
Hai readers... kelamaan ya nunggunya? Don't worry be happy. I'm coming now.
Maaf ya cerita kali ada unsur bawangnya. Jadi, siapin tisu kalo terbawa suasana ya.
Happy reading ya....
***********************************************
Garda berdiri di depan gerbang yang menjulang setinggi empat meter, di depan rumah besar berlantai dua. Entah mengapa tiba-tiba saja hatinya menggerakkan ia ke rumah itu. Namun keraguan menghentikan langkah kakinya untuk terus melangkah masuk. Padahal bisa saja dia mengaku sebagai putra sang pemilik rumah. Apalagi wajah dan postur tubuhnya nyaris 100% sama dengan Rega. Tetapi tetap saja hal itu tidak berpengaruh apa pun pada dirinya.
"Mas, mau cari siapa?" tegur seorang pria mengejutkan Garda serta merta menoleh ke sumber suara.
Sontak pria di balik pintu gerbang itu membulatkan mata saat melihat wajah Garda. Buru-buru membuka kunci dan pintunya dengan lebar. Sebenarnya dalam hati pria itu sedikit heran dengan penampilan pemuda yang dikiranya anak majikannya. Tidak seperti biasanya yang selalu tampil rapi dengan rambut hitam kelimis. Kini pemuda itu tampak asing dengan stelan kemeja tanpa dikancing menampilkan kaos dalamnya. Dipadukan dengan celana jeans belel dan robek. Namun dia tidak berani bertanya.
Ragu-ragu Garda masuk ke dalam rumah mewah berlantai dua itu. Debaran jantungnya memompa lebih cepat. Untuk pertama kalinya seorang Garda yang terkenal dengan keberaniannya, mendadak terserang kegugupan.
"Sayang, ngapain kamu berdiri saja di situ?" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berada di balik punggungnya. Sontak pemuda yang terkenal dengan kesangaran dan kesadisannya itu menoleh, mencari sumber suara.
Netra Garda langsung menangkap sosok wanita yang masih terlihat cantik seperti dulu, walau usianya tidak lagi muda. Matanya membola bersirobok dengan mata indah milik wanita itu. Ekspresi wajahnya berubah-ubah. Namun tatapan matanya menyiratkan kerinduan yang sangat mendalam.
Wanita itu terdiam terpaku di hadapan pemuda yang nyaris dimarahinya, karena model rambut dan berpakaian yang terlihat lebih mirip anak jalanan. Tetapi amarahnya menguap begitu saja saat menyadari pemuda yang berdiri di hadapannya bukanlah Rega. Melainkan putranya yang lain, Garda. Walau bocah itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Naluri keibuannya lah yang memberi tahunya, bahwa putranya yang selama ini lepas dari pelukkannya kini kembali.
"Mama," cicit Garda pelan.
Bulir-bulir air mata wanita meluncur bebas bersamaan dengan kedua belah tangannya merengkuh tubuh yang sudah tidak lagi kecil. Sekarang sudah bermetamorfosa menjadi seorang pemuda tampan nan gagah. Terlintas di benaknya bayang-bayang masa lalunya. Sewaktu masih muda dulu. Ketika Garda kecil selalu berteriak memanggilnya Mama seraya berlari ke arahnya dengan merentangkan kedua tangan kecilnya. Kemudian dia yang baru saja keluar dari mobil sepulang bekerja, langsung menyambut putranya juga merentangkan kedua tangan sambil membungkukkan badan untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi putranya yang baru berusia lima tahun.
*
Qarmitha benar-benar menikmati masa liburan sekolahnya dengan ketiga sahabatnya. Sementara Qameella tampak tidak bergairah menikmatinya. Hari-harinya hanya dihabiskan membantu Gusti dan Maryam di rumah makan sederhana milik mereka. Dia benar-benar membaktikan diri kepada kedua orang tuanya, setelah membuat kecewa mereka atas nilai rapotnya yang buruk. Selain itu dia pun berusaha melupakan ponselnya yang telah disita Gusti. Imbasnya hubungan Qameella dengan Garda yang menggantung begitu saja. Meskipun dalam hati dia sangat merindukannya. Berharap bisa segera bertemu dengannya. Tapi apalah daya belenggu tak kasat mata yang menghalangi tekadnya.
