
Happy reading...
**************************************
Meella benar-benar telah pergi meninggalkan rumah. Hatinya bukan hanya hancur tapi memang sudah tidak berbentuk seperti debu. Rasa sakit karena kehilangan kini sudah terbiasa. Makanya saat memutuskan hubungan dengan Mirza, dia tidak ada rasa dan emosi. Begitu datar tanpa air mata.
Pada saat yang bersamaan.
Darmawan menatap tidak percaya atas perbuatan putri kesayangannya, Raisya. Entah bagaimana dia harus bersikap padanya. Padahal selama ini, Raisya tidak pernah melakukan hal seburuk itu. Menjebak calon istri kakak kandungnya, Mirza. Hingga membuat sang kakak patah hati.
Meminta maaf pada Gusti dan Meella pun sudah percuma. Karena tidak bisa mengembalikan semua yang telah terjadi. Darmawan hanya menghela napas berat.
Tenggorokan Mirza terasa tercekat setelah mengetahui dalang kehancuran mimpi indahnya yang sebentar lagi diraihnya. Hatinya sakit tidak terkira menatap adiknya, Raisya.
Untuk pertama kalinya Mirza lepas kendali. Tanpa sadar tangannya terangkat ke udara siap mendarat di wajah cantik Raisya.
"Maafin, Icha Mas...," ucap Raisya lirih meminta pengampunan.
"Mirza!" pekik ibunya langsung memeluk putri kesayangannya, Raisya.
"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana pun Icha adalah adik kamu yang selalu kamu sayangi?" tegur wanita itu sedih.
"Hanya perkara wanita yang tidak setia seperti Meella, bagaimana bisa kamu menyakiti adik kamu? Padahal selama ini menyubitnya pun kamu tidak pernah. Malah sekarang kamu mau menamparnya?"
"Hei... nyonya Darmawan yang terhormat," seru Mitha menginterupsi.
Sontak nyonya Darmawan mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Diikuti Raisya lalu Mirza yang terpaksa menghempaskan dan menurunkan tangannya.
Tidak jauh dari mereka tampak Maryam yang sibuk mengurut punggung Gusti. Seakan sedang memberikan energi penguat di tengah kondisi tubuhnya yang tidak baik-baik saja.
Kedua orang tua Dicky langsung pamit pada Gusti. Seolah enggan melihat drama cengeng dari keluarga Darmawan. Sementara Dicky tetap tinggal menemani Mitha.
"Seenaknya aja anda menghina saudari saya ya?"
"Siapa yang menghina? Ini fakta kok. Buktinya dia mau tidur dengan lelaki lain yang bukan suaminya," tegas dan menukik terasa di hati deretan kalimat yang diucapkan nyonya sombong itu.
Mitha tertawa meremehkan.
"Nyonya... tapi anda melupakan siapa yang membuat Meella seperti itu. Atau..., Anda sengaja melupakannya?"
"Kamu?" wajah wanita itu tampak merah padam menuding Mitha dengan jari telunjuknya.
"Icha tidak mungkin melakukan hal licik itu!"
"Meella juga bukan perempuan yang seperti kamu tuduhkan, Anna," Gusti tiba-tiba berdiri, membela putrinya yang sering diabaikan.
Wanita yang dipanggil Anna pun tercengang mendengarnya. Bungkam tidak berani berucap lagi. Wajahnya menunduk.
"Asal kau tahu, Meella sangat setia pada pasangannya. Sekali pun orang yang dicintainya sudah mati," ucapnya lantang. Namun membuat dadanya terasa nyeri. Refleks dia memegang dadanya seraya mengelus pelan.
Darmawan hanya tertunduk malu.
Raisya menangis dalam pelukan sang ibu. Berkali-kali dia menyangkal perbuatannya pada ibunya. Dan setiap itu juga ibunya memberi penguatan padanya.
"Dan, kamu harus tahu, berapa susahnya aku membujuknya agar mau menerima perjodohan ini?" Gusti mengenang saat membujuk Meella. Walau bukan dengan cara lembut. Dia juga tidak melakukan hal kasar padanya
"Dia sangat mencintai mantan suaminya. Sampai-sampai rela menutup hati dari lelaki mana pun. Meskipun dia tahu apa yang dilakukannya sia-sia."
