Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Sudah Menikah?!


__ADS_3

Dering ponsel Garda tiba-tiba menginterupsi obrolannya dengan Karina di ruang makan. Setelah makan siang Garda, Karina juga Rega makan siang bersama. Mereka menghabiskan waktu bercengkrama. Pertemuan ibu dan anak yang tidak rencanakan itu dapat membangkitkan kehangatan kelurga yang telah lama hilang. Walau awalnya terasa kaku. Namun lama kelamaan mencair secara alamiah. Mungkin karena ikatan batin antara keduanya yang menarik dan langsung mengikat mereka.


Tanpa menunggu lama Garda menerima panggilan itu. Senyum mereka mengembang di bibir tipisnya. Hatinya berbunga melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. Saat mendengar suaranya hatinya langsung bersorak girang. karena gadisnya yang sangat dirindukannya kini menghubunginya. Dan untuk pertama kalinya dia mengajaknya berkencan. Sungguh bagai sebuah prestasi yang menakjubkan.


Tetapi tidak sampai selesai mereka berbicara tiba-tiba terputus tanpa tahu apa alasannya. Namun Garda tidak mau ambil pusing dan berusaha positif thinking. Yang terpenting dia bisa bertemu dengan pujaan hatinya setelah cukup lama menggung rindu.


“Seneng banget? Pasti dari cewek,” goda Karina sukses membuat Garda tersipu.


“Iya. Mama benar. Barusan telepon dari orang yang sangat special,” sahutnya dengan rona bahagia yang terpancar jelas di wajahnya.


“Oya? Pacar?” Karina tampak antusias. Kemudian melirik pada putranya yang lain, Rega. Cowok kalem dan dingin itu terlihat datar saja enggan untuk merespon. Bocah itu sedang sibuk dengan memfokuskan pandangannya pada layar ponselnya.


Garda tersenyum lebar, mengangguk ragu.


Karina mengernyitkan dahi. Ia berusaha memahami jalan pikiran putra yang baru saja ditemukannya itu.


“Dia lebih dari seorang pacar,” akhirnya Garda mengatakan itu dengan nada malu-malu.


“Sungguh?” Karina tampak syok dengan ucapan putranya. Hingga sempat muncul pikiran yang tidak-tidak di benaknya. Apalagi saat bocah itu menganggukkan kepala sebagai jawaban, membuatnya susah bernapas. Bagaimana tidak? Di usia yang belum dua puluh tahun putranya sudah melakukan hal-hal yang melanggar norma.


Sesal pun tidak berguna. Nasi sudah menjadi bubur. Dia hanya menyayangkan pola asuh sang mantan suami. Ah, entahlah. Mungkin saja pria cassanova itu terlalu sibuk dengan wanita-wanita selingkuhannya. Hingga tidak ada waktu untuk mendidik salah satu putra kembar mereka dengan baik.


“Dia adalah istri masa depan Garda, Ma,” ujarnya jujur dan penuh keyakinan.


Karina menutup mulutnya yang terbuka karena kaget. Oh God… it’s impossible!


Rega mengalihkan pandangannya pada saudara kembarnya yang kini duduk di depannya dengan dibatasi meja makan. Kemudian tersenyum miring, meremehkan.


“Lagaknya istri masa depan. Siapa tahu besok udah ganti gandengan,” cibirnya kembali menekuri layar ponselnya. Mengingat bagaimana sepak terjang Garda yang bisa dibilang mirip Papa mereka yang playboy. Rega tidak bisa langsung percaya dengan ucapannya. Walau belakangan ini dia sudah tidak pernah dengar lagi, jika Garda bergonta-ganti pasangan.


“Bisa aja sih gue kaya gitu. Tapi, sama dia gue komit kok. Yah, walau pun gue gak jamin 100%. Seenggak-enggaknya gue berusaha sebisa gue buat tetap setia sama dia. Karena gue gak mau nyakitin dia. Dan, menodai pernikahan kami,” sahut Garda diplomatis.


“Apa, pernikahan?” lagi-lagi Karina dibuat syok oleh bocah itu.


Rega tersentak kaget. Sebenarnya yang membuat dia kaget bukan pengakuan Garda. Melainkan suara Karina yang memekik hingga masuk dan menusuk gendang telinganya. Tatapannya lekat pada cowok yang benar-benar sama persis dengannya. Mencari kebenaran dari sorot matanya. Sayangnya tidak ada kebohongan di sana.

__ADS_1


Garda tersipu sendiri mendapati ekspresi keterkejutan sang Mama.


