Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Jalan Terbaik


__ADS_3

🙋Hai...🙋Hai... readers... I'm come back again... Sorry kelamaan gak update gara-gara


urusan di dunia nyata yang masih belum kelar.


Happy reading ya...


*******************************************


Garda terpaksa menghentikan sepeda motornya di tepi jalan raya yang lumayan ramai kendaraan berlalu lalang, setelah mendengar rengekan Qameella berkali-kali yang minta segera diturunkan. Belum lagi tiga pukulan yang


mendarat di bahunya, walau tidak sakit tapi cukup mengganggunya dalam berkendara. Membuatnya teringat awal perjumpaannya dengan Qameella untuk pertama kali setahun yang lalu.


Entah mengapa sikap gadis ini mendadak berubah. Dia terdengar lebih cerewet dan tidak sabaran. Tidak seperti biasanya yang kalem dan selalu berbicara seperlunya. Mungkinkah hal ini ada hubungannya dengan kekeliruannya minggu lalu? Garda salah mengenali Qarmitha sebagai Qameella, yang ternyata adalah saudari kembarnya. Lagian cewek mana sih yang tidak terluka saat melihat cowoknya dengan status yang jelas, tiba-tiba jalan dengan cewek lain. Parahnya lagi cewek itu adalah saudara kandungnya si cewek.


Sebenarnya hal itu bukan pure kesalahannya. Bukan bermaksud mencari pembelaan. Seandainya


saja ketika Qarmitha berkata jujur tentang siapa dirinya, mungkin semua itu tidak perlu terjadi. Namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Jalan terbaik adalah tinggal menikmati saja susah dan senangnya.


Qameella langsung beranjak turun dari jok boncengan sepeda motor Garda, setelah memastikan


terparkir sempurna. Kemudian dia mengambil jalan berlawanan arus hendak kabur dari cowok yang tanpa malu-malu kerap memanggilnya Bini.


“Elo mau ke mana sih? Bisa gak tunggu dulu penjelasan gue?” Garda menarik lengan Qameella, menahan kepergian gadis itu.


Garda terkesiap melihat sorot mata marah Qameella. Cowok berkulit bersih dengan rambut agak kecoklatan tampak speechless. Meskipun tidak mengeluarkan kata-kata pedas, dia bisa merasakan emosi yang bersarang di hatinya. Dan dia pun tidak pernah menduga istrinya itu akan menunjukkan ekspresi semarah itu.


Banyak orang pengguna jalan yang menatap mereka dengan berbagai macam persepsi. Mulai dari yang kepo sampai yang mencibir tingkah sepasang anak muda berseragam SMA itu. Bisa jadi mereka pun menganggap sikap Garda dan Qameella terlalu lebay, sok drama kaya di sinetron.


Tanpa mereka sadari, diantara sekian mata menatap mereka ada Tari yang kebetulan melintas, lalu menghentikan sepeda motornya di seberang jalan dari tempat mereka berada.


Awalnya Tari tidak tertarik melihat interaksi lebay ala-ala anak SMA di pinggir jalan seperti ini. Namun dia jadi tertarik karena orang yang sedang berantem adalah orang yang dikenalnya. Dia terkejut melihat Qameella yang bersama Garda. Mungkin bila Qarmitha yang berada di posisi Qameella sekarang dia tidak akan terkejut, karena memang pergaulannya lebih bebas dari pada Qameella.


Sedangkan Qameella memang tidak pernah punya hubungan dengan cowok mana pun. Atau hanya sekedar TTM alias Teman Tapi Mesra dengan seorang cowok sekali pun. Karena dia tahu Qameella telah berkomitmen pada dirinya sendiri tidak akan pacaran sebelum lulus SMA, dan restu kedua orang tuanya.


Tari mempertajam penglihatannya dengan mengucak-ngucak kedua matanya. Dia khawatir salah lihat atau matanya sudah rabun.

__ADS_1


“Bin-Bini… tolong, plis! Dengar dulu penjelasan gue dulu ya,” pintanya dengan sangat.


Garda terpaksa menahan emosinya untuk membujuk gadisnya agar mau mendengarkannya. Walau akhirnya dia sadar ternyata tidak mudah untuk menghadapinya. Gadisnya cukup keras kepala rupanya. Selain itu dia harus mempertimbangkan tempat dimana mereka sekarang. Rasanya cukup malu berdebat seperti ini di depan muka umum. Dan dia sadar kini dirinya dan Qameella menjadi tontonan gratis.


Qameella mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tidak selera melihat dan menyahut cowok yang selalu menganggap serius pernikahan rahasia mereka. Walau pun Qameella sudah berkali-kali mengingatkan akan status pernikahan mereka belum sah secara hukum negara, dan meragukan secara hukum agama karena tidak ada kehadiran ayahnya Qameella sebagai wali nikah. Dia juga mulai sadar bahwa keberadaannya sudah seperti adegan sinetron di tv. Rasanya malu menjadi tontonan seperti ini. Namun masalahnya dia belum selesai berbicara dengan Garda.


“Bisa gak sih elo lepasin tangan gue?” tanya Qameella dingin mengalihkan pembicaraan.


"Sori," dengan berat hati Garda melepaskannya sambil menatap lengan lemah yang baru saja dicengkramnya kuat.


Qameella mengusap tangannya sendiri yang baru saja dicengkeram Garda, sekedar untuk menghilangkan nyeri karena efek cengkeraman yang cukup kuat.


“Maaf, kayanya gak ada yang perlu elo jelasin. Karena semuanya emang udah jelas. Lagian elo udah salah orang deh kalo elo masih ngejar gue.” Ujar Qameella sarkas dan penuh penekanan.


