
Happy reading...
**************************************
Diam-diam Ryan terus memperhatikan Garda yang entah mengapa begitu berbeda. Tapi dia tidak tahu dimana letak perbedaan itu. Hanya merasa janggal dan terkesan aneh.
Ah... tiba-tiba Ryan baru menyadari bahwa hari ini Garda terlihat lebih rapi dari biasanya. Baju yang dimasukkan ke dalam celana. Rambut kelimis dan disisir rapi. Dan satu lagi, dia terlihat lebih fokus belajar. Membuat catatan saat guru memberi penjelasan. Begitu cepat menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tentu saja hal itu bukan style-nya Garda banget.
Selama bertahun-tahun Ryan bersahabat dengan Garda, juga jadi teman sekelas, terkadang pula menjadi teman sebangku. Ryan tidak pernah melihat style Garda yang seperti itu. Dia hafal betul kebiasaan Garda yang tidak suka rapi. Untungnya orangnya ganteng, jadi masih terlihat menarik di mata para cewek.
Untuk masalah IQ, jangan ditanya. Walau pun Garda malas belajar, juga terkadang suka tidur di kelas. Dia termasuk orang yang ber-IQ tinggi. Makanya, nilai-nilai ujian Garda tidak pernah jeblok. Tapi, untuk ujian akhir sekolah kemarin Garda benar-benar serius belajar. Tentu saja dorongan dari Qameella. Satu-satunya cewek yang mampu membolak-balikkan hati Garda sampai jungkir balik.
Mungkin karena terlalu ditekan oleh bokap-nya kali jadi otak si Bro Garda jadi lempeng begitu. Pikir Ryan menepis kecurigaannya.
*
POV Garda
Garda tersenyum bahagia saat mobil yang mengantarnya hingga tiba di sekolah, telah hilang menjauh dari pandangannya. Dia sangat bersyukur penyamaran perdananya untuk sementara terbilang sukses. Tidak ada seorang pun yang curiga. Termasuk Karina, ibu kandungnya.
Ah, sepasang netra coklat Garda menangkap sosok gadis yang sangat dirindukannya. Ingin rasanya memeluk erat tubuh yang selalu menguarkan aroma kerinduan di hatinya. Namun akal sehat Garda melarang untuk bertindak.
"Inget Garda, di sini elo bukan jadi diri lo sendiri. Tapi elo harus berperan sebagai Rega," ucapnya setengah berbisik memperingati dirinya sendiri agar tidak hilang kendali.
Alhasil, dia hanya bisa diam membeku melihat Qameella melewatinya begitu saja. Dalam hati Garda sangat sedih. Terlebih saat gadis itu berlalu begitu saja dengan tatapan hampa lurus ke depan. Seolah tidak melihat keberadaannya, Qameella tidak menoleh sedikit pun ke arah tempatnya berdiri.
Kamu beneran gak lihat saya, Bi? Lirih batinnya bertanya.
Dengan pandangan tidak lepas dari punggung kurus Qameella. Garda berjalan di belakangnya. Tetapi dia tetap menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok.
Jam istirahat sudah tiba. Garda langsung bergerak meninggalkan kelasnya. Oh bukan, lebih tepatnya kelas Rega karena mereka sedang bertukar posisi.
Garda benar-benar dibuat jenuh dengan murid-murid penghuni kelas XII-I IPA. Juga dengan pembelajaran di kelas itu. Untung saja Garda tipe murid jenius jadi bisa cepat berbaur dengan mereka. Murid-murid yang tidak kalah jenius dengannya. Dan ada yang paling Garda tidak suka berlama-lama di dalam kelas, yaitu suasana yang sangat serius dan monoton. Ditambah muka-muka datar datar mereka. Anjir..., bikin mati kutu!
Berkali-kali Garda merutuki ide konyolnya mengajak Rega bertukar tempat dengannya. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Dia malah bersyukur Rega mau menyetujui ide gilanya ini. Alhasil tujuan utamanya datang ke sekolah ini untuk mengetahui kabar terkini dan menemui istri kecilnya terkabul.
Jangan dikira Rega mudah dibujuk serta mau begitu saja, ikhlas menerima permintaan gila Garda. Oh tidak! Ada proses alot yang sumpah buat Garda ektra putar otak untuk merayu saudara kembarnya, yang sebelas dua belas dengan murid-murid muka datar di kelas Rega. Juga ada beberapa syarat yang harus dilakukan selama mereka bertukar posisi.
