
Happy reading
''Aku tidak boleh bersikap lunak lagi. Aku harus bertindak dan memisahkan mereka agar tidak bisa bersama. Bila perlu untuk selama-lamanya,'' gumam Andika meremas foto hasil laporan sekretaris pribadinya.
Pria itu sangat geram merasa kecolongan. Bisa-bisanya putranya yang amnesia dekat dengan perempuan itu. Padahal segala cara telah dilakukan untuk menjauhi mereka berdua. Tetapi tidak urung membuat mereka sering bertemu. Dia khawatir bila terus seperti itu membuat Garda jadi ingat kembali dengan Meella.
Andika memang selalu memata-matai Garda dalam setiap aktivitasnya. Baik di dalam maupun di luar kantor. Dengan begitu dia dapat memantau dan mengendalikan putranya, sebagai ahli waris tunggalnya. Tetapi dia tetap memberikan jatah untuk putranya lain. Jika kelak menuntut hak waris darinya. Ya, diam-diam Andika masih memikirkan putranya selain Garda. Putra yang tidak pernah dapat dipeluknya lagi setelah perceraian bersama mantan istrinya. Dia yakin putranya itu tumbuh dengan baik dengan paras tampan. Setampan Garda karena mereka kembar.
''Terus awasi mereka. Segera kabarkan aku, sekecil apapun pergerakan mereka. Terutama gadis itu,'' titah Andika dengan suara rendah dan beratnya.
''Baik, tuan,'' sahut pria itu patuh. Lalu pergi meninggalkan ruangan Andika.
Andika mendengus pelan. Lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya.
*
''Mau sampai kapan elo terus berpura-pura, Garda?'' teguran itu sontak membuat si empunya nama terkejut bukan main. Dan menoleh ke arah orang yang sedang mengajaknya berbicara. Walau pun suaranya tidak terlalu besar, tapi cukup jelas masuk ke dalam rungu Garda.
Kedua sahabat lama itu sedang duduk bersisian di satu meja. Mereka sedang menghadiri perjamuan bisnis yang dihadiri oleh hampir pengusaha dari seluruh Indonesia. Bahkan juga ada beberapa perwakilan dari perusahaan asing ikut hadir di salah satu hotel bintang lima ternama di Jakarta.
''Ma-maksudnya?'' untuk pertama kalinya Garda tergagap, meminta penjelasan dari orang itu.
''Elo mungkin bisa menipu orang lain. Atau dunia sekalipun. Tapi elo gak bakal bisa nipu gue, bos bro?'' seringai Ryan misterius.
Garda tertegun dan terpaksa tidak bersembunyi lagi. Garda lupa jika sahabatnya satu ini memang memiliki insting yang tajam. Meskipun saat zaman sekolah otaknya tidak terlalu pintar. Tetapi Ryan bisa diandalkan untuk mencari informasi akurat tentang seseorang sesuai tugas yang diperintahkan.
''Gue juga tahu, saat ini Meella sedang hamil," Ryan menjeda ucapannya lalu tersenyum. '' dan itu adalah anak lo,'' lanjutnya.
''Dari mana kamu tahu hal itu?'' tanya Garda sangat ingin tahu.
''Jangan kaku gitu dong, bos,'' Ryan menepuk pundak Garda. ''santai aja kaya di pantai.''
Garda mengerutkan keningnya. Raut wajahnya tampak sangat serius.
''Bahkan gue tahu, berapa kali elo nidurin dia,'' Ryan terkekeh melihat wajah gugup sahabat lamanya.
''Lo tenang aja. Semuanya aman di tangan gue,'' ujarnya seakan bisa membaca kekhawatiran di wajah Garda.
Garda hanya mengangguk dan mengucapkan kata terima kasih.
''Gue juga bisa bantu lo, buat nyingkirin tunangan palsu lo itu. Karena gue tahu elo pasti udah gak nyaman sama dia kan?'' Ryan melempar pandangannya pada Bianca yang sedang asyik mengobrol dengan wanita yang menjadi pasangannya malam ini.
''Apalagi dia yang jadi otak kecelakaan Meella di Bandung, kan?'' lagi, Garda dibuat terkejut dengan pernyataan pria yang akrab disapa Keling itu. Dan Garda tidak akan bertanya lagi dari mana dia tahu.
Obrolan kedua sahabat lama itu terpaksa berakhir, saat Bianca menoleh ke arah mereka.
*
Di sela menikmati makan malam di ruang makan apartemennya, Rega meletakkan sebuah amplop putih panjang di atas meja makan. Lalu mendorongnya tepat ke depan Mitha.
Wanita itu pun langsung menghentikan kunyahannya. Meletakkan sendok dan garpu yang dipegang di atas piring. Dia pun meraihnya dan mengintip isinya.
__ADS_1
''Apa ini?'' tanyanya ingin tahu seraya menguyah pelan sisa makanan di mulutnya.
