Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#73


__ADS_3

Happy reading...


Sebenarnya Garda enggan bertemu dengan wanita munafik, yang selama ini telah menipunya dan menjadi tunangan sungguhan. Memanfaatkan amnesia yang dideritanya mengarang bebas dan mengaku satu-satunya wanita yang paling dicintainya. Padahal bukan siapa-siapa. Tetapi dia tidak bisa menyalahkan gadis itu juga sih. Karena di belakangnya ada Andika yang pegang kendali. Jadi, Garda tidak bisa berkutik untuk sementara.


Diam-diam Garda telah banyak mencari tahu tentang siapa wanita cantik tapi berhati ular seperti Bianca. Dan untuk menjaga kerahasiaan berita didapatnya, dia sengaja menyuruh seseorang yang benar-benar dipercayainya. Totally, Garda sudah tidak menggunakan jasa Dandi. Kecuali untuk urusan kantor. Pemuda itu masih bisa sangat diandalkan.


Garda tidak mau lagi ada informasi yang sengaja tidak tersampaikan, seperti saat tempo hari mencari informasi tentang sahabat-sahabatnya melalui Dandi. Dia tahu Dandi sudah mendapatkan semua info yang dimintanya. Namun karena campur tangan Andika ada beberapa yang diblokir dan hilang begitu saja hampir tidak bisa dilacak lagi.


Demi sandiwaranya yang sempurna Garda terpaksa menerima ajakan makan siang di sebuah restoran yang katanya baru saja buka. Di sana menawarkan bermacam-macam menu unik dan lezat. Katanya lagi sedang viral. Dan dia pun tidak tahu si pemilik restoran itu. Tidak ada gunanya juga dia tahu kan? Yang penting sandiwara Garda bisa berjalan dengan baik. Pikirnya tidak mau ribet.


Benar saja. Mulai baru saat dia turun dari mobil, Garda cukup dibuat takjub dengan desain interior yang terbilang Instagramabel. Perpaduan klasik Indonesia dan modern. Bagian luar restoran sengaja dibuatkan taman yang tidak terlalu besar. Tapi cocok untuk dijadikan spot berswa foto yang kece badai.


Bagai seorang aktor profesional. Garda berakting layaknya pasangan saling mencintai dengan Bianca. Tidak segan menunjukkan keharmonisan serta keromantisan, yang sejatinya membuat perutnya mual ingin segera muntah.


Di tengah asyiknya dia dan Bianca bercengkrama layaknya pasangan kekasih normal. Tiba-tiba datang seorang gadis yang sangat mirip sekali dengan Meella. Oh, sungguh kah gadis itu Meella? Rindu rasanya Garda padanya. Ingin sekali merengkuh tubuh hangatnya dalam dekapan. Tapi mengapa gadis itu menunjukkan sikap yang sangat berbeda? Tidak seperti Meella yang biasanya.


Tanpa opening gadis itu langsung closing. Meminta Garda agar segera menandatangani surat cerai yang diberikannya. Surat cerai yang masih terbungkus rapi dengan amplop coklat dengan nama instansi pemerintah terkait.


"Surat cerai? Gimana mungkin Meella memberikan surat cerai, jika kemarin aja dia menganggap saya udah mati. Dan pernikahan kami belum terdaftar di catatan sipil. Apa mungkin gadis ini bukan Meella?!" tentu saja kalimat ini tidak diucapkan di lidahnya. Dia hanya mengatakannya dalam hati agar tidak membuat Bianca curiga.


Garda benar-benar cengo waktu itu. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Mendadak dia seakan diterjang badai. Garda hanya bisa diam ditempat mendengar penuturan gadis itu. Setelahnya, pergi tanpa basa-basi meninggalkan restoran bersama ketiga sahabatnya juga dua anak kecil.


Dari kejauhan Garda melihat raut sedih gadis tadi. Walau dia tidak mendengar apa yang mereka ucapkan. Tapi Garda bisa menebak bahwa semua sahabatnya memberi kata-kata penguat sebagai motivasi untuknya. Garda sempat berpikir untuk mengejar gadis itu. Namun urung setelah menyadari perasaan Bianca tidak baik-baik saja.


Hati Bianca hancur melihat pertunjukan yang tidak seharusnya ditontonnya. Dia sedih dan sakit hati karena mengira Garda telah bermain hati di belakangnya. Walau perempuan itu menyerahkan surat cerai, bukan untuk meminta pertanggungjawaban. Tetap saja dia marah merasa dikhianati. Untung saja Bianca tidak mengenali wajah perempuan yang begitu mirip dengan Meella itu. Jika tidak bisa saja Meella yang akan menjadi bulan-bulanannya besok.