Maryam menatap sendu salah satu putrinya yang tampak sangat bekerja keras. Melayani pelanggan dengan begitu sabarnya. Mulai dari menyambut, menyodorkan menu makanan, sampai membawakan pesanan ke meja pelanggan. Semua yang dilakukannya dengan senang hati tanpa mengeluh meskipun peluh bercucuran di dahinya. Hati wanita itu terasa miris saat mengingat putrinya yang lain begitu abai. Juga egois hanya ingin menyenagkan diri sendiri di luar sana bersama kawan-kawannya.
Tak.
Qameella meletakkan baki persegi itu di atas meja dapur. Lalu menyeka kasar keningnya yang berkeringat dengan punggung tangan kanannya. Tangan kirinya digunakan untuk mendorong kacamata minusnya yang dirasa mulai melorot dari pangkal hidungnya.
"Capek?"
__ADS_1
Qameella langsung memutar tubuhnya menghadap sumber suara. Dua sudut bibir tertarik membentuk senyum tulus.
"Mama," menerima sebotol minuman dingin yang disodorkan Maryam. "makasih, Ma."
Maryam tersenyum sambil menjulurkan tangan mengucap puncak kepala Qameella. Seakan mengatakan betapa sayangnya pada sang putri.
Qameella tersenyum tulus pada wanita yang telah berjasa melahirkannya ke muka bumi ini. Hatinya menghangat mendapat belaian kasih sayang sang Mama.
"Mengapa kamu kamu gak menghabiskan waktu libur sekolah ini dengan pergi jalan-jalan bareng teman, La?" selidik Maryam iseng. Hanya dibalas senyum miris dari Qameella. "Thatha saja sedari kemarin pergi-pergian terus. Jarang di rumah. Memangnya kamu gak ingin..."
"Nggak. Lala senang bantu-bantu di sini. Bisa terus bersama Ayah dan Mama," sahutnya menyela ucapan Maryam. Iya. Gadis itu memang selalu ingin bersama Gusti dan Maryam. Dia takut akan dibuang lagi, juga tidak mau mengalami kejadian serupa seperti dulu.
"Lagian, nilai rapot Lala jelek. Mana pantas Lala asyik-asyikan pergi liburan. Seharusnya Lala dihukum supaya gak melakukan kesalahan lagi," lanjutnya datar namun menyiratkan luka yang dalam.
Hati Maryam tercubit dengan kata-kata Qameella barusan. Dia pun menyadari nilai rapot Qarmitha tidak terlalu bagus. Tetapi di otaknya tidak pernah ada refleksi untuk mengoreksi diri. Entah mungkin putri yang satu itu terlalu cuek. Atau Qameella yang terlalu pemikir hingga mau menghukum dirinya sendiri.
Ya Allah... ada apa dengan putriku yang satu ini? Mengapa dia terlalu menyalahkan dirinya sendiri? Mungkinkah ini kesalahan pola asuh suamiku? Tuhan... ampunilah hamba karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk kedua putriku... lirih batin Maryam meratapi kegagalannya.
"Lala sayang..." ujar Maryam lembut menuntun Qameella duduk di kursi di luar dapur.
"Lala nggak boleh terlalu menyalahkan diri sendiri. Bagaimana pun Lala udah berusaha semampunya dengan kerja keras."
"Sayang... gak boleh begini. Mama maupun Ayah gak marah sama Lala. Itu hanya perasaan Lala saja," Maryam mencoba memberi pengertian seraya menyentuh lembut pipi Qameella. "buktinya saja Thatha. Lala bisa cek rapotnya Thatha yang nggak lebih baik dari Lala. Dan Lala bisa lihat, kelakuannya yang akh! Lala bisa tahu bagaimana sikapnya dia sehari-hari? Jarang di rumah, rajin keluyuran, pokoknya... ekh!"
"Tapi... Lala udah buat Mama dan Ayah kecewa. Lala gak bisa menyenangkan hati Mama dan Ayah. Apalagi Lala gak punya bakat sama sekali. Gak ada prestasi. Gak menonjol di bidang apa pun," ungkapnya sedih menghakimi diri sendiri.
"Tapi, Nak..."
