
Hai readers... maaf ya... author kelamaan update-nya karena terlalu asyik di kehidupan nyata hehehe...
Jangan lupa tetap like, vote n komen karya author ya, supaya karya author ini bisa lulus kontrak.
Happy reading...
***********************************************
Qameella tidak mengerti apa maksud ucapan Rega. Mungkinkah cowok itu sedang mengatainya atau menyindir dengan bahasa yang halus? Apakah itu artinya Rega sudah mengendus hubungannya dengan Garda, yang notabene adalah saudara kembarnya?
Entahlah, sepertinya Qameella tidak mau ambil pusing. Karena memang tidak perlu dipikirkan apalagi sampai kepala pening. Hubungan gadis itu dengan Garda sudah berakhir kemarin. Jadi, buat apalagi diungkit, cuma bikin baper aja!
Eh, tunggu dulu! Kok sikap Rega biasa aja ya? Maksudnya, cowok ganteng itu cuma membahas tentang kejadian kemarin sore. Tanpa membahas masalah semalam. Mungkin dia lupa, atau emang tidak tertarik membahasnya? Bodo amat ah, emang gue pikirin! Lagian tidak penting-penting amat kan?
*
Di sekolah Garda.
"Eh, beb, kenapa muka lo bonyok gitu?" tegur Fiola khawatir. Saat melihat wajah tampan Garda ternoda dengan beberapa titik lebam di sekitar pelipis kiri dan sudut bibir kanan. Tentu saja hal itu adalah oleh-olehnya dari perkelahian sengitnya melawan Dimas.
Sudah dapat dipastikan Fiola tidak tahu, jika lebam yang didapat Garda ternyata lebih ringan bila dibandingkan dengan Dimas. Cowok playboy cap tutup botol itu habis babak belur dihajar habis-habisan oleh Garda.
"Apaan sih lo, lebay lo!" sungut Garda menyentak tangan Fiola yang hendak menyentuh wajah lebamnya yang terlihat biru keunguan.
"Ih, elo tuh ya sok jual mahal. Masa mau gue sentuh aja gak boleh, Gue kan care sama elo, juga khawatir takut elo kenapa-napa," protes Fiola tidak terima dengan sikap cowok itu. Mungkin jika yang memberi perhatian itu bukan Fiola, melainkan Qameella ceritanya akan berbeda. Garda akan senang hati mendapat perhatian dari istri sirinya itu.
__ADS_1
Pada saat jam istirahat tiba-tiba Garda dipanggil ke ruang kepala sekolah. Di sana sudah ada kedua orang tua Dimas. Tentu saja mengadukan sikap dan perlakuan buruk Garda di depan kepala sekolah. Lantaran telah memukuli anak bungsu kesayangan mereka sampai babak belur. Menurut penuturan mereka kondisi Dimas sangat memprihatinkan hingga tidak dapat masuk sekolah hari ini.
Garda hanya diam saja menjadi pendengar yang baik. Dia tidak berusaha membela diri atau sekedar menyalahkan Dimas. Sadar akan image-nya yang sering disebut anak trouble maker, dia tidak membantah setiap tuduhan yang dilontarkan kedua orang tua Dimas. Bahkan sewaktu orang tua Dimas meminta memberikan hukum yang setimpal kepada Garda. Cowok itu tetap cuek bebek bergeming di tempat duduknya.
Tetapi saat ibu Dimas menyinggung tentang ibunya Garda. Ibu yang tidak bisa mendidiknya menjadi anak baik. Tiba-tiba pemuda yang sebentar lagi menginjak usia tujuh belas tahun, beranjak berdiri dengan tatapan tajamnya. Amarah yang berkobar di matanya terlihat sangat menakutkan bagi siapa saja yang melihatnya. Begitu pula yang terjadi dengan kedua orang tua Dimas, juga kepala sekolah yang awalnya duduk tenang. Kini terlihat mengkerut ketakutan.
"Nyonya Darwanto yang terhormat. Tolong jangan bawa-bawa mama saya dalam hal ini. Saya akui memang saya anak berandalan, dimana jalanan adalah tempat ternyaman saya. Tapi saya masih tahu caranya menghormati perempuan, dan menjaga kesucian perempuan dengan baik," ibu Dimas tersenyum miring, meremehkan.
"Gak seperti Dimas, anak kesayangan tuan dan nyonya Darwanto lakukan kepada Tari."
Kedua orang tua Dimas tampak tercengang mendengar penuturan Garda yang begitu lugas. Mereka pun terkejut sekaligus bingung apa yang sudah dilakukan putra bungsu mereka?
"Garda, tolong bersikap sopan dengan kedua orang tua Dimas," seru bapak kepala sekolah memperingati.
Garda tidak menggubris, hanya seringai menantang yang ditunjukkan.
