
Happy reading
"Ini apa, Pak?" tanya Meella penasaran setelah menerima amplop yang dibawa Garda. Seketika netranya membelalak membaca isinya.
"Ini...," Meella menolehkan kepalanya menatap tidak percaya pada pria yang duduk di depannya. Namun dia tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mendengar Garda menghela nafas agak panjang. Dia terdiam menunggu bosnya berbicara lagi.
Garda menatap sendu netra bening Meella dengan perasaan yang membuncah. Sudut bibirnya membentuk segaris senyum. Tanpa bicara dia bangkit dari duduknya. Lalu bergerak dan duduk kembali di sisi Meella dengan berjarak hanya satu jengkal tangan orang dewasa.
Meella hanya memperhatikan setiap gerakan Garda dalam diam. Entah mengapa saat Garda duduk di sisinya ada perasaan aneh menelusup masuk ke dalam kalbunya. Dan tanpa sadar dia nyaris lupa bernapas.
Tangan kanan Garda terangkat ke udara. Lalu mendarat tepat di dahi Meella. Sementara si empunya jidat hanya diam mematung dengan netra mengunci wajah tampan itu. Dia menikmati hangatnya perhatian pria yang selalu membuatnya merasa bersama almarhum Garda.
Di tengah debaran jantung bagai irama ombak di lautan lepas. Keduanya terdiam sepi tanpa ada satu pun di antara mereka yang memulai pembicaraan. Atau hanya sekedar menepis tangan yang masih bertengger di dahi Meella.
Ya Tuhan... perasaan apa ini? Mengapa begitu nyaman berada di dekatnya? Sampai saya gak mau segera beranjak menjauh darinya. Batin Meella bermonolog.
Bi... cepat sembuh, sayang...
"Masih hangat," imbuh Garda menurunkan tangannya. Tanpa ba-bi-bu dia menempelkan jidatnya dengan jidat Meella. Seakan ingin menyerap panas tubuh Meella melalui sentuhan di jidatnya.
Meella tersentak kaget hendak menepis. Namun Garda menahan gerak kepala Meella yang hendak menjauhinya. Kedua tangannya dengan sigap memegang kedua pipi Meella dan membingkai wajahnya. Memejamkan mata menikmati momen langka, sambil menghidu aroma rambut dan kulit wajah halus tanpa make up.
Tengkuk Meella meremang merasakan sentuhan Garda. Ia berusaha menarik tubuhnya sendiri ke belakang. Tidak mau larut dalam belaian yang pada akhirnya akan menjebak dalam kesusahan kelak. Dia masih waras dan sadar bagaimana menderitanya dulu, sewaktu dia dan Garda menjalin kasih. Oleh sebab itu, dia tidak mau mengulang sejarah kelam dan menyakitkan.
"Pak. Maaf, ini gak bener," lirih Meella mengingatkan. Tetap berusaha menghindar walau tidak bisa.
Secepat kilat Garda memajukan bibirnya menyentuh bibir ranum Meella. Refleks Meella membelalak kaget. Memundurkan kepalanya tapi Garda menahan tengkuk dan pinggangnya secara bersamaan. Memperdalam ciumannya yang lembut dan memabukkan.
Garda benar-benar lepas kendali. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Tidak peduli bagaimana perasaan Meella nantinya. Biarlah diurus nanti saja. Yang penting dia bisa mengobati rasa rindunya. Membuat ciuman yang awalnya lembut lama-lama menuntut.
Meella mendorong juga memukul-mukul bahu kekar Garda juga sangat keras. Ketika ciumannya tidak kunjung berakhir, dan tersudut pada sandaran sofa hingga tangannya yang jadi sakit.
Garda menyudahi ciuman panasnya saat nafasnya dan Meella tersengal, hampir kehabisan oksigen.
__ADS_1
Meella buru-buru meraup oksigen sebanyak-banyaknya mengisi paru-parunya. Memalingkan wajah ke samping kiri, ingin menyembunyikan rona merah di wajah hingga telinganya. Serta debaran di dadanya yang tidak bisa dikondisikan. Tapi sia-sia saja karena Garda bisa melihatnya dengan jelas.
