Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Susah Move On


__ADS_3

Babak final akhirnya datang juga. Setelah hampir satu Minggu penuh para peserta turnamen berjibaku menjalani babak demi babak pertandingan. Kini, mereka memperebutkan posisi juara teratas di masing-masing cabang olahraga yang mereka ikuti.


Tepat pukul 8 pagi waktu setempat, turnamen dimulai dengan dua cabang olahraga berbeda sekaligus. Yaitu, pertandingan voli menggunakan lapangan out door. Lapangan serbaguna karena sering digunakan olahraga dan kegiatan apa saja, terletak di tengah sekolah, di sisi kanan-kiri dan depan di kelilingi gedung kelas X dari jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Sementara untuk cabang olahraga basket menggunakan lapangan lain. Terletak di aula sekolah yang cukup luas untuk dijadikan lapangan indoor. Bukan hanya pertandingan basket saja menggunakan lapangan itu. Juga pertandingan futsal akan menggunakan lapangan yang sama.


Tanpa komando para penonton dari masing-masing tim cabang olahraga itu, langsung menempati tribun penonton pendukung sekolah masing-masing dengan atribut untuk menyemangati tim jagoannya.


Tidak ketinggalan Qameella juga menjadi bagian dari mereka. Gadis itu duduk berbaur dengan penonton lain, satu sekolah dengannya. Hatinya cukup senang melihat Qarmitha akhirnya berada di antara pemain. Walau pun terpaksa harus duduk di bangku cadangan. Mengingat cedera kaki yang dideritanya baru sembuh.


Mendadak senyum Qameella perlahan memudar, saat sepasang netra gelapnya menangkap dua sosok yang sangat familiar. Di tribun penonton yang berada di sisi lain seberang lapangan. Siapa lagi kalau bukan Garda dan Fiola. Selama ini Qameella hanya tahu keduanya hanya bersahabat.


Tetapi melihat posisi duduk mereka yang saling berdekatan. Tangan Fiola menggamit lengan Garda posesif, seakan tidak ingin ada yang merebutnya. Sedangkan Garda tampak fine-fine saja diperlakukan seperti itu. Hal itu tentu saja mengundang persepsi berbeda bagi siapa saja yang melihatnya.


Tiba-tiba Garda sengaja merangkul pundak Fiola. Setelah sebelumnya melepaskan gamitan tangan Fiola. Dia sengaja melakukannya untuk melukai hati Qameella. Setelah ucapan jujur gadis itu melukai hatinya.


Fiola yang mendapat perlakuan seperti itu, merasa di atas angin. Gadis cantik itu berpikir, sebentar lagi Garda akan jatuh ke dalam pelukannya. Membalas cintanya yang selama ini hanya terpendam dalam sanubarinya.


Namun sepertinya usaha balas dendam Garda tampak sia-sia. Katakan saja mantan gadisnya, terlihat tidak terpengaruh sama sekali. Qameella malah menunjukkan senyum terbaiknya, seakan ikut senang melihat kebahagiaan Garda dan Fiola. Kendati sebenarnya dalam hati Qameella sedih melihat kemesraan Garda dan Fiola. Padahal baru kemarin cowok itu menyatakan cintanya pada Qameella.


Heh, biarin aja deh, toh dia berhak bahagia. Mendapatkan seseorang yang bisa mencintai dan menyayanginya dengan tulus. Dari pada sama gue, dia gak bisa bahagia. (Qameella)


Sialan tuh cewek! Masa dia gak ngaruh sama sekali ngelihat gue sama Fiola begini? Terbuat dari apa sih hatinya? Gak ada ekspresi marah sama sekali di mukanya. Atau... memang benar kalo dia beneran gak ada rasa sama gue. (Garda)


Garda frustasi sendiri melihat sikap cuek yang ditunjukkan Qameella. Ingin rasanya dia bangkit berdiri, lalu datang menghampiri gadis itu. Mencaci maki, berteriak dengan keras bila perlu memarahi gadis itu. Biar semua orang tahu betapa luka hatinya dengan sikap dingin Qameella. Ya, sekarang cewek berkacamata minus itu lebih mirip es batu yang membeku juga keras.


