
Hai readers... author coming with new episode... maaf ya kelamaan nungguinnya.
Happy reading ya...
****************************
Qameella segera berkemas diri sebelum orang lain melihat penampilan kacaunya. Menyeka sisa air matanya yang membasahi pipi. Kemudian beranjak pergi ke toilet untuk merapikan riasan wajahnya.
Sayang sekali softlens yang dipakainya jatuh entah kemana. Dia akan mempertanggung jawabkan nanti pada Dita. Karena hampir semua benda yang melekat di tubuh Qameella adalah barang pinjaman dari Dita.
Pelan-pelan Qameella berjalan melewati orang-orang yang tengah menyaksikan prosesi pemakaian cincin pertunangan antara Garda dan Bianca. Sungguh gadis itu tidak tertarik dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Dia hanya ingin segera pergi meninggalkan tempat ini.
Kendati bermata minus, Qameella masih bisa melihat dengan baik dalam kondisi seperti ini. Namun dia sedikit terkendala dengan penglihatan dalam jarak dekat.
Tiba-tiba Qameella tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang juga sedang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Eh, maaf, maaf, gak sengaja," spontan dia meminta maaf seraya menganggukkan kepalanya, merasa sangat bersalah.
"Gimana sih jalannya, gak pake mata ya?" hardik orang itu terdengar suara wanita.
Qameella mengangkat wajahnya melihat wajah sinis yang sedang menatapnya balik. Sontak dia mengenali wajah gadis itu. Calon adik iparnya.
"Raisya?" desis Qameella.
"Lho, Mitha? Ngapain kamu di sini?" gadis bernama Raisya itu bertanya.
Alasan Raisya langsung menyebut nama Mitha, lantaran terakhir kali bertemu saat acara pesta pernikahan temannya, juga melihat gadis itu menggunakan gaun walau berbeda warna dan model, tapi dengan riasan yang hampir mirip. Dan ada satu hal yang Raisya lupa. Jika Mitha dan Meella memiliki wajah yang sangat mirip.
Qameella mengerutkan keningnya dengan menunjukkan ekspresi keterkejutan.
Lho, Raisya panggil aku Mitha? Apa dia pikir aku Mitha? Masa iya sih? Kami kan lumayan akrab walau hanya beberapa kali ketpemu? Pikiran Qameella sibuk bertanya pada diri sendiri dan berspekulasi.
"Mana Dicky?" tanya Raisya lagi.
"Hah, Dicky? Gak ada...," sahut Qameella terbata.
"Oh, terus kamu kemari sama siapa?" selidik Raisya melemparkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Berharap netranya bisa menangkap sosok pria yang sangat ingin ditemuinya.
"Teman kantor," jawab Qameella jujur.
"Wah, hebat ya, cuma pegawai kecil rendahan kaya kamu bisa diundang orang sekelas Pak Andika, pemilik Negara's Group," suara Raisya terdengar sinis dan meremehkan.
Dalam hati Qameella sangat kecewa dengan sikap Raisya yang terasa tidak mengenakan dan melukai perasaannya. Kendati bukan dirinya tapi orang yang dimaksud adalah orang yang menjadi bagian dari hidupnya. Orang yang pernah menempati rahim yang sama dalam waktu yang bersamaan.
Mungkinkah sikap baik Raisya selama ini pada Qameella hanya kamuflase belaka semata? Karena acap kali mereka bertemu selalu ada Mirza. Sedangkan saat ini Mirza tidak ada bersama mereka. Mungkinkah? Inikah wajah asli Raisya yang mungkin sebenarnya tidak suka pada Qameella?
Ah, entahlah... Qameella tidak ingin ambil pusing dan menjauhi pikiran negatif dari benaknya. Pikiran negatif biasanya bisa jadi toxic bagi tubuh bila sudah mencemari pikiran.