__ADS_1
Gusti sangat sedih mengingat kenangan itu. Tak pelak liquid bening dari sudut matanya turun dan mengalir begitu saja, membasahi pipi hingga janggutnya yang berbulu tipis.
"Aku sangat yakin dalam hal ini, Meella tidak bersalah. Tapi putrimu lah yang terlalu dengki dengan putriku yang lain. Hingga tanpa sadar merusak putriku yang seharusnya menjadi menantumu."
Mirza segera beranjak pergi meninggalkan rumah Gusti.
Setelahnya Gusti tidak bisa melanjutkan ucapannya. Secara tiba-tiba dia terjatuh ke lantai dan pingsan. Di tengah kondisi tubuhnya yang tidak sehat, dia benar-benar tidak bisa menahan diri atas pukulan yang diterimanya saat ini.
Terlalu mengejutkan dan begitu cepat kejadian yang berlangsung pada malam ini. Bagai mimpi buruk yang menghancurkan seluruh harapan. Kini tidak ada lagi yang tersisa untuk mempertahankan egonya sebagai seorang Ayah, yang lebih sering memaksakan kehendak sendiri kepada Meella.
Semua orang panik. Mitha dan Maryam buru-buru memapah tubuh Gusti yang berat ke atas sofa. Tentu saja Dicky juga ikut turun tangan membantu calon ayah mertuanya itu.
Maryam langsung meminta keluarga Darmawan itu pergi dari rumahnya. Karena khawatir keberadaan mereka menambah penderitaan Gusti bila sadar nanti.
Tanpa banyak bicara mereka pergi sesuai permintaan Maryam. Sebelum pergi Darmawan sempat mengungkapkan kata maaf. Tapi diacuhkan oleh Maryam.
*
Mirza berlari mengejar Meella yang sudah berjalan jauh seraya meneriakkan namanya. Kemudian saat menemukannya tengah berjalan gontai sendiri, dia langsung memeluk pinggangnya dari belakang.
Mendapat serangan mendadak Meella terperanjat kaget. Langkah kakinya terhenti otomatis. Tidak memberontak atau pun melawan balik. Hanya terdiam mematung membiarkan Mirza memeluknya.
Mirza memindahkan satu tangannya ke bagian atas tubuh Meella. Agar bisa memeluk bahu gadisnya. Sementara satu tangannya yang lain dibiarkan tetap memeluk pinggang. Sayup-sayup terdengar suara Isak tangis. Tapi bukan Meella yang menangis, melainkan Mirza. Pria itu tidak ingin kehilangan Meella.
"Mengapa?" tanyanya lirih.
Meella hanya diam membisu tidak ingin menjawab.
"Mengapa hubungan kita bisa semudah ini berakhir dengan cepat? Gak bisakah kamu berbohong pada aku, agar kita bisa hidup bersama?" suara Mirza parau terdengar di telinga Meella.
"Maaf bila kejujuran saya menyakiti hati kamu. Itu karena saya gak mau hidup dalam kebohongan," jawab Meella jujur.
"Saya gak pantes buat kamu, Za..." hatinya sangat pilu mengungkapkan kenyataan ini. "saya benar-benar gak pantes buat dampingi hidup kamu, karena... saya udah kotor, Za... udah gak perawan lagi."
Akhirnya air mata yang sejak tadi mengering, tumpah ruah dari sudut mata Meella. Lagi, kepedihan itu melukai hatinya.
"Kamu bisa cari gadis lain yang masih suci, yang lebih dari saya."
Mirza melepaskan pelukannya. Lalu memutar tubuh Meella agar menghadap ke arahnya. Kedua tangannya memegang erat kedua bahu Meella.
"Gak semudah itu, Meel... hati dan cintaku bukan barang yang bisa ditukar sesuka hati," ucapannya sungguh-sungguh.
"Tapi Za... apa pun alasannya, aku udah gak bisa menjadi pendamping hidup kamu..."
"Kenapa, kenapa gak bisa?" tanya Mirza tidak sabaran.
"Karena... saya hamil!" sahut Meella tegas.
Mirza speechless. Tatapan matanya tidak terbaca.
"Apa?!"
Perlahan kedua tangan Mirza jatuh merosot dari bahu Meella.
"Ya, saya sedang hamil anak dari pria itu," lanjut Meella mempertegas ucapannya.
