
Qameella duduk di atas tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya. Wajah tenggelam menumpukan kening di atas kedua lututnya.
Kesedihan masih menyelimuti hatinya yang perawan. Potongan demi potongan bayangan bersama Garda menari-nari memenuhi memori ingatannya. Namun pemandangan tadi saat di rumah sakit membuat hatinya berdenyut sakit.
Akhhh... ya Tuhan... kenapa bisa sesakit ini? Sepertinya menjadi dua kali lipat. Ada apa ini?
Qameella benar-benar tidak mengerti. Bukankah ini bukan kali pertama melihat Garda bersama cewek lain?
*
Qarmitha berlari keluar meninggalkan restoran cepat saji yang ada di dalam mall yang dikunjungi bersama ketiga sahabatnya, Sarah, Amel, dan Yasmin. Dadanya berdenyut sakit melihat Kevin bersama seorang cewek lain. Bukan hanya melihat, cewek tomboy itu juga memberanikan diri untuk menyapa mereka. Ada yang tahu bagaimana reaksi Kevin dan cewek bersamanya melihat kehadiran Qarmitha di antara mereka, plus ketiga sahabatnya?
Yups! Kaget, terkejut dan ekspresi sejenisnya yang menunjukkan ketidak siapan mereka. Berbanding terbalik dengan sikap santai dan cuek yang Qarmitha tunjukkan kepada mereka berdua.
"Hei, Kevin... long time no see, ya?" ujar Qarmitha menarik satu kursi di depan mereka. Tanpa meminta persetujuan mereka, gadis itu langsung duduk. Lalu tersenyum ramah sambil menopang dagu dengan satu tangannya. Jarak mereka dibatasi oleh meja berbentuk persegi.
"Mi-Mitha?" suara Kevin tercekat. Wajahnya memucat tertangkap basah bersama dengan cewek lain.
"Iya," sahutnya ramah seolah tidak terjadi apa-apa pada hatinya yang kini sedang bergejolak dan nyaris meledak saat itu juga. Senyum pun sengaja disunggingkan.
"Kamu, ngapain ada di sini?" selidik Kevin merasa terusik dengan keberadaan Qarmitha, sang pacar. Entah status itu masih berlaku atau tidak saat ini.
"Ngapain?" ulang Qarmitha penuh penekanan. Sorot matanya syarat akan luka. "nanyanya kok aneh sih?" alisnya bertaut mencetak kerut di dahinya dengan sorot mata yang tajam. "yang namanya ke mall, pasti lah mau seneng-seneng, iya sih guys?" wajahnya sengaja dipalingkan ke belakang, meminta persetujuan ketiga sahabatnya yang berdiri di belakangnya.
"Yoi!" sahut mereka serentak. Untung saja resto yang mereka datangi sedang sepi pengunjung. Hanya ada beberapa yang masih tetap tinggal dengan tempat duduk yang saling berjauhan. Hingga tidak terlalu mengundang perhatian.
"Mau jalan sama pacar. Mau selingkuh juga boleh," tambah Qarmitha sengaja menekan kata 'selingkuh' untuk menohok hati cowok yang katanya memacarinya, namun sudah berbulan-bulan menggantung hubungan mereka. Hufth! Udah kaya jemuran aja!
Tangan Kevin mengepal menahan emosi.
Cewek yang duduk di sebelah Kevin mendadak gelisah mendengar ucapan Qarmitha. Terutama saat cewek itu mendapat tatapan mengintimidasi Qarmitha yang notabene pacar resmi Kevin. Sungguh dia benar-benar menjadi pelakor di sini.
"Mitha, aku gak selingkuh!" Kevin membela diri dengan menggertakkan giginya.
"Oya?" Qarmitha tersenyum lebar sambil mengerjap-ngerjapkan matanya jahil. "tapi aku gak bilang kalo kamu selingkuh, tuh."
