Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Kejutan Pagi


__ADS_3

🙋Hai readers... udah lama author baru update. Mohon dimaklumi karena kesibukan author di dunia nyata. Hehehe...


Jangan lupa apalagi bosan kasih vote, like n komen ya...😘😘


Happy reading 🤗😁😁...


********************************************


Hawa kecanggungan begitu kentara antara Qarmitha dan Qameella, terasa menyelimuti pagi ini. walau pun Qameella sangat berusaha tidak menunjukkannya. Tetapi Qarmitha tidak bisa menutup mata. Apalagi dia sangat sadar dengan kesalahan yang telah diperbuatnya. Parahnya gara-gara perbuatannya hubungan Qameella dan Garda terancam bubar.


Meskipun Qameella tidak pernah mengakui perasaannya dengan Garda. Juga selalu menyangkal hubungannya dengan cowok itu. Qarmitha yakin, pasti hatinya sangat sedih dan luka.


Qarmitha menyesal setelah Garda menyadari bahwa dirinya bukan Qameella. Dia pun merasa sangat bersalah telah mengganggu hubungan mereka berdua. Sayangnya nyali gadis tomboy itu hilang entah kemana, hingga lidahnya keluh untuk sekedar meminta maaf dan pengampunan dari saudari kembarnya.


Suasana di meja makan saat sarapan pagi ini mendadak terasa hambar. Meskipun rasa nasi goreng buatan Maryam terasa menggigit karena terlalu pedas. Tidak berbeda jauh dengan teh dan susu hangat yang seharusnya manis juga ikut-ikutan tawar. Semua itu akibat ulah sepasang gadis kembar, Qameella dan Qarmitha, mendadak pendiam tanpa seorang pun yang mau bicara.


Gusti dan Maryam saling bertukar pandang. Mereka keheranan dengan sikap kedua putrinya.


Mungkinkah keduanya sedang ada masalah? Pikir mereka berdua.


Biasanya Qarmitha yang banyak bicara. Mengkritik segala sesuatu yang tidak disukainya dari Gusti. Sementara Qameella, selain menjadi pendengar yang baik. Dia adalah penengah yang baik  di antara ayah dan anak itu. Tapi kali ini terasa aneh. Keduanya membisu. Sibuk dengan sendok dan garpu masing-masing. Hingga terdengar dentingan sendok dan garpu yang membentur piring.


Gusti menoleh ke arah Maryam. Tatapan matanya seakan berbicara. Maryam yang mengerti maksud tatapan mata suaminya langsung mengangguk setuju. Kemudian lelaki yang masih terlihat ganteng dan gagah diusianya yang tidak lagi muda itu, mengeluarkan sebuah kunci sepeda motor dari saku baju kemeja lengan pendek yang sedang dikenakannya. Diam-diam dia membelikan sebuah sepeda motor metik untuk kedua putri kembarnya.


Di letakkan di atas meja makan, lalu menyorongnya ke depan diiringi suara gesekan antara kunci dengan meja. Keduanya pun mengalihkan pandangan ke sumber suara. Pria yang sudah berusia berkepala lima itu sengaja memberikan kejutan pada pagi ini. Tidak tega rasanya membiarkan kedua putrinya selalu naik kendaraan umum, juga malu bila terus-terusan menumpang kendaraan bersama teman-temannya. Walau pun Tari, Sarah, Amel dan Yasmin tidak pernah meminta bayaran sekalipun. Dia pun sangat tertohok dengan ucapan Qamitha tempo hari. Hingga memaksanya menuruti keinginan sang putri.


Qamella dan Qarmitha serentak menghentikan kegiatannya. Sepasang netra mereka langsung tertuju pada yang teronggok tidak jauh dari piring makan mereka. Sedetik, ekspresi wajah mereka terlihat datar, bahkan cenderung cuek. Pada menit berikutnya, barulah terlihat perubahan air muka senang yang memancar dari wajah si kembar, Qameella dan Qarmitha.


Qameella ingin menyambar kunci itu. Tetapi kalah cepat dengan gerakan tangan Qarmitha. Dia hanya diam, tidak ingin berebut dengan saudari kembanrnya.


“Ayah lagi gak php-in Thatha atau Lala kan, yah?” telisik Qarmitha curiga sambil mengangkat kunci di tangannya.


Gusti yang duduk di depannya, yang dipisahkan oleh meja kayu dilapisi taplak bermotif kotak-kotak merah jambu di atasnya.


Gusti menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan ke atas. Membentuk senyum tulus seorang ayah. Dia tahu benar sifat salah satu putrinya itu. Terlalu terbuka dalam bebicara, dan terlalu terus terang.


“Ayah sengaja membeli motor untuk kalian. Tapi maaf, ayah tidak bisa membelikan kalian satu per satu. Karena rumah makan kita masih membutuh banyak biaya agar terus berkembang." ujar Gusti miris.

__ADS_1


"Gak papa kok, yah... ini aja kita udah sangat bersyukur, dan terima kasih banget sama ayah. Karena dalam kondisi keuangan keluarga yang masih belum stabil, ayah mau menyisihkan uang untuk membelikan kita motor." hibur Qameella memberikan ketenangan bagi Gusti.


"Lagian, kita kan bisa boncengan naik motornya. Jadi, ayah gak usah khawatir kita berdua akan saling iri." lanjutnya terdengar sangat bijak.


"Terima kasih atas pengertian kamu, La..."


"Yah, motornya dibeli secara cash atau kredit nih?" tanya Qarmitha serius.


"Kalo soal itu kamu tenang aja, Tha. Sudah ayah tanggung, tidak usah khawatir." jawab Gusti.