Tidak lama berselang Rega datang, duduk di sisi Qameella. Pemandangan itu tentu saja membakar hati Garda. Apalagi melihat senyum tulus Qameella yang ditujukan untuk Rega. Sungguh sangat sakit. Lebih sakit disayat sembilu.


Tanpa ba-bi-bu Garda melepas rangkulan tangannya dari pundak Fiola. Kemudian beranjak pergi meninggalkan tribun.

__ADS_1


Fiola pun terkejut juga heran dengan sikap Garda yang tiba-tiba berubah drastis. Dia hanya bisa menatap punggung Garda yang terus berlalu dari pandangannya.


"Ada apa sama si Garda, kok jadi aneh gitu?" gumam Fiola masih tidak mengerti. Kemudian matanya tanpa sengaja melihat sosok yang mirip sekali dengan Garda.


"Lho, itu... ah, gak mungkin dia Garda. Barusan Garda kan keluar lapangan. Tapi, masa cepat banget udah duduk bareng sama si kecoa mata empat itu?" Fiola tampak sedang berpikir keras. Dalam kebingungannya dia keluar meninggalkan tempat duduknya. Mengejar Garda yang sebenarnya sudah telat untuk menyusul. Lebih baik telat deh, dari pada tidak sama sekali.


*


Garda baru saja selesai mengikat tali sepatu futsal kesayangannya. Kostum futsal kebanggaannya dengan warna merah dengan lis hijau muda pun sudah melekat di tubuh atletisnya. Cowok ganteng mirip penyanyi dan aktor asal negeri ginseng, Kim Myung Soo, terlihat melamun.


Tikeng, Rombeng, Ryan Keling, Sonik dan Iwan juga prihatin. Semangat juang '45 Garda yang pernah berkobar diawal-awal mengikuti pertandingan. Hingga bertekad meraih gelar juara saat berhasil memenangkan pertandingan pada babak semifinal. Namun saat pertandingan final sudah di depan mata, Garda malah terlihat tidak bersemangat.


Mereka semua tahu apa penyebab kegalauan Garda. Walau pun cowok itu tidak mengatakan perasaannya, tetap saja sahabat-sahabat yang selalu menemani hampir 24 jam tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam hatinya.


Mood Garda saat ini benar-benar seperti rollercoaster. Naik turun, menukik tajam. Padahal dalam hitungan menit dia dan teman-teman satu timnya akan bertanding. Dia langsung sadar bahwa tidak boleh terus terbawa perasaan ketika melihat raut kekhawatiran di wajah para sahabatnya. Sebisa mungkin Garda bersikap tenang dan natural.


Akhirnya pertandingan final futsal dimulai. Para pemain dari kedua tim sudah masuk ke dalam lapangan. Pertandingan dimulai setelah terdengar suara pluit yang ditiup wasit.


Beberapa kali netra Garda diam-diam mencuri pandang ke tribun penonton. Mencari sesuatu yang ingin dilihat dan didengar. Apalagi kalau bukan Qameella. Garda ingin sekali melihat wajah cewek itu tersenyum, kadang matanya menyiratkan raut kekhawatiran dengan jemari tangan yang saling mengait dan meremas. bertepuk tangannya sambil meneriakkan nama Garda, secara otomatis membakar semangat cowok itu meraih kemenangan. Terpaksa kali ini dia harus menelan pil pahit karena ketidak beradaan gadis itu di sini.


Tetapi untuk kali ini Garda terpaksa mengubur dalam-dalam harapan itu. Qameella tidak akan ada untuknya lagi. Cewek itu sudah memilih jalannya sendiri. Berpisah darinya.


Di antara para penonton, Fiola bersama teman-temannya sesama cewek, duduk paling depan dengan suara paling keras memberi semangat untuk Garda dan kawan-kawan. Namun tidak berarti apa-apa bagi Garda. Selain istrinya, Qameella, semuanya tidak berarti dan terasa hampa.


Garda tersadar dari lamunannya setelah mendapat operan bola dari Tikeng. Dengan cepat dia mengambil alih si kulit bundar itu, menggiringnya ke gawang lawan.


