Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#12


__ADS_3

Hai readers...


Happy reading...


**********************************


*"Thatha mau menikah." ucap wanita itu dengan suara bergetar.


"Pulanglah, Nak."


Suara Maryam masih terasa menggema menabuh gendang telinga Qameella. Gadis itu terpekur seorang diri dalam keheningan ruangan yang berisi empat kubikel itu. Dari keempat kubikel yang ada hanya kubikelnya saja sudah berpenghuni. Sisanya masih kosong belum bertuan pasalnya ketiga rekannya masih belum datang. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang mengisi tempatnya masing-masing.


Sejak pertama kali bekerja di perusahaan ini, Qameella bisa dikatakan salah satu karyawan yang rajin. Dia selalu datang on time, sangat jarang sekali datang terlambat. Apalagi setelah pindah ke rumah kontrakan dekat kantor, bukan hanya menghemat waktu juga bisa menghemat uang ongkos naik kendaraan umum. Karena jarak dari rumah kontrakan ke kantor tidak terlalu jauh. Dia bisa menempuhnya hanya berjalan kaki.


‘Thatha mau nikah?’batinnya bergumam mengulangi ucapan Maryam saat di telepon tadi.


Qameella menyandarkan bunggungnya pada sandaran kursi di belakangnya seraya menghela napas lelah.


‘Akhirnya, keberuntungan itu berpihak pada Thatha karena menemukan jodohnya. Dia pasti senang banget bisa bahagia bersama pasangannya. Merangkai asa untuk masa depan …,’ matanya memejam sejenak lalu tersenyum sumir.


‘Dan, saya?’ Qameella membuka matanya kembali. Netra hitamnya menatap lurus pada layar komputer yang sudah menampakkan wallpaper pemandangan.


Kendati separuh hatinya ikut merasakan kebahagiaan yang kini menyelimuti hati saudari kembarnya, Qarmitha. Namun pada saat yang bersamaan, pada sudut hatinya yang lain merasakan hal yang sebaliknya. Semacam rasa gundah yang bersumber pada rasa iri.


Bagaikan satu koin mata uang yang memiliki dua sisi yang berbeda. Mungkin itulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kehidupan Qameella dan Qarmitha. Walau pun keduanya adalah sepasang gadis kembar identik. Tetapi Tuhan menuliskan jalan hidup yang dialami keduanya berbeda. Dan Qameella selalu merasa keberuntungan yang selalu menaungi Qarmitha sejak kecil. Sementara dirinya selalu menjadi orang yang kurang beruntung. Juga selalu mendapatkan kasih sayang yang penuh dari Gusti dan Maryam.


Hal itu terbukti saat Qameella kecil. Gusti dan Maryam selalu memberikan perlakuan istimewa pada Qarmitha. Dengan alasan kondisi Qarmitha yang sakit-sakitan, butuh perawatan yang intensif. Sedangkan dia menjadi anak yang dibuang pada family lain. Banyak penderitaan yang telah dialaminya kala itu tanpa mereka tahu. Mirisnya, jangankan untuk protes atau sekedar menolak keadaan itu, Meella kecil yang lugu dan polos tidak bisa berbuat apa-apa. Karena memang tidak tahu harus berbuat apa-apa. Otak kecilnya terlalu naif menghadapi keadaan saat itu, hingga dia hanya bisa menerima begitu saja.


Gusti dan Maryam tidak pernah membayangkan apa yang akan terjadi pada putri kecilnya, Qameella yang berada jauh dari mereka serta efek sampingnya di lain hari. Mereka hanya memfokuskan diri pada kesembuhan Qarmitha saja. Setelah apa yang telah mereka perbuat pada sepasang putri kembar mereka, mereka selalu menganggap sudah berlaku adil.


Qameella merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Pikirannya masih tertuju pada nasib mirisnya. Hingga detik ini masih berkabung atas meninggalnya sang suami. Mungkin dia telah terkena bucin akut atau sindrom cinta akut sampai mata hatinya membuta, tidak mampu melihat indahnya cinta lain di hatinya.