Garda tersenyum bahagia melihat wajah cantik di depannya yang merah merona. Hanya berjarak satu jengkal di bawahnya. Mengusap sisa salivah bekas ciuman panasnya di bibir Meella dengan ibu jari kanannya.
"Maaf, saya gak bisa menahan diri. Tapi, saya gak nyesel melakukannya," bisiknya di depan wajah Meella.
Meella mengerutkan keningnya, mencerna ucapan ambigu Garda. Dengan gerakan kasar dia mendongakkan wajahnya menatap tajam pria kurang ajar di atasnya, saat mengucapkan,
"Jika kamu merasa tersinggung, dan meminta pertanggungjawaban sama saya. Ngomong aja langsung. Saya gak akan menghindar. Jika pun kamu minta saya nikahi. Saya akan terima dengan senang hati," seringai yang membuat bulu kuduk Meella kembali berdiri.
"Tolong, Bapak jangan bercanda, dong..." Meella mendorong tubuh kekar Garda agar segera menjauh darinya. Juga menyelamatkan jantungnya agar selalu sehat wal Afiat. Karena berdekatan dengan Garda dalam waktu yang walau hanya sebentar, berhasil membuatnya sport jantung.
*
"Makasih, ya," ujar Mitha sebelum turun dari mobil Yasmin, telah mengantarkannya pulang ke rumah.
"It's oke. Elo udah kaya sama siapa aja," sahut Yasmin dengan senyum hangatnya.
"Bye."
"Bye."
Mitha beranjak masuk ke dalam rumah. Tentu saja masih rumah Gusti. Rumah yang selalu memberinya kehangatan keluarga. Apa pun permasalahan yang dihadapi, dia tidak pernah sendiri. Ada Maryam dan Gusti yang tidak pernah lelah memberi motivasi. Seperti saat dia menghadapi masalah pernikahannya ini. Kecuali perceraiannya yang sudah dilayangkan pada Rega.
Biarlah untuk sementara dia rahasiakan dahulu. Jika semuanya sudah beres dia akan mengatakan semuanya dengan jujur pada kedua orang tuanya. Juga pada Meella, saudara kembarnya. Kendati pada kenyataannya tanpa sepengetahuannya sudah tahu gara-gara Garda. Bukan hanya memberi tahu dengan lisan. Tapi real surat cerai yang secara tidak sengaja diberikan sendiri sewaktu di restoran dua jam yang lalu. Ingat ya, bukan sengaja diberikan pada Garda. Melainkan kekeliruannya yang menganggap Garda adalah Rega.
'Welcome new widow,' batin Mitha memberi selamat pada diri sendiri, ketika dia baru masuk ke dalam kamarnya.
"Heh, janda," Mitha terkekeh pelan menjatuhkan bokongnya di pinggir kasurnya.
"Gak papa. Cuma jadi janda doang gak bakal bikin gue mati. Toh, di dunia ini yang jadi janda banyak. Bukan cuma gue aja. Iya kan? Gue akan tetap hidup baik-baik aja. Gak papa. Gak papa," monolognya dengan suara yang makin lama makin terdengar bergetar seperti sedang menahan tangis. Sebisa mungkin dia memberi nasehat untuk diri sendiri agar tetap kuat menghadapi kenyataan yang tak semanis gulali sawang. Tanpa disadari air matanya meluncur begitu saja di pipinya.
Mitha mengelus dadanya terasa nyeri juga sakit. Membiarkan bulir-bulir bening terus keluar dari sudut matanya membasahi pipi. Bagai air hujan yang jatuh membasahi bumi. Tidak ada yang bisa dilakukan selain pasrah menerima takdir hidupnya yang tidak seindah taman bunga Nusantara.
__ADS_1
Tiba-tiba Mitha teringat kenangan demi kenangan manisnya saat bersama Dicky, sang mantan terindah sekaligus terberengsek sedunia. Baik dunia fana maupun dunia demit deh sekalian. Habisnya ngeselin banget. Sewaktu masa pacaran semuanya begitu indah. Pahit getir sampai manis dilalui bersama. Tapi mengapa saat hari pernikahan tinggal selangkah lagi. Si setan Dicky malah asyik-asyikan main kebo-keboan sama cewek lain di kamar hotel. Emang dasar anak demit emang tuh orang!
