
Happy reading
"Elo masih kepikiran sama omongan bokap lo?" tegur Yasmin menyadarkan Mitha dari lamunannya.
Saat ini kedua perempuan muda itu berada dalam mobil Yasmin. Mereka akan menghadiri pesta pernikahan salah satu teman SMA mereka. Yang ternyata menikah dengan teman sama-sama satu alumni dan almamater yang sama. Hanya beda jurusan saja. Jadi konteksnya kondangan sekaligus reunian. Karena banyak teman alumni yang diundang.
Untuk saat ini yang duduk dalam satu mobil hanya Mitha dan Yasmin di kursi kemudi. Sedangkan Sarah akan datang sendiri menggunakan mobilnya. Dan Amel, si ibu dua anak itu akan datang bersama Tikeng. Mereka semua akan bertemu di lokasi gedung resepsi.
Mitha sudah di make over sedemikian rupa. Dan memakai gaun koleksi butik Yasmin. Berhubung mereka bersahabat sejak bangku sekolah, maka semua yang melekat indah di tubuh Mitha serba gratis. Lagian Yasmin bukan tipe sahabat yang perhitungan. Jadi sangat menguntungkan bagi si mantan gadis tomboi itu, hehehe...
Mitha mengangguk tidak menampik pikirannya yang terus berputar-putar tentang pernikahan dan perceraiannya. Sayangnya, kedua masalah itu tidak ada yang membuatnya bahagia. Malah sama-sama bikin kepalanya sakit dan ingin pecah rasanya.
"Kenapa elo gak jujur aja sih? Dari pada elo diam begini, tapi hati sama pikiran lo jadi ruwet."
"Elo kalo ngomong enak aja," gerutu Mitha tidak mau menerima saran Yasmin.
"Kalo bokap gue sehat-sehat aja sih gak masalah. Ini kan yang jadi masalahnya penyakit bokap gue. Elo masih ingatkan waktu pernikahan gue sama si Dicky batal?" Yasmin langsung mengangguk mengiyakan.
"Nah, begitu makanya sampai sekarang gue masih nahan-nahan. Bukan berarti gue gak mau jujur sama bokap selamanya. Tapi gue lagi nyari timing yang tepat buat ngomong. Gue gak mau abis gue ngomong yang sejujurnya, Bokap gue malah kenapa-kenapa," tukas Mitha menjelaskan panjang lebar.
"Terserah elo aja deh. Toh, semuanya yang terjadi dalam hidup lo, cuma elo yang tahu dan ngerasain. Gue cuma bisa ngeliatin sama bantu doa aja dari jauh," sahut Yasmin bijak.
"Thanks, elo udah mau jadi sahabat terbaik gue," ujar Mitha sendu.
"Alah... tumben banget lo bilang thanks sama gue. Biasanya aja lo cuek bebek aja," protes Yasmin tidak serius. Dia tersenyum riang.
"Yah, elo baru gue mau melow. Elo ngomong kaya gitu gak jadi deh mellow nya."
"Lebay lo!"
Yasmin dan Mitha terkekeh geli.
Di tempat berbeda Rega baru saja keluar dari ruang seminar. Dimana dia sendiri yang menjadi narasumbernya. Sebagai seorang dokter jenius di usianya yang masih tergolong muda. Dan memiliki klinik sendiri juga rumah sakit. Walau tidak sebesar rumah sakit milik sang Papa, Andika. Membuatnya tidak banyak memiliki waktu senggang. Bahkan menikmati masa pengantin baru pun tidak sempat.
Sebenarnya bukan tidak sempat. Tapi lebih tepatnya tidak diberi kesempatan oleh sang istri. Perempuan yang sudah berstatus istri itu selalu saja pergi menghindarinya. Terutama setelah pertemuan makan malam di rumah Karina. Jarak diantara mereka kian terbentang jauh.
"Ga, elo diundang sama si Danu gak? Hari ini dia nikahan," tanya rekan dokternya, juga pernah jadi teman semasa SMA nya.
"Iya."
__ADS_1
"Bagus deh. Gimana kalo kita berangkat barengan? Gue lagi gak ada pasangan nih. Gak enak cuma berangkat sendiri," cetus rekan dokternya yang bernama Rakal.
Rega berpikir sejenak lalu mengiyakan.
Kemudian kedua dokter muda itu pergi menuju hotel tempat resepsi teman semasa SMA mereka dulu. Kebetulan hotel tempat mereka mengadakan seminar tidak terlalu jauh dari tempat resepsi.