''Tiket pesawat,'' sahut Rega datar tanpa meninggalkan aktivitas makannya.
''Oh,'' desis Mitha dengan mulut yang berbentuk O. Setelahnya mengembalikan amplop itu pada posisi semula, dengan cara yang sama dilakukan oleh Rega.
Melirik amplop yang kembali bergerak ke arahnya, Rega mengerutkan dahi.
''Kenapa, gak suka?'' tanyanya memastikan. Dahinya mengerut samar.
''Itu tiket pesawat untuk bulan madu kita,'' lanjutnya menjelaskan.
''Nggak juga. Biasa aja,'' jawab Mitha cuek kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Rega sedikit kecewa dengan sikap Mitha yang tidak ada excited-excitednya. Dengan kata lain sangat acuh. Padahal dia berharap kejutan itu akan memberikan suasana romantis. Seperti yang pernah teman-teman dokternya ceritakan. Mereka pun tidak segan memberi saran, agar dia yang kaku dan dingin bisa bersikap lebih hangat dan romantis. Salah satunya dengan memberikan kejutan pada pasangan.
Rega yang tidak tahu cara memberi kejutan pada pasangan. Rela menurunkan harga dirinya meminta tutorial pada salah satu rekan dokternya. Katanya anti gagal mirip cerita dalam film romantis. Sampai minta diberikan rekomendasi film-film romantis pun rela dilakukannya.
''Kok, ekspresi kamu datar aja?'' protesnya. Dalam hati geram dan merutuki kegagalannya memberikan kejutan romantis.
Mitha sudah menghabiskan nasi dan lauk yang ada di atas piringnya. Kemudian bergerak membawa piring, dan perlengkapan makan lainnya yang kotor ke tempat cuci piring. Untuk cuci piring aman. Tidak ada yang dicemaskan. Dia terbiasa melakukannya sejak kecil. Paling-paling bila tidak ada gelas atau piring yang pecah. Paling sendok yang melayang dan berakhir di atas lantai. Tapi untuk hari ini sepertinya tidak. Karena semua perabot kotor sudah bersih dan sudah diletakkan di tempat masing-masing.
''Ya... seenggaknya kamu seneng, gitu,'' ungkapnya penuh harap. ''atau apa. Kan bisa?''
''Jadi, kamu ngarep aku bilang, 'WOW', gitu? Atau lompat-lompat kesetanan kaya orang gak waras,'' sahut Mitha ketus.
''Sorry aku gak bisa kaya gitu. Lagian aku kan bukan tipe perempuan yang kamu inginin. Ngapain pake bulan madu segala. Buang-buang duit aja. Kita gak perlu bulan madu ke luar kota apalagi ke luar negeri. Toh, setiap hari kita tinggal cuma berdua doang. Gak ribut aja udah bersyukur banget,'' tutur Mitha panjang lebar.
*
Pulang dari perjamuan bisnis dan mengantar Bianca pulang ke apartemen. Garda tidak ingin pulang ke mana pun. Kecuali ke apartemen miliknya yang ditempati Meella. Tiba-tiba saja dia ingin bertemu dengan istrinya. Mungkin karena sudah tiga hari tidak bertemu dia terserang penyakit malarindu. Ya, malarindu bukan malaria.
Meella berdiri mematung di depan pintu setelah membuka pintu apartemennya. Anggaplah begitu. Perempuan itu cukup terkejut dengan kedatangan Garda. Si bos tampannya itu datang di waktu yang sepertinya tidak tepat. Dan untuk alasan apa bila datang jam segini?
Bila untuk menjenguk Meella yang sedang sakit. Juga kurang tepat lantaran sudah tidak sakit lagi. Walau belum seratus persen. Okelah, bisa diterima alasan itu. Tapi, lihat waktu dulu pak bos... sekarang bukan jam sepuluh pagi. Bukan juga jam tujuh malam. Melainkan jam setengah dua belas malam. Hampir tengah malam.
''Bapak...''
''Boleh saya masuk?'' tanya Garda meminta izin. Langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari si tuan rumah. Dia mendorong pintu yang hanya terbuka setengah, menjadi lebih lebar.
Meella terkesiap saat bahunya tanpa sengaja bersentuhan dengan lengan Garda. Perempuan hamil itu masih belum mengerti maksud kunjungan mendadak atasannya itu. Otaknya belum bisa berpikir jernih karena baru bangun tidur. Juga bukan maunya bangun jam segini. Ini gara-gara rasa mual yang tiba-tiba terasa mengaduk perutnya. Lalu minta dimuntahkan.
Meskipun hanya air dan rasa asam serta pahit diakhir muntahnya, cukup membuatnya lega. Mual dan muntah yang dialami Meella belakangan ini sering terjadi, menyiksa tubuhnya. Kemudian saat akan kembali naik ke atas tempat ingin melanjutkan tidur yang tertunda. Terdengar suara bel unit yang ditempatinya berbunyi. Khawatir ada tamu penting atau hal lainnya. Meella terpaksa mengurungkan niatnya untuk tidur.