"Jadi, selama ini kamu diam-diam udah nikah sama gadis tadi?" Bianca murka berdiri dari duduknya sambil menggebrak meja. Kontan mengundang perhatian pengunjung lain yang sedang menikmati santapan mereka di meja masing-masing.


Mendengar suara keras itu menyeret Garda pada alam sadarnya. Menatap heran sang tunangan. Wajahnya dingin dan datar dengan tatapan bertanya.


"Ah, apa?"


"Kamu tega ya sama aku," protes Bianca berurai air mata.


"Di sini itu aku yang tunangan kamu, Ga... calon istri kamu. Tapi kenapa malah perempuan tadi yang kasih kamu surat cerai?"


"Gak, sayang. Aku gak kenal sama perempuan gila tadi, swear!" sahut Garda sungguh-sungguh tidak berbohong sama sekali.

__ADS_1


"Bohong!" pekik Bianca marah.


Garda mengusap wajahnya kasar. Mendengus kasar. Entah bagaimana caranya dia membujuk Bianca dalam mode marah seperti ini. Seumur-umur mereka kenal sampai tunangan baru kali ini, dia melihat Bianca semarah ini.


"Kalo kamu gak kenal sama perempuan tadi, terus, ngapain perempuan tadi kasih kamu surat cerai? Masa iya dia cuma mau ngepreng kamu doang?" bantah Bianca tidak menerima alasan Garda.


"Tapi emang aku beneran gak kenal sama dia, Yang...," bagai seorang pria yang takut kehilangan wanitanya, Garda terus meyakinkan tunangannya.


"Dasar buaya, gak setia!" hardik Bianca seraya memukul lengan Garda dengan tas mahalnya. Garda tidak melawan hanya berusaha menutupi wajah dan kepalanya dengan sebelah lengan yang refleks terangkat, akibat bahunya yang dipukul Bianca.


"Aku benci sama kamu!" tekannya sangat emosi lalu beranjak pergi meninggalkan sang tunangan dalam keadaan menangis pilu. Tidak peduli semua pasang mata pengunjung yang menatapnya dengan tatapan bermacam-macam.


Garda mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Cukup banyak pasang mata yang menatapnya dengan berbagai macam opini. Juga ada beberapa ponsel mengarah padanya. Sepertinya mereka telah kurang ajar memvideokan pertengkarannya tadi dengan Bianca tanpa permisi. Seketika dia menyesal datang ke tempat ini. Dan mengapa tidak memesan ruang VIP agar lebih private.


Sialan!


Dengan marah Garda ingin melabrak mereka, dan meminta menghapus video atau fotonya yang mereka ambil secara sembarangan. Tetapi urung dilakukan saat gadis yang mengaku teman gadis yang mirip dengan Meella datang menghampirinya. Dia adalah Sarah. Juga pemilik restoran ini.


Kesempatan itu tidak disia-siakan Garda. Langsung saja dia meminta bantuan si pemilik untuk membantunya menangani para kurang ajar itu. Tentu tidak gratis. Garda memberikan imbalan sejumlah uang untuk membayar jasa gadis bernama Sarah itu. Kendati pemberiannya tidak diterima. Sarah mengira Garda adalah suami gadis gila tadi.


"Sebagai seorang sahabat, aku selalu berharap yang buat Mitha. Jadi, aku minta tolong sama kamu, Rega. Permudahlah keinginan Mitha. Toh, kamu udah dapet pengganti Mitha, kan?" punya Sarah membuat bola mata Garda melebar.


"Sialan! Meella juga punya saudara kembar seperti saya," pekiknya dalam hati. Setelah melihat nama yang tercetak di dalam surat cerai di tangannya.


"Tapi bagaimana ceritanya Rega dan Mitha bisa menikah? Masa kembaran nikah sama kembaran juga? Huh, aneh!" decaknya masih dalam hati. Dia tidak mau gegabah membocorkan identitasnya sendiri. Karena memang harus dirahasiakan untuk saat ini, sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.


Setelah berbicara dengan Sarah, serta masalah foto dan video yang diambil diam-diam oleh beberapa pengunjung restoran beres, Garda pamit undur diri padanya.


Niat hati ingin kembali ke kantor. Tapi urung dilakukan mengingat semua pekerjaan sudah tidak ada tumpukan. Kemudian dia lajukan kendaraan roda empatnya ke apartemennya Meella. Tiba-tiba saja dia rindu pada istrinya itu. Sekaligus ingin mengecek keadaannya. Kebetulan pagi tadi dia izin tidak masuk karena tidak enak badan.