“Tapi, sayang… bagaimana mungkin kamu…” Karina sulit berkata-kata. Rasanya dia ingin pingsan saat ini juga. “apa… kalian berdua… sudah melakukan…”


“Mama tenang aja, Garda sama dia gak ngelakuin apa-apa. Sampai detik ini belum ada yang terjadi di antara kami berdua. Yah… bisa dibilang masih virgin lah,” sanggah Garda dengan melemahkan nada suaranya diakhir kalimatnya. Dan semua yang dikatakannya adalah jujur tanpa ada yang disembunyikan sedikit pun.


“Are you sure, sayang?” tanya Karina memastikan seraya membelai lembut kepala Garda penuh kasih sayang. Cairan bening mulai memenuhi pelupuk matanya.


“Yes, of course, Ma,” sahut Garda penuh keyakinan.


"Wait, wait!" Karina menginterupsi. Berpikir keras sambil mencerna ucapan salah satu putra kembarnya diluar nalar. "kamu yakin tidak terjadi apa-apa antara kalian berdua?" Garda menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Nggak mungkinlah elo berdua bisa nikah tanpa terjadi apa-apa. Bisa aja kan elo atau dia udah ngapa-ngapain, kan?" sanggah Rega tajam.


"Sebenarnya gue sama dia emang gak berbuat aneh-aneh. Cuma aja warga salah paham waktu ngelihat kami berdua tidur berdua dalam pos ronda," jawab Garda jujur.


"What?!"


Dengan terpaksa Garda sedikit menceritakan kronologi insiden pernikahannya dengan Qameella. Kontan saja membuat Karina dan Rega kaget. Tentu saja Rega kaget, karena yang dinikahi saudara kembarnya adalah teman satu kelasnya. Dan anehnya, cewek itu tidak pernah memberi tahunya sama sekali.


Tidak ada reaksi yang ditunjukkan Rega untuk menanggapi berita konyol Garda. Raut wajahnya terlihat datar dan dingin. Namun dalam hatinya ada gejolak yang membuat batinnya tidak nyaman. Entah perasaan apa itu, dia pun tidak tahu jawabannya.


*


Qameella merutuki ponselnya sendiri yang tiba-tiba lowbet dan akhirnya mati. Padahal dia belum selesai berbicara dengan suaminya. Eh, suami? Rasanya geli mendengar kata itu. Usianya yang masih cukup jauh mencapai angka dua puluh, tapi sudah punya suami rasanya tidak masuk akal. Gadis itu tidak bisa membayangkan bagaimana respon kedua orang tuanya dan saudari kembarnya saat mengetahui fakta ini. Huft!


Setelah mencharger ponselnya, Qameella beranjak mandi. Dia berencana akan menghubungi Garda jika baterai ponselnya telah penuh terisi.


Beberapa menit menjalankan ritual mandi, dilanjutkan memakai pakaian dan sedikit memoles bedak dan lip gloss dengan warna bibir. Tidak lupa menyemprotkan parfum kesukaannya.


Mengecek baterai ponselnya yang terisi lumayan banyak tapi belum penuh. Lalu mencabutnya dari  lubang pengecasan. Menghidupkan ponselnya. Membuka daftar kontak mencari nama yang sangat familiar. Namun setelah menghubunginya tidak ada jawaban. Akhirnya Qameella memutuskan mengirim chat.


Ketika Qameella baru menjejakkan kaki di ruang tengah. Tiba-tiba melihat Qarmitha yang tampak tergesa-gesa dari ruang tamu bergerak keluar pintu. Belum sempat bertanya punggung saudari kembarnya sudah menghilang di balik pintu. Kemudian dia berusaha mengejar. Dari balik jendela dalam rumahnya Qameella melihat mobil sport merah yang pernah digunakan untuk mengantarnya pulang sudah terparkir sempurna di depan pintu gerbang. Senyum semringah siap menyambut kedatangan sang pujaan hati yang tengah duduk di belakang stir.


Buru-buru Qameella berlari keluar khawatir akan membuat Garda menunggu lama. Dan... betapa terkejutnya gadis itu saat melihat Qarmitha yang malah masuk ke dalam mobil, setelah sebelumnya Garda turun membukakan pintu untuknya. Sontak langkahnya terhenti otomatis. Ingin begerak pun terasa kaku.

__ADS_1


Bayangan saat Garda datang ke sekolah Qameella hendak menjemput. Namun yang duduk di jok belakang sepeda motor suaminya, malah Qarmitha. Sungguh hatinya sangat sakit mengingat kejadian itu. Btw, itu kan dulu sewaktu Garda belum tahu, jika Qamella dan Qarmitha adalah saudara kembar identik. Sedangkan sekarang Garda sudah tahu segalanya. Masa sih tega banget mengkhianati janji manis yang pernah diucakannya?


