
Hai readers... gimana ceritanya pada episode lalu, seru gak ya? Bikin gemes atau bikin kesel? Cus kita lanjut aja episode berikutnya. Tapi maaf ya, kali ini author hanya buat satu episode aja. Karena author lagi ada deadline tugas di dunia nyata. Gak papa kan? Insya Allah pada kesempatan berikutnya author usahakan buat lebih dari satu episode ya. Tapi tergantung komen dan like readers juga ya... jika sambutannya baik, author akan usahakan dengan cepat. Tapi kalo responnya lola ya... lola lagi semangat author update.
Jangan lupa kasih author vote, like, hadiah dan komentar berharga kalian yang selalu author nanti untuk kemajuan cerita selanjutnya.
Happy reading...
**********************************************
Mall Metropolitan
Suasana dalam restoran tampak Qameella, Qarmitha and the gengs berada tempat tidak terlalu ramai. Terlihat jelas ada beberapa meja yang terlihat kosong. Dan hanya meja yang mereka tempati paling penuh. Selebihnya hanya satu atau dua orang pelanggan yang mengisi meja-meja lain secara random.
Sesekali Qameella melirik gelisah ke arah meja yang ditempati oleh sepasang kekasih, terindikasi Garda dan pacar barunya. Selang empat meja dari tempatnya berada. Mereka tampak sangat akrab dan tanpa malu mengekspos kemesraan di depan umum dengan menautkan tangan di atas meja.
Matanya memanas melihat pemandangan yang hanya bisa merusak hati dan pikiran. Air mata sudah siap turun, tapi masih bisa ditahan. Hatinya mendadak bergejolak disertai riak-riak amarah. Bagai bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Tembok pertahanan hati Qameella nyaris luruh setiap kali mendengar kalimat-kalimat berbau provokasi dari Qarmitha and the gengs. Padahal sudah berulang kali dia menjelaskan bahwa cowok di sana bukanlah Garda. Melainkan saudara kembarnya, Rega.
Nihil, mereka semua tidak ada yang percaya dengan ucapan Qameella. Terutama Qarmitha yang terlihat sangat marah, seakan-akan dialah orang yang menjadi korban selingkuh. Saudari kembarnya beserta ketiga sahabatnya tidak akan percaya sebelum Garda dan Rega berdiri berdampingan di depan hidung mereka.
"Uh, kapan si Garda sampai di sini, La?" Qameella tersentak dari lamunannya saat mendengar teguran dari Qarmitha yang sudah tidak sabar.
"Hmm. Mungkin... bentar lagi kali, Tha," sahutnya ragu. "mungkin lagi kejebak macet kali. Jadinya dia rada telat."
"Tapi ini udah terlalu lama dari elo telepon dia tadi. Takutnya itu orang pada kabur sebelum kita bergerak," tutur Qarmitha gusar.
Qameella hanya diam, tidak mau menanggapi.
"Eh, La. Emangnya elo kasih dia waktu berapa lama sampai datang ke sini?"
"Lima belas menitan," jawabnya jujur.
"Huh, kelamaan. Seharusnya elo kasih waktu dia sepuluh menit aja. Ngapain sampai lima belas menit? Gak sekalian aja elo kasih waktu satu jam. Biar lama bejamur sekalian," dengus Qarmitha sarkas. "Ah, elo tuh emang terlalu lembek jadi orang. Seharusnya elo lebih tegas sama dia. Biar kapok sekalian."
"Kasihan dia, Tha. Dia lagi di basecamp ABABIL. Lo kan tahu jarak dari basecamp ABABIL sampai ke sini jauh juga. Kalo gue ikutin saran lo, terus kalo sampai ih, amit-amit deh, terjadi apa-apa sama Garda lantaran ngejar waktu ke sini. Siapa yang mau tanggung jawab? Elo gitu?" kilah Qameella telak. Membuat Qarmitha tidak bisa berkutik.
Di tempat berbeda. Garda terjebak macet karena ada kecelakaan lalu lintas di tengah perjalanannya menuju Mall Metropolitan. Dia berdecak kesal dan merutuki kondisi yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Dalam hati dia terus berdoa agar dapat tiba tepat pada waktu yang telah ditentukan. Namun dalam kondisi seperti ini rasanya sulit. Hanya bisa pasrah dan terus berdoa sambil berusaha secapatnya membawa laju sepeda motornya menerobos kemacetan yang perlahan mulai terlerai.
