
Happy reading
Dandi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, saat melihat mata Garda yang tidak berkedip memandang wajah Meella yang pucat. Entah apa yang ada dalam pikiran bosnya itu tentang gadis yang jauh dari kata cantik apalagi seksi.
Lihat saja penampilannya yang kadaluarsa, alis ketinggalan zaman. Karena Dandi tidak pernah melihat wujud Meella dengan aura kecantikan yang pol abis. Hanya Garda yang tahu Bahkan pernah merasakan betapa cantik dan seksinya gadis itu. Terlebih saat di bawah kungkungannya.
Sementara Meella yang ditatap secara intens oleh atasannya tampak cuek bebek. Dengan santainya dia balik badan kembali ke meja kerjanya tanpa menunggu jawaban dari Garda.
Sebelum benar-benar beranjak pergi, Meella sempat menyapa Dandi tanpa kata. Hanya anggukan kepala dan langsung dibalas Dandi dengan hal yang serupa.
Hingga Meella menghilang dari balik pintu, tatapan Garda masih belum beralih.
"Bos! Bos? Bos?..." seru Dandi berusaha menyadarkan Garda dari lamunannya.
"Ah, ya?" Garda tersentak kaget.
"Kenapa sih bos, ngeliatin si Meella segitunya banget? Emangnya selera bos udah berubah ya sama tipikal cewek yang dingin-dingin kaku gitu, ya? Udah gak nepsong lagi sama cewek hot-hot pop?" seloroh pemuda yang terkadang suka menggoda Garda.
Garda mengerutkan keningnya, mengangkat sebelah alisnya.
"Kamu ngomong apa sih? Gak jelas banget!" kilah Garda menutupi rasa gugupnya yang tertangkap basah, ketahuan sudah memperhatikan sekretarisnya tanpa berkedip.
Dandi hanya nyengir melihat bosnya yang jadi salah tingkah seperti itu.
"Oya, apa hasil dari tugas-tugas yang udah saya berikan sama kamu?" tanya Garda berhasil kembali ke mode seperti biasanya.
Dandi menarik kepala kursi di depan Garda. Lalu duduk dengan tergesa, mencondongkan tubuhnya merapat ke ujung meja kerja bosnya.
"Berhasil, bos!" jawabnya penuh percaya diri.
Sontak Garda menghentikan gerak tangannya yang baru beralih pada file baru saja diberikan Meella. Wajahnya menegang dengan tatapan nyalang yang ditujukan pada asistennya.
"Masalah dengan PT...,"
"Bukan," sergah Garda cepat menginterupsi Dandi. "saya mau yang masalah...,"
"Oke. Sesuai pesanan," jawab Dandi langsung mengerti isi kepala Garda.
Kemudian Dandi memberikan MacBook-nya kepada Garda. Dia menunjukkan file dan beberapa artikel lama terkait masa lalu atasannya. Sambil menjelaskan segala hal yang sudah didapatnya. Pemuda itu menunjukkan foto-foto lawas Garda.
Ketika itu Pandega masih duduk di bangku SMA. Dia yang akrab dengan nama Garda. Tergabung dalam sebuah geng motor ternama juga disegani, ABABIL begitulah namanya.
Mayoritas anggota geng motor itu berasal dari murid-murid SMA tempat Garda menimba ilmu. Mereka punya pentolan yang cukup disegani oleh geng-geng motor lain, yang bisa dikatakan sebagai rival geng ABABIL.
Mereka diantaranya Iwan, Rommy alias Rombeng, Budianto alias Buchek, Sony alias Sonik, Tino Susanto alias Tino Begeng alias Tikeng, Ryan Wijaya alias Keling, Dimas Anggara alias Deming, dan Garda sebagai ketua geng.
Selain ketua geng yang paling ditakuti, Garda remaja adalah siswa trouble maker di sekolahnya. Sering ikut balapan liar. Berkelahi dengan teman sekelasnya. Tidak pernah fokus belajar di kelas. Bahkan ikut tawuran antar sekolah.
Garda juga memiliki banyak kisah cinta dengan banyak cewek. Mayoritas cewek yang dipacarinya cantik-cantik dan seksi-seksi. Namun ada satu cewek yang ogah dipacari Garda waktu itu. Gadis itu bernama Fiola.
Bukan karena tidak cantik apalagi seksi. Gadis itu masuk dua kriteria itu. Namun Garda tidak tertarik sama sekali. Kendati Fiola sering nempel dengan Garda seperti cicak-cicak di dinding. Dan orang tuanya yang tajir. Tetap tidak bisa menggoyahkan hati Garda.
