
Happy reading
Malam masih belum beranjak pagi. Di atas kasur Garda masih terbuai dalam mimpi, bergelung di bawah selimut sebatas dada telanjangnya. Rambutnya berantakan namun tidak melunturkan ketampanan paripurna pria itu.
Setelah sempat ikut terlelap dalam pelukan Garda. Meella memutuskan untuk bangun dari zona nyamannya. Memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Lalu segera memakainya kembali.
Meella sempat menoleh, melirik Garda yang tidak terusik dengan pergerakannya. Untuk beberapa saat dia menyempatkan duduk di sisi ranjang. Menatap lekat pria yang selama ini dikira sudah mati, ternyata masih hidup.
Tangannya terulur merapikan rambut Garda yang jatuh menyentuh alis ke samping.
Senyum merekah di bibirnya namun mengandung kesedihan juga luka dalam. Dengan suara berbisik dia berkata,
''Saya gak pernah berharap jalan cinta kita sangat berliku, juga begitu banyak aral melintang berusaha memisahkan kita. Walau sekarang kamu kembali, tapi terlalu banyak hal yang sulit untuk kita kembali bersama.''
Meella mengecup dahi Garda dalam. Seakan besok tidak ada waktu lagi untuk bertemu. Kemudian beranjak berdiri, berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan kamar Garda. Ditatapnya wajah tampan nan damai itu sepuasnya. Setelahnya Meella menghilang di balik pintu.
Garda terusik dan terbangun dari tidur lelapnya, oleh cahaya matahari yang masuk dari celah gorden kamarnya. Langsung menyoroti wajahnya yang bersih dan tampan rupawan.
Meski kedua matanya masih tertutup rapat. Tubuhnya menggeliat. Sebelah tangannya meraba sisi kasur yang sudah kosong juga dingin. Pertanda sudah ditinggalkan lama. Perlahan ia membuka matanya yang masih terasa berat.
Mungkin Meella udah bangun. Begitu pikir Garda tidak mau over thinking.
Garda keluar kamar saat penampilannya yang paripurna dengan stelan jas kantor. Tubuhnya segar dengan parfum menguar maskulin. Dia mencari keberadaan Meella di kamar yang pernah ditempatinya.
Tok tok tok
Garda mengetuk pintu dari luar kamar Meella.
''Bi,'' ujarnya penuh semangat. Hening. Tidak Tok tok tok
''Bi, kamu udah bangun?'' Garda masih belum berpikir aneh-aneh.
''Bi, Bi...''
Karena masih belum ada jawaban dari dalam. Garda memutuskan masuk saja. Kebetulan pintunya tidak dikunci. Tetapi orang yang dicarinya tidak ada. Tempat tidurnya tampak rapi seperti tidak ada yang menggunakannya. Atau sudah digunakan, setelahnya segera dirapikan. Garda tidak putus asa. Dia beranjak ke kamar mandi.
Tok tok tok
Garda mengetuk pintu kamar mandi. Mungkin Meella sedang di dalam sana. Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Dia putuskan langsung masuk saja untuk memeriksa. Dan tetap tidak ada.
Garda mulai panik. Ada apa gerangan dengan Meella. Mengapa pergi tanpa meninggalkan pesan. Apakah dia masih marah karena Garda tidak langsung memberi tahu, tentang dia yang ternyata tidak mati dalam kecelakaan enam tahun silam.
*
Mitha baru saja keluar dari lobi gedung apartemen yang ditinggalinya bersama Rega. Ketika itu dia baru akan masuk ke dalam taksi online yang berhasil ordernya. Rencananya pagi ini dia akan berangkat mengajar di SMP, tempatnya biasa mengais rezeki.
__ADS_1
Mitha memang tidak menghentikan aktivitasnya sebagai guru, meski telah menikah. Dan hal itu disetujui oleh sang suami. Asalkan tidak mengabaikan kewajibannya sebagai istri juga ibu rumah tangga. Bersyukurnya lagi, sebagai seorang suami Rega tidak pernah membatasi kegiatan Mitha diluar rumah. Tentu dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Banyak waktu luang yang digunakannya untuk bertemu tiga sahabatnya. Sudah pasti dengan komitmen yang disepakati bersama sang suami.
Tetapi ketika tangan Mitha baru menyentuh handle pintu mobil hendak masuk. Tiba-tiba seseorang datang dari arah belakangnya. Membekap mulut dan hidung Mitha sampai hilang kesadaran.
Si driver taksi online pun tidak bisa berkutik, saat seseorang yang lain, salah satu rekan mereka menodongkan sebilah pisau tepat di depan leher. Dengan ancaman akan dibunuh. Maka si driver memilih tutup mulut demi menyelamatkan nyawa sendiri yang cuma satu. Kemudian pergi meninggalkan tempat kejadian.
Tiga orang yang tidak dikenal itu pun langsung membawa pergi tubuh pingsan Mitha ke dalam mobil yang mereka bawa. Lalu mobil bergerak meninggalkan area parkir depan apartemen. Kebetulan saat itu kondisi di sekitar cukup lengang dan sepi. Hingga memudahkan mereka mengeksekusi Mitha.
*
Di rumah sakit. Rega sedang duduk di ruang prakteknya. Setelah melakukan visit ke ruangan pasien yang ditanganinya. Entah mengapa perasaannya mendadak tidak enak. Namun dia tidak mengerti mengapa demikian.
Rega menghela nafas panjang guna meredakan rasa yang entah apa maksudnya. Yang jelas cukup membuatnya resah juga gelisah.