"Lala mau buat Mama dan Ayah bangga. Tapi, terus-terusan bikin Mama dan Ayah kecewa. Jika ini terus berlanjut, Lala takut Ayah akan membuang Lala lagi jauh dari keluarga ini. Lala..."
Maryam langsung merengkuh tubuh kurus putrinya itu. Hatinya tersayat mendengar pengakuan Qameella. Kini dia baru tahu alasan putrinya yang selalu berusaha menuruti semua perintah Gusti atau pun dirinya. Ternyata hanya semata agar dirinya tidak terusir dari rumah. Mungkin dalam benak gadis remaja itu, dia harus mampu apa yang diminta Gusti maupun Maryam. Padahal alasan mereka memperlakukannya bukan seperti itu.
Qameella menangis pilu dalam pelukan Maryam. Tak pelak Maryam pun mencucurkan air matanya.
Diam-diam Gusti mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu dari balik dinding yang memisahkan dapur dan lorong ke arah kamar mandi. Hatinya terasa sakit teriris sembilu. Dia tidak menyangka karena keputusannya kala itu kini meninggalkan luka. Luka yang mungkin sulit diobati. Bahkan oleh dokter profesional sekalipun.
Maafkan Ayah, Nak. Bukan maksud Ayah membuat kamu selalu dihantuo rasa takut ditinggalkan. Batin Gusti menangis pilu.
__ADS_1
*
Qameella mendongakkan kepalanya dengan tatapan penuh tanya, setelah melihat Gusti menyodorkan ponsel kesayangannya. Tentu saja ponsel yang pernah disita Gusti karena ketahuan sedang video call-an dengan Garda saat belajar.
"Ambillah!" Gusti menyorong benda pipih itu.
"Tapi... Ayah," Qameella tampak ragu.
"Nggak apa-apa. Ambillah! ini punya kamu. Maaf Ayah sudah merebutnya dari kamu."
Qameella tercengang mendengar kata maaf yang terucap dari bibir Gusti. Dia tidak pecaya jika pria itu bisa berkata demikian.
"Kamu pasti sangat rindu ingin menggunakannya. Menghubungi teman-teman kamu via telepon, iya kan?"
Qameella tersenyum haru, lalu menganggukkan kepala cepat.
"Makasih, Yah," ujarnya dengan suara bergetar. Menerima ponselnya kembali dengan suka cita.
"Hubungilah teman-temanmu! Nikmati masa liburanmu dengan gembira."
"Sungguh?" Gusti menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Tapi, Yah."
"Apa lagi?" Gusti tidak mengerti.
"Apakah Ayah gak marah sama Lala, karena nilai rapot Lala jelek?" Gusti langsung menggelengkan kepala. Qameella tersenyum bahagia. Tapi, tiba-tiba berubah cemberut mengingat pekerjaannya yang belum rampung. "makasih banyak ya, Ayah. Setelah resto ini tutup. Lala baru akan menghubungi teman-teman Lala deh," lanjutnya dengan berat hati.
Lagi pula dia tidak punya banyak teman akrab. Satu-satunya yang paling dekat dengannya hanya Tari. Sementara saat ini Tari sedang ulang kampung. Mustahil rasanya dirinya menghabiskan waktu liburannya denga Tari. Sekarang yang ada di otaknya hanya ada satu nama yaitu Garda.
"Pergilah! Kamu tidak perlu memikirkan pekerjaan. Ada Ayah dan Mama yang bertanggungjawab di sini," Gusti menenangkan agar Qameella bisa menikmati hari liburnya dengan senang.
Qameella tersenyum semringah.
"Makasih Ayah. Ayah memang Ayah yang paling baik sedunia," pujinya hendak memeluk Gusti. Namun langsung diurungkan karena sungkan.
Gusti yang mengerti maksukd putrinya langsung memeluknya erat menyalurkan kasih sayang yang utuh sebagai seorang Ayah. Walau dalam hati terselip rasa bersalah yang teramat besar pada putrinya itu. Setelahnya menyuruh Qameella pulang ke rumah.
Qameela sangat senang akhirnya memiliki kesempatan menikmati hari liburnya, yang awalnya dipikirnya mustahil. Kemudian segera menghubungi Garda.
__ADS_1