Garda menyeringai seakan mengejek kenaifan wanita itu.
"Kamu jangan mengada-ada, anak saya anak baik. Tidak mungkin berbuat yang tidak-tidak," kilah wanita yang terlihat menor dan glamor itu membela.
"Sekarang saya tanya kepada nyonya Darwanto yang terhormat, apakah anda sudah mengajarkan putra anda dengan baik selama ini?" tanya Garda menuntut jawaban.
"Garda, bapak bilang jaga sikap kamu!" titah bapak kepala sekolah penuh penekanan. Namun anak didiknya itu tidak merespon.
"Tentu, tentu saja!" sahut nyonya Darwanto terbata. Wanita itu ingin menunjukkan image-nya sebagai ibu yang baik. Padahal kenyataannya dia bukan tipe ibu yang baik. Hari-harinya sering dihabiskan berkumpul dengan geng ibu-ibu sosialitanya.
__ADS_1
"Oya?" Garda terkekeh pelan. Dia tahu saat ini wanita itu sedang berusaha menutupi kebobrokannya sebagai ibu. Karena bertahun-tahun berteman dengan Dimas, sedikit banyak dia tahu dengan kehidupan keluarga Dimas.
Walaupun selama itu pula dia tidak pernah bertatap muka langsung dengan kedua orang tua Dimas. Tentu saja faktor kesibukan mereka yang jarang pulang. Hingga Dimas mengalami nasib yang sama dengan Garda. Kesepian dan kurang perhatian.
"Jadi... pacaran dengan berganti-ganti cewek setiap bulannya, juga tidur dengan cewek yang dianggapnya pacar itu hasil didikan nyonya Darwanto yang terhormat ya? Hebat, hebat sekali," Garda bertepuk tangan mengejek kegagalan nyonya Darwanto.
"Kamu.." jari telunjuk wanita itu mengacung tepat ke wajah Garda.
"Ma, ma, ma sudah..." bapak Dimas yang sedari tadi hanya diam, mulai bersuara meminta istrinya untuk lebih tenang. Namun wanita itu masih bersikeras ingin berdebat dengan Garda.
Perdebatan antara Garda dan ibu Dimas masih berlanjut panas. Hingga bapak kepala sekolah dibuat pusing oleh ulah mereka.
Sebenarnya Garda enggan menghadapi ibu Dimas, yang kini di matanya terlihat lebih mirip seperti nenek sihir. Walau bagaimanapun dia masih tahu adat, tatakrama, dan sopan santun kepada orang yang lebih tua. Tetapi jika orang yang dihadapi seperti ibu Dimas ini jadi lain cerita.
Akhirnya, tanpa permisi Garda memilih pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah. Dia khawatir jika terus berlama-lama berhadapan dengan ibu Dimas akan membuatnya lepas kendali.
"Ingat nyonya Darwanto yang terhormat, tidak akan ada asap, jika tidak ada api. Jadi, intinya gak mungkin saya memukul Dimas, jika benar-benar Dimas gak ngelakuin kesalahan. Karena gimana pun Dimas adalah teman saya," ucap Garda sebelum beranjak pergi.
*
Jadwal pelajaran hari ini di kelas Qameella adalah pelajaran olahraga. Semua murid di kelasnya sudah berkumpul di lapangan. Berhubung beberapa Minggu lagi akan ujian kenaikan kelas. Maka Pak Leo, guru olahraga, sedang menyicil pengambilan nilai harian, sebagai nilai tambahan untuk di rapot nanti, selain nilai tengah semester dan nilai semester genap.
Materi hari ini adalah permainan basket. Setiap siswa dibentuk menjadi kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 5 orang. Setiap kelompok akan diadu dengan kelompok lain. Bagi kelompok yang memang akan diadu lagi dengan kelompok lain yang menang juga untuk mendapatkan nilai tertinggi.
Tiba giliran kelompok Qameella melawan kelompok Astrid. Tidak ada yang menonjol dalam tim Qameella. Semuanya tampak biasa dan memang tidak ada yang mahir bermain basket.
__ADS_1
Kelompok Astrid memimpin pertandingan dengan skors 23-19. Kelompok Qameella tampak pasrah dengan posisi seperti itu. Tidak ada pergerakan untuk membalikkan keadaan. Hingga kelompok Astrid merasa di atas angin.
Roda akan terus berputar, kadang di bawah, kadang di atas. Pepatah itu benar adanya. Secara tidak terduga Qameella menunjukkan kemampuannya yang tidak pernah mereka ketahui. Meskipun kaca mata minusnya sering kali merosot, dan kurang nyaman. Gadis itu sanggup beberapa kali dia mencetak angka triple points. Hingga keadaan benar-benar berbalik 180 derajat.