
Hai readers... maaf saat ini author lagi gabut banget. And lagi usaha balik mode on buat update episode terbaru yang udah lama readers tunggu.
So, be happy aja deh ya. And happy reading...
************************************************
Malam telah beranjak semakin larut. Suasana hening menghiasi rumah yang ditinggali oleh empat kepala itu. Mirza dan keluarganya sudah beberapa jam lalu pamit pulang meninggalkan kediaman Gusti. Para tamu yang jumlahnya tidak seberapa pun sudah lebih dulu berpamitan, kembali ke rumah masing-masing. Hanya menyisakan meja prasmanan kosong, serta kursi-kursi plastik yang disiapkan untuk tamu undangan, sudah tersusun saling bertumpukan di teras rumah. Sementara, piring, gelas, sendok dan garpu kotor juga peralatan yang lainnya sudah bersih, mengisi setiap sudut ruang lemari piring di dapur.
Setelah bersih-bersih dan ganti baju, Gusti dan Maryam siap membaringkan tubuh lelah mereka di atas tempat tidur. Sebelum memejamkan mata keduanya menyempatkan untuk berbincang sejenak.
"Ma," Gusti hendak memulai pembicaraan, sambil menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur.
Maryam yang sedang mulai membaringkan tubuhnya, dan hendak bergelung dalam selimut tebalnya, hanya menggumam seraya menolehkan wajahnya pada sumber suara.
"Hari ini, Ayah bahagia sekali Ma. Karena Lala pada akhirnya mau ...," Gusti menjeda ucapannya sejenak sambil memikirkan kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa di hatinya. "Ah... kata anak zaman sekarang, move on ya move on, Ma," lanjutnya semringah. Rona bahagia itu terlihat jelas di wajah pria itu. Ada rasa yang membuncah namun sulit diungkapkan.
"Ya," sahut Maryam singkat. Suaranya begitu pelan nyaris tidak dapat diterima oleh rungu Gusti.
Tidak jauh berbeda dengan sang suami, Maryam juga sempat mengkhawatirkan hal yang sama. Namun dia dapat menangkap rona ketidak bahagiaan yang berpendar dari sorot mata Qameella. Hatinya sakit menyaksikan kesedihan yang diderita putrinya untuk kesekian kalinya. Ingin sekali dia menghiburnya agar bisa melupakan kesedihan itu. Yang sayangnya lagi, lagi dia tidak bisa melakukannya. Sebagai seorang ibu, Maryam tidak mampu menjadi payung untuk anak-anaknya berlindung. Dia hanya bisa menjadi penonton dan penyimak yang baik atas setiap apa yang anak-anaknya alami.
‘Lala, sayang… maafkan mama yang selalu tidak bisa menjadi pelindung yang baik untuk kamu, Nak. Tapi Mama selalu berdoa dan berharap kelak kamu bisa menemukan dan memiliki kebahagiaan yang hakiki bersama pasanganmu. Membangun mahligai yang baru, dan melupakan kesedihan lama.’
Gusti terus mengoceh sendiri. Sementara Maryam terdiam membisu. Larut dalam pikirannya sendiri.
"Ma...," panggil Gusti saat lawan bicaranya tidak lagi merespon, menoleh pada lawan bicaranya yang sedang berbaring di sisinya.
"Ah, iya Yah?" Maryam tersadar dari lamunannya saat telapak tangan Gusti menyentuh bahunya.
"Kamu kenapa, Ma? Sakit?" Gusti tampak khawatir.
"Ah, tidak apa-apa kok, Yah. Mama cuma lelah saja. Karena mengurus semuanya serba sendiri. Jadi, yahh... jadi badan sedikit pegal-pegal," Maryam berusaha menutupi, walau pada kenyataannya hal itu memang benar.
Gusti sedikit mengerutkan alis, agak terkejut mendengar pernyataan Maryam. Alasan yang terdengar terlalu mengada-ada. Bagaimana mungkin orang yang biasa bekerja keras akan kelelahan hanya melakukan pekerjaan yang terbilang ringan. Pasalnya pesta pertunangan Qameella dan Mirza sangat sederhana sekali. tamu yang hadir pun sangat sedikit. Tetapi mengapa?
"Ayah, Mama tidur duluan ya. Soalnya Mama sudah ngantuk," Maryam langsung menarik selimutnya seraya memunggungi Gusti. Saat baru memejamkan mata diam-diam mengalirkan air mata yang sedari tadi sudah memenuhi pelupuk matanya.
