Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#72


__ADS_3

Happy reading...


"Bapak pasti menganggap saya gila. Karena saya merayakan ulang tahun orang yang udah mati. Dan... parahnya di depan makamnya langsung," ucap Meella lirih setelah selesai ziarah. Ketika itu dia dan Garda menyempatkan mampir di rumah makan Betawi untuk makan siang. Kebetulan letaknya tidak jauh dari kompleks pemakaman.


Garda menundukkan wajahnya. Menatap kedua tangannya yang bertumpu di atas meja. Rasa malu karena selalu berburuk sangka pada Meella. Bersamaan dengan rasa bahagia serta bangga lantaran istrinya yang masih setia meskipun jiwa dan raga sudah berpisah alam.


'Bi, saya di sini sayang... maaf...,' batin Garda berbisik lirih. Sebisa mungkin dia menahan air mata yang sudah siap meluncur.


"Yah beginilah... saya. Saya harap bapak memakluminya, hehe," gumam Meella berusaha terkekeh, walau terkesan aneh menertawakan dirinya sendiri. Sungguh, konyol.


Garda mengangkat wajahnya, menatap sendu wajah cantik istrinya yang tidak pernah berubah. Jika enam tahun lalu dia melihat raut serius pada wajah Meella yang masih muda belia nan imut. Kini masih sama dalam versi lebih dewasa. Hatinya ikut merasakan sakit melihat luka dari binar matanya yang selalu berusaha bersikap normal.


"Hmmmm..." Meella menghela nafas panjang.


"Sekarang Bapak udah tahu kan, bagaimana saya? Seberapa besar cinta saya pada suami saya. Walau kini jasadnya udah lama terpendam dalam tanah. Saya tetap mencintainya meskipun sakit menghadapi kenyataan sampai saya mau gila."


Pendar cahaya pada sepasang mata jernih Meella sontak meredup seketika. Menampakkan kesedihan yang nyata, tak lagi mampu ditutupi. Matanya memanas dan terasa pedih secara bersamaan. Pelupuk matanya mendadak menjadi kolam penampungan bulir-bulir bening yang siap meluncur bak air hujan.


"Jadi, saya harap bapak bisa berpikir jernih. Dan melepaskan saya dari segala tuduhan bapak yang gak berdasar. Mungkin saya salah karena saya udah lancang naik ke atas ranjang bapak. Tapi, sungguh! Saya gak pernah menjebak bapak. Saya mohon bapak melepaskan saya segera," setitik air bening lancang meluncur dari sudut mata Meella tanpa izin.


Hati Garda mencelos sekaligus sakit mendengar pernyataan Meella. Gadis itu memang tidak bersalah. Tapi dia tidak bisa melepaskannya begitu saja. Ingin rasanya merengkuh tubuh yang selama ini dirindukannya. Kedua tangannya hampir terangkat jika tidak ingat saat ini dia harus tetap berpura-pura lupa ingatan. Ya, untuk sementara dia harus bersandiwara. Tetap menjadi Pandega yang hilang ingatan. Demi mengungkap semua kebenaran yang disembunyikan oleh Andika.


'Sabar dulu ya, Bi... tunggu semua ini selesai. Saya janji kita akan hidup bersama dengan bahagia,' bisik batinnya.


Tok! Tok! Tok!


Suara pintu diketuk dari luar menyeret Garda dari lamunannya. Tanpa disuruh masuk, seseorang menerobos masuk ke dalam ruangannya.


"Bos, ini laporan Minggu lalu," ucap asisten pribadinya, meletakkan dua berkas di atas meja kerjanya.


Garda hanya bergumam mengiyakan.


*


Siang itu Mitha mendapat ajakan dari Yasmin, untuk mengunjungi restoran milik Sarah. Diam-diam salah sahabatnya itu membuka usaha sendiri di bidang kuliner di pusat kota.


Ketika baru tiba mereka langsung disambut hangat si empunya restoran. Sarah langsung memeluk Yasmin dan Mitha secara bergantian. Kemudian menggiring mereka berdua ke meja yang ternyata sudah ada Amel dan kedua anaknya.


Amel pun berdiri melihat Mitha dan Yasmin, lalu melakukan hal yang sama dengan Sarah. Setelah menyapa mereka sambil melambaikan tangan.


Sarah segera melambaikan tangan memanggil salah satu pegawainya. Meminta dibawakan menu spesial untuk kedua sahabatnya yang baru datang.