Kevin benar-benar dibuat geram dengan sikap Qarmitha. Dalam hati dia mengakui, dirinya lah penyebab hubungan yang tidak jelas antara dirinya dan Qarmitha. Tapi, dia tidak mau disalahkan karena Qarmitha lah yang membuatnya tidak berselera melanjutkan hubungan menjadi baik-baik saja.
"Tapi kalo kamu merasa selingkuh, ya udah akui aja. Aku senang kamu mau jujur," sungguh Qarmitha membuat geram Kevin atas ucapannya itu. "lagian, setelah lihat kamu sama cewek yang gak jelas ini, aku udah paham kalo hubungan kita gak bakal lanjut iya, kan? Kamu pasti udah nyaman sama dia. Akui aja Vin. Gak perlu malu-malu. Aku sih orangnya terbuka aja. Dan..." dia sengaja menjeda ucapannya.
"Aku tahu kamu gak akan menarik aku, dan mempertahankan hubungan kita. Karena biasanya cowok-cowok itu lebih senang dengan pelakor dari pada pacar resminya, yang..." Qarmitha mengendikkan bahu sambil mencebikkan bibirnya. "mungkin dianggap udah ngebosenin. Udah gak asyik walau sekedar cuma buat diajak jalan doang."
Kevin dan cewek itu hanya diam membisu mendengar semua penuturan Qarmitha. Mereka berdua seakan sedang mengaminkan ucapan gadis yang sedang berusaha untuk tetap tegar. Meskipun dalam hati dia menangis.
__ADS_1
"Mith..."
"Ssstt!..." gerakan cepat Qarmitha menutup mulut Kevin dengan satu jari telunjuknya. Tidak membiarkan cowok sialan itu berkata apapun. "Gue tahu apa yang mau elo omongin ke gue. Mulai hari ini kita fix putus!" tenggorokan Kevin tercekat. Dalam hati dia merutuki kebodohannya yang membuat keadaan seperti ini. Harga dirinya sebagai seorang cowok hilang di depan cewek-cewek di sekitarnya.
"Eh, Mbak. Baik-baik ya jadi pelakor, ups!" tiba-tiba Qarmitha menampar-nampar pelan bibirnya sendiri yang tentunya membuat geram sepasang anak muda berbeda gender di depannya. Dia sengaja menyindir cewek itu. Mungkin bila Qarmitha seperti cewek pada umumnya, dia akan menjambak rambut cewek pelakor itu. Atau menampar wajahnya sampai berwarna warni seperti pelangi.
"Maaf, salah ngomong, hehehe... jadi pacar maksudnya. Biasanya karma pasti berlaku. Jika Mbak merebut cinta orang lain lain. Maka siap-siaplah jika satu saat cinta Mbak akan direbut cewek lain juga. Biasanya sih pembalasan itu lebih menyakitkan. So, happy nice day for you all. See you!" Qarmitha beranjak dari berdiri setelah menyelesaikan kata-kata bijak namun mampu menggores hati orang yang punya perasaan. Entah kedua makhluk kasar itu punya perasaan atau tidak. Bodoh amat!
"Come on, guys! Kita cabut!" Qarmitha memberi komando dengan mengibaskan satu tangan di udara. Beranjak pergi diikuti oleh ketiga sahabatnya di belakang, dengan senyum kemenangan.
*
Menjelang malam Qarmitha pulang diantar oleh Yasmin. Tentunya setelah puas melampiaskan rasa sakitnya karena pengkhianatan Kevin. Bersama Sarah, Yasmin dan Amel, dia menghabiskan waktu di KTV menyanyikan lagu-lagu populer dari berbagai bahasa. Dari lagu yang bertemakan cinta yang ceria hingga lagu patah hati. Mungkin ini adalah keberuntungan Qarmitha yang selalu dikelilingi sahabat terbaiknya. Mereka selalu ada untuknya di saat senang maupun sedih, seperti saat ini. Mereka mau menghiburnya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan mendalam.
