
Pagi ini adalah hari pertama ujian kenaikan kelas. Entah Qameella bisa menjawab soal-soal ujian yang diberikan guru. Semalam dia tidak bisa fokus belajar lantaran Garda terus-terusan mengganggunya. Menelepon Qameella tiada henti. Ada saja yang jadi bahan pembicaraannya. Hingga akhirnya me-non aktifkan ponselnya. Barulah bisa belajar dengan tenang.
Tetapi waktu sudah menunjukkan tengah malam. Saat rasa kantuknya menyerang, matanya tidak bisa berkompromi. Dia langsung menyerah dan tumbang di atas buku-buku yang sedang dibacanya di atas meja belajar.
Sejak hubungan Qameella dan Garda membaik. Cowok itu memang getol meneleponnya siang dan malam. Karena dia tahu orang tua Qameella sangat mengekangnya. Bagai terkurung dalam sangkar. Tidak bisa sering-sering pergi ke luar rumah dengan bebas, apalagi keluyuran malam. Dia sangat mengerti dengan kondisi istrinya saat ini.
Garda sangat sabar menjalani hubungan pernikahan yang masih sengaja disembunyikan tentu saja atas permintaan istrinya, Qameella. Pernikahan tidak sengaja terjadi, namun mampu membangun benih-benih cinta. Cowok itu pun terbilang sangat setia pada pasangannya. Walau pun tidak sedikit cewek-cewek yang rela antri agar bisa dekat dengannya. Terutama Fiola yang sudah kaya cacing kepanasan bila bersama dengan Garda. Tetapi diabaikan begitu saja olehnya.
Qameella sungguh luar biasa, mampu merubah, oh tidak... Qameella bukan Tuhan. Jadi dia tidak bisa merubah. Gadis lugu itu hanya bisa mengarahkan sikap Garda. Ya... cowok brigajulan hobi balapan liar. Lebih senang tinggal di jalanan, dari pada tinggal di rumah dengan segala fasilitas serba ada. Dasar cowok aneh bin ajaib!
Tidak ada yang bisa merubah sifat dan watak seseorang selain Tuhan Yang Maha Esa. Namun Tuhan menjadikan Qameella sebagai perantaranya. Dengan berada di sisi Garda mampu memberi energi positif padanya. Dan hal itu ternyata bisa menular pada teman-teman satu gengnya.
Akibatnya kini mereka sudah jarang ikut balapan motor liar. Jika tidak ada kegiatan sekolah, mereka menghabiskan waktu nongkrong di basecamp. Karena mereka semua tipe-tipe anak yang tidak betah di rumah. Mereka lebih betah di rumah tanpa tuan yang dijadikan markas besar mereka. Mungkin bila di sini mereka akan aman, tidak perlu kena omel emak-emak mereka yang terkenal super bawel, juga sering mengusik kesenangan mereka bila berdiam diri di rumah.
Mereka perlahan berubah menjadi lebih religius. Pelan-pelan melakukan ibadah sesuai ajaran dan kepercayaan masing-masing. Walau pun mereka terlihat sangar, garang, gahar dan urakan. Mereka memiliki toleransi yang tinggi.
Selain itu, karena sedang menghadapi ujian sekolah, mereka rajin belajar walau sering dipaksa Garda. Dan ujung-ujungnya tidak jadi membaca buku. Lantaran mereka tidur sambil menutup wajahnya dengan buku tersebut.
Senang rasanya bisa pulang lebih cepat. Pikir Qameella saat keluar dari pintu gerbang sekolahnya.
Dalam hati Qameella sudah merancang kegiatannya setelah pulang sekolah. Dia akan memanfaatkan waktu untuk bersih-bersih rumah dan kamarnya yang ingin ditata ulang. Saat menjelang sore baru akan membaca buku hingga malam, untuk persiapan ujian sekolah besok. Dia akan aman dari gangguan Garda selama ujian ini berlangsung. Karena sebelumnya mereka berdua sudah membuat kesepakatan.
Tetapi siapa yang mengira Garda tidak mengikuti kesepakatan yang mereka setujui bersama?
Titttt...
Sepeda motor Garda berhenti tepat di depan Qameella berdiri.
Dasar kuya!
Buru-buru Qameella kabur dari hadapan Garda. Namun hasilnya nihil. Langkah kaki Qameella tidak lebih cepat dari gerakan tangan Garda.
Greb! Secepat kilat tangan kekar Garda menangkap lengan Qameella.
"Eitsh... mau kemana? Gak bisa kabur..."
Qameella tersenyum bodoh.
"Cepat naik!" titahnya tidak mau dibantah. Gadis itu pun menurut meskipun dengan wajah cemberut.
Sepeda motor Garda berjalan dengan kecepatan biasa menurutnya. Tidak untuk Qameella yang merasa terlalu cepat seakan ingin terbang saja. Tanpa sungkan tangan Qameella melingkar di pinggang Garda. Dan hal itu yang paling disukai cowok itu. Jika bisa tidak perlu dilepaskan selamanya.