Gusti tertegun melihat sikap istrinya yang terasa mendadak aneh.
"Ya, tidurlah Ma," sahutnya terdengar seperti gumaman.
*
Di dalam kamar Qameella.
__ADS_1
Qarmitha duduk di pinggir tempat tidur saudari kembarnya, Qameella. Kegiatan yang sangat jarang sekali dilakukannya setelah mereka hidup terpisah.
"Apa elo udah benar-benar yakin bisa hidup bahagia sama Mirza, La?" telisiknya penasaran dengan keputusan Qameella yang tiba-tiba.
Qameella yang sedang membersihkan make up nya dengan toner pembersih wajah, mendadak menghentikan gerakannya. Tetap membiarkan jemari kanannya menjepit kapas lembab dan menempel di pipi kanannya. Melalui pantulan cermin di hadapannya, Qameella melirik gadis berparas sama dengannya. Tanpa ekspresi dan hanya diam seperti sedang berpikir.
“Yah… gue cuma gak nyangka aja, akhirnya elo bisa move on juga dari masa lalu,” angan Qarmitha menerawang jauh, mengingat momen dimana Qameella berada di titik terendah dalam hidupnya. Keputusasaan yang tak berpenawar. Hingga nyaris mati karena berusaha mengakhiri hidup sendiri. Tidak mau ditinggalkan sendiri hendak
menyusul yang telah pergi.
Bersamaan dengan itu, Qameella juga larut dalam pikirannya sendiri. Kemudian teringat obrolannya dengan Gusti sehari sebelum acara lamarannya dengan Mirza.
Di dalam ruang kerja Gusti. Saat itu pria yang sudah tidak terlihat segar lagi, lantaran sering sakit-sakitan. Dia duduk di balik meja kerjanya ketika Qameella baru masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu meminta izin.
Ayah dan anak itu kini duduk di sofa.
“Ayah tahu, kamu tidak suka dengan keputusan Ayah. Tapi semua ini ayah lakukan hanya untuk kebaikan kamu semata,” ungkap Gusti lembut namun masih terasa ketegasannya.
“Heh, demi kebaikan? Kebaikan siapa yang Ayah maksud?” cukup menyentak dan tajam ucapan Qameella.
Gusti tersentak sekaligus menyadarkannya, bahwa putri polos dan penurutnya sudah berubah.
“Kenapa?” sepasang netra berbingkai kacamata minus Qameella menatap Gusti dengan berani. Dari sorot mata yang selalu memancarkan ketidak berdayaan dan kepatuhan. Kini tidak lagi tampak.
“Kenapa Ayah gak pernah membiarkan Lala bahagia dengan pilihan hidup yang Lala pilih sendiri? Nggak bisakah sekali… aja Ayah gak usah repot dan turut campur dengan hidup Lala?” guguatnya mempertanyakan perbuatan Gusti di masa lalu.
“Lala mohon, Yah. Biarkan kali ini… aja, Lala bahagia dengan jalan yang Lala pilih. Lala ingin tenang, Yah… Lala ingin bahagia…,” pintanya mengiba dengan air mata menggantung di pelupuk matanya.
Dengusan resah meluncur dari sela mulut Gusti seraya mengusap kasar wajahnya. Lalu terdiam beberapa saat.
“Ya, berbahagialah! Karena setiap orang pasti menginginkan bahagia dalam hidupnya. Tidak mungkin ada orang yang mengharapkan sebaliknya,” sahutnya bijaksana.
Qameella menundukkan wajahnya, jari telunjuk kanannya menyeka air mata yang meluncur begitu saja melewati pipi mulusnya.
“Tapi kamu lupa, jika hal yang kamu anggap kebahagiaan selama ini adalah sesuatu yang semu. Atau memang kamu tidak sadar, apa yang selama ini kamu pertahankan merupakan kesia-siaan?”
“Apa maksud Ayah berkata seperti itu?” tanya Qameella tidak mengerti.
Gusti menyeringai sumir.
“Berhentilah menyalahkan diri sendiri, Nak! Berhentilah menangisi kematian Garda! Lupakanlah kesedihanmu!” bujuknya selembut mungkin agar hati Qameella bisa luluh.
Qameella menegakkan tubuhnya. Kedua tangannya yang berada di atas pangkuannya, sontak meremas kuat celana kain yang dipakainya. Kemudian beranjak berdiri hendak meninggalkan ruang kerja Gusti.
