
Happy reading...
Garda tiba di depan unit apartemennya yang kini ditempati Meella. Ragu antara untuk memencet bel atau tidak. Alhasil dia main terobos saja tanpa permisi seperti kedebong pisang hanyut di sungai.
Meella terjengit kaget melihat kedatangan Garda. Pria ganteng itu tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur, yang langsung menyatu dengan ruang makan, saat dia baru beranjak berdiri setelah selesai menyusun donat dan menyimpannya di dalam kotak kardus.
"Pak Pandega?" matanya memicing karena tidak memakai kacamata minusnya.
Garda berdiri mematung dengan tatapan sendu dan merindu. Namun Meella mengartikan lain. Senyum samar nyaris tak terlihat di ujung bibirnya malah terlihat senyum sinis meremehkan. Otak kecilnya tidak bisa berpikir positif. Setelah apa yang pria brengsek itu lakukan sampai menghancurkan masa depannya. Tentu di hatinya hanya tertanam kebencian.
Akhirnya tertanam mindset di kepalanya, kedatangan bosnya itu akan memarahinya karena nekat cuti. Sedangkan izin belum diterima seratus persen. Entah kata sadis yang bagaimana diterimanya.
Mampus aku! Bos pasti marah nih!
Tanpa bicara dan tubuh sama mematung di tempat masing-masing. Serta tatapan saling mengunci keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Bi, akhirnya saya menemukanmu. Setelah puluhan purnama saya lalui dalam ketersesatan sendiri. Tanpa tahu apa-apa saya cuma bisa menerka-nerka dimana tulang rusuk saya berada. Maafin saya yang gak bisa mengenali kamu. Saya udah buat kamu menderita akibat kebodohan saya. Maaf bi... semoga kamu bisa memanfaatkan saya. Lalu kita bisa hidup bersama seperti impian kita dulu. (Garda)
Aduh... gimana ini? Si bos diam aja di situ. Apa mungkin itu artinya aku gak boleh kemana-mana? Tapi kan aku harus pergi ke makam. Terus kalo beneran si bos marah dan pecat aku gimana? (Meella)
Dalam bayangan Garda, melihat Meella yang sedang berdiri dalam jarak satu meter setengah dari tempatnya berdiri. Dia seperti melihat Meella enam tahun lalu. Berdiri di pinggir jalan sendiri dengan rambut tergerai indah. Dalam balutan seragam putih abu-abu lengkap tas Gemblok yang nangkring di punggungnya. Tanpa kacamata sama seperti saat ini. Juga rambutnya dibiarkan tergerai dalam balutan blus hitam di bawah lutut berlengan pendek.
Meella mengangkat sebelah alisnya menatap Garda penuh selidik.
"Ekhm! Maaf kalo saya datang tiba-tiba. Juga udah gak sopan karena tanpa permisi langsung nyelonong masuk," ucap Garda basa-basi sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Ah, ya?" Meella bingung harus menjawab apa. Kepalanya sedikit mengangguk ragu.
"Saya ke sini cuma ambil berkas saya yang sempat tertinggal di sini," alibinya berharap dapat dipercaya. Walau kenyataannya benar ada beberapa dokumen yang tertinggal di ruang kerjanya. Tapi niat awalnya tidak demikian.
"Oh," sahut Meella ringan entah percaya atau tidak sepertinya tidak terlalu penting bagi Garda. Yang terpenting saat ini adalah dapat bertemu dan menatapnya dalam.
"Dulu, saya pernah tinggal di unit ini sebelum kamu. Sebagian besar barang-barang milik saya sudah dipindahkan ke apartemen yang saya tinggali sekarang. Tapi masih ada beberapa barang yang masih belum sempat saya ambil di sini. Saya harap, kedatangan saya gak mengganggu kamu. Maaf sebelumnya," tutur Garda menjelaskan. Langkah kakinya terus saja menyeret maju ke hadapan Meella.
Meella mendengar penjelasan Garda hanya ber-oh ria saja sambil mengangguk pelan. Dia baru tahu jika apartemen ini pernah ditinggali bosnya. Otomatis itu berarti milik lelaki itu. Tapi dia tidak tahu apa alasan Garda menyerahkan apartemen ini untuk ditinggalinya. Dan memilih tinggal di apartemen lain. Seharusnya Meella saja yang tinggal di tempat lain. Mungkinkah Meella harus menanyakan hal ini? Sepertinya itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah dia harus bekerja dengan baik sampai waktu yang telah ditentukan. Setelahnya dia akan pergi dari lingkup lelaki brengsek itu.