Lagi, Garda harus menahan amarah lantaran telah melewati waktu yang telah ditentukan. Lebih dari dua puluh menit dia baru sampai dalam basement Mall Metropolitan. Sebisa mungkin dia berlari seperti orang gila membelah keramaian di dalam gedung bertingkat empat itu, setelah berhasil memarkirkan sepeda motornya dengan baik.
Tidak ada waktu menunggu lift yang entah kapan terbuka. Lalu dia menaiki eskalator yang lumayan padat pengunjung juga menggunakannya. Dengan tidak sabarnya dia melewati mereka tentu saja harus menulikan rungunya saat umpatan-umpatan tidak mengenakan mampir untuk dirinya.
Tiba di lantai dua, matanya terus mencari, menyisir setiap food court, stan aksesoris, dan toko-toko pakaian yang berjajar menghiasi lantai itu, hingga sudut tidak lepas dari pengawasannya. Sesekali memperhatikan layar ponselnya, mengamati share loc yang telah dikirimkan Qameella tadi.
Masa bodoh dengan tatapan orang-orang yang menganggap aneh atau mengganggu. Garda benar-benar tidak mau peduli. Lelah pun tidak dirasakannya. Hanya satu yang saat ini bertengger di dalam otaknya. Yaitu segera menemukan Qameella agar dapat memperbaiki hubungan mereka yang seperti layangan putus.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat dia menyentuh ikon tombol berwarna hijau.
__ADS_1
"Halo, Bi,"
"Hiks, huhuhu...." terdengar suara tangis yang disertai isakan di seberang sana. Sontak Garda panik sambil terus mencari dimana sang pujaan berada.
Sampai! Batinnya bersorak saat dirinya benar-benar tiba di restoran yang dituju.
"Bi, kamu dimana?" netranya menyisir setiap sudut restoran itu.
"Gar, brengsek! Gue benci sama elo," umpat Qameella sedih masih menangis.
"Hah?!" Garda mengerut kaget juga tidak mengerti. Kemudian netranya melihat punggung seorang gadis mengenakan seragam pelayan rumah makan Kesengsem Cinta Kembar. Yang tertulis besar di punggung gadis itu. Dan, dia sangat kenal siapa gadis itu. Ya, dia adalah Qameella.
Lima menit sebelumnya.
"Lihat tuh, mereka udah kelar makan!" seru Sarah mengejutkan mereka semua.
"Aduh, gimana ini?" tanya Qarmitha bingung sendiri.
Yasmin, Amelia, dan Sarah saling mengendikkan bahu seraya menarik bibir mereka ke atas, dengan leher tenggeleng ke kiri dan kedua telapak tangan menengadah ke atas. Sementara Qameella tidak menunjukkan reaksi yang berarti.
"Udah ada kabar belum dari si cecunguk itu, belum? Maksud gue Garda," Qarmitha langsung memperjelas pertanyaannya saat melihat ekspresi tidak mengerti saudari kembarnya.
Qameella menggelengkan kepala lemah. Tandanya belum ada kabar apa pun dari orang yang sedari ditunggunya.
"Terus, kita biarin mereka pergi gitu aja gitu?" tanya Amelia gemas.
Qarmitha langsung bangkit dari duduknya. Sedangkan yang lainnya diminta tetap ditempat hanya menggunakan gerakan tangannya. Lalu beranjak pergi menuju meja Rega. Entah apa yang gadis itu bicarakan pada sepasang kekasih itu.
Qameella menatap nanar interaksi mereka berenam. Para pengunjung yang lain pun ikut menyaksikan.
Dalam kegundahan tanpa dasar Qameella bangkit berdiri. Bergerak perlahan lalu mendeal satu nama. Nada sambung pun terdengar. Lagi, ponsel cowok yang kini bersitegang dengan Qarmitha berbunyi. Menginterupsi lalu,
"Halo, Bi," suara di seberang sana terdengar lelah diselingi dengan napas berat.
Qameella menangis pilu karena cowok itu benar adalah Garda. Langkah gontainya berhasil mengantar hingga di depan cowok yang benar-benar sangat mirip dengan Garda. Tersisa enam langkah untuk sampai mejanya. Tatapan mereka saling berpandangan.
Cowok itu menatap Qameella bingung sambil menempelkan benda pipih di telinganya. Keningnya berkerut dengan alis yang saling bertaut.
"Meella, elo?..." cowok itu menggantung pertanyaannya.
"Gar, brengsek! Gue benci sama elo," umpat Qameella sedih masih menangis.
Qarmitha tiba-tiba menarik kerah bajunya, hingga terhuyung mengikuti arah tarikan bajunya. Buru-buru Yasmin, Sarah, dan Amelia turun tangan. Menahan pukulannya yang penuh tenaga, roso seperti tenaga kuli siap mendarat di wajah ganteng cowok itu. Sebisa mungkin menenangkan sahabat mereka yang hampir mengeluarkan tanduk (hehehe... istrilah aja ya, karena terlalu marah). Sungguh bar-bar sikap Qarmitha jika sedang marah.
"Sabar, sabar, sabar, Mith..." pekik mereka hampir bersamaan.
"Apa-apaan ini?" tanya cowok itu geram seraya menyentak tangan Qarmitha dari kerah bajunya.
__ADS_1
"Bi," mata Qameella membola saat suara itu memanggilnya begitu dekat. Tiba-tiba tubuhnya menegang saat pundaknya disentuh oleh tangan orang itu.
"Maaf saya datang terlambat," ujarnya penuh sesal.
Kontan Qameella berbalik kaku menghadap orang itu. Air matanya kian deras saat netranya menatap tidak percaya sosok di depan matanya.
"Bi..." cicitnya dengan napas yang masih berusaha diaturnya agar menjadi lebih normal.
Tanpa diduga Qameella malah memeluk orang itu. Dan menangis sejadi-jadinya di dada sang cowok.
Sarah menyikut bahu Qarmitha. Lalu menunjuk ke arah Qameella dan seorang cowok dengan dagunya. Amelia dan Yasmin pun mengikuti arah mereka menoleh.
Mereka semua berjengit kaget saat melihat siapa cowok yang sedang dipeluk Qameella. Mendadak wajah Qarmitha memucat tatatkala matanya bersirobok dengan cowok yang nyaris dianiayanya. Gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya nyengir kuda yang membuat tampangnya terlihat seperti orang bodoh.
"Konyol!"
Seseorang berjas hitam datang menghampiri mereka. Dan langsung menegur.
"Ada apa ini? Kenapa kalian buat keributan di sini?" Sarah, Amelia dan Yasmin menegang didatangi orang itu. Sepertinya dia adalah manager restoran.
Garda bingung juga senang akhirnya Qameella mau memaafkannya. Dengan gemas dia menghujani ciuman di puncak kepala Qameella seraya membalas pelukannya erat.
*
Setelah urusan dengan manager restoran selesai. Tentu saja dengan negosiasi ala Garda yang membuat pria itu langsung mengerti. Mereka bertujuh duduk bersama di satu meja.
Rahang Rega mengeras menahan amarah lantaran sikap kekanak-kanakan Qarmitha. Tatapan matanya tajam mengitimidasi cewek itu yang kini duduk di depannya dibatasi oleh meja panjang di antara mereka. Sementara yang ditatap menundukkan wajahnya takut sekaligus malu karena sudah salah sasaran.
Di sebelah Rega ada Garda dan Qameella. Sengaja dia menempatkan gadis itu di sisinya agar tidak pergi kemana-mana. Sampai jari jemarinya dikaitkan dengan jari tangan Qameella. Di depannya ada Sarah, Yasmin dan Amelia. Mereka bertiga menunjukkan raut bersalah juga malu hasil ulah mereka sendiri.
"Sekarang udah percaya kan kalo Garda punya saudara kembar?" selidik Qameella memecah keheningan di antara mereka.
"Iya," sahut mereka kompak sambil menganggukkan kepala serentak.
"Dia, Rega," Qameella menunjuk cowok itu yang masih bergeming pada posisinya. "teman sekolah kita juga."
"Masa sih, kok gue gak pernah lihat?" keluh Amelia sok paling kenal semua murid di sekolahnya.
"He-ehm. Gue juga gak pernah lihat sebelumnya," sambung Sarah.
"Lo tahu dari mana kalo dia teman sekolah kita, Meel?" tanya Yasmin penasaran.
"Ya... gue kan sekelas sama dia," jawabnya menjelaskan.
"What?" Sarah, Amelia, dan Yasmin terkejut kompakkan.
Tiba-tiba Qarmitha teringat saat bertemu dengan seorang cowok yang mirip sekali dengan Garda. Dan dengan pd-nya memanggilnya dengan sebutan 'Kakak Ipar'.
__ADS_1
"What?" pekik Qarmitha terkejut sambil menatap tidak percaya. Saat baru menyadari ternyata cowok itu bukan Garda. Melainkan cowok yang ada di depan matanya, Rega.
"Iya, Bini gue bener. Gue sama Rega kembar. Tapi sejak kecil kita berdua hidup terpisah karena nyokap bokap gue cerai," tandas Garda.