
Hai readers... maaf ya telat update. Author lagi bad mood update episode terbaru. Karena pekerjaan di dunia nyata lagi teriak-teriak minta diselesaikan segera.
Jangan lupa vote, like n komennya doping buat author agar bisa semangat lagi berkarya.
Happy reading...
************************************************
Qameella benar-benar sangat canggung berada dekat Garda. Berdua menikmati makan siang bersama di balkon depan kamar Garda. Setelah ciuman panas mereka yang terlihat gugup dan salah tingkah hanya gadis itu sendiri. Sementara si cowok ajaib itu tampak santai saja seperti tidak terjadi apa-apa.
Sesekali Qameella mencuri pandang ke arah Garda. Dia hanya ingin tahu, apakah cowok itu memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak?
"Kenapa lihat-lihat?" tiba-tiba tatapan Garda bersirobok dengan Qameella. Kontan gadis itu tergugu. "minta dicium lagi?" celotehnya dengan senyuman jahilnya. Tidak lupa kerlingan sebelah matanya genit.
Dasar mesum!
"Ih, kegeeran! Siapa juga yang minta. Lagian gue gak lagi lihat apa-apa kok," kilahnya sambil menatap piring di hadapannya dengan tangan yang tidak menganggur. Mengaduk-aduk dengan sendok.
"Bi, jangan ngomong elo gue terus dong. Ganti dengan yang lebih sopan," pinta Garda lembut.
Qameella merasa tersentil dengan ucapan Garda barusan.
"Hm, iya," jawabnya singkat.
Garda tersenyum bahagia.
“Bi, kamu suka berada di sini?” selidik Garda iseng.
“Hm.” Qameella mengangguk saja tanpa pikir panjang.
“Bagus deh kalo kamu suka. Gimana kalo kamu tinggal di sini aja? Kamar ini cukup untuk kita tinggali berdua,” cetus Garda asal-asalan.
“Iya," namun tiba-tiba terperanjat kaget. "APA?” sepertinya sebelum menjawab tadi Qameella tidak mencernanya dengan baik.
“Kenapa kamu kaget gitu?” tanya Garda ringan. "biasa aja kali, Bi."
"Maaf," cicit gadis itu pelan.
Garda mengacak-acak puncak kepala Qameella disertai senyum manis yang khas. Seketika membuat gadis yang sering disapa Meella itu terhipnotis sejenak. Pandangannya tidak mau beralih.
Cup!
Tiba-tiba Garda mengecup kening Qameella, istrinya.
__ADS_1
"Ih... mesum lo! Ups, sorry," Qameella menggigit bibir bawahnya dengan perasaan was-was.
"Gak papa, nanti juga terbiasa," ujarnya memaklumi.
Setelah selesai makan siang. Qameella ingin mencuci piring. Karena sudah terbiasa dengan aktivitasnya di rumah. Namun Garda melarangnya. Dia pun menjelaskan bila di rumahnya sudah ada asisten rumah tangga dengan tugas masing-masing. Jadi, gadis yang telah berstatus istrinya hanya duduk manis. Atau kerja keras untuk melayaninya. Ehm!
Dering ponsel Qameella mengejutkan sekaligus membuatnya menegang sendiri. Pasalnya di layar ponselnya tertera tulisan 'AYAHKU'. Tubuhnya menegang. Wajahnya pun memucat.
"Ada apa,Bi?" tanya Garda melihat ekspresi wajah istrinya yang menegang.
"Eh... Ayah telepon, Gar," sahutnya ragu sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Ya udah, angkat aja sih," ujar Garda ringan.
"Tapi... s-saya takut." Qameella terbata.
"Takut kenapa?" Garda menatap menelisik.
"Nanti kalo Ayah tanya 'saya dimana?', saya harus jawab apa?"
"Ya ampun istriku, cintaku, negriku..." Garda mencubit-cubit pelan dan gemas pipi Qameella. "bilang aja kamu lagi di rumah suamimu, gitu aja repot," lanjutnya ringan.