__ADS_1
“Percayalah, Nak, Ayah juga menginginkan kamu bahagia. Ayah juga turut sedih bila kamu sedih,” tukas Gusti berhasil menghentikan langkah kaki Qameella. Lalu menjeda ucapannya sejenak, menarik napas dalam dan dihembuskan perlahan.
“Lala sayang, Ayah mohon berhentilah menangisi masa lalu. Karena sebanyak apa pun air mata yang kamu tumpahkan, bahkan mampu menenggelamkan bumi ini, tidak akan merubah takdir Tuhan. Garda sudah mati, dan tidak akan hidup kembali. Biarkan dia tenang di alam sana. Kamu yang hidup tatalah kehidupanmu dengan menjadi
lebih baik,” lanjutnya panjang lebar.
Deg!
Dada Qameella mendadak terasa sesak nyaris sulit bernapas, bagai diremas oleh tangan – tangan kuat. Rasanya tidak ingin percaya dengan semua yang telah diucapkan Gusti. Tetapi Qameella sadar bahwa semua itu benar.
Setelah selesai berbicara dengan Gusti. Qameella langsung menangis di pusara Garda. Mengadukan semua yang sedang dialaminya saat ini.
“Kenapa elo baru tanya sesuatu yang udah terjadi sekarang?” tanya Qameella setelah sadar dari lamunannya.
Qarmitha tergagap.
Qameella menghela napas panjang. Lalu meletakkan kapas di tangannya ke atas meja. Memutar posisi duduknya hingga sepasang gadis kembar itu saling berhadapan.
“Gue cuma mastiin, kalo elo masih bisa bahagia walau tanpa Garda,” sebenarnya Qarmitha tidak enak hati mengungkapkannya.
“Dunia masih berputar pada porosnya. Hati manusia masih bisa berubah. Karena Tuhan Maha membolak – balikkan hati manusia yang diinginkan – Nya,” Qameella tersenyum kecil.
*
Satu minggu sudah usia pertunangan Qameella dan Mirza. Namun hubungan mereka nyaris tidak ada perkembangan yang berarti. Pasalnya hanya Mirza yang selalu menghubungi Qameella lewat telepon setiap siang tepat jam makan siang, dan malam menjelang tidur.
Sementara Qameella masih cuek seakan tidak menganggap hubungan yang sudah terjalin. Di dalam otaknya hanya ada pekerjaan dan pekerjaan.
Di kantor tempat Qameella bekerja sudah tersiar kabar tentang mutasi karyawan ke kantor pusat. Tentu saja hanya karyawan yang memiliki loyalitas tinggi pada perusahaan yang terpilih. Oleh sebab itu, banyak karyawan yang berusaha dan berlomba-lomba agar terpilih dalam kesempatan ini.
Tetapi tidak berlaku pada Qameella. Gadis itu memilih tidak ikut andil dalam kompetisi itu. Baginya bekerja di kantor cabang seperti saat ini sudah lebih dari cukup. Cukup menjangkau pusara Garda bila dia rindu. Dan tidak lama lagi dia pun akan menyandang nyonya Mirza. Lebih baik memfokuskan diri pada pekerjaan yang ada. Pikirnya.
*
Di tempat berbeda, Garda tengah bersama Bianca, gadis cantik yang dianggapnya pacar sedari SMA. Hubungan keduanya tampak kian harmonis dan akrab. Keduanya ikut menghadiri undangan makan malam di restoran mewah milik Andika. Sebuah restoran bertaraf internasional. Mereka tidak hanya berdua. Juga ada Andika dan isrtinya, ibu tiri yang sampai detik ini belum diakui Garda. Dan kedua orang tua Bianca.
Para orang tua dari Garda maupun Bianca sangat senang melihat perkembangan hubungan sepasang kekasih itu. Kemudian mereka sepakat untuk melanjutkan ke jenjang lebih serius. Sebagai tahapan awal, Andika berencana mengadakan pesta pertunangan Garda dan Bianca.
Setali tiga uang dengan kedua orang tua Bianca. Mereka langsung setuju.
Gayung pun bersambut. Ekspresi bahagia dan antusias ditunjukkan Bianca dan Garda. Walau pun dalam hati Garda seperti ada sesuatu yang mengganjal. Tetapi apa? Dia tidak tahu.
*
__ADS_1
Maaf ya... episode ini bersambung dulu.
See you next episode. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya.