Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Jujur Aja…


__ADS_3

Hai… para readersku yang baik hati dan budiman…


Gimana kesan kalian tentang karya author ini? semoga bisa menghibur saat mengisi waktu senggang kalian ya…


Terima kasih banyak author ucapkan karena jempol cantik para readers, yang udah like dan memfavoritkan karya author satu ini.


Masih author tunggu dan nantikan saat para readers memberikan vote, like+rate untuk menaikkan level supaya bisa lulus kontrak. Jangan lupa vote nya juga ya… plus komen yang udah kaya suplemen obat kuat author supaya tetap semangat ’45 update.


Happy reading ya…


*****************************


Tari langsung menubruk dan memeluk erat Qameella. Kemudian memejamkan matanya sekencang-kencangnya. Gadis itu benar-benar sangat ketakutan. Di dalam otaknya sudah bermunculan pikiran-pikiran berbau horor yang hanya melemahkan imannya. Tubuhnya pun bergetar.


Qameella yang tidak memiliki persiapan mendapat serangan mendadak dari Tari, tubuhnya menjadi limbung dan terjatuh ke lantai bersama Tari dengan posisi menindihnya.


"Aduh, ya ampun Tari..." serunya dengan suara memekik. Dia berusaha melepaskan pelukan Tari, namun gadis kurus yang sedang memeluknya enggan melepaskan. Justru memperketatnya hingga membuat Qameella nyaris sesak napas.


"Tari... lepasin! Elo berat tahu!" titahnya yang sama sekali tidak digubris Tari.


"Gue takut, Meel...." lirih Tari masih enggan melepaskan Qameella.


"Iya, gue tahu elo takut, tapi gak gini juga kali..." Qameella terpaksa mendorong tubuh Tari agar bisa bangkit berdiri. "gue juga jadi takut, kalo elo terus-terusan kaya gini."


Tari buru-buru meraih lengan Qameella yang baru saja berdiri tegak, lalu merapatkan tubuhnya.


"Plis deh, Tar... parnonya jangan akut gini. Karena setahu gue, orang yang takut itu disenengin hantu. Emang elo mau dise..."


"Meella... elo jangan bikin gue tambah takut dong..." sela Tari memotong ucapan Qameella.


Qameella tersenyum samar. Tidak bermaksud menertawakan ketakutan sahabatnya. Melainkan melihat ekspresi ketakutan Tari yang terlihat sangat lucu.


"Makanya elo harus berani, lawan rasa takut lo sendiri. Oke?"


Tari mencebikkan bibir sambil mendengus berat.


"Gimana caranya?" tanyanya polos.


"Yah... gimana ya?" Qameella bingung menjawabnya.


"Gimana sih lo, gue nanya, elo malah balik tanya," gerutunya.


"Maaf, gue kan bukan ahli spiritual. Ya udah, elo sugesti diri lo sendiri dengan bilang 'gue berani, gue gak takut', begitu."


"Oke!" Tari menganggukkan kepala mantap.


"Oke? Oke apa?"


"Oke, gue berani, gue gak takut, iya kan?"


"Sip! Sekarang kita keluar yuk, udah malam kita pulang," cetus Qameella yang langsung diamini oleh Tari.


Sepanjang jalan Tari terus saja merafalkan kata-kata yang diajarkan Qameella seperti mantra, untuk mensugesti dirinya agar menjadi orang yang berani. Sementara Qameella merasa sedih karena tidak bisa membawa sepeda motornya pulang.


Huft, kalo tahu begini mending gue tidur aja di rumah. Udah capek-capek datang ke sini hasilnya nihil. Gara-gara si Tari yang tingkat keparnoannya tingkat tinggi alias akut. Batinnya lirih.


Kedua gadis itu menyusuri koridor sekolah mereka yang panjang dan berliku menuju pintu gerbang sekolah.


*


Pak Supri dan Garda bertemu Pak Herman, yang juga penjaga sekolah di tengah jalan.


"Man," panggil Pak Supri menyapa.


"Eh, Pri, mau kemana? Ada Mas Rega juga?" sahut lelaki bertubuh tegap itu menganggukkan kepala kepada Garda.


Garda pun langsung membalasnya sungkan. Dia tidak menyangka saudara kembarnya ternyata cukup tenar di kalangan para penjaga sekolah. Dan sepertinya mereka cukup akrab. Makanya mereka menyapanya dengan sebutan 'Mas Rega'.