Pelayanan itu pun mengangguk mengerti. Setelahnya pergi meninggalkan sang majikan guna mengambil menu yang telah diminta.


"Sibuk amat, Bu?" seloroh Yasmin ceria. Saat melihat Amel begitu repot menyuapi kedua anaknya silih berganti. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan si ibu rumah tangga tengah sibuk itu.

__ADS_1


Sementara Mitha duduk di kursi samping Yasmin. Dia tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu.


"Iya, namanya juga emak-emak dua anak. Harus kaya gini ini," sahut Amel santai tanpa mengalihkan pandangannya pada anak yang sedang di suapinya.


Diantara empat perempuan itu hanya Amel yang sudah menikah dan memiliki anak. Namun bentuk tubuhnya terawat baik. Tidak melar seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya. Dia juga tidak mau jika tubuhnya melar dan menggelembung, bisa-bisa suaminya cari perempuan lain yang lebih ramping, ****, dan kulitnya kenceng.


Tidak lama berselang makanan pesanan mereka datang. Langsung dihidangkan di atas meja oleh pelayan.


"Ayo, kita eksekusi makanan ini. Abis itu kita review seenak apa cita rasanya," seru Yasmin semangat. Air liurnya nyaris menetes melihat hidangan yang sangat menggugah selera di atas meja.


"Ayo come on...," timpal Mitha tidak kalah semangatnya.


Sarah hanya berdecak sambil geleng-geleng kepala, melihat kelakukan bar-bar sahabatnya yang kedua itu. Sudah seperti anak kecil yang dua hari tidak makan.


"Biasa aja kali, Bu... mau makan doang semangat 45 bener. Kaya mau perang aja," seloroh Amel tersenyum tipis. Ikut geleng-geleng kepala.


"Kakak sama adek, kalo makan jangan ikut-ikutan dua Tante itu ya. Makan pelan-pelan aja supaya gak keselek," sindir Amel sesekali melirik dua sahabat, Yasmin dan Mitha tengah asyik menyantap makanan masing-masing.


Kedua anak Amel pun hanya mengangguk setuju, setelah melihat kelakuan dua orang dewasa tapi sudah seperti anak kecil.


"Rese lo, Mel," keluh Mitha tetap mengunyah makanan di mulutnya.


"Elo sih, kasih contoh jelek aja buat anak gue. Makanya jaga image dikit ngapa di depan anak kecil," protes Amel tidak terima disalahkan.


"Maaf adek-adek ya, jangan didengerin omongan Mama. Tante makanannya sopan kok," Yasmin mencondongkan tubuhnya saat berbicara di depan dua bocah yang juga sedang menatapnya bingung.


"Udah deh lo, jangan gangguin anak orang aja," Sarah mencoba menghentikan tingkah absurd mereka.


"Mami, mami, Tante Yasmin sama Tante Mitha lagi patah hati ya?" celoteh anak pertama Amel dengan suara imutnya. "kok, doyan makan?"


Duarr!


Sontak mereka semua diam. Suasana di meja mereka yang ramai berubah hening dalam sekejap. Suara sendok dan garpu beradu dengan piring, obrolan yang dibarengi kunyahan serta gelak tawa menghilang tanpa jejak.


Yasmin dan Mitha melotot, saling beradu pandang dengan tatapan heran. Lantaran baru kali ini mendapat sindiran cukup menukik dari bocah yang sebenarnya belum tahu apa-apa tentang urusan orang dewasa. Mendadak mereka kehilangan kata-kata. Lalu tatapan mereka beralih pada wajah bocah tidak berdosa itu. Tanpa sadar mereka menelan kasar makanan yang sudah dikunyahnya.


Sarah dan Amel juga ikut menatap saling beradu pandang bingung. Sarah mengangkat sebelah alisnya disertai dengusan berat. Kemudian Sarah geleng-geleng kepala sambil tersenyum sumir.


"Eh, Kakak... tahu dari mana omongan kaya gitu?" tegur Amel pada putranya, tidak enak hati pada Yasmin dan Mitha.


"Kata mami kan gitu, waktu Tante Ai makan banyak," sahut si anak langsung memukul telak si ibu. Auto Amel tepok jidat.


Hahaha...


Tawa mereka pecah seketika melihat muka pias Amel.