Selain itu ada satu kabar yang membuat Garda kaget dan terheran-heran. Dan Dandi pun agak sulit mengatakan pada si empunya kisah. Yaitu kisah cinta Garda dengan seorang gadis dari SMA lain. Tidak terlalu jelas nama gadis itu. Antara Meella atau Mitha. Kedua nama itu terdengar mirip. Apalagi foto gadis itu tidak terlalu jelas.
"Apa?" Garda menginterupsi. "siapa tadi nama gadis itu?"
"Meella atau Mitha gitu bos," sahut Dandi.
"Meella atau Mitha? Maksudnya apa sih? Saya pacaran sama dua cewek gitu?"
"Bukan bos. Bos tetep pacaran sama satu cewek. Tapi bos pernah keliru sama dua cewek itu. Karena keduanya kembar identik, jadi bos jalan sama cewek-cewek itu."
"Jadi, saya macarin keduanya gitu?"
"Bukan, bos tetep satu pacarnya. Berhubung bos pernah salah ngenalin orang jadi jalan sama dia. Abis itu bis comeback lagi sama pacar bos yang semula. Begitu ceritanya," pungkas Dandi gemas.
Menurut informasi yang didapat dari lapangan, hubungan Garda dan gadis itu terbilang rumit. Selain itu hubungan mereka bukan hanya sebatas pacaran semata. Tapi sudah...
"Apa? Menikah?" Garda terjengit kaget.
__ADS_1
"Iya bos," sahut Dandi jujur.
"Gimana mungkin saya udah nikah sama cewek itu, sedangkan kita berdua masih sekolah. Maksudnya belum lulus sekolah, gimana bisa?"
"Mana saya tahu, bos. Yang jalanin semua kan bos sendiri. Kenapa jadi nanya saya sih?" ucap Dandi tidak mau disalahkan.
"Kalo saya tahu, ngapain saya repot-repot nyuruh kamu. Dasar asisten gendeng!" sungut Garda kesal.
Dandi terkesiap langsung menyadari kesalahannya. Ya, dia sebenarnya sudah tahu kondisi Garda yang mengalami amnesia setelah mengalami kecelakaan lima tahun lalu.
"Ya ampun bos... tega banget ngatain saya gendeng. Saya kan udah bantuin bos cari informasi ini," Rajuk Dandi.
Garda melirik tajam asistennya itu. Namun tidak ada niat untuk meminta maaf atas ucapannya yang telah menyakiti Dandi. Mendadak dia berpikir tentang masa lalunya yang ternyata rumit. Terutama dengan gadis yang katanya sudah menjadi istrinya.
Tetapi Andika tidak pernah menyinggung dua nama gadis yang disebut Dandi. Papanya hanya bilang Bianca adalah gadis yang dipacarinya sejak SMA. Lalu mana yang benar bila seperti ini?
"Oya, dari informasi yang saya dapat juga. Bos punya panggilan spesial buat cewek itu..."
"Paling sayang, beib, atau honey kan?" tebak Garda penuh percaya diri memotong ucapan Dandi.
"Bukan bos... tapi panggilan lain yang menurut saya aneh banget," terang Dandi.
Garda mengerutkan keningnya.
"Apa?" tanyanya tidak sabaran.
"Bi!"
"Apa?"
"Bi!"
"Hah, Bi apa?" tanya Garda lagi tidak mengerti.
Dandi menghela nafas lelah.
"Bos, jadi gini ya..." Dandi berusaha mengontrol emosinya, agar tidak meledak-ledak mengahadapi atasannya yang mulai nyebelin, dan banyak tanya sekaligus banyak salah tangkap penjelasan darinya.
"Oh, Bi?" Garda manggut-manggut saja. "ya, ya, saya ngerti. Jadi saya panggil istri saya dengan sebutan 'Bi' karena dari nama Bianca kan?" begitu percaya dirinya Garda melanjutkan ucapannya. Hal ini berdasarkan pernyataan Andika saat pertama kali Garda dipertemukan dengan Bianca. Namun Garda tidak tahu jika apa yang dikatakan Andika adalah bohong belaka.
"Eh, si bos. Bukan!"
Garda tertegun sekaligus terkejut.