"Ayo, Garda masukin bolanya!" pekik seseorang dari arah penonton, langsung ditangkap oleh rungu si empunya nama. Refleks Garda menoleh dengan kaki terus bergerak tanpa melepaskan si kulit bundar.

__ADS_1


Beberapa menit sebelumnya, Tari berbicara pada Qameella di lorong sepi sekolah mereka. Dengan sungguh-sungguh Tari menjelaskan tentang Garda yang terlihat tidak bersemangat menghadapi pertandingan. Cowok itu butuh kehadiran dan dukungan Qameella agar bisa memenangkan pertandingan. Namun gadis itu menolak karena hubungan mereka sudah berakhir.


Tari tidak menyerah begitu saja. Dengan susah payah dia membujuk Qameella. Kemudian Tari menunjukkan foto-foto lesu Garda di ruang ganti, sudah pasti diambil secara diam-diam oleh Ryan. Salah satu sahabat Garda, yang paling peduli dan paling mendukung hubungan Garda dengan Qameella.


"Ayolah, Meel... cuma kasih dukungan doang, gak dosa kok..." pinta Tari memohon.


Qameella berpikir sejenak. Lalu dia pun setuju dengan ide gila Tari. Lantaran ucapannya sang sahabat membuat Qameella mengabaikan prinsipnya.


Seulas senyum lebar terbit dari sudut bibir Garda. Hatinya menghangat dan bersorak riang melihat kehadiran Qameella dan Tari di pinggir lapangan. Kemudian hanya satu kali tembakan jarak jauh Garda berhasil menjebol gawang lawan.


"Gooool!" pekik semua orang nyaris bersamaan.


Garda melompat senang. Teman-teman satu timnya langsung memeluknya senang, melihat kebangkitan semangat Garda kembali berkobar. Tidak lupa mereka melakukan selebrasi di sudut pandang sambil menghadap ke arah penonton.


Qameella tertawa melihat aksi selebrasi mereka yang terlihat lucu. Lalu senyum lebar terus saja menghias di bibir kecil dan penuhnya.


Garda tertegun beberapa detik melihat senyum manis dan tulus dari gadis itu. Jarang-jarang dia bisa melihat istrinya, (ingat ya Garda tidak pernah mengucapkan kata cerai walau pun Qameella mengatakan putus hubungan mereka. Jadi, mereka masih berstatus suami-istri) tertawa lalu tersenyum seperti itu, hingga di matanya Qameella terlihat imut.


Fiola berdecak kesal melihat kehadiran Qameella yang menurutnya sangat menggangu seperti hama. Apalagi setelah Garda melihatnya, seakan dirinya hilang tak terlihat tertelan bumi. Hatinya sakit karena keberadaannya tidak pernah berpengaruh apa-apa bagi Garda. Padahal sedari tadi mulutnya terasa berbusa, bibirnya seakan mau dower berteriak seperti orang gila memberi semangat untuk Garda.


Tetapi respon Garda biasa saja. Bisa dibilang seperti masakan yang tidak memiliki rasa, anyep! Namun setelah kehadiran Qameella, sikap Garda terlihat luar biasa. Semangat juang '45-nya langsung bangkit. Bagai prajurit perang yang mampu mengusir penjajah dari tanah air.


Sialan nih cewek! Gue jadi penasaran cem-ceman model apa sih yang dia pake, sampai si Garda bertekuk lutut sama cewek cupu kaya dia? Batin Fiola berdecak kesal.


Priiiit! Tiupan peluit panjang menandakan pertandingan berakhir.


Para penonton pendukung tim Garda bersorak kegirangan menyambut kemenangan mereka.

__ADS_1


Garda dan teman-temannya di tengah lapangan melompat kegirangan. Kemudian saling berpelukan karena tim mereka berhasil memenangkan pertandingan final futsal kali ini.


Setelah selesai berpelukan, Garda menyisir setiap penjuru lapangan mencari sosok Qameella. Tapi gadis itu telah hilang bersama para penonton lain yang berduyun-duyun meninggalkan lapangan. Seketika hatinya kembali kecewa dan sedih.


__ADS_2