"Ih... kamu jangan ngaco deh, bisa-bisa saya digantung Ayah nanti kalo ngomong kaya gitu." Qameella merajuk manja.
"Tapi, gak gitu juga Garda..."
"Ih, Garda sih panggilnya?"
"Apaan sih?" Qameella tidak mengerti.
Deringan ponsel Qameella mengusik perdebatan mereka. Mau tidak mau mengangkat teleponnya. Setelah sebelumnya menarik napas dalam-dalam.
Beberapa saat kemudian. Qameella mengakhiri sambingan teleponnya. Tentu saja setelah diakhiri Gusti sebelumnya. Lalu dengan perasaan campur aduk dia izin pulang pada Garda. Dia sengaja tidak menceritakan isi pembicaraannya dengan Gusti.
Dalam hati Garda sangat menginginkan berlama-lama dengan Qameella. Dia juga ingin mengulang ciuman panas mereka. Bila perlu melakukan lebih dari sekedar ciuman. Namun melihat wajah memelas istrinya membuatnya tidak tega menahannya lebih lama.
Sebuah mobil sport merah berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Qameella. Mobil yang nyaris dilupakan oleh sang pemilik. Lantaran lebih suka mengendarai sepeda motornya. Sebab dia bisa lebih bebas mengusai jalanan saat kondisi macet. Selain itu, dengan sepeda motor itu sudah lebih dari sepuluh kali menjuarai balapan liar.
Kini cowok berzodiak Leo itu terpaksa mengeluarkan mobilnya yang sering disebut 'Si Marong', untuk mengantar orang yang paling spesial dalam hidupnya akhir-akhir ini. Bukan bermaksud pamer. Tapi karena kondisi cuaca yang sangat terik. Dia tidak mau orang kesayangannya tersengat panasnya terik matahari yang tidak bagus untuk kesehatan kulit.
"Mau keluar gitu aja nih?" sindir Garda saat Qameella hendak membuka pintu mobil, tentu saja setelah mengucapkan salam perpisahan. Sontak membuat gadis itu menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh melewati celah bahunya.
"Hah, maksudnya?" Qameella tidak mengerti.
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu Garda menarik lengan kanan Qameella agar menghadap ke arahnya. Secepat kilat dia membenamkan bibirnya pada bibir ranum Qameella.
Pergerakan yang begitu cepat dan mendadak membuat Qameella tidak punya persiapan. Hanya bisa pasrah dengan perlakuan manis suaminya. Namun tidak belangsung lama. Setelahnya mendorong tubuh Garda untuk memutus ciuman mereka yang terasa mulai panas.
"Udah, jangan lama-lama. Nanti khilaf, bisa gawat."
"Gak papa kali, Bi... kita udah nikah ini. Gak usah takut."
"Tetap aja, kita belum cukup umur buat ke arah situ. Saya mau selesai'in sekolah dulu."
Garda mendengus frustasi.
Cup!
Qameella mencuri ciuman di pipi Garda.
Garda menoleh dengan tatapan tidak percaya disertai pipi yang bersemu merah.
"Nanti akan datang saatnya. Kita akan bersama merajut cinta kasih kita dengan keluarga kecil kita," tutur Qameella menenangkan.
Garda tersenyum semringah.
Qameella menundukkan wajahnya dalam membuyarkan senyumnya, saat melihat Gusti berdiri di dalam pagar rumahnya dengan tatapan tajam sesaat setelah mobil sport merah milik Garda beranjak pergi. Wajahnya pias. Deburan jantungnya bertalu karena takut. Berbagai pertanyaan bermunculan di dalam benaknya. Terutama tentang ciumannya dengan Garda di dalam mobil tadi. Apakah ayah tadi melihat kami?
*
Suasana di meja makan saat makan malam terasa menegang. Walau pun tidak terjadi pertengkaran dan terbilang tenang di meja makan. Namun diamnya Gusti cukup membuat Qameella tegang serta mempengaruhi selera makannya. Pasalnya dia takut jika tiba-tiba Gusti marah padanya perihal kejadian siang tadi.
