Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#104


__ADS_3

Happy reading


Garda terbangun dari tidurnya kala tangan kanannya meraba tempat tidur di sebelahnya sudah kosong dan dingin. Itu tandanya orang yang semalaman tidur bersamanya sudah tidak ada. Buru-buru Garda membuka mata untuk memastikan keberadaan yang tidak lain adalah Meella. Benar saja wanitanya tidak ada di sampingnya. Kemudian dia mencari ke dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Sunyi, tidak ada suara gemericik air. Saat dibuka pintunya terlihat lantai kering, pertanda tidak ada aktivitas di sana.


Tidak hanya di kamar mandi. Garda pun mencari di setiap sudut apartemennya hingga ke dapur. Tetap saja hasilnya nihil. Orang yang dicarinya tidak ada dimana pun. Garda mengacak rambutnya frustasi.


Aaakhh! Dimana dia?


Garda tidak mau kehilangannya lagi. Dia ingin selalu bersamanya apa pun yang terjadi. Walau Andika turun tangan lagi untuk memisahkan, dia akan melawan sekuat tenaga.


Garda sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang kuat. Kendati masih belum bisa sekuat sang Papa, setidaknya dia tidak selemah dulu. Kini dia diam-diam punya kekuatan yang bisa diandalkan. Dan cukup menghalau kekuatan Andika.


Di tempat berbeda. Meella tengah berbaring di atas meja operasi lengkap dengan perlengkapannya. Diam-diam dia sudah merencanakan ini untuk membebaskan dirinya dari belenggu Garda. Ya, ini adalah satu-satunya cara agar bisa berpisah dengan pria itu.


"Apa anda sudah siap nona?" tanya dokter yang akan menangani proses operasinya.


"Iya, saya sudah siap dokter," sahutnya mantap seraya menganggukkan kepala.


"Ingat nona, setelah operasi ini perut bagian bawah anda akan sakit. Tubuh anda juga akan terasa lemah selama beberapa hari," ucap dokter itu sebelum menyuntikkan cairan yang membuat kesadaran Meella perlahan menghilang.


"Saya siap apa pun resikonya dokter," sahutnya mantap.


Perlahan kelopak mata Meella terasa memberat. Terbuka dan tertutup secara bergantian. Hingga tertutup pada akhirnya bersama hilangnya kesadaran wanita hamil itu.


*


"Apa kamu yakin melakukan ini semua?" tanya seorang pria muda dengan jas putihnya. Kala itu dia tengah berada di taman rumah sakit bersama seorang wanita sebaya dengannya.


Bertahun-tahun saling mengenal, tapi baru kali ini mereka berbicara berdua dengan topik serius. Juga pernah memendam satu rasa yang sama. Namun menguap begitu saja seiring berjalannya waktu, tanpa keduanya saling tahu apalagi saling mengungkapkan.


"Ya. Aku yakin. Bahkan sangat yakin. Dengan begini mereka akan lebih bahagia. gak perlu menderita seperti yang udah mereka alami," jawab si wanita serius akan keputusannya.


"Apakah menurutmu ini adil? Untuk mereka? Atau untuk diri kamu sendiri?" pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Hanya gelengan kepala dan nada kepasrahan yang dapat dilontarkan si wanita itu.


"Entahlah. Aku hanya ingin mereka bahagia."


"Lalu, kamu? Tidak kah kamu ingin bahagia seperti mereka?" desak si pria yang tampak tidak tega. Tetapi bila diteliti raut wajah cantik di sampingnya, tidak sedikit pun menunjukkan raut yang dikhawatirkan. Hanya pendar keikhlasan kendati tetap menyiratkan kesedihan yang mendalam.


"Kebahagiaan untuk aku sendiri udah gak penting lagi. Toh, aku udah terlanjur akrab dengan rasa sakit dan ditinggalkan. Jika pun aku hidup sendiri, jauh dari mereka. Aku rasa itu lebih baik. Dari pada aku berada di sekitar mereka. Hanya membuat mereka lebih sakit."

__ADS_1


"Tidak kah kamu pernah untuk egois sedikit? Setidaknya untuk kamu bahagia bersama mereka. Atau meraih cinta yang semestinya kamu rengkuh?"