Meella segera menutup pintu apartemennya. Lalu menghembuskan nafasnya pelan. Dia menatap pria yang sedang duduk anteng di sofa panjang ruang tamu.
''Maaf, Pak. Ada urusan apa ya, malam-malam gini ke sini?'' Meella sengaja langsung bertanya, agar bisa cepat mengusir pria tidak tahu waktu di depannya dari sini.
Maaf bila tidak sopan. Tapi ini sudah mengganggu privasinya.
''Saya rasa, gak ada yang penting. Jika ada yang penting kita bisa bicarakan di kantor.''
__ADS_1
Garda menatap wajah Meella dengan senyum yang tidak bisa diartikan. Dia sadar kedatangannya malam ini, mengganggu ketenangan perempuan yang kini sedang tidak memakai kacamata minusnya. Tetapi dia tidak bisa mengendalikan rasa rindunya yang teramat padanya. Hingga membuatnya nekat datang di malam buta rata seperti ini.
Ah, tidak bisa ditahan lagi. Garda harus melakukannya malam ini juga.
''Saya tahu,'' jawabnya pada akhirnya.
''Tapi ini tidak ada hubungannya dengan urusan kantor,'' tukasnya.
''Lalu?'' Meella meminta penjelasan. Matanya memicing.
Garda bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati perempuan yang membuatnya kembali jatuh cinta pada orang yang sama. Setelah saling berhadapan Garda langsung memeluk tubuh Meella erat.
''Pak...''
''Ayo kita nikah,'' bisik Garda di telinga Meella. 'lagi,' lanjutnya dalam hati. Dia mengecup puncak kepala wanita dalam dekapannya.
''Apa?!" Meella terkejut sambil bergerak menepis pelukan Garda. Namun tubuhnya yang lemas sehabis muntah tidak banyak tenaga dimilikinya.
Sementara Garda kian mengeratkan pelukannya, seolah akan lenyap bila longgar sedikit.
"Mau kan kamu nikah sama saya?" tanya Garda lagi memastikan.
"Tap-tapi..."
"Sssttthh!"
Garda melonggarkan pelukannya. Netranya menatap dalam mata indah Meella. Wajahnya cantik alami tanpa polesan make up. Senyumnya yang menawan menciptakan pesona tersendiri. Ditambah lesung menghias pipi mulusnya. Pasalnya pria itu tidak pernah memelihara bulu-bulu kasar di sekitar bawah hidung atau di bawah mulutnya.
Kedua tangan Garda menangkup kedua pipi tirus Meella. Sejak dinyatakan positif hamil selera makannya berkurang. Tak aneh bila saat ini tubuhnya tampak lebih ramping. Lalu menunduk memagut dalam bibir Meella. Garda tidak peduli setelah ini akan mendapat tamparan keras di wajah tampannya. Karena kekurangajarannya mencium bibir orang lain tanpa izin. Dia akan menerimanya dengan tulus ikhlas nanti bila itu terjadi.
Mata Meella membola sempurna. Terkejut mendapat serangan mendadak dari Garda. Tetapi dia tidak menolak atau menjauhkan wajahnya. Ada apa dengan dirinya. Kenapa dia menjadi pasrah begini? Di mana harga dirinya sebagai perempuan penganut budaya timur?
Oh, tidak! Meella tidak bisa seperti ini terus menerus. Namun rasa ini selalu mengingatkannya pada Garda.
Garda tersenyum senang tidak mendapat penolakan apa pun dari Meella. Kedua tangannya bergerak. Yang kiri memegang tengkuk Meella. Dan kanannya meraih pinggang ramping si wanita agar lebih dekat dengan tubuhnya tanpa jarak sedikit pun.
Garda kian memperdalam ciumannya. Seakan tidak ada hari esok. Hasrat Garda akan Meella jadi melambung tinggi. Dia harus menuntaskannya malam ini juga.
"Nnggghh."
Suara lenguhan Meella memercik api gairah dalam tubuh Garda. Meella kualahan meladeni Garda. Nafasnya pendek ia tidak sanggup lagi. Meella menepuk bahu Garda pelan.
Mengerti akan tanda itu, terpaksa Garda melepaskan ciuman mereka. Benang saliva tercipta saat bibir Garda memisahkan jarak dengan bibir Meella. Garda menatap wajah Meella dalam, dahi mereka saling menyentuh. Hangat nafasnya dan Meella beradu. Detak jantung keduanya berpacu cepat, dapat mereka didengar dan dirasakan.
***
Ow, ow, ow...
Ada apa ini?
Yuk, simak terus ceritanya. Jangan lupa tinggalkan jejak manis kalian ya. See you next episode 😘🥰🙏
__ADS_1