ke restoran yang ada dalam Mall. Walau sempat terjadi perdebatan diantara mereka berempat yang masing-masing mendebatkan seleranya.


Alhasil, restoran yang mereka pilih adalah restoran yang menyajikan makanan ala Italia. Tentu saja itu pilihan Yasmin. Mereka bertiga tidak bisa berkutik atau menolak saat anak sultan itu bilang, dia yang akan mentraktir.


Yasmin memang dijuluki anak sultan oleh ketiga sahabatnya. Lantaran orang tuanya yang emang terlanjur kaya raya.


Tiba-tiba Sarah menepuk bahu Qarmitha. Sudah pasti mengganggu ritual makannya.


"Aduh... kenapa sih, Sar?" keluhnya kesal. "orang lagi makan ganggu aja."


"Tha, elo lihat dulu," ucap Sarah yang memaksa Qarmitha mengikuti arah pandangan matanya.


"Apaan sih?"


"Elo perhatiin dulu, jeng..."


Qarmitha memicingkan matanya menatap sesorang yang duduk di meja paling ujung. Wajah yang begitu familiar. Dan dia langsung mengenali siapa orang itu. Sebenarnya tidak masalah dengan orang itu. Tapi yang jadi masalah besar adalah orang bersamanya.


"Itu Garda kan, Tha?" tanya Sarah memastikan.


Qarmitha langsung memasang wajah angkernya memandang cowok di sana, sedang duduk bersama seorang cewek yang tentunya bukan Qameella.


"Kata lo, si Garda pacaran sama si Meella. Kok, dia sama cewek lain sih?" selidik Amelia.


"Gak masuk akal. Kasihan si Meella kalo bener-bener si Garda punya pacar lain," ucap Yasmin prihatin.

__ADS_1


"Dasar, cowok buaya! Awas aja nanti gue unyeng-unyeng lo jadi adonan," ujar Qarmitha geram.


__ADS_2