Tanpa sengaja Qameella melihat ke arah panggung. Di sana, dia melihat wajah Garda yang semringah menatap mesra Bianca yang sedang menyematkan cincin pertunangan ke jari manis kirinya. Tidak jauh dari Garda berdiri dia juga melihat sosok wajah Andika yang tidak kalah bahagianya.
Kemudian, entah kenapa tiba-tiba saja tubuh Qameella bergetar seperti orang menggigil. Wajahnya memucat dengan tatapan mata nyalang seakan sedang ketakutan.
__ADS_1
"Lho, lho, kamu kenapa?" Raisya mendadak panik.
Buru-buru Qameella memalingkan wajah saat pandangan matanya hampir bertabrakan dengan Andika. Menegakkan tubuhnya yang mendadak terasa menegang kaku. Ada ketakutan yang tiba-tiba menyergap hatinya.
Qameella benar-benar tidak bisa fokus pada apa pun. Dia hanya ingin segera pergi jauh-jauh dari tempat ini. Harus segera!
"Kamu kenapa?" entah sudah berapa kali Raisya menanyakan hal yang sama pada Qameella. Namun tidak ada jawaban. Hanya wajah takut sekaligus panik yang ditampilkan Qameella.
Raisya memang tidak mengerti apa yang terjadi pada Qameella, hanya mengajaknya bergerak ke sudut ruangan yang tampak lebih lengang. Dan mendudukkan gadis itu di sebuah kursi yang satu-satunya ada di sana.
"Nih, kamu minum dulu supaya tenang," Raisya menyodorkan segelas minuman berwarna merah pada Qameella.
Qameella hanya menggeleng dengan wajah yang sudah pucat pasi.
"Minum aja," desak Raisya memindahkan gelas di tangannya ke tangan Qameella. Lalu mengarahkan gelas itu pada mulut Qameella hingga berhasil diteguk sedikit.
Qameella menggelengkan kepalanya, mengembalikan gelas di tangannya pada Raisya. Karena air yang diteguknya terasa aneh. Tetapi Raisya menolaknya, malah mengarahkan kembali dan berhasil diminum Qameella hingga tandas.
Bagus! Raisya tersenyum devil.
"A-a-aku mau pergi dulu," putus Qameella segera beranjak berdiri hendak pergi.
"Kamu yakin mau langsung pergi gitu aja?" tanya Raisya menguji Qameella.
Qameella hanya mengangguk lemah.
Raisya melipat kedua tangannya di depan dada seraya menatap sinis kepergian Qameella.
"Ada apa ini?" tanyanya pada diri sendiri.
"Kenapa aku tiba-tiba pusing seperti ini? Ya Allah... ada apa ini?" Qameella berusaha berjalan dengan sekuat tenaga. Dalam hati berharap bisa bertemu dengan Dita atau Arien. Atau seseorang yang dikenalnya.
Entah sudah berapa langkah gadis itu berjalan. Tubuh Qameella kian terasa lemas. Pandangan matanya pun semakin mengabur. Tidak terasa tubuhnya lunglai dan jatuh ke lantai. Tetapi sebelum menyentuh lantai dia merasakan ada sepasang tangan kokoh yang menopang tubuhnya agar tidak sampai jatuh menyentuh lantai.
Di saat kesadaran sudah menurun nyaris tidak sadarkan diri, Qameella sempat melihat wajah orang itu namun tidak jelas. Setelahnya Qameella tidak sadarkan diri.
*
Qameella tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dia tidak tahu entah sudah berapa lama dia terpejam dalam buaian mimpi. Kini sepasang matanya tanpa kacamata terbuka lebar dan jelas penglihatannya.
Di mana ini?
Suasana begitu hening. Tidak ada suara apa pun yang masuk ke dalam rungunya. Netra hitam gelapnya menyapu ke setiap sudut ruangan yang terlihat seperti kamar tidur. Dan benar, ini adalah kamar tidur.
Semua benda yang ada merupakan perlengkapan tidur. Seperti, ranjang beserta kasur yang telah dilengkapi seprai berwarna putih cerah. Bantal dan guling dengan warna sarung yang sama. Selimut tebal menyelimuti tubuhnya.