"Mas Rega kok tumben sih, malam-malam begini datang ke sekolah ada apa?" selidik Pak Herman yang membuat  Garda tergagap entah mau memberi alasan apa.


"Biasanya kalo ada apa-apa Mas Rega langsung telepon saya atau Supri."


"Iya Pak, saya sebenarnya gak ada rencana mau datang, tapi..." Garda kehilangan ide.


"Elo gimana sih, Man? Terserah Mas Rega-lah mau datang atau nggak," sambung Pak Supri seakan membela Garda.


Garda mendengus pelan.


"Oya, elo lihat dua murid perempuan di sini gak?" tanya Pak Supri mengalihkan pembicaraan.


"Murid perempuan, siapa?" Pak Herman mengerutkan dahinya dalam. "perasaan gue gak lihat siapa-siapa di sini."

__ADS_1


"Itu, Tari sama Qameella. Kalo Qameella teman sekelasnya Mas Rega. Yang pake kacamata."


"Oh iya, iya."


"Lihat gak lo?"


"Nggak!"


"Hah, gimana sih lo, iya iya tapi nggak. Ora danta lo."


"Abis, emang gue nggak lihat, mau dibilang lihat gitu?"


Melihat kedua orang penjaga sekolah yang berselisih paham, Garda jadi tidak nyaman berada di antara mereka. Apalagi dia harus segera cepat menemukan kedua gadis itu. Khawatir sesuatu terjadi kepada mereka akibat dari suara teriakan tadi.


"Maaf bapak-bapak, berhubung sekarang udah malam, sebaiknya kita cepat cari keberadaan mereka. Saya khawatir mereka akan tersesat di gedung sebegini besar ini," tukas Garda membuat kedua pria itu langsung fokus pada pencarian Qameella dan Tari.


"Tadi sih ada suara perempuan teriak di parkiran dekat ruang UKS," imbuh Pak Herman.


"Bisa jadi. Ya udah lebih baik kita berpencar aja, supaya kita cepat menemukan mereka. Gimana pun kasihan mereka, mungkin sekarang lagi ada di satu tempat di gedung ini sambil menahan rasa takut," sanggah Garda.


Garda, Pak Supri dan Pak Herman langsung berbagi tugas dan berpencar mencari keberadaan Qameella dan Tari di dalam.


*


"Meel, boleh gue tanya sesuatu gak?" Tanya Tari tiba-tiba.


"Apa?" Qameella balik tanya sambil menoleh ke arah Tari.


"Ehmm... tapi elo janji ya, jangan marah," pinta Tari sambil menunjukkan jari kelingkingnya.


Qameella tersenyum dingin.


"Sebenarnya elo mau nanya atau ngajakin janjian sih?"


"Hehh... mau nanya sih sebenarnya," Tari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir canggung. Sebenarnya dia ingin tahu dan sangat penasaran tentang hubungan Qameella dengan Garda. Namun rasanya canggung untuk menguliknya.


"Tanya apa?" Qameella seakan menantang Tari untuk bertanya kepadanya.


"Beneran nih, kalo gue tanya elo gak marah sama gue?" Qameella mengangguk pelan. "elo mau jujur sama gue?"


Tiba-tiba Qameella memicingkan matanya, menatap Tari dengan ekspresi yang bikin bulu kuduk berdiri.


"Eh... iya," sahut Tari takut-takut. "karena gue mau tanya tentang hubungan elo sama Garda."


Sontak Qameella speechless mendengar nama Garda disebut. Matanya terpejam erat saat teringat Garda merampok ciuman pertamanya.


"Kenapa?" tanyanya tanpa ekspresi.


Tari menarik lengan Qameella, memintanya duduk bangku panjang yang ada di depan kelas X yang dilewatinya. Tanpa perlawanan gadis itu pun menurut begitu saja.


"Sebenarnya... gue gak masalah elo mau hubungan sama siapa pun," Tari mulai membuka suara. "dan selama elo nyaman gue sih fine-fine aja."


"Udah malam nih, mending elo ngomong ke intinya aja, Tar," ucap Qameella menginterupsi.


Tari terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikannya kepada sang sahabat.