Si wanita menggeleng lagi dengan senyum kecutnya. Bola mata di balik kacamata minus itu, tampak memerah menahan genangan air mata. Namun tidak sedikit pun dia mau menunjukkan bahwa ada luka yang dalam di hatinya. Dia malah tersenyum lebih lebar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menghindari kontak mata yang terasa sangat canggung sekali.


"Cintaku udah hilang bersama orang yang terkubur di dalam tanah enam tahun lalu," suaranya terdengar jernih juga lirih.


"Tapi dia masih hidup. Dan sudah kembali," tukas si pria.


"Aku tahu. Tapi kami tetap gak bisa bersama. Yaaahhh... Anggap aja kita berdua beda alam. Lagi pula dia udah bahagia dengan hidupnya. Dan sebentar lagi dia akan menempuh hidup baru dengan cinta barunya. Jadi, biarlah aku hanya menjadi masa lalu yang mungkin hanya bisa diingat separuh. Yah, biarkan semua berjalan sesuai alurnya. Seperti aku yang udah milih jalan mana yang aku lalui dan tuju," tandasnya yang tidak bisa disanggah lagi oleh si pria.


*


Meella sudah dipindahkan ke ruangan perawatan. Rencananya dia akan menjalani perawatan pasca operasi hanya satu hari saja dan pulang besok pagi.


Wanita itu berbaring di atas ranjang pasien. Dengan menyembunyikan tubuhnya sebatas pinggang di balik selimut rumah sakit. Lengkap dengan baju khusus pasien.


Tatapan matanya lurus menghadap plafon kamar rawatnya. Entah apa isi kepalanya saat ini yang mendadak terasa kosong. Hingga dia hanya diam dalam kebisuan dan tenggelam di kesunyian. Tentu saja sunyi, dia hanya seorang diri di sini. Tidak ada seorang pun yang tahu keberadaannya saat ini. Karena memang tidak memberi tahu siapa pun. Termasuk Tari yang merupakan salah satu orang yang paling dekat dengannya.


Meella memang sengaja melakukan ini, agar setelahnya bisa pergi dari hidup mereka tanpa beban. Walau tidak memungkiri ada rasa sakit dan sedih berada jauh dari mereka.


Ayah... Mama... maaf Lala masih belum bisa menjadi kebanggaan kalian berdua, seperti Thatha yang sekarang udah bahagia bersama Rega. Mungkin dengan Lala pergi jauh dari kalian bisa meringankan beban kalian semua.


Terdengar pintu dibuka paksa mengalihkan atensi Meella pada sumber suara. Sontak Meella membeliak kaget melihat siapa yang baru saja menerobos masuk ke dalam kamar rawatnya.


"Ayah? Mama?" desisnya hampir tidak bersuara.


Wajah Gusti tampak merah padam dan marah. Sedangkan Maryam menunjukkan ekspresi sendu dan sedihnya. Tidak henti-hentinya wanita itu menyeka air matanya yang mengalir dengan sapu tangan.


Kedua orang tua itu berjalan mendekati tempat pembaringan Meella.


Meella berusaha bangkit dari posisinya hendak duduk. Namun Maryam buru-buru menghampiri lebih dulu dari Gusti, dan mencegahnya agar Meella tetap pada posisinya semula.


Banyak pertanyaan mengusik dan mengisi kepalanya yang tadi terasa kosong. Mengapa mereka datang? Dari mana mereka tahu keberadaannya di sini? Dan masih banyak pertanyaan lagi yang memenuhi serta ingin meledakkan kepalanya.


Semua pertanyaan itu pun akhirnya terjawab saat orang terakhir masuk di belakang Gusti. Orang itu pasti yang sudah memberi tahu mereka. Ya, dia. Orang yang sedang mendorong kursi roda yang ditunggangi Mitha, saudara kembarnya. Merupakan pelaku utama terbongkarnya rahasia ini.


Ah, Meella lupa saat berbicara terakhir kali dengan orang yang merupakan adik iparnya, agar tutup mulut dan tidak mengatakan apapun pada keluarganya perihal tindakan bodohnya ini.


Mitha yang masih memakai baju pasien karena masih dalam perawatan di rumah sakit. Memaksa ikut menemui Meella yang memang sudah lama dirindukannya. Saudara satu-satunya namun berbeda nasib dengannya.