Berbanding terbalik dengan Qarmitha yang terlihat santai. Meskipun sebenarnya patah hati membuatnya sedih. Tetapi dia bukan tipikal cewek cengeng yang suka mendramatisir kesedihan dengan menangis tujuh hari tujuh malam. Cewek yang bisa dibilang easy going itu cukup tegar menghadapi kegagalan cintanya. Masih ada hal yang lebih asyik dan menyenangkan yang lebih berguna dikerjakan, dari pada meratapi patah hati yang hanya merusak hati, pikiran dan badan.
Seperti biasa Qameella mencuci piring kotor sisa makan malam. Setelahnya masuk ke dalam kamar. Membuka buku pelajaran untuk persiapan ujian besok. Sementara di kamar sebelah yang dibatasi dinding tripleks. Kamar Qarmitha berada. Di saat saudari kembarnya sibuk belajar untuk menghadapi ujian. Cewek yang hobi olah raga basket itu tampak cuek bebek, malah tengah asyik dan tenggelam dalam alunan musik dari head set. Sesekali kepalanya bergerak mengikuti irama musik yang didengarnya sambil membolak-balikan tabloid olah raga kesukaannya. Kepribadian Qarmitha memang sangat jauh berbeda bahkan bertolak belakang dengan Qameella.
Tiba-tiba ritual belajar Qameella terganggu ketika ponselnya berdering. Panggilan video call Garda benar-benar menginterupsi dan merusak fokusnya. Mau tidak mau dia menerima panggilan itu. Bila tidak, maka cowok itu akan terus-terusan menerornya seperti penjahat.
Haduh... ini sih bukan cuma ujian sekolah doang. Tapi ujian cinta juga! Batin Qameella meronta.
Tetapi kesenangannya berbicara dan bercumbu lewat video call tidak berlangsung lama. Lantaran Gusti melakukan sidak alias inspeksi mendadak ke kamarnya. Dan ternyata bukan hanya kamarnya saja yang disidak ole pria berusia enam puluh tahunan itu. Terbukti dari hasil sitaannya yang berupa tabloid olah raga kesukaan Qarmitha dan head set lengkap dengan ponselnya berada di tangan ayahnya.
Buru-buru Qameella memutuskan sambungan vc-nya secara sepihak. Masa bodo dengan Garda yang mungkin saja bisa marah dengannya. Tapi kondisi saat ini lebih genting dari sekedar marah-marah manjanya Garda. Ujung-ujungnya minta dirayu dan ciuman mesra.
Tanpa banyak bicara Gusti mengambil posel Qameella dari tangan si empunya. Kemudian mengumpulkan kedua putri kembarnya di ruang tengah. Melihat ekspresi serius yang terkesan galak Gusti, membuat si kembar Qameella dan Qarmitha ciut nyali. Tidak ada yang buka suara selama Gusti menceramahi mereka. Bahkan saat semua barang kesukaan mereka disita dan tidak akan dikembalikan sampai ujian sekolah berakhir. Selama itu pula mereka berdua harus pulang tepat waktu. Meraka akan diantar jemput oleh taksi yang akan disewa Gusti agar tidak keluyuran. Mereka semua hanya bisa pasrah. Karena tidak diperbolehkan untuk protes.
Gusti yang telah mengekang mereka. Hari-hari sepasang anak kembar, Qameella dan Qarmitha benar-benar membosankan. Terutama Qarmitha yang hobi keluyuran bersama teman-temannya. Namun bagi Qameella biasa-biasa saja. Karena dia sudah menitip pesan pada Tari perihal kondisinya terkini yang bagai dipenjara pada Garda.
__ADS_1
Jangan ditanya tentang kerinduan Qameella pada Garda. Tidak bisa diukur apalagi diselami. Pasalnya bila dibandingkan dengan besar dan tingginya gunung, pasti jawabannya lebih besar dan lebih tinggi rindunya. Bahkan dalamnya palung Mariana, masih lebih dalam rasa rindu Qameella terhadap Garda. Maklumlah sedang dimabuk cinta. Rada-rada lebay banyak. Wkwkwk....