Hanya menempuh waktu hampir lima belas menit Rega dan Rakal, karena kondisi jalan raya yang lumayan padat bertepatan jam pulang kerja kantor.
*
Rega dan Rakal tiba di acara resepsi sahabat mereka. Dekorasi indah dan mewah menyapa netra mereka. Selain itu mereka yang sudah berganti pakaian yang layak untuk datang ke acara kondangan pada umumnya, bertemu dengan teman-teman semasa SMA dulu. Tegur sapa mereka lakukan juga pelukan hangat, sudah lama tidak bersua pasca acara kelulusan.
Di saat tengah asyik mengobrol dengan mereka yang tanpa sadar membentuk kelompok sendiri di acara resepsi itu. Tiba-tiba mata Rega menangkap sosok yang sudah lama dirindukannya. Tanpa sadar bibir membentuk segaris senyum samar nyaris tidak terlihat.
"Mau kemana lo, Ga?" tanya Rakal seraya menahan lengan Rega yang hendak beranjak pergi.
Rega menoleh ke arah Rakal.
"Gue mau ke sana sebentar," tunjuknya pada sekumpulan perempuan seusianya di sudut ruangan.
"Siapa? Teman kita juga?" tanya Rakal lagi kepo.
"Iya, kayanya gitu," sahutnya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ternyata sekarang makin cantik dia," gumamnya dengan mengulum senyum. Kemudian dia tersentak kaget saat orang yang diajak bicara sudah tidak ada di sampingnya lagi.
"Ish, kamvret! Gue ditinggal sendirian," keluhnya melihat Rega hampir sampai di dekat para perempuan yang sedang diamati. Rakal tidak tahu jika Rega sedang ingin menemui istrinya, Mitha. Dan mirisnya, walau setiap hari bekerja di tempat yang sama, dia tidak tahu jika sang teman sudah menikah.
Mitha bersama ketiga sahabatnya, Yasmin, Sarah dan Amel. Selain mereka ada juga beberapa perempuan lain juga sedang berdiri di sudut ruangan, dekat dengan meja prasmanan yang sudah menyajikan berbagai macam jenis makanan, juga minuman.
Langkah Rega terpaksa terhenti saat terdengar suara-suara sumbang tengah mengolok-olok Mitha. Walau pun dalam radius jarak satu setengah meter, dan alunan musik dan penyanyi memenuhi ruangan.
"Oh, ini cewek yang mukanya viral di medsos itu?" imbuh seorang gadis seusianya bersama kedua temannya. Dengan penampilan cantik nan elegan, serta barang-barang branded yang melekat di tubuh mereka. Menunjukkan kelas mereka bukan kelas ecek-ecek. Tapi sayang, sikap mereka menunjukkan yang sebaliknya.
Mitha langsung menoleh ke sumber suara yang terasa begitu dekat dengan telinganya. Seketika matanya memicing melihat siapa orang yang berusaha mengoloknya.
Desi, Anggi sama si Ririn? Ah, sialan! Trio bebek gak jelas ternyata masih tetep aja gak jelas. Mungkin burem kali. Batin Mitha berdecak kesal. Kemudian merotasikan bila matanya, mendengus kesal orang-orang yang dulu tidak pernah disukainya. Ternyata masih tetap disukai sampai detik ini.
Desi, Anggi, dan Ririn. Mereka adalah mantan teman satu sekolahnya, juga pernah satu tim basket. Tapi mereka bukan teman yang solid dan tidak cocok bila dijadikan anggota tim. Karena hal itu pernah dirasakan Mitha dulu. Dengan liciknya mereka pernah membuat siasat buruk untuk mengeluarkan Mitha dari tim. Mereka mencelakai Mitha hingga cedera kala itu.
__ADS_1
Kini, setelah sekian lama tidak bertemu sifat mereka tidak juga berubah. Mereka masih saja menunjukkan rasa tidak suka dengan Mitha. Bila dulu mereka membuat kaki Mitha cedera. Sekarang nyinyiran mereka berusaha membuat Mitha muak.
"Viral? Emang apa yang udah dibikin sampe viral?" Anggi seraya merapikan rambut panjang blondenya yang tergerai bergelombang di ujungnya. Lalu mengibaskan ke kanan dan kiri.
Entah apa maksud dari perbuatannya itu. Sungguh membuat Mitha muak dan jengah. Juga mengganggu. Lantaran kibasan rambut Anggi, wajah Mitha terasa pedih terkena sabetannya. Jika tidak ingat tempat, mungkin rambut Anggi sudah ditarik oleh Mitha. Bila perlu sampai botak.
Ngeselin!
"Ah, norak lo, Gi," decak Desi melirik Mitha dengan ujung matanya. "masa Lo gak tahu? Katanya paling update. Eh gak tahunya kudet."
"Itu lho... berita viral mempelai wanita yang gak jadi nikah sama calonnya. Gara-gara calon mempelai prianya ketahuan selingkuh. Terus video asusilanya diputer di acara yang harusnya ijab kabul. Eh, jadi kabur hehehe...," kekeh Ririn setelah menjelaskan.
Sarah sudah geram dan tangannya gatal ingin menjambak rambut Ririn. Keduanya tangannya nyaris terangkat. Namun buru-buru dihalangi oleh Mitha dengan kode mata serta gelengan kepala pelan.
Begitu juga Yasmin dan Amel. Lagi Mitha menghalangi, agar tidak mengotori tangan mereka dari mulut sampah model mereka. Tanpa kata kedua tangannya menggiring mereka agar menjauhi bakal sumber petaka.
"Ck! Itu berita lama gimana sih lo?" decak Desi maju satu langkah ke depan. Tepat di belakang punggung Mitha. "emang kalian gak tahu apa, berita viral terbarunya?" pancingnya pada Anggi dan Ririn agar menimpali. Seringainya bertambah lebar saat ekor matanya melihat sosok Rega sejurus dengannya. Pria yang ada dalam video.
Para tamu undangan yang lain pun mulai kepo dengan apa yang diucapkan Desi. Hingga mereka menghentikan aktivitasnya dan memfokuskan pandangan pada sekelompok perempuan itu.
"Berita viral apa lagi sih, emang ada?" tanya Ririn pura-pura penasaran. Padahal dia dan kedua temannya itu tahu. Karena mereka bertiga saat itu berada di tempat kejadian. Juga sempat memvideokan. Walau sempat menghapus video dalam galeri ponselnya atas permintaan si empunya restoran, tidak lain Sarah serta seorang pria yang wajahnya mirip sekali dengan Rega.
Tetapi dia tetap berhasil menyebarkannya hingga viral. Tetap saja tidak berlangsung lama. Lantaran ada orang yang entah siapa sukses membuatnya bergidik ngerti karena ancaman dari orang asing itu. Akhirnya dia take down video tersebut. Hingga saat ini dia masih tidak tahu siapa orang yang sudah membuatnya takut.
Rega masih bergeming di tempatnya berdiri. Matanya awas memperhatikan percakapan para perempuan, yang sepertinya pernah ada dendam di antara mereka. Dan masih belum selesai hingga saat ini.
"Ya ada lah," Desi sengaja membesarkan volume suaranya agar Mitha dan kawan-kawan mendengarnya. Berhasil!
Mitha dan kawan-kawan sontak menghentikan langkah mereka. Menajamkan rungu masing-masing demi mendengar kelanjutan ucapan Desi.
Desi tersenyum licik. Dalam hati bersorak bahagia. Bertahun-tahun memendam kekesalan. Kini tiba saatnya dia melampiaskan semuanya.
"Payah kalian!" hardiknya masih menatap punggung Mitha. "Masa gak tahu sih video cewek yang di resto itu lho," suaranya hampir terdengar berteriak.
Mitha mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya. Dia tahu video yang dimaksud Desi. Begitu juga Yasmin, Sarah dan Amel. Mereka semua menyaksikan Mitha menyerahkan surat cerai pada Rega. Tapi sayangnya, bukan melainkan Garda.
Oleh sebab itu, sampai detik ini Rega tidak tahu jika sang istri sudah menggugat cerainya. Dan mereka semua tidak tahu jika si trio bebek itu ada pada momen itu. Sialnya, berhasil mengabadikannya dengan ponsel.
Sarah sudah tidak tahan lagi untuk memberi pelajaran pada Desi. Namun Mitha segera menahannya.
__ADS_1
Amel pun sudah siap menyemburkan lidah apinya, untuk menyerang balik ucapan mereka yang tidak ada akhlak.
"Kita gak boleh kepancing omongan mereka," bujuk Yasmin. Mitha mengangguk patuh.