Kendati belum tahu kebenaran kehamilannya, Meella tidak mau terus menerus membohongi dirinya sendiri. Juga Mirza dengan hubungan tanpa rasa cinta yang timbul di antara mereka berdua. Walau pun Mirza sudah terang-terangan mengungkapkan perasaannya pada Meella. Tetapi tetap tidak bisa merubah perasaannya pada lelaki selain Garda.
__ADS_1
Dari kejauhan, tanpa ada orang yang menyadari keberadaannya. Orang itu sejak tadi memperhatikan keduanya. Kemudian dia mengeluarkan benda pipih dari saku jasnya. Mencari satu nomor penting. Lalu mendeal ya.
"Halo, tuan muda," serunya setelah tersambung.
Tidak terdengar suara dari seberang sana. Hanya suara gumaman sebagai tanda telah menjawab teleponnya.
"Ternyata gadis itu benar. Dia tidak terlibat dalam peristiwa itu. Tapi dia sudah dijebak oleh seseorang. Orang itu adik perempuan dari calon suaminya," tutur orang itu tanpa mengurangi apa yang sudah diselidikinya.
"Oke. Kamu awasi terus. Jika ada kesempatan culik gadis itu," titahnya yang tidak bisa dibantah.
"Baik, tuan muda."
Sambungan telepon pun terputus.
*
Meella kembali ke rumah kontrakannya yang hening. Setelah mengunci pintu dia langsung menekan saklar lampu yang menghubungkan ruang depan, dan ruang tamu. Kemudian masuk ke kamarnya melewati ruang tamu yang tidak terlalu besar. Dia mendudukkan bokong, juga menaikkan kakinya di atas kasur. Setelah sebelumnya juga menyalakan saklar lampu yang menempel di dinding kamar.
Kedua tangan Meella memeluk kedua lututnya, membenamkan wajahnya sejenak. Kemudian mengangkatnya sambil menghela nafas pelan dan menyandarkan kepalanya di kepala tempat tidur. Pikirannya mengawang merunut peristiwa demi peristiwa yang pernah dialaminya. Mulai dari pertemuannya dengan Mirza, kehadirannya di pesta pertunangan Pandega dan Bianca. Hingga semua rentetan kejadian hari ini, sampai saat terakhir berbicara dengan Mirza.
Hatinya terasa sangat hampa, tidak ada rasa dan emosi. Air mata pun seakan sudah mengering. Mungkinkah hatinya telah mati saat ini? Entahlah.
Meella sepertinya sedang lupa atau memang sudah tidak ingat lagi, bagaimana rasa sakit, sedih, dan kecewa? Karena terlalu sering menikmati semua rasa itu sendiri, dalam sunyinya kalbu.
Meella melepaskan kacamata minusnya, diletakkan di atas meja dekat tempat tidurnya. Lalu kembali melamun, mengingat semua kenangan bersama Mirza. Ternyata cukup manis bila dikenang. Namun berubah pahit dan getir saat mengingat foto-foto jahanam yang sengaja ditebar oleh Raisya di depan seluruh keluarga.
Kini, satu-satunya yang ingin dilakukan Meella adalah menjauh dari mereka semua. Me-recharge diri dari polusi hidup yang membuatnya kehabisan daya.
Tiba-tiba Meella teringat dengan pesan Pak Ridwan saat mengajukan surat pengunduran dirinya dari perusahaan.
"Pikiran baik-baik tawaran ini. Saya kasih waktu dua Minggu. Jika kamu berubah pikiran, segera hubungi saya."
Buru-buru Meella mencari ponselnya. Setelah ketemu dia langsung mencari nomor kontak Ridwan, mantan atasannya.
"Halo, Pak," ucapnya setelah tersambung.
"..."
"Apakah tawaran yang waktu itu bapak sampaikan, masih berlaku?" selidiknya hati-hati.
"..."
"Ya, setelah saya pikir-pikir, saya mau menerima tawaran itu," sahutnya.
"..."
"Hmm, baik Pak," Meella langsung meletakkan ponselnya setelah sambungan telepon telah diputus terlebih dahulu dari seberang sana.
Meella menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Menghela nafas pelan.
*
Hai, readers... author update lagi. Yang merasa penasaran dengan kelanjutan cerita Meella dan Garda, terus baca ceritanya sampai tamat ya. Tapi bukan besok tamatnya, pokoknya masih rahasia deh...
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak berupa hadiah, vote, like dan komen ya...
See you next episode 😁🙏😘🥰❤️
__ADS_1