Berbanding terbalik dengan Qameella yang selalu dalam kesendirian. Sahabat satu-satunya, Tari juga bernasib tidak lebih baik darinya. Dia sedang berjuang menata diri untuk masa depan yang entah cerah atau malah suram. Dia tidak bisa mengandalkan orang lain untuk bergantung. Hanya bisa menangis dalam kesepian. Menyimpan kepahitan di depan banyak orang. Tidak perlu mengumbar rasa sakitnya pada orang lain, yang hanya akan dijadikan konsumsi publik. Ujung-ujungnya jadi bahan gosip, tertawaan, juga cemoohan. Cukup disimpan di dalam hatinya.
Qarmitha langsung memasuki ruang makan, setelah ciuman aroma masakan yang menguar dari makanan yang baru selesai Qameella masak. Tidak ada lagi air mata kesedihan yang tersisa di wajahnya. Hanya binar bahagia orang yang lapar. Karena berhasil menemukan sesuatu yang bisa membahagiakan cacing-cacing dalam perutnya.
"Wah baunya enak nih!"
"Baru pulang lo? Malam banget, gak sekalian besok pagi aja baru pulang," sindir Qameella mengalihkan pembicaraan.
"Ck! segitunya lo sama gue. Gue kan bukan satpam, ngapain gue kudu nunggu besok baru pulang? Lagian jam segini sih belum malam, masih sore kali..."
Tiba-tiba Qarmitha terkejut melihat mata Qameella yang terlihat sembab, seperti habis menangis.
"Mata lo kenapa, La?" tegur Qarmitha penasaran. "kok sembab gitu? Elo abis nangis ya?"
"Gak... gak papa," kilahnya tidak mau mengakui.
"Ngaku aja kalo elo lagi patah hati ya..." celotehan Qarmitha namun seakan sedang mencubit hatinya sendiri. "atau.... elo abis disakitin sama orang? Tinggal ngomong aja sama gue. Gue berih dia!" Qameella hanya berdecak cuek tidak mau mengindahkan tawaran Qarmitha.
"Cuci tangan dulu!" seru Qameella garang sambil menepuk punggung tangan Qarmitha yang sudah siap mencomot sepotong ayam goreng kremes.
"Ish, pelit!" sungutnya kesal, mengusap punggung tangannya. Namun saat Qameella lengah, Qarmitha cepat-cepat menyambar ayam incarannya.
"Ih, jorok!" hardik Qameella.
"Bodo! Yang penting enak," Qarmitha berlari sambil terkekeh geli.
Qameella hanya bisa menahan kesal atas tingkah buruk saudari kembarnya. Biasanya tinggal enak tanpa usaha.
Suara ketukan pintu memaksa Qameella beranjak menuju ruang tamu. Membuka pintu setelah menjawab salam dari orang yang entah siapa di balik pintu rumahnya.
__ADS_1
Cklek!
Qameella membeliakkan mata kaget, melihat kedatangan Ryan, Tikeng dan Rombeng di rumahnya. Senyum canggung yang terbit di bibir Meella tak juga urung mengenyahkan kebekuan di dalam dirinya. Pasalnya ini adalah kali pertamanya menerima tamu lelaki di rumahnya. Maklum Meella bukan tipe cewek yang suka berkawan.
"Ha, hai..." ujar Ryan canggung. Dia bingung harus memanggil apa pada cewek di depannya, berdiri di tengah pintu sambil memegang handle pintu. Lantaran saat ini Qameella tidak sedang memakai kacamata. So pasti cowok bertubuh paling subur di antara cowok-cowok di sisi kanan-kirinya. Tidak bisa membedakan mana Qameella atau Qarmitha. Karena wajah kedua cewek itu sama persis bila tidak menggunakan kacamata.
Tidak lama berselang Mitha datang menghampiri mereka. Menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Lalu membuka pintu lebih lebar lagi. Kini sepasang gadis kembar itu berdiri bersisian membuat Ryan, Tikeng dan Rombeng bingung setengah mati.