__ADS_1
Garda tersenyum melihat ekspresi wajah Meella yang tampak begitu imut di matanya.
"Ehmm..., kalo begitu silahkan aja bapak cari sendiri ya. Maaf untuk saat ini saya gak bisa bantu bapak," tiba-tiba Meella merasa tidak nyaman dengan kehadiran Garda di sini. Apalagi dengan tatapan mata yang masih belum berubah. Membuat hati dan pikirannya traveling ke mana-mana. Dia khawatir kejadian malam laknat itu terulang kembali.
"Karena saya harus segera berangkat sekarang," sengaja Meella mengalihkan pembicaraan. Juga segera berpamitan agar bisa cepat kabur dari hadapan bosnya. "mari pak," dia menyempatkan menyunggingkan senyum canggung yang begitu kaku.
Selain itu dia sudah tidak nyaman berada di sekitar Garda. Terutama tatapan yang membuat bulu kuduk Meella merinding. Tiba-tiba terlintas di benaknya ingatan saat Garda menyekapnya dulu. Makanya dia harus segera beranjak pergi dari hadapan Garda saat ini juga, untuk menghindari hal yang iya iya kembali terulang.
"Eh... permisi Pak," ucapnya lagi tanpa menunggu jawaban dari Garda dengan senyum canggung. Meella bergegas pergi hendak masuk ke kamar, mengambil tasnya yang sudah terisi dompet dan ponsel. Tetapi saat tinggal satu langkah lagi tubuh Garda benar-benar sampai di hadapannya.
Ketika posisi Meella sudah berhasil satu langkah melewati Garda, tiba-tiba tangannya di cekal kuat oleh Garda dari arah belakangnya. Sontak menahan laju langkah majunya. Refleks Meella menoleh ke belakang melewati bahu dengan tubuh agak menyerong. Gerakan memutar leher yang tampak elegan membuat rambut Meella berkibas dan bergerak indah seperti model iklan sampo anti ketombe di tv.
Degup jantung Garda maupun Meella berdetak bertalu-talu. Seperti orang yang habis lari maraton. Meella melirik lengannya yang masih digenggam Garda. Walau tidak sakit namun sangat risih.
Garda ikut melirik arah pandang Meella. Dengan berat hati ia pun melepaskan genggaman tangannya.
"Maaf," imbuhnya yang sejujurnya tidak rela untuk melepaskan.
"Kenapa terburu-buru? Emangnya kamu mau kemana?" tanyanya mendadak kepo sekaligus mengalihkan perasaannya yang mulai berkembang bebas.
Berbanding terbalik dengan wajah Garda yang tampak mendung. Pria itu patah hati dadakan. Dia pikir Meella sudah pindah ke lain hati, dan memiliki pasangan baru, pengganti dirinya tanpa mencerna ucapan Meella yang terakhir. Dia terlanjur sedih duluan hingga akal pikirannya beku.
Padahal pada malam itu, ketika dia diam-diam datang ke apartemennya, yang kini ditempati Meella. Di dalam kamar Meella, dia melihat banyak foto dirinya dipajang di sana. Tentu saja foto-foto lawas. Karena mereka berdua dipertemukan dan berpisah saat usia masih remaja. Dan paling membuat Garda bahagia adalah saat dirinya kembali menyentuh Meella. Keduanya pun terbakar dalam malam penuh gelora cinta. Ketika itu Meella terus saja menyebut namanya dalam percintaan manis mereka.
Oh, tidak. Ralat! Hanya Garda yang dapat menikmati percintaan itu. Pasalnya saat itu, Meella dalam kondisi terbilang setengah sadar. Atau memang tidak sadar. Gadis itu begitu pasrah sekali saat Garda menjamahnya. Tidak menolak sedikit pun bagai boneka bernafas. Tetapi bibirnya tidak alfa menggemakan nama Garda.
Namun, dari sekian banyak fakta tentang gadis dan cinta masa lalunya. Ada satu fakta yang belum diketahui Garda. Yaitu perihal kematiannya. Selama ini orang-orang yang dulu berada di sekelilingnya kini menganggap dirinya telah lama mati.
"Kebetulan hari ini adalah hari ulang tahunnya. Jadi, saya mau ke tempatnya buat ngerayain bareng dia," Meella menoleh pada kotak kardus yang teronggok di atas meja makan.
Garda mengikuti arah pandang Meella. Melihat benda yang sama.
"Saya buat kue ulang tahun. Tapi... gak berbentuk cake. Saya cuma buat donat," terang Meella mengenang momen terakhir saat ulang tahun bersama Garda.
