
Happy reading...
"Ah, a-apa?" Karina terkejut bukan main.
"Me-menikah?"
Rega mengangguk mengiyakan pertanyaan sang Mama.
"Iya, Ma. Kami sudah menikah," jawab Rega menekan kalimat terakhirnya.
Mitha pun melakukan hal yang sama saat pandangan mata Karina teralih padanya.
Karina sangat syok mendengar pernyataan dari putra kesayangannya. Dia sangat menyayangkan, mengapa bisa Rega mengabaikan dirinya. Satu-satunya orang yang paling mencintainya di muka bumi ini. Mengabaikan dirinya di acara sakral putra kesayangannya.
Jangankan diminta datang ke acara pernikahan mereka. Diundang pun tidak. 'Dasar anak...'
"Maaf, nyonya. Makan malam sudah siap," tiba-tiba suara salah satu asisten rumah tangga Karina datang menginterupsi.
"Makasih, Bi," sahut Rega mewakili si Mama yang hanya menoleh ke sumber suara.
Karina mendadak linglung setelah mendengar berita pernikahan Rega dan Mitha, saudara kembar Meella. Lantaran dia sudah merencanakan perjodohan Rega dengan anak dari sahabat sosialitanya. Dan rencananya malam ini akan mempertemukan keduanya saat acara makan malam bersama.
Karina akui rencana pertemuan antara Karina dan Rega dengan sahabat sosialitanya bersama anaknya memang mendadak. Setelah Rega mengabarkan akan pulang untuk makan malam bersama di rumah tadi siang, barulah ide ini tercetus.
Bila sudah seperti ini, Karina bingung harus bagaimana. Status Rega tidak lagi single. Ada istrinya pula. Sementara calon besannya besannya akan segera datang. Mungkinkah dia harus berbohong demi rasa persahabatannya dengan wanita sosialita itu, dengan mengabaikan perasaan Rega dan Mitha, si menantu?
Tapi Karina tidak tega menyakiti hati putranya. Sedari kecil dia besarkan penuh kasih sayang. Dan selalu membebaskan Rega dalam memilih. Agar putranya bisa enjoy dalam menjalani hidup tanpa kasih sayang seorang Papa.
"Ma," panggil Rega seraya menyentuh tangan si Mama di atas meja makan.
Kini ketiganya sudah menempati tempat duduk masing-masing di meja makan. Namun mereka belum memulai acara makan malam. Menurut Karina akan ada tamu spesial yang akan datang. Jadi, mereka baru bisa makan setelah kedatangan tamu tersebut.
"Mama kenapa?" tegur Rega khawatir.
"Ah, gak. Mama gak papa kok. Mama hanya syok saja dengan pernikahan kalian berdua. Dan Mama gak ngerti kenapa kalian menikah. Padahal sebelumnya Mama tahu, kamu gak punya pacar," jawab Karina lugas. Namun dia melemahkan suara pada kata 'pacar'.
Rega dan Mitha saling beradu pandang. Lalu memutuskan pandangan masing-masing untuk menatap wajah Karina yang masih diliputi kebingungan.
"Iya. Aku memang gak punya pacar sebelumnya, Ma. Dan untuk proses pernikahan kami pun sangat singkat. Gak ada cerita panjang," ungkap Rega menjelaskan.
Karina tercengang dengan cerita yang sepertinya tidak masuk dalam akalnya. Hanya mengangguk tetapi tidak mengerti.
Belum sempat Rega menceritakan kembali alur cerita pernikahannya dengan Mitha. Tiba-tiba asisten rumah tangga Karina kembali menginterupsi. Bahkan tamu yang diundangnya untuk makan malam sudah datang.
"Suruh masuk, Bi," titah Karina sangat antusias seraya beranjak berdiri dari duduknya.
"Jeng Karina...," sapa sahabat sosialitanya berhambur langsung memeluknya.
Sontak pasangan baru Rega dan Mitha menoleh pada wanita itu. Tampak glamor dengan semua barang branded yang menempel di setiap bagian tubuhnya.
"Jeng Devi...," sambut Karina bercipika-cipiki ria.
"Maaf, agak telat datangnya. Maklum nungguin anak gadis bersolek," ujarnya berbasa-basi lalu melirik gadis cantik yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Ah, Mommy. Jangan buka kartu dong... Fiola kan malu," seru gadis itu tersipu.
"Oh, hai sayang... apa kabar?" sapa Karina hangat dan penuh semangat.
"Baik Tante," sahut Fiola lalu cipika-cipiki dengan Karina.