__ADS_1


"Apa kamu pikir dengan begini kamu sudah bertindak benar, hah?" sembur Gusti geram. Tentu pria itu sangat marah dengan perbuatan Meella.


"Apa kamu pikir perbuatanmu ini dibenarkan? Kamu sudah berdosa melakukan perbuatan zina dengan lelaki laknat itu. Sekarang kamu menambah dosa lagi dengan menggugurkannya. Di mana otak kamu, La?" Gusti meneteskan air matanya.


Meella hanya memalingkan wajahnya. Menyembunyikan air mata yang tidak mungkin bisa ditutupi dari pandangan mereka. Juga menutup mulutnya agar suara Isak tangisnya tidak nyeplos dari bibirnya.


"Kenapa kamu selalu buat Ayah malu? Kenapa La? Apa dosa Ayah sama kamu, hah?"


"Ayah, cukup!" suara Maryam menginterupsi. "bisakah Ayah bersikap lebih bijaksana tanpa menghakimi?"


"Ma..."


"Yah, Mama mohon untuk kali ini, jangan hakimi Lala. Mama tahu Lala salah, tapi bukan seperti itu Ayah memperlakukannya," protesnya dengan suara bergetar disela tangisnya.


"Lala anak kita, seperti Thatha. Cukup Ayah. Cukup. Selama ini Lala sudah banyak menderita dengan segala keinginan Ayah. Hingga dia lupa cara bagaimana mendapatkan kebahagiaan."


Gusti terhenyak menyimak pernyataan sang istri. Seakan menampar wajahnya keras.


"Kenapa sih Ayah. Ayah selalu membeda-bedakan antara Lala dengan Thatha? Padahal keduanya putri kita, Yah...," Maryam menjeda ucapannya karena isaknya lolos dari bibirnya.


"Lala bukan malaikat yang tidak punya dosa. Anak kita hanya manusia biasa yang bisa banyak melakukan dosa."


"Tapi, Ma... Lala sudah keterlaluan..." belum sempat Gusti menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Meella menyelanya.


"Ayah sama Mama gak usah bertengkar di sini," untuk pertama kalinya Meella meninggikan suaranya di depan kedua orang tua itu, setelah sebelumnya menyeka air mata dan mengendalikan tangis yang ditahannya.


"Aku tahu aku salah. Aku sadar, aku adalah manusia yang paling banyak salah dan dosa di dunia ini. Tapi bisakah aku memilih jalanku sendiri? Karena aku lelah menjadi boneka yang gak dianggap sama sekali. Walau pun aku sudah susah payah menjadi apa yang diingini. Tapi keberadaanku seakan gak pernah ada. Aku minta maaf walau dosa aku gak bisa dimaafkan," Meella berusaha mengendalikan air mata yang berusaha mendesak keluar.


"Aku... minta maaf. Aku udah banyak bikin malu terutama Ayah. Haahhhh," Meella mendesah panjang untuk menghilangkan sesak di dua rongga dadanya yang terasa menghimpit.


"Aku janji setelah ini gak akan buat Ayah atau Mama. Bahkan yang lainnya malu dan apalah namanya. Karena setelah pemulihan ini aku akan pergi jauh dari hidup kalian. Maka, hiduplah lebih bahagia setelah ini."


"Tidak. Kamu tidak boleh kemana-mana," sergah Maryam dengan derai air matanya.


"Bagus. Mungkin itu lebih bagus jika kamu tidak pernah terlahir di dunia ini," sarkas Gusti langsung beranjak meninggalkan kamar rawat Meella. Dia memang sangat sulit berbicara lembut dengan Meella. Hingga hanya kalimat bernada kasar yang mampu diucapkan disertai air mata yang tidak bisa berhenti mengalir. Walau bagaimanapun jauh di lubuk hati terdalam dia sangat menyayangi putrinya itu. Putri yang sebenarnya paling berbakti.


*


Hai readers... sampai di sini dulu ya ceritanya. Air mata author banjir nih 😭😭😭 takut hujan lokal.

__ADS_1


See you next episode ya 😘🥰❤️❤️🙏


__ADS_2