__ADS_1
Ber-akting menjadi orang lain tidak mudah. Begitu pula yang dirasakan Garda saat ini. Mengubah penampilan semirip mungkin. Walau pun wajah dan bentuk tubuhnya sudah mirip karena mereka anak kembar identik. Tetapi Garda tidak bisa berbuat seenaknya. Sehingga mewajibkannya tampil maksimal agar tidak ada orang yang curiga dengan dirinya yang bukan Rega.
Kini Garda sedang dalam perjalanan menuju ruang perpustakaan bersama Danu, teman sekelas Rega. Mereka sengaja pergi ke tempat membosankan itu untuk mencari bahan tugas yang harus mereka selesaikan segera.
Berhubung sedang berperan menjadi Rega. Juga satu tim dengan bocah yang sepertinya sebelas dua belas dengan Rega itu, maka mau tak mau Garda ikut bersama Danu.
Sepertinya Rega tidak memiliki banyak teman. Buktinya, dari sekian banyak murid di kelas XII-I IPA, Rega hanya akrab dengan satu bocah ini aja. Pikir Garda.
Menyinggung soal teman mendadak Garda jadi kangen dengan mereka yang di sana. Mereka selalu ada untuknya. Bahkan mereka lebih mirip bayangan, ketimbang teman biasa lantaran kemana pun Garda pergi selalu mengikutinya, persis kekirig.
Hadehhh, gue mendadak jadi kangen sama mereka ya. Gimana kabarnya mereka sekarang? Kira-kira mereka sadar gak ya, jika yang lagi bersama mereka bukan gue, tapi Rega. Batin Garda penuh tanya. Pasalnya, rencana ini memang pure hanya Garda dan Rega yang tahu. Dia sengaja tidak memberi tahu siapa pun, demi kelancaran usaha kerasnya untuk bertemu pujaan hatinya, Qameella.
Berbicara tentang Qameella, Garda baru ingat misinya. Menemui Qameella tanpa harus membongkar penyamarannya. Sebisa mungkin berperan sebagai Rega yang cool. Kendati kenyataannya sifat Garda kebalikan dari sifat Rega.
Rega alias Garda akhirnya tiba di ruang perpustakaan. Ruangan yang sebenarnya paling enggan dikunjungi cowok berambut kelimis itu. Lantaran ruangan yang kaya ilmu itu, merupakan ruangan yang paling membosankan di dunia. Biasanya banyak aturan bila berada dalam ruangan tersebut.
Mulai dilarang berisik, makan dan minum dalam perpustakaan, dan peraturan-peraturan lainnya yang ogah Garda hafal satu per satu. Tapi apalah daya, semua ini adalah bagian dari perjuangan panjangnya untuk mengobati rindunya pada Qameella. So what gitu loh! Perpustakaan sekolah tidak seseram ruang mayat kan? Jadi, siapa takut?!
Garda menghembuskan napas berat sebelum menjejakkan kaki di dalam ruangan itu. Netranya berkeliling mengamati keadaan sekitar.
Suasana dalam ruangan yang dipenuhi rak-rak dan buku-buku dari berbagai macam judul, tampak tidak terlalu ramai oleh murid-murid yang membaca buku dengan menempati meja dan kursi yang diletakkan di sudut-sudut ruangan. Atau sekedar meminjam buku.
Qameella berjinjit di depan rak buku dengan tangan terulur ke atas. Berusaha keras menggapai buku yang ditujunya. Namun keberadaannya lebih tinggi dari tinggi badannya. Hingga usahanya terasa sia-sia.
Dalam keputusasaannya tiba-tiba Qameella dikejutkan dengan kemunculan tangan yang juga terjulur ke atas dari belakang tubuhnya. Kemudian meraih buku yang hendak dicapainya.
Qameella membeku sejenak. Lalu memutar tubuhnya perlahan untuk melihat siapa orang itu. Kembali memori ingatannya berputar pada kejadian yang sama hampir satu tahun lalu.
Benar-benar persis sama seperti kejadian waktu itu. Dan orang yang menolong pun orang yang sama. Rega.
Tetapi ketika sepasang netra mereka berdua bersirobok, entah mengapa desiran yang bergejolak di dua rongga dada Qameella terasa berbeda. Berbeda dengan saat itu. Ada apa ini?
Ah, mungkin karena gue lagi kangen sama si Garda kali, jadi perasaan gue merasa Rega jadi Garda. Secara mereka kan kembar identik.. Pikir Qameella menepis asanya.