*
Garda tampak uring-uringan saat belum dapat melihat Meella. Setelah tidak dapat menemukan gadis yang carinya di setiap sudut apartemennya. Dia langsung menuju kantor. Berharap Meella sudah berangkat bekerja terlebih dahulu, sebelum dia bangun. Mengingat Meella termasuk salah satu karyawati rajin di kantornya.
Tetapi nihil. Garda tidak menemukannya. Hanya sebuah amplop putih berisi surat pengunduran diri Meella.
Garda meremas surat yang baru selesai dibacanya begitu erat. Hatinya marah juga kecewa secara bersamaan. Ingin segera pergi mencari wanitanya meski ke ujung dunia. Namun Dandi menghentikan langkahnya. Karena dia harus menghadiri rapat penting pagi ini.
''Undur saja,'' ucapnya tidak peduli.
''Maaf Pak bos. Rapat hari ini gak bisa diundur. Karena Pak Andika juga ikut dalam rapat ini. Beliau menginginkan anda datang tepat waktu,'' sanggah Dandi.
''Apa tadi..., sebelum saya datang ke kantor, Meella masuk ke ruangan saya?'' tanyanya mengalihkan pembicaraan, raut wajahnya memancarkan kegelisahan sekaligus keraguan.
''Oh, Meella... memang sempat datang ke kantor. Tapi tidak masuk ke ruangan CEO. Dia malah datang ke ruangan saya menitipkan sebuah amplop putih. Katanya dia mau mengundurkan diri. Setelahnya, Meella pergi membawa semua barang-barangnya,'' jawab Dandi jujur.
Garda mengangguk saja. Dalam hatinya terasa remuk redam telah ditinggalkan si pujaan hati.
Diam-diam Dandi menerka-nerka. Ada hubungan apa antara bosnya dengan si sekretaris? Mungkinkah keduanya selama ini, sudah diam-diam terlibat hubungan terlarang?
''Wajah anda kenapa, Pak?'' tanya Dandi formal.
''Ah, ada apa?'' Garda balik bertanya tidak mengerti.
''Ekhm! Bukan apa-apa," kilah Dandi setelah berdehem.
Garda menatap tidak suka asistennya.
"Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari nona Bianca. Nanti siang nona Bianca akan mampir ke kantor."
"Untuk apa perempuan itu... ekhm, maksud saya Bianca datang ke sini? Dia tidak punya kepentingan apa-apa di kantor saya," ungkap Garda menunjukkan rasa tidak sukanya.
__ADS_1
Dandi mengerutkan keningnya heran. Tidak biasanya bos labilnya itu bersikap acuh pada tunangannya. Apakah keduanya sedang bertengkar? pikirnya.
"Nona Bianca ingin mengajak anda makan siang spesial. Karena hari ini nona Bianca membuatkan anda bekal makan siang. Dan makanan itu spesial buatan nona Bianca," jelas Dandi panjang lebar.
Garda hanya diam. Tidak memberikan ekspresi senang di wajahnya. Cenderung datar dan tidak peduli.
*
"Masuk!" teriak Rega saat pintu ruangan prakteknya diketuk dari luar.
Matanya terbelalak kaget melihat calon pasiennya.
''Permisi, Pak dokter,'' ujarnya sopan.
''Ah, iya. Silahkan duduk,'' seru Rega dengan tatapan tidak berpaling sedikit pun. Dia tertegun melihat sosok yang sudah lama tidak dilihatnya. Tidak spesial tapi pernah memberikan kesan mendalam.
''Ada yang bisa saya bantu? Maksud saya ada keluhan apa?'' tanya Rega sedikit gugup.
''Saya gak sakit, Pak dokter,'' sahutnya jujur.
Rega mengerutkan keningnya dalam.
Pasien yang duduk di depannya itu menundukkan wajahnya. Menatap tangannya yang berada di atas pangkuannya.
''Jika tidak sakit, untuk apa anda datang ke rumah sakit?'' selidiknya penasaran.
''Saya dengar, Pak dokter adalah dokter muda yang hebat,'' ujar pasien perempuan itu.
''Lalu apa hubungannya dengan anda yang datang ke rumah sakit tapi tidak mengalami sakit?'' desak Rega tidak sabar.
Perempuan itu mengangkat wajahnya. Sementara jari-jemarinya saling bertaut di atas pahanya. Dia sebenarnya bingung bagaimana caranya menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke rumah sakit. Lalu memilih dokter spesialis bedah seperti Rega. Sudah jelas sekali dia tahu tidak ada kaitannya dengan kepentingannya.
''Saya minta dokter untuk membantu saya untuk... menggugurkan kandungan saya,'' akhirnya dia dapat menyampaikannya walau terbata.
''Apa?!''
''Maaf, Pak dokter,'' cicit perempuan berkacamata minus itu.
Rega sangat geram dengan perempuan di depannya itu. Mengapa dia berpikiran begitu pendek sekali? Tidakkah dia takut dosa atas apa yang akan diperbuatnya? Setelahnya dia akan terjerat hukum karena kasus aborsi. Dan tentu saja akan berakibat fatal pada karier kedokteran Rega kelak.
Oh, Tuhan... dimana akal sehatnya?
Rega memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut sakit. Berdecak kesal dalam hati walau tidak ada gunanya.
*
__ADS_1
Hai readers... maaf ya ceritanya segini dulu. Author lagi gak fit soalnya. Kita lanjut di episode berikutnya nanti ya. Selalu author tunggu jejak cantik dan manis kalian ya...
See you next episode 😘🥰❤️ 🙏