Hampir dua puluh menit Garda sampai di depan apartemen Meella. Namun nama pemilik tetap atas nama Garda.


Pencet bel, atau langsung masuk aja ya? pikirnya menimbang apa yang akan dilakukan.


"Tapi... kali ini apa alasan saya datang ke sini?" Garda mendadak bingung. Soalnya tempo hari sudah menggunakan alasan mengambil dokumen yang tertinggal. Dan tidak mungkin rasanya menggunakan alasan yang sama lagi. Tidak kreatif sekali!


"Pak Pandega?" tiba-tiba Meella muncul dari balik pintu.

__ADS_1


Garda pun terjengit kaget. Bagai seorang pencuri yang tertangkap basah. Rasanya Garda malu sekali.


"Pandega?" mendadak suara perempuan lain mengulangi. Dia keluar dengan menyerobot Meella, memaksa membuka pintu lebih lebar lagi. Hingga muncul wajah agak asing namun suaranya terdengar familiar.


"Garda?" tatapannya penuh tanya. Sekaligus ingin memastikan. Menatap Meella dan Garda secara bergantian.


"Bukan, Tari..." sahut Meella.


Tari? Sepertinya saya pernah mendengar nama itu.


"Lho, Rega?" perempuan bernama Tari itu membeliak kaget.


"Bukan juga," Meella berdecak sebal karena Tari terus saja menyerocos tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


"Garda bukan. Rega juga bukan. Jadi siapa dia?" geram Tari tidak mau basa-basi. Jari telunjuknya mengacung ke arah Garda tanpa tedeng aling-aling. Tatapan matanya tajam menelisik wajah Garda yang begitu mirip sekali dengan Rega. Dan dia tidak mungkin mengatakan jika pria itu adalah Garda. Karena yang sudah mereka tahu, Garda sudah lama meninggal dunia.


"Aawhh!" pekik Tari kesakitan sambil mengusap lengannya. Rupanya Meella terpaksa mencubitnya lantaran gemas tidak mengerti kode mata yang diberikan padanya.


"Sadis lo, Meel," hardiknya kesal masih meringis kesakitan.


Garda hanya diam mematung melihat interaksi Meella yang tidak sekaku biasanya. Ekspresi wajahnya pun tidak datar juga dingin. Terlihat lebih friendly dan hangat. Hatinya pun ikut menghangat.


Sebisa dan sesingkat mungkin Meella menjelaskan tentang siapa Garda. Dan hubungannya hanya sebatas bawahan dan atasan saja.


Tetapi Tari bukan tipe orang yang mudah menerima penjelasan begitu saja. Apalagi setelah menyaksikan kedatangan Garda yang seakan disengaja ke apartemen Meella. Dengan alasan ingin menjenguk Meella sakit. Padahal sakitnya tidak parah. Hanya demam biasa. Tentu saja sudah menjelaskan bagaimana hubungan mereka.


"Tari, jaga ucapan kamu ih," bisik Meella di depan telinga sahabatnya.


"Alah... jaga ucapan, jaga ucapan apanya yang dijaga? pintu gerbang?" seloroh Tari seakan sedang meledek Meella yang wajahnya sudah bersemu merah. Dengan entengnya Tari cekikikan pelan.


Garda yang tidak peduli omongan mereka. Namun ikut salah tingkah juga karena namanya disebut-sebut dalam pembicaraan mereka. Dia mengusap tengkuknya pelan mengalihkan perasaannya yang tidak menentu.


Puas meledek Meella dan Garda, Tari segera berpamitan pulang ke rumahnya. Entah mengapa dia begitu lepas, dan tidak takut sama sekali pada pria yang katanya bosnya Meella. Dia habis-habisan menggoda mereka hingga wajah mereka berubah warna.


Meella mempersilakan Garda masuk ke dalam. Membuatkan teh hangat dan kue kering yang selalu siap sedia dalam toples di lemari penyimpanan.


Garda menatap lamat-lamat wajah Meella. Wajah yang selalu membuatnya rindu. Dan ingin selalu bersama dalam suka maupun duka. Senyum samar terbit di bibirnya. Namun masih belum bisa direalisasikan selama dia belum berhasil menaklukkan Andika. Serta berhenti menghalangi kisah cintanya dengan Meella.

__ADS_1


Sabarlah Bi... kita pasti akan bersatu satu saat nanti. Saya janji, saya akan memperjuangkan cinta kita, agar menjadi keluarga paling bahagia kelak.


__ADS_2