Garda menyorong buku di tangannya pada Qameella. Disertai senyum hangat penuh pengharapan. Berharap dapat mengenalinya dalam bentuk identitas apa pun. Namun semuanya kandas saat Qameella meraih buku itu sambil tersenyum, mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Makasih ya, Ga," ucapan itu sukses membuat Garda senang sekaligus patah hati. Karena dirinya tidak terlihat sebagai dirinya sendiri mata istri kecilnya. Gadis itu tidak mengenalinya. Tatapan matanya pun menyendu sedih.
__ADS_1
Qameella berbalik hendak melenggang pergi meninggalkan Garda di tempatnya. Entah sengaja atau tidak Qameella terkesiap ketika ujung jari cowok yang dikiranya Rega itu menyentuh punggung tangannya yang lain.
Sesaat Qameella membeku di tempatnya. Menoleh kaku ke arah Rega. Tatapan matanya memancarkan kebingungan dan penuh tanya. Namun lidahnya terasa keluh saat Rega mengatakan kata penyesalannya,
"Maaf," begitu katanya. Qameella hanya mengangguk kaku. Setelahnya pergi tanpa sepatah kata.
Wajah itu, wajah yang sangat dirindukannya. Wajah yang terlihat redup tanpa cahaya. Betapa ingin Garda membelainya. Menghapus rindu yang berpendar pada sorot matanya. Aroma khas tubuhnya yang menguar dan menyerap masuk dalam rongga indera penciuman. Nyaris menghilangkan akal sehatnya untuk memeluk tubuh kurus gadis itu.
Sepertinya perpisahan ini benar-benar menyiksa batin Qameella. Kendati Garda juga tak jauh berbeda. Tetapi, setelah melihat tubuh gadis itu tampak bertambah kurus. Dan pipi yang tirus sudah jelas bahwa selama ini dia kehilangan ***** makannya.
Garda menyandarkan punggungnya pada rak buku yang ada di belakangnya pelan. Jemari tangan kanannya menyugar rambutnya yang rapi. Lalu mendesah frustasi.
Dentang bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Semua siswa langsung berhamburan meninggalkan tempat duduk dan kelas masing-masing.
Seperti biasa Qameella selalu keluar paling akhir. Dengan langkah gontai dia melangkah melewati koridor sekolah yang mulai lengang. Sementara Qarmitha sudah keluar kelas sejak tadi. Kini tengah menunggunya di depan gerbang sekolah sambil menunggu jemputan.
Grab
Tiba-tiba seseorang menarik tangan Qameella kasar. Sontak gadis itu panik, meronta dan berteriak meminta tolong. Namun gedung dua lantai itu sudah sepi dan lengang. Tidak ada aktivitas lagi. Hingga tidak seorang pun yang dapat membantunya.
Qameella mengaduh kesakitan saat orang itu mendorong dan menyudutkannya, sampai punggungnya menyentuh dinding.
"Ssstt! Bi, ini saya," orang itu meletakkan satu jari telunjuk kanannya pada bibir ranum Qameella dengan suara setengah berbisik lembut. Sedangkan tangan kirinya mencengkeram bahu kanan Qameella, seraya mensejajarkan tinggi badannya.
Kontan Qameella terdiam mendengar panggilan itu. Panggilan sayang yang hanya dia memanggilnya seperti itu. Sepasang mata Qameella membola, menatap lurus pada sosok cowok ganteng di depannya. Dalam jarak yang sangat dekat, Qameella dapat melihat dengan jelas wajah orang yang juga sedang menatapnya lekat.
Namun hatinya meragu saat membaca papan nama yang tertulis di dada kanan cowok di depannya. Juga penampilannya yang kelimis, sungguh sangat bertolak belakang dengan kepribadiannya. Sejenak sepasang muda mudi itu larut dalam kebisuan dan pikiran mereka masing-masing.
Mungkin kah...
"Bi," Garda menatap sendu gadis yang berdiri di depan batang hidungnya. Matanya memerah tidak kuasa menahan emosi. Emosi untuk meluapkan kerinduannya.
Qameella tersadar jika cowok itu benar adalah Garda. Spontan dia menghambur dalam dekapan cowok yang telah resmi menjadi suaminya.
Garda membalas dekapan Qameella lebih erat, seakan tidak ingin melepaskan untuk selamanya. Tangan kanannya bergerak membelai puncak kepala istrinya. Juga menghujaninya dengan kecupan bertubi-tubi di sana.
*
__ADS_1
Maaf ya readers update nya segini dulu. Ini pun menghabiskan waktu sampai tiga hari karena terlalu repotnya author mengurus pekerjaan di dua dunia. Trims...