Garda hanya diam membisu mengingat hal yang sama dengan apa yang diingat Meella. Dalam hati dia berandai-andai, jika donat-donat itu untuknya. Pasti saat ini dia sangat bahagia. Yah, sangat sangat bahagia tentunya. Mungkin karena ingatannya masih belum utuh seratus persen. Dia melupakan hari ulang tahunnya yang juga jatuh hari ini. Atau karena hari ulang tahunnya akan dirayakan dengan pesta besar-besaran dua hari lagi.
__ADS_1
"Boleh saya ikut?" pinta Garda tiba-tiba.
Meella mengerutkan dahinya hingga kedua alis hitamnya nyaris bertaut. Dia cukup terkejut mendengar permintaan Garda. Untuk apa dia ikut? pikirnya.
"Aku hanya ingin berkenalan siapa pria yang beruntung itu," tutur Garda seakan bisa membaca pikiran Meella. Tatapan matanya berubah sendu dan sedih.
Setelah mengambil tasnya di dalam kamar. Meella kini sudah berada dalam mobil. Tentu saja bersama Garda yang mendadak tertarik ingin ikut. Tidak lupa donat buatannya juga dibawa. Termasuk seikat bunga Lily, sekantung plastik kecil bunga tabur dan air mawar. Semuanya berpadu dalam satu wadah berbentuk paper bag besar.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam sambil melihat jalan yang mereka lalui. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Jika Meella senang akan merayakan ulang tahun sang suami, walau hanya di atas pusara. Maka Garda galau karena perempuan yang berstatus masih istrinya, karena tidak pernah sekalipun ia menceraikannya. Sudah punya pengganti dirinya. Wajarlah jika Meella sudah punya yang baru. Garda kan sudah lama hilang tanpa kabar. Ketika muncul pun dia tidak bisa mengingat siapa pun, kecuali Andika.
Garda mengernyit dahi saat mobilnya diminta berhenti tepat di pinggir jalan. Di depan sana terlihat jelas plang bertuliskan nama pemakaman umum.
"Ayo, turun Pak. Kita udah sampai," seru Meella dengan binar bahagia.
"Hah, turun?" Garda masih bingung kenapa harus turun di sini.
"Iya. Ayo!" Meella begitu bersemangat. Lalu membuka pintu mobil dan turun. Setelah memijak tanah ia menutup pintu mobil kembali.
Mau tidak mau Garda turun juga dengan begitu banyak pertanyaan yang menumpuk di dalam kepalanya. Kemudian membantu membawakan semua barang bawaan Meella yang tidak seberapa. Setelahnya mereka masuk ke dalam dalam kompleks pemakaman. Garda berjalan di belakang Meella sambil melihat kanan dan kiri. Tidak henti-hentinya pria itu mengerutkan dahinya. Bulu kuduknya merinding saat melihat banyak gundukan tanah merah dengan berbagai macam nama empunya nisan. Hiiiihhh, jadi horor gini ya? Padahal lagi gak uji nyali. Pikirnya.
Kenapa tempatnya di pemakaman sih? Masa iya pacarnya Meella salah satu petugas penggali kubur di sini? Atau... pemilik makam di sini? Oh, Tuhan... sejak kapan Meella jadi gila seperti ini?
Semua pertanyaan itu hanya mampir di benaknya saja. Sedari tadi perempuan itu sudah berjalan jauh memimpin Garda. Entah mengapa Meella jadi semangat empat lima di tempat angker begini. Tapi jika dia di kantor terkesan bodoh dan lemot. Wajahnya datar hampir tidak ada ekspresi yang ditunjukkan pada semua orang kantor.
Dari jarak satu meter Garda melihat Meella sudah berjongkok di samping salah satu makam. Makam itu tidak keramik. Hanya rumput-rumput pendek dan rapi menyelimuti seluruh tanah makam itu. Sepertinya rumput-rumput itu dirawat dengan baik setiap hari hingga bentuknya bagus.
Meella meletakkan kotak donatnya di pinggir makam. Kedua tangannya menengadah memanjatkan doa kubur untuk belahan jiwanya yang sudah lama tidur panjang di dalam tanah. Bulir bening mengalir dari celah matanya. Dia begitu khusyuk memanjatkan doa-doa terbaiknya hingga lupa dengan pria yang sedari tadi mengekornya di belakang.
Garda tertegun dan matanya nanar bersamaan, melihat nama yang tertulis pada batu nisan di depannya. Berkali-kali ia mengeja semua suku kata itu dalam hati. Namun semuanya tetap sama.
Pandega Garda Negara
Bin
Andika Pratama Negara
__ADS_1
Ya Tuhan...