“Huh, masih pagi udah bengong aja, Meel?” tegur seorang wanita muda berpakaian formal yang sudah duduk di kubikel sebelahnya. Dia adalah Dita.

__ADS_1


Merasa ada orang yang menegurnya, sontak Qameella menoleh ke sumber suara dengan wajah kakunya.


“Makanya, cepet cari pasangan. Jangan betah-betah menjomblo, nanti karatan lho baru tahu rasa,” cibir Dita membuat Qameella enggan menanggapi.


“Nih, lihat gue!” serunya kontan membuat Qameella focus pada penampilannya yang cantik dan segar. Juga perut yang terlihat sudah membuncit karena sedang hamil lima bulan.


“Sekarang gue lagi bahagia-bahagianya udah punya suami, dan sebentar lagi bakal punya baby. Iri kan lo?” Qameella memutar matanya malas. Gadis itu enggan menimpali ucapan Dita yang berbau sindiran itu.


“Heh, pamer mulu mentang-mentang udah punya suami,” keluh Qameella yang terdengar seperti gumaman. Dia langsung bergerak meluruskan pandangan pada layar monitor di depannya. Lalu meletakkan jari-jari lentiknya di atas keyboard.


“Gue bukannya lagi pamer, tapi ini fakta,” tukasnya tidak mau diremehkan.


“Emangnya mau sampai kapan elo pertahanin status janda kembang lo itu?” lanjut Dita benar-benar sudah tidah bisa mengerem mulutnya. Wanita muda yang usianya terpaut dua tahun lebih tua dari Qameella itu tidak sadar sedang membangunkan singa yang sedang tidur.


Status Qameella di lingkungan kantor memang sudah menjadi rahasia umum. Dan terkadang menjadi konsumsi public karena dengan gambling mengakui pernikahannya yang terjadi terlalu dini kala itu. Serta sikap dinginnya terhadap lawan jenis membuatnya terkadang menjadi bahan gossip di kantor. Tetapi Qameella tidak pernah berusaha mau menanggapi berita miring tentangnya. Toh, pernikahannya dengan Garda bukan untuk menutupi aib. Melainkan pure insiden salah paham. Tidak seperti orang yang menjadi lawan bicaranya sedari tadi. Menikah baru tiga bulan, tapi sudah hamil lima bulan. Juga selama tidak digosipkan menjadi pelakor, dia tidak perlu repot memberi konfirmasi pada pihak mana pun. Pasalnya bila hal itu terjadi, entahlah apa kabar dirinya. Yang jelas hal itu tidak baik bagi masa depannya, titik!


Qameella mengepalkan tinjunya agar bisa mengendalikan sikap dan emosinya tetap stabil. Kemudian memasang mode tenang dan focus pada apa yang sedang dikerjakannya. Berusaha acuh dan tidak mau peduli dengan ucapan Dita lagi, yang hanya membuat kuping panas, mental dan akal rusak. Lebih baik menanamkan kalimat ‘Diam itu emas’, atau … ‘Biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu’ di dalam hati.


Qameella mendongakkan wajahnya ke sumber suara yang berada di depan kubikelnya. Netranya menangkap tubuh jenjang menjulang di depannya karena wanita itu berdiri menghadapnya.


“Eh, Mbak Arien kapan datang?” tegur Qameella berbasa-basi untuk mengalihkan pembicaraan. “Baru aja aku datang, Meel,” sahut wanita bernama Arien itu. Mendengus seraya mencebikkan bibirnya lalu menggerakkannya ke kanan dan ke kiri.


“Meel, kamu gak usah dengerin kata orang lain. Cukup punya prinsip yang kuat. Jadi diri sendiri aja. Gak perlu jadi orang lain mau, kalo Cuma menghilangkan identitas kita sendiri,” beberapa deret kalimat meluncur mulus dari bibir Arien terdengar cukup membakar telinga Dita yang tipis. Wanita yang sudah berumur terbilang matang itu sengaja berkata demikian lantaran sudah jenuh dengan ucapannya yang suka menyuruh Qameella mencari pasangan. Lantaran dirinya yang jomblo ikut merasa tercubit olehnya.


“Ih, Mbak Arien kenapa sih mau ikut campur aja dengan urusan orang lain. Ingat ya Mbak, aku lagi ngomong sama Meella bukan sama Mbak,” protes Dita merasa direcoki oleh kehadiran Arien.


“Lagian Meella-nya juga fine-fine aja waktu aku bilang cari pasangan. Tapi kenapa Mbak Arien yang sewot sih? Gak jelas banget!” lanjutnya sengit.


“Cih! Sombongnya… mentang-mentang udah nikah sombongnya sampai ke ubun-ubun,” cibir Arien ketus.


“Heh, kalo bukan gara-gara udah melendung duluan, apa iya cowok kamu mau nikahin?” tuding Arien.


“Huh! Lebih baik melendung duluan bisa dinikahin. Dari pada Mbak Arien, udah pacaran lama, lamaran, juga sebar undangan tapi Cuma di PHP-in doang. Mbak…, Mbak… kasian banget sih? Kok bisa ya cowok Mbak malah nikah sama cewek lain? Ha-ha-ha…” sungguh balasan yang sangat telak bagi Arien. Dita sangat puas melihat perubahan ekpresi wajah si perawan tua itu, perlahan memucat.

__ADS_1


Baru-baru ini memang sudah tersebar kabar tentang batalnya pernikahan Arien di kantor. Padahal semua persiapan menjelang hari H sudah 65%. Memang benar-benar kasihan untuk Arien.


Arien mengepalkan tinjunya seraya mengerutkan bibirnya. Sepasang netranya yang jernih terasa memanas dan mulai memerah. Keangkuhannya yang tadi sempat membara, mendadak padam dan nyungsep entah kemana. Sepasang kaki yang kokoh dan panjang mulai kehilangan dayanya. Lalu perlahan melemah kehilangan tenaga, langsung mundur selangkah ke belakang. Setelahnya duduk di kursinya dengan tepat.


Qameella sebenarnya benci dengan keributan yang selalu dilakukan oleh dua wanita yang tidak lagi kanak-kanak. Namun sikap mereka melebihi anak usia lima tahun bila sedang berselisih. Dan dia tidak bisa hanya diam dalam kondisi rebut tak karuan. Pada akhirnya dia juga yang harus hadir menjadi penengah, sekaligus menjadi orang yang arif diantara seniornya itu.


*


Rumah Gusti


Sebelum mengetuk pintu ruang kerja Gusti. Maryam menghapus sisa air matanya yang sempat menetes saat bertelepon dengan Qameella. Hatinya sedih bila berhubungan dengan Qameella. Setelah mendapatkan izin dari si empunya tempat, wanita itu memutar handle pintu agar bisa masuk ke dalam.


“Ayah,” ujarnya lembut menghenyakkan lamunan pria yang berada di balik meja kerja. Netranya langsung beradu tatap pada pria yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah tidak lagi muda.


“Ma,” ucap Gusti singkat seraya menegakkan posisi duduknya.


Maryam langsung menuju sofa yang juga berada dalam ruangan itu. Lalu duduk tanpa menunggu izin dari Gusti.


“Mama tadi sudah telepon Lala, Yah,” Maryam tampak hati-hati.


Gusti menaikkan sebelah alisnya. Memfokuskan perhatiannya pada wanita yang sedang berbicara dengannya.


“Apa katanya, Ma?” tanyanya tidak sabar.


“Katanya… Lala akan pulang akhir minggu ini.”


“Oh, syukurlah,” ada raut kelegaan yang berpendar di wajah Gusti. Menerbitkan senyum di bibir Maryam.


Semoga kepulangan Lala nanti bisa menjadi lebih baik. Harap Gusti dalam batin Maryam.


*


Sampai di sini dulu ya cerita kali ini. Saat ini author masih menyelesaikan episode selanjutnya ya. See you next episode...

__ADS_1


__ADS_2