Nakas berwarna krem dan lampu tidur di atasnya. Lemari pakaian dua pintu di sisi jendela kamar. Satu lagi ada meja rias tidak jauh dari lemari.
Qameella beranjak duduk dari berbaring. Menyibak selimut yang sedari tadi menyelubunginya. Lalu bergerak turun, berjalan meninggalkan tempat tidur.
"Kenapa aku bisa ada di sini? Siapa yang membawa aku ke sini? Padahal... seingat aku tadi masih berada di pesta...," Qameella berusaha mengingat hal-hal yang sudah terjadi. Walau sulit untuk menelusuri.
__ADS_1
Setelah merasa buntu tidak mendapat jawaban apa pun. Qameella memutuskan meninggalkan ruangan itu.
Ketika sudah berada di luar, tiba-tiba netranya melihat sosok yang sangat familiar dalam ingatannya.
Mendadak degup jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Darahnya berdesir memompa lebih cepat menyebar ke seluruh tubuh. Qameella merasakan debaran dan perasaan yang dirasakannya masih sama seperti dulu. Tidak berubah sedikit pun.
Hatinya sangat gembira melihat sosok itu. Sosok yang selalu dirindukan siang dan malam. Namanya tidak pernah Alfa hadir dalam setiap doa-doanya.
Dia... dia...
Ah, gak mungkin...
Tetapi Qameella meragu untuk menyapanya. Takut terjebak dalam halusinasi belaka. Tapi kali ini terasa begitu nyata di depan mata.
Kini, netra keduanya saling bertemu. Bertukar pandang dan saling mengunci antara satu dengan lainnya. Tanpa sadar keduanya membeku di tempat masing-masing. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir mereka. Hanya mematung dalam kebisuan.
Beberapa detik kemudian. Air mata tiba-tiba mengalir dari pelupuk mata keduanya. Entah mengapa rasa haru biru menyeruak di dalam hati mereka.
Mungkinkah ini hanya mimpi? Jika itu benar, biarkan aku tidur lebih lama. Bila bisa tidak perlu bangun untuk selamanya.
"Bi," tiba-tiba sosok itu membuka suaranya pelan.
Qameella terkesiap saat rungunya mendengar suaranya. Matanya membola menajamkan netra agar tidak salah lihat.
Sungguhkah ini kamu?
"Bi..." suaranya kembali memanggil, kini lebih keras dari sebelumnya.
"Ah... hh... G, G, Gar,..." tenggorokan Qameella tercekat. Sangat sulit mengeluarkan suara.
Perlahan kaki sosok di depannya bergerak, melangkah maju pelan.
Qameella masih mematung di tempatnya. Tidak bisa bergerak.
"Bi... Bini... Bi..." panggilan yang sangat dirindukannya kini terdengar kembali menusuk masuk ke dalam rungunya.
Tanpa terasa sosok itu, sangat mirip dengan Garda, sudah berada tepat di depan mata Qameella. Kurang dari tiga puluh sentimeter jarak membentang di antara mereka. Lalu saling berpelukan.
Beberapa saat kemudian, saling melepaskan pelukan masing-masing.
Air mata Qameella mengalir bertambah deras ketika sentuhan hangat telapak tangan Garda mendarat tepat di pipi kanannya. Ibu jari lelaki itu bergerak naik turun seraya menyeka pipi Qameella yang basah. Namun lidahnya masih belum bisa berkata-kata. Hanya menatap penuh kerinduan.
Kemudian tangan Garda bergerak ke tengkuk Qameella. Menariknya pelan ke arah wajah Garda. Setelahnya bibir kedua insan itu saling bertemu. Bertautan, bertukar salivah, menyalurkan rasa yang selama ini terpendam dalam jiwa.
*
Sampai di sini dulu ya episode kali ini...
Author mau semedi lagi, cari inspirasi buat episode berikutnya.
See you next episode... 😘😘😘
__ADS_1