
Hai para readersku yang budiman... mohon maaf, author baru bisa update lagi hari ini, setelah absen beberapa hari. Maklumlah author lagi banyak kerjaan di dunia nyata. Semoga cerita kali ini bisa mengobati kerinduan kalian dengan tokoh Qameella dan Garda yang semakin gereget ceritanya ya.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak setelah membaca setiap episode. Like n komen juga vote ya supaya karya author bisa punya level.
Happy reading...
*********************************************
Pukulan demi pukulan dilancarkan Garda menghajar wajah dan perut Dimas. Amarahnya meledak bagai bom waktu yang dapat meluluh lantakkan benda yang ada di sekitar. Meskipun Ryan, Tikeng, Rombeng dan anggota lainnya ikut melerai keduanya. Namun tidak mengurungkan bogeman mentah mendarat hampir di sekujur tubuh Dimas.
"Bangsat! Bajingan lo! Anjing!" umpat Garda memaki Dimas. Wajah cowok tampan itu merah padam dengan tatapan beringas seakan ingin menerkam mangsa yang ada di depannya. Kembali menghujani tubuh kurus Dimas dengan pukulan telak.
Garda benar-benar lepas kendali setelah mendengar curahan hati Tari kepada Qameella di sekolah tadi. Akhirnya dia mengerti mengapa selama ini gadis itu selalu mencari Dimas. Setelah sebelumnya Tari tidak pernah mengatakan hal yang sebenarnya yang terjadi padanya. Hatinya terasa miris mendengar keluh kesah yang disertai tangisan pilunya.
Kendati dalam hati dia mengakui bahwa dirinya juga bukan orang suci. Dia pun sama brengseknya dengan teman-temannya yang lain. Tetapi dia masih memiliki batasan untuk mengendalikan diri saat berhubungan dengan lawan jenis. Karena dia tidak pernah berhubungan badan lebih dari sekedar ciuman bibir dan berpelukan, untuk merenggut kesucian pacarnya. Sekalipun pacarnya mungkin sudah tidak suci lagi.
Sebenarnya cowok seganteng Garda tidak sulit melakukan hal-hal diluar norma agama dan sosial. Bila dia ingin melakukannya banyak cewek yang siap mengantri menunggu gilirian. Kayak antri di bank aja!
"Dengerin baik-baik!" serunya seraya mencengkeram lalu menarik kerah baju Dimas, hingga posisi mereka menyisakan jarak beberapa senti meter saja. Gurat kemarahan tampak sangat jelas menghujam mata Dimas.
"Elo boleh pacarin semua cewek yang elo suka. Tapi satu gue minta, yang juga jadi peraturan mutlak dalam geng kita," ucapnya lirih dan penuh penekanan. "**** BEBAS."
"Tapi gue gak **** bebas, bro," kilah Dimas cepat dengan pongahnya. Lalu menyeringai miring.
"Iya, elo gak ngelakuinnya, tapi elo udah nidurin anak perawan orang tanpa ikatan pernikahan, goblok!" sanggah Garda dengan meninggikan nada suaranya pada akhir kalimat sambil menghempaskan Dimas hingga jatuh tersungkur di atas tanah. "dan gue yakin, Tari bukan satu-satunya cewek yang udah elo tidurin, kan?"
Dimas terdiam dengan raut kebingungan.
"Kalo elo emang cowok gentle. Saran gue, elo harus bertanggung jawab atas apa yang udah elo perbuat sebelumnya," pungkas Garda kemudian membalikkan badan, memunggungi Dimas hendak beranjak pergi. Ibu jarinya menyentuh sudut bibirnya yang memar akibat baku hantam dengan Dimas, saat berkelahi lima menit yang lalu.
"Ingat pesan gue," ujarnya tiba-tiba sebelum beranjak pergi. "jaga Tari baik-baik, jangan pernah elo sakitin dia lagi." kemudian melangkah maju.
"Cih, sok suci lo, Gar!" cibir Dimas menghentikan langkah ketua gengnya. Dengan lemah cowok itu berusaha beranjak berdiri sembari memegangi perutnya yang terasa nyeri.