"Lho, kita mau ke mana?" tanya Qameella heran. Pasalnya jalan yang diambil Garda bukan arah basecamp atau rumah Qameella.
"Tenang aja... aman. Lagian kamu kan istri saya. Mau saya pergi kemana pun kamu harus ikut mendampingi saya, Bi..." sahutnya menenangkan.
__ADS_1
Satu tamparan pelan menghantam punggung Garda membuatnya mengaduh kesakitan. Berhubung tamparan Qameella pelan tidak menimbulkan rasa sakit yang serius. Jadi mengaduhnya Garda hanya bohongan. Dia hanya ingin sekedar bermanja-manja dengan istrinya.
"Belum waktunya kali..." sungutnya.
*
Sepeda motor Garda bergerak memasuki gerbang besar menjulang tinggi. Kedatangannya disambut baik oleh dua orang berseragam penjaga pos yang berada tidak jauh dari pintu gerbang. Mereka menyapa dengan hormat dengan sebutan 'Den Garda' yang dibalas anggukan pelan oleh si empunya nama.
Qameella yang baru pertama kali menjejakkan kaki di sini cukup terkejut. Ternyata Garda bukan orang sembarangan. Gadis itu jadi minder sendiri. Jangankan lihat rumahnya yang super besar dan megah. Lihat pintu gerbangnya saja sudah bikin ciut nyali. Ditambah penjaga rumah yang tinggi besar, serta otot-otot yang tentu kekar walaupun tertutup rapat oleh pakaian seragam. Mereka tetap terlihat begitu gahar dan garang. Namun tetap patuh, tunduk dan santun pada Garda, sang majikan.
Setelah melewati halaman depan yang super luas. Dengan berbagai tanaman hias, kolam ikan yang terdapat air mancur di bagian tengahnya. Dan Padang rumput yang bisa dibilang tidak kecil. Biasanya digunakan untuk bermain golf oleh Papanya Garda jika berada di rumah. Sepasang netra Qameella dibalik kacamata minusnya membelalak. Takjub dengan kemegahan dan kemewahan rumah yang katanya tidak membuat Garda betah. Pintu utama yang terbuka otomatis. Garda menarik lengan Qameella masuk ke dalam.
Belum hilang ketakjuban yang membuat Qameella tidak bisa berhenti berdecak. Kini netranya disuguhkan kemewahan yang terdapat dalam ruang tamu dengan segala perabot yang ada, mengandung unsur wah dan wow. Yang jelas tidak akan ada dan tidak bisa ditemukan di rumahnya sendiri. Sudah pasti tidak akan ada karena kelas sosial yang dimiliki Garda dan Qameella sangat jauh berbeda. Bagai bumi dan langit.
Apa mungkin ini rumah orang tua Garda? Jika bukan gue bisa santai-santai aja. Tapi kalo iya, apa yang harus gue lakuin? Ketemu orang tua Garda secara langsung. Oh, Tuhan... gimana nih? Gue belum siap apalagi harus menghadapi suasana kaya di sinetron-sinetron. Anak orang kaya pacaran sama anak orang miskin. Orang tua si kaya habis-habisan mencaci maki anak orang miskin. Terus disuruh putus. Waduh.... gue gak mau bayangin lagi ah... kalo sampe drama kaya gitu terjadi sama gue...
"Welcome... to my house," ujar Garda saat baru masuk ke dalam rumah itu.
"A-a... yah..." lirih Qameella nyaris tidak bisa berkata-kata. Dia tidak tahu harus berkata apa. "makasih."
"Kenapa Bi? Kok kamu gugup gitu?" Garda mengernyit heran.
"Ng-gak... gak papa," kilahnya namun tidak berarti apa-apa.
Garda memasukkan jari-jarinya ke dalam sela jari-jari Qameella. Lalu menggenggamnya erat.
"Ah, ka-kamar?"
"Iya. Ada yang saya mau tunjukkin ke kamu."
"Tap-tapi... ayah sama ibu elo..."
"Udah, jangan pikirin mereka. Toh, mereka semua gak ada di sini. Mereka sibuk dengan urusan dan dunia masing-masing," sahutnya cuek. Terus menggeret Qameella masuk ke dalam lift. Karena dia khawatir istri kecilnya akan kelelahan bila harus menaiki anak tangga yang jumlahnya tidak sedikit.
"Tapi..." Qameella tidak bisa membantah lagi saat sudah berada dalam lift. Dia harus konsentrasi jika tidak akan mual. Sesungguhnya, Meella lebih suka naik tangga walau pun harus menguras tenaga. Ketimbang naik lift yang sering membuatnya pusing dan terkadang sampai mual. Entah karena phobia atau apa dia tidak pernah tahu.
Tiba-tiba Qameella terhuyung saat baru keluar pintu lift.
Dasar norak! Rutuknya dalam hati.
"Bi, kamu kenapa?" tanya Garda khawatir seraya menahan tubuh Qameella agar tidak terjatuh.