Akibat dari perselingkuhan pasangan setan dan iblis itu, Gusti jatuh pingsan karena malu pernikahan Mitha dan di setan Dicky batal. Kemudian Rega datang menjadi penyelamat bak malaikat tanpa sayap. Pria tampan, pandai, kaya dan memiliki profesi sebagai dokter spesialis oh, apa ya? Mitha tidak pernah bertanya. Mengobrol banyak pun tidak sempat. Lebih tepatnya malas berbicara dengan si ganteng itu. Ups! Jadi baper kok ini, ya?
Jujur saja selama terlibat dalam hubungan pernikahan terpaksa, entah buat Mitha atau Rega. Yang jelas Mitha tidak menginginkan pernikahan ini titik! Jadi wajar jika Mitha tidak tahu apa-apa tentang sang suami. Karena Mitha selalu menghindari Rega. Di otaknya selalu berpikir bagaimana caranya bisa bercerai cepat dengan Rega. Alhasil dia berhasil sekarang. Mungkin saat ini sudah selesai ditandatangani oleh Rega. Setelahnya, status janda resmi disandangnya. 'Janda kembang masih perawan'.
"Mungkin setelah ini gue bakal dapat surat undangan dari dia. Heh..." gumamnya mengingat bagaimana mesranya Garda yang dikiranya Rega bersama seorang wanita muda yang tidak dikenalnya di restoran tadi.
"Gak papa. Gue akan baik-baik aja. Oke?" Mitha menghela nafas panjang, dihembuskan perlahan. Dia terus saja menguatkan dan menasehati dirinya sendiri agar tetap kuat. Begitu terus hingga dia benar-benar tenang dengan sendirinya.
*
"Kayanya udah lama ya, nak Rega gak datang kemari?" tegur Gusti membuka pembicaraan. Saat ini dia, Maryam dan Mitha sedang makan siang bersama di rumah.
"Uhuk!" Mitha mendadak terbatuk.
Buru-buru Maryam menyorong gelas yang sudah berisi air putih pada Mitha.
"Makanya kalo makan gak usah buru-buru. Keselek deh," semprot sang Mama menasehati. "Pelan-pelan aja makannya. Emangnya mau kemana sih?"
Mitha hanya mengiyakan saja nasehat Maryam. Soalnya jika ditimpali, yang ada bukan kenyang karena makan banyak. Melainkan kenyang makan omelan.
Gusti memperhatikan Mitha dalam diam, sambil menikmati masakan istrinya yang endol surendol tak kendol-kendol. Pikiran tuanya menelisik hubungan anak dan menantunya yang sepertinya tidak baik-baik saja. Mungkinkah hubungan mereka tidak bisa berjalan normal?
Sebagai orang tua, Gusti selalu berharap kedua anak kembarnya, Meella dan Mitha, dapat hidup bahagia. Terutama bersama pasangannya. Tidak seperti saat ini. Meella yang terpaksa membatalkan rencana pernikahannya dengan Mirza. Dan Mitha, walau tetap menikah anak itu masih belum bisa menerima pernikahannya dengan Rega. Oleh sebab itu, selama mereka menikah. Mereka hidup sendiri-sendiri dan berbeda atap.
"Tha, mau sampai kapan kamu terus seperti ini?" todong Gusti menatap serius wajah sang putri.
Mitha menghentikan kunyahannya lalu mendengus pelan. Pertanyaan yang paling ditakuti akhirnya didengarnya juga.
"Kamu gak boleh terus abai seperti perempuan yang belum menikah. Kamu bisa dapat dosa besar. Emangnya kamu mau diazab sama Allah? Karena jadi istri durhaka sudah mengabaikan suami."
Uh, pedes juga panas banget ucapan Gusti menusuk gendang telinga Mitha. Mungkin bila di film animasi, telinga Mitha akan keluar api dan asap.
__ADS_1
Tuhan... bagaimana cara hamba mengatakan pada orang tua hamba, tentang pernikahan hamba yang udah kandas. Sementara hamba takut jika kejujuran ini sampai terucap akan berakibat fatal bagi kesehatan Ayah. Lirihnya dalam hati.