"Elo pikir gue gak tahu perbuatan lo selama ini? Elo yang udah semalaman bermalam dengan seorang cewek. Oh ya... cewek yang elo cium paksa tadi sore di gedung futsal."
Garda tetap pada posisinya. Lalu menoleh ke samping tanpa berniat menatap bocah busuk di belakangnya.
"Siapa tahu elo juga ternyata sama bajingannya sama gue. Nidurin anak perawan orang dan merampas kesuciannya. Ya nggak teman-teman?" lanjutnya seakan mencari swaka kepada kawan-kawannya yang ternyata menanggapinya dingin.
__ADS_1
"Heh, Deming, elo jangan ngaco kalo ngomong. Bro Garda gak kayak elo, bocah tengik, playboy cap kodok," Ryan tiba-tiba ambil suara untuk membela Garda.
"Hei, hei, lihat ini... ada yang sok jadi pahlawan, hahaha..." Dimas terkekeh mengejek Ryan sambil bertepuk tangan.
"Elo..." Ryan sudah tidak sabar ingin menonjok mulut Dimas. Namun urung lantaran Rombeng dan Tikeng lebih dulu menangkap lengan kanan dan kirinya. Lalu menasihatinya agar bisa menahan sabar.
"Keling, gue tahu elo bakalan membela boss lo. Karena selama ini elo jadi anjing peliharaannya kan?"
"Deming, jaga mulut lo!" seru Ryan tidak terima dihina.
"Udeh deh, Ming, Keling, elo berdua jadi berantem adu mulut gini sih?" ujar Tikeng menenangkan. "lagian ngapain sih pada berantem, kita semua kan teman."
"Teman elo bilang?" Dimas mengulangi dengan penekanan. Berdecak kesal.
"Teman apa yang elo maksud, Keng?" tanya Dimas miris sambil menunjukkan bekas pukulan yang melekat pada tubuhnya, terutama di wajah tampannya tapi sudah berubah aneh.
"Teman yang suka iri dengan kebahagiaan teman lainnya? Karena dia nggak mampu menikmati kesenangan..."
Garda menutup matanya sambil mengepalkan kedua tangannya erat.
"Jaga bacot lo!" pekik Garda sambil membalikkan tubuh menghadap Dimas. Kini raut wajahnya terlihat lebih menakutkan dari sebelumnya. Sontak suasana berubah hening.
Garda sudah tidak bisa mentolerir sikap Dimas yang belakangan ini ngelunjak. Dia tahu ternyata salah satu anak buahnya itu, diam-diam sedang bekolusi menyusun rencana untuk menggulingkannya dari kepemimpinan geng ABABIL.
"Elo yakin? Cih, bajingan tetap aja bajingan. Gak punya ahlak. Dan gue yakin elo pasti udah ngapain-ngapain cewek itu, iya kan?"
Tidak mungkin rasanya Garda menceritakan semua kepada mereka saat ini. Meskipun di antara dirinya dengan cewek-cewek yang pernah dipacarinya tidak lebih hanya berciuman bibir saja. Begitu pula yang terjadi dengannya dan Qameella.
"Elo benar. Gue udah ngapain-ngapain cewek itu. Tapi gue masih punya hati buat mempertanggungjawabkan perbuatan gue."
"Oya? Elo pikir gue dan teman-teman yang lain percaya?"
"Terserah! Gue gak minta elo dan yang lainnya buat percaya." sahutnya dingin.
"Mustahil. Seorang Pandega Garda Negara yang tersohor mau bertanggung jawab sama cewek yang baru dikenalnya dengan menikahinya."
"Sekali lagi gue bilang, ter-se-rah. Karena gue gak minta buat elo percaya. Yang jelas status gue sama dia udah suami-istri. Walau pun kami belum punya buku nikah, tapi pernikahan kami udah sah menurut agama." jelas Garda terus terang.
Kontan semua yang ada di dalam basecamp A BABIL terkejut mendengar pernyataan resmi sang ketua geng. Lantaran dia baru mengkonfirmasinya hari ini.