Berbeda dengan suasana hati kedua wanita sosialita dan gadis dari kalangan elit itu yang sedang mood booster banget. Mitha justru merasakan hal sebaliknya. Bahkan dia bisa mengendus aroma perjodohan antara Rega dan gadis manja itu. Hingga dia sempat berpikir Rega akan cocok dengan gadis cantik, modis dan kaya raya tentunya selevel. Tidak seperti dirinya.
Boro-boro selevel tingkat sosial. Kecantikannya dengan gadis itu bila dibandingkan mungkin tidak seujung kuku sekali pun. Lihat saja bajunya yang brended. Rambutnya yang panjang digerai biasa tapi masih bisa terlihat kelasnya. kalo urusan kulit jangan disinggung deh. Karena kulitnya yang kecoklatan tidak sebanding dengan kulit putih bersih gadis manja itu.
Ya iyalah gak sebanding. Kulit Mitha sering kejemur mirip pakaian basah, maklum memang pekerjaannya yang sering berada di outdoor. Sedangkan gadis itu lebih banyak di dalam ruangan seperti boneka pajangan di dalam etalase.
Pokoknya Mitha sadar diri aja. Dia gak bisa sebanding dengan gadis bernama Fiola itu. Jika seandainya hubungannya dengan Rega harus break. Ya udah break aja. Toh, dia sudah mengurus perceraiannya dengan bantuan Yasmin.
"Wah, benar-benar mirip Garda, ya?" decak Fiola kagum menatap fotokopian Garda. (Masih ingatkan tentang Fiola di KCK season 1?).
Mitha tersadar dari lamunannya saat Rega menyentuh bahunya. Dengan anggukan pelan memberi kode untuknya berdiri dari duduknya. Guna menyapa dua tamu yang katanya spesial.
Karina memperkenalkan Rega pada dua wanita beda generasi. Lalu rona wajah Karina mendadak berubah saat Mitha mendekat menunggu diperkenalkan pada mereka. Wanita itu tampak tersenyum kikuk pada lawan bicaranya.
"Ini siapa, Jeng?" tanya Jeng Devi ingin tahu.
"Oh..., kenalin juga ini Mitha, Jeng," Mitha menatap heran kegugupan ibu mertuanya.
"Mitha, cantik, ya. Tapi sayang agak gelap," ungkap Jeng Devi menyindir.
Mitha mengangkat sebelah alisnya. Lalu tersenyum seramah mungkin walau dalam hatinya ingin sekali meraup wajah nenek sihir itu dengan cakarnya.
Tawa Rega hampir pecah jika tidak segera ditahannya sendiri.
"Lagi pula kulit saya gelap bukan sembarang gelap. Gelap juga ada manisnya. Meski saya gadis berkulit gelap masih terlihat eksotis dan seksi," lanjutnya kian membuat Rega terpesona dengan jawaban cerdas sang istri.
"Ehm!" Karina terpaksa meninggikan suara dehemannya, untuk mengalihkan atensi mereka semua.
"Mari, kita ke meja makan. Hari ini saya sengaja meminta para koki memasak menu spesial, karena hari ini kedatangan tamu spesial."
'Heh, tamu spesial? Tapi bukan gue, kan?' batin Mitha ngedumel sendiri.
Rega menyentuh jari telunjuk kiri Mitha, dengan jari telunjuk kanannya. Gadis itu tersentak kaget, refleks mendongakkan wajahnya pada paras tampan di sisinya. Keduanya hanya saling diam, tanpa ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibir mereka.
"Eh, Mith. Kayanya muka kamu familiar banget deh. Tapi aku gak inget jelas kamu mirip siapanya," ungkap Fiola sok akrab dengan Mitha.
Mau tidak mau Mitha mengalihkan pandangannya pada si penanya.
"Oya?" Mitha berpura-pura kaget. "mungkin muka aku pasaran kali ya...," lanjutnya asal sambil tersenyum palsu. Lalu hendak beranjak duduk di kursi yang sudah ditarik Rega untuknya.
Tetapi Mitha terdiam dan ditempat, berusaha tetap waras agar tidak menjambak rambut orang lain. Ketika Fiola tiba-tiba menyelaknya tempat duduknya.
'Sabar... huh... sabar... Mitha...' bisik batinnya seraya menghirup, dan mengembuskan nafas dari hidung perlahan secara bergantian.
"Mith," bisik Rega yang bergeming di belakang kursi yang baru saja ditariknya.
"Santai, gak papa," ujar Mitha dengan senyum ramah namun rahangnya mengetat.
__ADS_1
"Masih ada kursi lain, oke?" Mitha cengengesan tetapi hatinya dongkol.
'Awas aja lo, Fiola. Tunggu tanggal main dari gue,' cerca Mitha dalam hati.
Mitha menuju kursi lain yang tentu tidak dekat dengan Rega.
Jeng Devi sangat bahagia melihat putrinya duduk bersebelahan dengan Rega.
Karina hanya tersenyum canggung menanggapinya. Dalam hati dia sebenarnya tidak dengan anak dan menantunya. Apalagi tidak sampai di situ kelakuan menyebalkan Fiola. Dengan sengaja gadis itu melayani Rega mengambilkan lauk pauk di piring Rega.
Melihat pemandangan itu Mitha berusaha cuek bebek, seolah tidak melihatnya. Sementara Rega menatap Mitha seakan meminta persetujuan. Berhubung tidak ada respon dari sang istri, dia hanya diam saja.
"Lihat, Jeng. Fiola dan Rega serasi ya?" puji Jeng Devi bangga.
"Ah... iya," sahut Karina tergugu seraya mencuri pandang pada Mitha.
"Uhuk!" tiba-tiba Mitha terbatuk. "Maaf, sayur sopnya pedas. Jadi, saya keselek," bohongnya menutupi rasa kesalnya, merasa diabaikan oleh mertuanya.
"Minum!" dengan peduli Rega menyorong segelas air putih ke depan Mitha.
"Makasih," ucapnya canggung langsung meminumnya tandas tak bersisa. Setelahnya meletakkan gelas di tangannya di atas meja hingga menimbulkan suara. Membuat mereka semua mengalihkan pandangan padanya.
Menyadari semua mata menatapnya dengan berbagai opini. Mitha hanya tersenyum canggung dan mengatakan kata 'maaf' saja.
Acara makan malam terus berlanjut. Di sela kegiatan makan mereka. Kedua wanita dewasa itu membicarakan tentang keunggulan anak masing-masing, yang berujung saling memuji.
Pada akhirnya acara jodoh menjodohkan pun terjadi. Melalui bibir Jeng Devi yang begitu lincah mencocokologi antara Fiola dan Rega. Wanita itu berasumsi Rega adalah pemuda yang cocok untuk putrinya yang cantik.
Mitha yang keberadaannya tidak dianggap oleh mereka, hanya sebagai penonton pertunjukan non sinetron di depannya. Sebisa mungkin tetap tegar hingga batas kewarasannya di level terbawah. Lagi pula, mana ada istri yang rela dimadu?
'Tuhan... kayanya emang harus segera deh, gue cepetan cerai dari si Rega. Dari pada begini. Belum apa-apa ibu mertua gue udah jodohin laki gue sama cewek lain. Hadehhh... tangan gue udah gatel banget nih rasanya pengen garuk aja tuh cewek kegatelan. Hmm... kudisan kali ya...' batinnya ngedumel tidak karuan.
'Tapi, kalo gue libas sekarang gak bagus. Kesannya gue bar-bar banget. Sabar... sabar... Mitha...' lanjutnya masih membatin.
"Maaf," mendadak Mitha menggebrak meja, lalu berdiri dari duduknya, menginterupsi obrolan asyik mereka. Mengundang atensi mereka agar segera beralih padanya.
"Sepertinya... obrolan kalian cukup didengar keluarga intern saja. Saya sebagai orang luar izin undur diri agar gak mengganggu jalannya obrolan yang asyik ini." Semua orang yang berada di meja makan mengalihkan pandangannya padanya.
Habis sudah kesabaran Mitha melihat kecuekan sang mertua padanya. Seakan keberadaannya tidak ada dan memang tidak diinginkan. Sebelum kewarasannya benar-benar hilang, lebih baik dia cari aman. Kan bisa durhaka jika melawan mertua. Karena mertua juga orang tua kita.
"Oh ya, silahkan," sahut Jeng Devi seakan mengusir secara halus.
"Hei, kamu mau kemana? Kamu tetap stay di sini. Karena kamu keluarga inti di sini," cegah Mitha saat Rega juga beranjak berdiri.
"Tapi..."
"Makasih makan malamnya, Tante," ucap Mitha tulus. "permisi." Kemudian dia beranjak pergi.
"Mitha," Rega segera bergerak mengejar istrinya.
Hati Karina mencelos sedih melihat sikap Mitha dan Rega. Keduanya pergi meninggalkan ruang makan.
Sedangkan Jeng Devi dan Fiola saling beradu pandang lalu sama-sama mengedikkan bahu. Ibu dan anak itu tampak heran, sekaligus tidak mengerti apa yang terjadi pada mereka.
__ADS_1