__ADS_1


"Amel, Amel, emang pinter anak lo ya, sama kaya maminya," puji Mitha sekaligus mencibir ibu muda itu. "sama-sama lemes," lanjutnya sambil mencebikkan bibir.


Amel memutar bola matanya malas.


Suasana kembali stabil. Acara makan mereka masih berlanjut hingga semua menu yang dihidangkan ludes tak bersisa. Obrolan ringan pun masih terdengar dari meja mereka. Sesekali suara gelak tawa menjadi selingan.


"Eh, guys. Lihat deh!" seru Yasmin menunjukkan dengan dagunya, ke arah orang yang baru saja masuk, dan duduk di salah satu meja tidak jauh dari tempat mereka duduk.


Mitha, Sarah dan Amel pun menoleh hampir serentak. Memicingkan mata karena jarak pandang yang lumayan jauh. Mereka dapat mengenali dengan baik siapa orang itu.


"Itu Rega bukan sih?" tanya Yasmin tidak yakin.


"Muka sih emang dia. Tapi... pakaiannya...," sahut Sarah ragu.


Mitha tampak berpikir dalam diam. Karena Rega tidak pernah berpakaian se-formil itu di dalam maupun di luar rumah sakit. Jika pun pakai jas yang dipakai pasti warna putih. Memang dia seorang dokter. Tidak seperti sekarang memakai setelan jas seperti orang kantoran. Alisnya hampir bertaut dengan dahi berkerut.


"Eh, eh, siapa tuh cewek?" sontak Amel memekik terkejut melihat kehadiran seorang gadis cantik berpakaian bagus. Seakan menunjukkan berasal dari kelas atas.


Mitha terkesiap melihat interaksi pria yang diyakini Rega dan gadis itu menunjukkan kemesraan di muka umum tanpa malu. Entah mengapa dadanya tiba-tiba berdenyut sakit. Rasanya tidak mungkin dia cemburu melihat kemesraan mereka. Buat apa cemburu? Sebentar lagi Mitha dan Rega akan bercerai. Juga tidak ada cinta di antara keduanya.


"Tha, itu laki lo. Gak lo samperin?" todong Yasmin.


Mitha mengalihkan atensinya pada Yasmin dengan perasaan gamang.


"Sekalian aja lo gampar tuh cewek. Main sosor aja laki orang," timpal Amel mendadak terbakar emosi.


Mitha benar-benar dilanda kebimbangan. Antara diam atau langsung action seperti saran Yasmin dan Amel. Namun dia teringat dengan amplop coklat yang tadi diberikan Yasmin. Amplop berisi surat cerai yang pernah tertinggal di dalam mobil sahabatnya.


Apa gue kasih sekarang aja kali ya?


Mitha menggigit bibir dalamnya pelan sambil berpikir dan menimbang apa yang akan dilakukan.


Sepasang pria dan wanita itu duduk di satu meja yang sama. Berhadapan satu sama lain menikmati makanan mereka tampak harmonis dan romantis. Sesekali terlihat senyum mereka di bibir keduanya. Tetapi malah membuat Mitha sesak nafas dan menjalarkan perasaan aneh. Mungkinkah kini dia sedang iri?


"Sorry, kalo aku datang mengganggu kebahagiaan kalian," ujar Mitha yang kini berdiri di hadapan mereka. Langsung mengundang atensi sepasang ke kekasih di depannya.


Si wanita menunjukkan ekspresi keterkejutan, kemudian berubah dengan cepat menjadi sinis karena rasa tidak suka telah mengganggu kesenangannya.


Berbeda dengan dengan si pria yang walau terkejut. Dari sorot matanya menunjukkan raut entah senang atau apa. Mitha tidak mau menerjemahkan sendiri yang berakibat jadi baper sendiri.


"Aku cuma ngasih ini. Segeralah tanda tangani surat cerai itu, supaya kamu dan aku bisa cepat terbebas dari hubungan yang gak kita inginin ini," jelas Mitha menjawab kebingungan si pria saat menerima amplop pemberiannya.


"Sepertinya kamu udah menemukan wanita yang tepat sebagai pengganti aku," Mitha menjeda ucapannya untuk menghela nafas sebentar. "semoga hubungan kalian langgeng sampai kakek nenek," lanjutnya dengan senyum yang dipaksakan. Lalu berbalik meninggalkan mereka.


Akhirnya, semuanya bisa selesai begitu mudah. Bisik batin Mitha sedih.

__ADS_1


__ADS_2