__ADS_1
*
Dimas nyaris tumbang mendapat serangan bertubi-tubi dari ketua gengnya. Wajahnya terlihat berantakan dengan banyaknya lebam dimana-mana. Sudut bibirnya pun berdarah tidak luput dari pukulan yang dilayangkan Garda.
Qameella melirik jarum jam dinding di dalam kamarnya telah menunjukkan pukul 23.40. Namun sepasang manik mata indahnya yang bulat dan hitam pekat, terasa sepat belum juga dihinggapi rasa kantuk. Di sebelahnya ada Tari yang bergelung di bawah selimut, terlelap dan hanyut dalam buaian mimpi.
Setelah bosan berbaring bolak-balik, dia beranjak duduk lalu menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Termenung mengingat serangkaian peristiwa yang telah terjadi hari ini secara berturut- turut. Mulai dari dirinya yang memutuskan hubungan dengan Garda sampai insiden di dalam gedung futsal tadi sore.
Ada sebersit kekalutan mendadak mengusik batinnya. Hingga dia takut membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ya, Qameella takut Garda akan membalasnya dengan balasan yang lebih kejam, atas insiden penamparan yang dilakukannya kepada cowok itu. Bukan bermaksud sengaja menyakiti. Tapi hal itu terjadi diluar kendalinya.
"Lagian dia yang salah sendiri, kenapa cium gue tiba-tiba?" gumamnya sekan mengharapkan lebih.
Qameella memutuskan beranjak turun dari tempat tidurnya. Berjalan ke arah jendela yang telah tertutup tirai berwarna pastel. Disibaknya tirai itu hingga terbuka lebar. Dia melihat suasana hening di sekitar jalan kompleks dekat rumahnya dari balik jendela. Nyaris sudah tidak ada aktifitas apa pun di sana.
Langit malam yang pekat syarat akan cahaya kelap-kelip yang menghias angkasa raya. Tapi tidak ada cahaya bulan di sana.
Qameella mendengus pelan. Seakan ingin melonggarkan kedua rongga dadanya yang mendadak terasa sesak. Bukan karena menderita asma. Tapi mengingat beban pikirannya yang terasa menghimpitnya. Ingin sekali mengenyahkan semuanya. Namun tidak bisa dihempaskan begitu saja. Malahan satu demi satu merajai pikirannya.
"Gue udah gak virgin, Meel." Ucapan Tari masih mengiang di telinga Qameella. Karena kalimat itu pula nyaris membuat otaknya buntu untuk berpikir.
Virgin! Merupakan yang sangat penting untuk dijaga oleh setiap perempuat yang masih gadis sampai sah menyandang status sebagai istri. Lalu bagaimana jika hilang sebelum waktunya? Sementara hal itu tidak akan bisa kembali lagi.
Terus, gimana nasib Tari kedepannya? Jika sudah menikah, gimana perasaan suaminya kelak? Apakah dia bisa menerima Tari yang udah gak utuh lagi? Pikirnya lirih.
Flashback
"Meel... tolong elo jangan bilang sama siapa pun tentang masalah ini ya, termasuk bantu gue rahasiain ini dari bokap nyokap gue ya... plis..." pinta Tari sendu. Air matanya mengalir membasahi pipi.
Dengan cepat Qameella menyanggupi dengan dua kali anggukkan kepala. Dia pun ikut sedih dan mulai meneteskan air mata.
"Gue takut kalo sampai mereka tahu. Mereka akan mengusir gue dari rumah," lanjutnya terisak pelan.
"Elo jangan takut, gue akan bantu elo jaga rahasia ini," sahut Qameella menenangkan. Tidak tega rasanya melihat penderitaan orang yang dekat dengannya.
"Tapi... kalo gue sampai hamidun gimana Meel... gue takut banget sampai itu terjadi..."
Qameella menarik bahu Tari, meletakkan kepala sahabatnya itu di pundaknya. Lalu mengelus pelan bahunya yang bergetar karena tangisnya pecah.
"Mas Rega," ujar Pak Herman tiba-tiba mengejutkan semua yang ada di situ.
__ADS_1
Rega?
Mendengar ada suara orang lain di antara Qameella dan Tari, buru-buru kedua gadis itu berkemas diri. Menghapus air mata yang tersisa di pipi mereka.