"Sekarang gue mau tanya, sejak kapan elo kenal Garda? Dan elo udah tahu belum siapa dia? Maksud gue... sekolah dimana, teman-temannya siapa aja? Pokoknya segalanya tentang dia deh."


"Pertanyaan lo terlalu panjang, udah kaya kereta. Gue jadi bingung jawab yang mana dulu," keluh Qameella.


"Elo jawab aja, gak pake bingung." desak Tari.


"Emang penting ya elo tahu tentang hubungan gue sama Garda. Atau gue gak pantes kenal sama dia ya, Tar?" raut wajah Qameella mendadak berubah sendu.


"Bukan begitu maksud gue, Meel..." kilah Tari memberi pengertian. "gue cuma heran aja, kok bisa sih elo punya hubungan sama si Garda? Apalagi kejadian tadi sore yang bikin gue habis pikir... Garda cium elo, dan gue yakin itu bukan cuma ciuman biasa. Karena gue lihat... dia benar-benar ngelakuinnya dari hati banget. Gue sama Dimas aja gak gitu."


Tiba-tiba Tari menutup mulutnya sendiri, keceplosan membahas hubungannya dengan Dimas. Qameella menatap Tari dengan menelisik.


"Jadi, kalian berdua udah berbuat apa aja?" selidik Qameella mengalihkan pembicaraan. Tari mengulum senyum malu.


*


Garda sudah mencari hampir keseluruh penjuru gedung. Kemudian saat dia melewati koridor yang mengubungkan kelas X dengan kelas XI, tiba-tiba rungunya menangkap samar-samar suara orang yang sedang mengobrol. Tanpa membuang waktu langsung saja cowok ganteng itu menuju TKP.


Dicari-cari ternyata lagi pada ngobrol di sini. Gumamnya dalam hati.


Garda tidak segera menghampiri mereka. Dia sengaja bersembunyi di balik dinding tidak jauh dari tempat Qameella dan Tari ngobrol. Bukan maksudnya mau mencuri dengar pembicaraan orang lain. Berhubung objek yang sedang mereka obrolkan adalah dirinya, maka dia harus tahu isi pembicaraan mereka terlebih dahulu.


Ngapain mereka berdua malah ngomongin gue?


"Hubungan gue sama Dimas entar aja baru dibahas. Yang penting sekarang udah sebatas mana hubungan elo sama si Garda. Kok dia bisa sampai cium elo. Gak mungkin kan dia cuma iseng."

__ADS_1


Qameella masih belum menjawab pertanyaan Tari. Gadis itu masih mendengarkan semua yang ingin dimuntahkan sahabatnya dalam bentuk pertanyaan dan pernyataan panjang. Entah sampai kapan telinganya harus mendengar ocehannya.


"Meella... elo kok sedari tadi cuma diam aja? Orang mah jawab kek," keluh Tari sepertinya sudah lelah berbicara.


"Elo mau dengar gue jawab apa?"


"Dih, dia yang malah tanya..."


"Oke. Gue jawab semua pertanyaan lo dari A sampai Z," akhirnya Qameella buka suara. Dengan tenang gadis itu menjelaskan awal perjumpaannya dengan Garda hingga terjadi hubungan yang entah disebut apa. Sejujurnya dia memang tidak ingin memiliki hubungan dengan cowok mana pun. Tanpa disadari air matanya jatuh berurai begitu saja membasahi pipinya.


Tari terlihat syok mendengar penuturan Qameella. Dia tidak pernah menyangka cewek yang selama ini dikenalnya lurus-lurus saja hidupnya. Tentu saja tidak aka nada jejak kisah cinta yang dimilikinya. Ternyata memiliki hubungan khusus dengan Garda, ketua geng ABABIL yang paling disegani. Dan yang paling mencengangkan, bagai petir di siang bolong terasa menyambarnya, adalah ketika cewek berkacamata minus itu, diam-diam telah dinikahi oleh Garda karena sebuah insiden.


Batin Tari tidak ingin mempercayai semua cerita Qameella.Namun Qameella bukan tipe orang yang suka berbohong. Mau tak mau dia mempercayainya juga.


“Tar, gue minta elo jangan bilang sama siapa-siapa tentang masalah ini ya.” Pinta Qameella lirih sambil menghapus sisa air matanya di pipi mulusnya. “plisss…”


“Jadi, sampai detik ini belum ada yang tahu masalah pernikahan lo sama Garda?” tanya Tari memastikan.