"Mau cari siapa?" tanya Mitha sambil menunjuk dirinya sendiri dan Meella secara bergantian.
Ryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu menoleh pada Rombeng dan Tikeng secara bergantian.
"Gue mau cari Meella," sahut Garda tiba-tiba muncul dari belakang Rombeng. Kondisi cowok itu sengaja dibuat mengenaskan, dengan membiarkan dirinya dipenuhi perban. Menggunakan tongkat penyangga untuk membantunya berjalan. Cara jalannya sengaja dibuat terseok-seok dan pincang.
Sontak sepasang gadis kembar yang terpatri di depan pintu terkejut melihat kondisi Garda yang terlihat mengenaskan. Pendar kesedihan terpancar jelas di wajah Qameella dan Qarmitha. Namun hati Qameella terasa lebih sakit melihat kondisi suaminya yang seperti itu. Berdosa rasanya tidak bisa merawatnya dengan baik.
Sekilas Garda bingung mengenali sepasang gadis kembar itu. Mengingatkannya pada awal kedekatan mereka yang sungguh diluar dugaan. Dari pengalaman itu dia bisa membedakan mana Qameella dan Qarmitha.
Pelan tapi pasti cowok itu sampai di hadapan mereka. Dan begitu kompaknya Rombeng, Tikeng dan Ryan si Keling membantunya berjalan, agar tidak terseok-seok lagi dalam kondisi yang pincang.
"Bi," Garda menatap gadis yang berdiri di dekat kusen pintu. Dengan tatapan penuh arti. Bukan bermaksud mengabaikan gadis lain yang berdiri dekat daun pintu. Tapi hati meyakini bahwa belahan jiwanya adalah gadis itu. Dan benar firasatnya. Gadis itu membalas menatap. Tatapan sedih melihat kondisinya yang mengenaskan. Air matanya menggenang memenuhi pelupuk matanya.
"Lo yakin gak ketukar, Gar?" tanya Rombeng was-was. "baru kali ini gue lihat ada cewek yang punya muka sama. Kaya hasil scene-an."
"Foto kopi kali, Beng," Tikeng mengoreksi ucapan Rombeng.
"Ah, kalo foto kopi beda, yang satu berwarna, satunya lagi hitam putih kaya tv jaman dulu," sahut Rombeng. "kalo scene kan sama persis."
"Terserah elo aja dah," Tikeng sudah tidak ingin berdebat lagi.
"Udah, udah, elo berdua pada ribut aja. Berisik tahu!" Ryan menggubris untuk melerai pertengkaran Tikeng dan Rombeng.
Qameella dan Garda masih berdiri terpaku dengan tatapan saling mengunci. Keduanya larut dalam pikirannya sendiri. Hingga mengabaikan suara-suara berisik dari ketiga teman sekaligus anak buah Garda.
"Hei, mau sampai kapan kalian berdua berdiri mematung di sini, hah?" teguran Qarmitha menyadarkan keduanya, menoleh ke sumber suara hampir bersamaan.
"Emangnya elo kasihan sama si Garda? Lihat tuh dia lagi sakit. Mana diperban lagi udah kaya mumi. Ayo ajak masuk!" Qameella menatap saudari kembarnya dengan tatapan yang syarat kekhawatiran dan takut. Ya, Qameella selalu takut jika ada teman lelaki datang ke rumah.
"Udah, tenang aja, ada gue," ujar Qarmitha seakan tahu isi hati saudari kembarnya. Seulas senyum lega tersembul di bibir Qameella.
"Elo yang mapah, atau gue nih?" goda Qarmitha jahil.
Qameella berdecak sebal tidak suka dengan ledekan Qarmitha.
__ADS_1
Qarmitha terkekeh geli lalu beranjak masuk ke dalam setelah sebelumnya mengajak Ryan, Tikeng dan Rombeng masuk ke dalam rumahnya.