"Ya... kali masih kredit. Bisa-bisa uang saku kita berdua dipangkas buat bayar setoran tiap bulannya." hati Gusti tercubit oleh nyinyiran Qarmitha.


"Eh... Thatha... bukannya bilang terima kasih sama ayah, malah ngomong seperti itu sih? Tidak sopan, tahu?" tegur Maryam memarahi Qarmitha.


Qarmitha mendengus pelan, mencebikkan bibir bawahnya.


"Oke, oke, makasih ayah... ayahku yang paling baik sedunia. Ayah yang paling ganteng sejagad raya. Thatha sayang ayah..." ujarnya manja dan sangat lebay.


"Kamu ini, terlalu lebay." sungut Gusti tergelak dengan ucapan Qarmitha.


Qameella dan Maryam hanya tersenyum senang.


*


Qarmitha tampak tidak semangat mendengar penjelasan dari Pak Kosasih, guru mata pelajaran Akuntansi. Kepalanya terasa berdenyut mendapat tugas membuat lajur penjualan. Buku besarnya yang terbuka lebar sudah selesai diberi garis. Namun masih kosong, belum ditulis satu huruf pun.


Ah... gue gak bisa selamanya begini terus nih! Batinnya meronta.


Sarah yang duduk di samping Qarmitha menyadari kegelisahan salah satu sahabatnya yang unik dan eksentrik itu. Cewek cantik berambut kepang itu langsung menegur Qarmitha.


"Kenapa lo?" bisik Sarah.


"Bete gue. Entar gue nyontek aja deh sama elo."


"Ah, kebiasaan lo." hardiknya masih berbisik pelan.


Qarmitha tersenyum yang terlihat menyebalkan di mata Sarah, beranjak berdiri sambil mengangkat tangan kanannya.

__ADS_1


"Pak." ujarnya terdengar cukup lantang. Membuat lelaki berkacamata tebal itu mengangkat wajahnya.


"Ada apa Qarmitha?" tanya Pak Kosasih dari mejanya.


"Saya izin ke kamar mandi, Pak." jawab Qarmitha beranjak berdiri setelah mendapat persetujuan dari sang guru.


Qarmitha terpaksa berbohong izin pergi ke kamar mandi untuk menghilangkan rasa jemunya. Menurutnya pelajaran akuntansi adalah pelajaran yang sulit setelah pelajaran matematika. Dia akui sejak awal masuk SMA satu-satunya pelajaran yang paling tidak disukainya adalah pelajaran tersebut.


Brukk! Semua buku jatuh berserakan di lantai dekat kaki Qarmitha. Rupanya cewek itu tidak sengaja menabrak seseorang yang datang dari arah berlawanan di koridor sekolah. Kejadiannya terjadi begitu saja dan sangat tiba-tiba. Ketika itu Qarmitha baru saja bangkit berdiri setelah merepikan tali sepatu sebelah kirinya terlepas.


"Sori, sori, gue gak sengaja." ujarnya sangat menyesal sambil membantu memunguti buku-buku yang jatuh.


Suara Qarmitha sudah seperti radio rusak meracau mengucapkan kalimat memohon maaf. Tetapi orang yang sudah ditabraknya tidak berkata sepatah kata pun. Hanya suara decakan yang sempat keluar saat awal buku-buku itu berhamburan dari genggamannya.


Garda?!


"Eh, elo?" Qarmitha terkejut melihat penampakkan cowok yang sangat mirip dengan Garda.


Cowok itu tampak cuek dengan ekspresi wajah yang dingin. Namun Qarmitha menganggap cowok itu adalah Garda yang masih marah kepadanya. Tanpa membuang kesempatan cewek itu tanpa malu-malu menawarkan bantuan untuk menebus kesalahannya. Sayangnya, cowok itu masih tetap cuek juga acuh kepadanya. Kemudian dia berlalu begitu saja meninggalkannya.


"Woi, kakak ipar, sejak kapan elo pindah sekolah di sini?" pekik Qarmitha sok akrab. Dia langsung mengejarnya. Menyamakan gerak langkahnya agar bisa sejajar.


"Kok gue baru tahu ya?" cowok itu terlihat tidak terpengaruh. "Kakak ipar! Elo masih marah ya sama gue?" tanyanya blak-blakkan.


Cowok yang dikiranya Qarmitha adalah Garda, lama kelamaan gerah juga dipanggil kakak ipar. Sontak langkahnya terhenti. Memutar tubuhnya menyamping menghadap cewek aneh yang baru pertama kali ditemuinya.


"Siapa yang kakak ipar?" tanyanya geram. Tatapan matanya tajam seakan ingin menusuk bola mata Qarmitha.


"Elo lah siapa lagi? Kan di sini cuma ada elo doang."


"Dasar cewek aneh!" decaknya kesal.


Setelah itu melanjutkan langkahnya yang terhenti. Dia harus pergi ke ruangan guru untuk menyerahkan buku tugas teman sekelasnya dengan segera, agar tidak tertinggal pelajaran berikutnya.


"Hei, kakak ipar. Elo kok jutek banget sih? Iya, gue ngaku salah. Gue janji gak bakalan ngulangi kesalahan yang sama lagi. Pokoknya gue dukung lo 100% jadian sama si Lala. Swear deh!"


Ck! Dasar cewek stress! hardik cowok itu dalam hati.

__ADS_1


Qarmitha tidak bisa mengejar cowok yang sebenarnya adalah saudara kembar Garda, Rega, lagi. Kala langkahnya tertuju pada ruangan guru. Dia memilih pergi ke kamar mandi saja, dari pada bertemu dengan wali kelasnya di sana. Sudah dapat ditebak alasan ketakutannya. Apalagi kalau bukan takut kena tegur, juga kena pengurangan nilai karena keluar kelas di jam belajar.


__ADS_2