Hati Garda terluka mendengar ucapan Qameella. Begitu pun sebaliknya. Cewek berkacamata minus itu lebih terluka oleh kata-katanya sendiri.


Seumur-umur dalam kamus hati Garda, tidak ada seorang cewek pun yang menolak cintanya. Biasanya dia yang selalu menolak cinta cewek-cewek yang selalu datang mengemis cintanya. Tetapi kali ini keadaan seakan berbalik padanya. Cewek sederhana yang nyaris tidak memiliki daya tarik sukses memporak-porandakan keangkuhan hati seorang Pandega Garda Negara si penakluk cewek dan penakluk jalanan.


“Ta-tap-tapi…” Garda seakan kehilangan kata-kata.


Garda untuk menjelaskan, dengan suara sedikit bergetar menahan air mata dan kepedihan di hatinya. Mendadak Qameella teringat saat jam-jam pulang sekolah. Walau pun hatinya tidak mengharapkan kedatangan cowok itu, tetapi dia selalu menunggu kedatangan Garda dengan penuh harap. Hingga akhirnya harapan itu terpaksa


dipupusnya setelah melihat kebersamaan Garda dengan Qarmitha.


“Bini gue…” Garda masih berusaha memberi penjelasan.


“Stop!” pekik Qameella menginterupsi. “tolong jangan paggil gue dengan sebutan menjijikan itu. Di antara kita gak ada hubungan apa pun.


“Gue tahu gue salah. Tapi tolong kasih gue kesempatan sekali aja buat jelasin semuanya. Walau gimana pun elo adalah istri gue. Gue berhak …”


“Cukup!” lagi, Qameella menginterupsi dengan menunjukkan lima jarinya untuk menghentikan Garda. Sontak Garda pun terdiam.


Qameella ingat tentang benda yang dijadikan maskawin saat menikah dadakan ketika itu. Dan benda itu pula yang menjadi pengikat hubungan mereka berdua. Tiba-tiba dia meraba dadanya sendiri memastikan keberadaan


maskawinnya. Kebetulan hari ini dia memakai maskawin yang berupa kalung mas putih lengkap dengan liontin berukirkan nama ‘Garda’, yang disembunyikan di dalam kemeja putihnya. Setelah itu melepaskannya dari lehernya. Lalu menyerahkannya ke tangan Garda.

__ADS_1


Garda terperangah melihat aksi Qameella. Dia benar-benar dibuat speechless.


“Gue kembaliin kalung pemberian lo yang lo kasih sebagai maskawin di pernikahan … ah, apalah,” Qameella sengaja menggantungkan kalimatnya, karena risih dengan ucapannya sendiri.


“Ini mungkin jalan yang terbaik buat kita,” ungkap Qameella dengan berat hati. Kemudian beranjak pergi meninggalkan Garda mematung menatap hampa kepergian gadisnya.


*


Qarmitha bersama teman-teman satu timnya tengah melakukan latihan basket di lapangan basket sekolah. Satu minggu lagi tim mereka akan maju bertanding dalam kompetisi pekan olahraga tahunan tingkat SMA se-kota Bekasi.


Suara derap kaki diiringi suara derit sepatu mereka, bergesekan di lantai lapangan saat menggiring dan merebut bola dari tangan lawan terdengar memecah keheningan suasana sore di tengah lapangan di dalam gedung sekolah. Di saat semua murid yang lain sedang asyik menikmati waktu istirahatnya di rumah, mereka masih


berjibaku menguras keringat berlatih basket.


Raut-raut lelah yang terabaikan oleh semangat menggelora mereka demi membela nama baik sekolah. Tiba-tiba Qarmitha terjatuh tersungkur di lantai. Entah sengaja atau tidak ada di antara mereka yang berusaha curang


ingin menyingkirkan Qarmitha dengan mencederainya. Terkesan tidak masuk akal, namun inilah faktanya.


Parahnya, usaha orang itu sukses membuat Qarmitha cedera hingga diharuskan istirahat untuk sementara waktu, hingga kondisinya membaik. Tetapi agar kondisi Qarmitha menjadi lebih baik, bahkan sembuh sekali pun dibutuhkan waktu yang tidak cukup sehari atau dua hari.


“Aduh, gimana nih, Tha? Kalo elo sampai kenapa-kenapa gimana nasib tim kita?” ungkap Yasmin frustasi setelah usai sesi latihan.


Qarmitha hanya tersenyum getir seraya memijat pelan kakinya yang cedera.


“Iya nih, tinggal seminggu lagi kita tanding.” Timpal Maya tidak kalah khawatir.


“Udah… elo berdua gak usah pada sedih gitu kali, di tim bukan ad ague doank kali… kan masih ada elo-elo pada, juga yang lainnya. Jadi, gak pake pesimis gitu deh,” sanggah Qarmitha menenangkan mereka.


Dalam hati Qarmitha juga tidak terima dengan keadaannya sekarang. Dia pun tahu siapa orang telah berbuat curang dengannya.


Di seberang tempat Qarmitha, Yasmin dan Maya duduk, tepatnya di seberang lapangan. Ririn, Desi, dan Anggi tampak tertawa terbahak entah sedang mentertawakan apa. Tapi Qarmitha bisa membaca mimic wajah mereka yang seakan sedang mengejek kesialannya. Ingin rasanya dia memberikan sedikit tinjuan ringan hingga


burung-burung terlihat berterbangan di atas kepala mereka.


Berhubung kondisinya sedang buruk dia hanya melemparkan tatapan elang yang mematikan seraya mengepalkan tangannya di atas lantai tanpa disadari oleh kedua temannya, Yasmin dan Maya.

__ADS_1


__ADS_2