Qameella mengangguk pelan.


“Termasuk keluarga… nyokap, bokap, juga Mitha belum ada yang tahu?”


Qameella mengangguk lagi.


"Ya, emang sengaja gue gak pernah cerita sama siapa pun tentang hubungan gue sama dia. Termasuk sama elo juga."


"Meella... Meella... gue gak pernah nyangka ternyata elo cewek ajaib," entah Tari sedang memuji Qameella atau malah mengejeknya, sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Qameella mengernyitkan dahi tidak mengeti maksud ucapan Tari.


"Elo pikir gue lampu wasiat punya Aladin," sungut Qameella tidak tidak terima dibilang ajaib.


"Bukan begitu maksud gue, Meel... gue cuma mau ungkapin kalo elo ternyata punya daya tarik juga di mata si Garda. Dan asal elo tahu ya... walau pun si Garda terkesan playboy dan sering dikelilingi cewek-cewek cakep, katanya dia itu tipe cowok yang setia."


Di tempat persembuanyiannya diam-diam Garda tersenyum bahagia mendapat pujian dari Tari.


"Sotoy lo, udah kaya dukun aja."


"Ih, dibilangin gak percaya."


"Emang gue gak percaya. Lagian… Garda lebih cocok sama Mitha. Jadi, kalo mereka melanjutkan hubungan gak ada beban.” Sahutnya terdengar pasrah. Memang mungkin hanya kebisuannya ini bisa menghindarinya dari peristiwa lalu. Saat Mitha memacari orang yang sama dengan orang yang disukainya.


“Kok elo ngomong gitu sih? Emangnya elo gak naksir sama Garda, Meel? Garda itu ganteng lo…” goda Tari.


“Kenapa? Elo takut kejadian lagi kaya waktu itu?” tebak Tari dengan tepat.


Qameella hanya diam tidak menanggapi. Tari dapat menyimpulkan dari kebungkaman Qameella bahwa tebakannya benar.


Apa ini alasan dia mutusin gue, juga balikin kalung pemberian gue? Pikir Garda. Dalam hati dia ingin bertertiak sekeras-kerasnya, "Ya ampun Bini... gue gak ada maksud buat khianatin elo. Sumpah demi Tuhan, gue gak tahu kalo elo sama Mitha punya wajah yang sangat mirip."


"Terus, gimana hubungan lo sama Dimas?" tanya Qameella mengganti topik pembicaraan.


Tiba-tiba Tari terdiam. Berat rasanya dia membongkar boroknya sendiri kepada orang lain. Sekali pun orang itu adalah Qameella, sahabatnya sendiri.


"Kenapa? Elo gak mau cerita?" tanya Qameella penasaran.


Tari tidak menjawab. Gadis itu seakan ragu untuk menjawab.


"Ah, curang lo, tadi elo paksa gue buat cerita. Nah, sekarang elo sendiri yang ogah cerita, gimana sih lo?"


"Bukan begitu, Meel... gue... gue..."


"Jujur aja... siapa tahu gue bisa bantu, kalo elo punya kesulitan. Elo jangan cuma diam aja atau pendam sendiri." bujuk Qameella agar Tari mau berbagi dengannya.


"Tapi Meel... cerita gue benar-benar malu-maluin. Dan... gue takut kalo orang-orang sampai tahu tentang hubungan gue sama Dimas. Apalagi kedua orang tua sampai tahu," suara Tari terdengar bergetar menahan tangis.


"Emangnya udah sejauh mana hubungan lo sama Dimas? Apa sama kaya gue dan Garda, yang tiba-tiba nikah diam-diam, gitu?"


Tari menggeleng, menyangkalnya.


"Jadi, gimana...." Qameella sedikit frustasi.


"Gue udah gak virgin, Meel," jawab Tari pelan namun terdengar jelas di telinga Qameella dan Garda.


"Apa?" Qameella terkejut.


"Hubungan gue sama Dimas udah terlalu jauh, Meel... sampai..." Tari tidak bisa melanjutkan ucapannya. Gadis itu menangis pilu. Tentu saja menangisi kebodohannya yang termakan bujuk rayu iblis berbentuk manusia bernama Dimas.


Garda mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah terhadap salah satu anak buahnya yang ternyata bajingan.


 

__ADS_1


__ADS_2