Huhft! Hati Qameella kembali terluka dan sakit. Tapi tidak berdarah. Dia menggelengkan kepala berusaha mengenyahkan pikiran buruk tentang Garda dan Qarmitha. Sayangnya hasilnya nihil. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Karena semua yang dilihatnya terlalu nyata dan itu fakta yang sesunggunya. Dadanya mendadak terasa sesak tidak bisa menahan kepiluan di hatinya. Hanya bulir-bulir air mata yang lolos dari sudut matanya. Lalu meleh dan mengalir melewati celah bawah bingkai kacamata minusnya.


Ya Tuhan... mengapa harus begini lagi? Baru saja hati hamba bahagia merengkuh keceriaan. Tapi mengapa, terlalu cepat Engkau merebutnya? Tidakkah hamba pantas menerima kebahagiaan itu? Atau terlalu hinakah hamba di mata-Mu hingga hamba tidak layak bahagia? Ratap batinnya mengiba pada Sang Khalik.


Qameella meremas tali sling bagnya yang menyilang di depan dadanya. Menundukkan wajah dengan mengatupkan bibirnya erat agar suara isak tangisnya tidak lolos. Namun dadanya terlalu sesak untuk menahannya hingga tanpa daya dia membiarkannya lolos begitu saja.


Menyeka air matanya kasar dengan punggung tangannya. Membalikkan badan hendak kembali masuk ke dalam rumah. Namun setelah melihat pantulan dirinya dari luar kaca jendela, Qameella sangat menyayangkan penampilannya yang sudah terlihat paripurna sia-sia begitu saja. Akhirnya dia memutuskan tetap pergi keluar rumah meskipun tanpa Garda.


*


Garda tidak berpikir panjang saat melihat seorang cewek keluar dari rumah mertuanya dengan berpakaian rapi. Dengan cepat turun dari mobil menyambut orang yang sangat dirindukannya. Sedikit berlari mengelilingi begian depan mobilnya. Lalu membukakan pintu mobil dengan senyum yang mereka. Tanpa mempedulikan indera penciumannya menangkap aroma parfum yang berbeda dari tubuh gadis itu.


"Elo?" Qarmitha tampak terkejut melihat perlakuan manis Garda terhadapnya. Tanpa penolakan gadis itu masuk ke dalam mobil mewah Garda dengan senang hati. Kemudian duduk di kursi penumpang di sebelah kursi kemudi. Dia akan berterima kasih setelah sampai tujuan. pikirnya praktis.


Garda duduk di depan kemudi lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.


"Makasih ya elo udah mau anterin gue. Makasih banget pokoknya. Elo udah jadi penolong gue. Kebetulan banget gue lagi buru-buru..."


Sontak Garda menginjak pedal rem mobilnya membuat Qarmitha terperanjat kaget dan tidak jadi melanjutkan ucapannya. Raut wajah cowok ganteng itu berubah masam dan geram dengan rahangnya yang mengeras. Kedua tangannya mencengkeram erat gagang stir hingga buku-buku jarinya memutih. Dalam hati dia merutuki kebodohannya sendiri yang masih terkecoh antara Qameella dan Qarmitha.


"Sialan lo!" umpat Qarmitha kesal seraya memukul bahu kiri Garda dengan tasnya. "gue gak mau mati konyol. Gue masih pengen hidup seribu tahun lagi. Dodol lo!"


Garda mendengus kasar. Kilatan amarah di matanya membuat gadis yang duduk di sebelahnya bergidik ngeri.


"Keluar!" terdengar suara Garda lemah namun penuh penekanan.


Qarmitha mengernyit bingung, tidak mengerti maksud cowok ganteng yang tiba-tiba berubah menakutkan.


"Gue bilang. cepat keluar!" Garda mengeraskan kata terakhirnya agar Qarmitha, gadis yang tidak diinginkannya segera beranjak pergi dari sisinya.


Dengan kesal Qarmitha keluar juga.


"Dasar cowok aneh!" rutuknya sambil membanting pintu mobil Garda sangat keras hingga terdengar suara begebum.

__ADS_1


Garda memukul gagang stirnya dengan keras. Kemudian menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kemudi. Menyugar rambut tebalnya tapi berujung mencengkeramnya erat, untuk melampiaskan kekesalannya pada dirinya sendiri yang tidak peka. Lagi dan lagi dia melakukan kesalahan mengenali orang.


"Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh... sial!" dia berteriak frustasi.


__ADS_2