"Justru Nona Bianca gak ada dalam daftar nama cewek-cewek masa lalu si bos. Menurut informasi yang saya dapat, Nona Bianca tidak pernah menamatkan pendidikannya di Jakarta atau pun Bekasi. Tapi dia menamatkan SMA nya di salah satu SMA negeri di Surabaya."
Bagai tersambar petir Garda menerima kabar tentang Bianca sebenarnya bukan gadis masa lalunya. Bersamaan dengan itu Garda baru mengerti alasan perasaannya pada Bianca selama ini. Pantas saja dia tidak bisa merasakan apa pun padanya.
"Jadi, panggilan Bi kalo bukan kepanjangan dari nama Bianca, apa?" tanya Garda makin penasaran.
"Bini!"
"Apaan sih lo, pegang-pegang tangan orang sembarangan."
"Elo pikir gue lagi buang sampah sembarangan," sanggah Garda. "lagian wajar kali kalo gue pegang tangan lo. Toh, elo kan udah jadi bini gue."
"Bini?"
"Iya, bini," jawab Garda tanpa malu-malu lagi. Lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Qameella. "alias istri." bisiknya membuat Qameella merinding.
"Siapa bilang?"
"Gue!"
"Tapi itu kan..."
"Iya. Tapi sah menurut hukum agama." Garda menyeringai penuh kemenangan. "lagian, gue udah kasih lo maskawin..."
"Cuma kalung murahan."
__ADS_1
"Oke. Anggap aja begitu. Tapi elo gak usah khawatir. Kalo elo butuh duit, elo masih bisa menjualnya di toko perhiasan kok. Lumayan kalo diduitin bisa sepuluh atau lima belas..." Garda melirik gadis di sebelahnya sinis.
"Ribu?!"
"Bukan... juta!" Garda menyeringai lebar sembari menaik turunkan kedua alisnya.
"Tapi kalo sama liontinnya bisa lebih dari itu. Dua puluh juta atau lebih... sori, gue bukan tukang perhiasan." Garda menyeringai kocak.
Tiba-tiba bayang-bayang masa lalunya berkelebat mengisi memorinya. Namun tetap masih belum bisa mengingat wajah gadis itu dengan jelas.
"Ha... halo?"
"Hei, bini. Lo dari mana aja sih, lama banget angkat teleponnya?"
"Bini?"
"Ck! Elo gimana sih, baru empat jam berpisah udah ngelupain gue. Gimana kalo gak ketemu bertahun-tahun, amnesia kali lo ya?"
"Heh, heh... kok elo diam aja?"
"Gue lagi ngomong sama elo ya. Bukan ngomong sama kuburan."
"Sori, mungkin elo salah sambung." ujar Meella tidak ingin meladeni ocehan orang yang menurutnya tidak penting.
"Wei, tunggu! Tunggu! Tunggu!"
"Ini gue, laki lo... masa gitu aja gak konek sih?"
"Laki?"
"Iya. Suami, suami."
"Suami?"
"Iya. Lola banget sih lo?"
"Gue Garda. Su-ami Lo, bini?!"
"Bini... elo masih napas kan?"
"Bini... elo gak papa kan kalo gue panggil begitu? Anggap aja ini panggilan sayang dari gue."
"Bini?"
"Ck! Elo gimana sih, baru empat jam berpisah udah ngelupain gue. Gimana kalo gak ketemu bertahun-tahun, amnesia kali lo ya?"
"Heh, heh... kok elo diam aja?"
"Gue lagi ngomong sama elo ya. Bukan ngomong sama kuburan."
"Sori, mungkin elo salah sambung."
"Wei, tunggu! Tunggu! Tunggu!"
"Ini gue, laki lo... masa gitu aja gak konek sih?"
"Laki?"
"Iya. Suami, suami."
"Suami?"
"Iya. Lola banget sih lo?"
"Gue Garda. Su-ami Lo, bini?!"
"Bini... elo masih napas kan?"
"Bini... elo gak papa kan kalo gue panggil begitu? Anggap aja ini panggilan sayang dari gue."
__ADS_1
Garda menghela nafas panjang. Kepalanya mendadak terasa pening setelah mengetahui fakta masa lalu yang selama ini ditutupi Andika. Tentu saja fakta tentang gadis masa lalu, ternyata bukan sekedar pacar biasa melainkan seorang istri. Istri yang dinikahi akibat sebuah insiden diluar nalarnya sebagai seorang remaja. Juga fakta hubungan yang tidak pernah direstui hingga detik ini. Maka itulah sebabnya Andika selalu menutupi semua fakta tersebut dari Garda.