"Gak papa." Garda tiba-tiba mengangkat tubuh Qameella. Serta menggendongnya ala bridal style.
"Eeh, Garda... turunin gue! Gue bisa jalan sendiri," pekiknya sambil meronta-ronta. Pipinya memanas. Desiran halus bergejolak di hatinya. "jangan macam-macam!"
__ADS_1
"Gak, gak bakalan gue turunin. Lagian ngapain macam-macam sama istri sendiri? Terjang aja langsung," jawaban yang hanya membuat Qameella dongkol.
"Garda... turunin..." pintanya manja.
"Tetap gak mau. Nanti kalo kamu jatoh gimana, coba?"
"Kenapa jatoh?" Qameella tidak mengerti.
"Ya, tadi kamu kan sempoyongan gitu. Jadi, saya khawatir kamu kenapa-napa. Mending saya gendong," jawab Garda tidak mempedulikan permintaan Qameella. Dia terus berjalan sambil membopong tubuh ringan istrinya.
"Ih, lebay deh. Orang gue gak kenapa-napa. Udah turunin gue. Entar kecapekan lo, gue kan berat."
Sekilas Garda melirik Qameella yang berbeda dalam gendongannya, tersenyum meremehkan.
"Apanya yang berat, badan ringan kaya kapas gini, ditiup angin juga melayang."
"Jangan menghina ya!" telunjuk Qameella menyentuh ujung hidung Garda yang mancung.
"Siapa yang menghina? Saya ngomong berdasarkan fakta. Jangan-jangan selama ini kamu kebanyakan diet ya? Atau... kamu kurang gizi?" Garda langsung terkekeh geli tidak peduli tamparan Qameella mendarat di bahunya.
Akhirnya tiba di dalam kamar Garda yang luasnya tiga kali lebih luas dari kamar tidur Qameella. Dengan lembut dan penuh kehati-hatian dia mendudukkan Qameella di atas tempat tidur ukuran king size. Kemudian berjongkok di depan gadisnya. Tanpa diminta membantu melepaskan sepatu ketsnya. Setelahnya mengangkat sepanjang kaki jenjang Qameella ke atas kasur.
Wajah Qameella merona dan tersipu malu mendapat perlakuan istimewa dari Garda. Seperti mimpi rasanya. Padahal setiap tidurnya tidak pernah memimpikan hal seperti ini.
Garda juga membantu melepaskan tas ransel yang sedari tadi menggemblok di bahu Qameella. Lalu meletakkannya di atas sofa dekat tempat tidurnya.
Qameella mendongakkan wajahnya menatap intens wajah lelaki muda berusia remaja di depannya. Dia tidak sekedar ganteng. Tapi juga sangat manis. Apalagi kalau lihat senyumnya yang menampilkan lesung pipinya. Ah... sekarang bukan hanya pipinya yang memanas. Namun menjalar ke tubuhnya. Senyum samar mengambang di bibir ranumnya.
"Eh, tunggu! Mau ngapain dia buka baju?" Qameella membatin kala netranya menyaksikan cowok itu membuka satu persatu kancing baju seragamnya. Menyisakan kaos dalam warna putih tanpa lengan. Hingga menampilkan otot di kedua lengan atasnya yang kekar walaupun belum terbentuk sempurna. Setelah itu ditanggalkan dan diletakkan begitu saja di atas lantai.
Sontak Qameella bergerak mundur saat Garda perlahan-lahan bergerak maju mendekatinya. Degup jantungnya terasa berlarian.
"Ap-ap-pa yang elo mau lakuin?" tanyanya tergugu dan waspada.
Garda tidak menjawab. Wajahnya terlihat sangat serius dengan tatapan mata yang tajam bagai elang yang hendak menerkam mangsanya.
"G-Gar-Garda..." cicit Qameella panik juga gelisah. Tubuhnya bergetar.
Garda seakan menulikan rungunya. Tidak memedulikan kepanikan Qameella. Tanpa ba-bi-bu dia langsung naik ke atas ranjang mendekati tubuh Qameella yang setengah berbaring dengan menumpukan kedua sikunya.
"Elo mau apa?" tanyanya lirih dan gelisah.
OMG! Tubuh Qameella dan Garda menyisakan menyisakan beberapa sentimeter. Gadis itu tidak bisa bergerak lagi. Garda mengunci pergerakannya dengan berada di atas tubuhnya. Telapak tangannya menjadi tumpuan menopang tubuh kekarnya agar tidak langsung menindih tubuh istrinya.
"Garda... tolong jangan..."pintanya mengiba dengan diiringi bulir bening menetes dari sudut matanya.
__ADS_1
"Hahaha...." Garda terkekeh geli melihat ekspresi ketakutan Qameella. Lalu menggulingkan tubuhnya ke samping. Membaringkan tubuhnya di sisi Qameella.
Qameella tercengang, mengernyit heran. Serta kebingungan apa yang sedang terjadi pada Garda. Sebentar romantis. Setelahnya serius. Sekejap tertawa terbahak bahak seperti saat ini.