Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#85


__ADS_3

Happy reading


Dicky menikmati sarapan paginya dalam diam. Pria itu enggan berbicara pada wanita yang telah dinikahinya satu bulan lalu. Jangan kan berbicara, melihat wajahnya pun terasa muak. Pasalnya, jika bukan ulah wanita sialan itu. Saat ini yang duduk di sisi kursinya adalah Mitha. Wanita yang hampir menjadi istrinya. Tapi semuanya berakhir buruk. Lantaran Raisya sudah menjebaknya. Dengan memberikan minuman yang telah dibubuhkan sesuatu. Membuat Dicky mabuk kepayang dan lupa daratan.


Semua mimpi indahnya yang telah lama dirajut bersama Mitha kandas hanya dalam waktu sekejap. Sesal tiada akhir pun sia-sia. Karena tidak dapat mengubah apa pun. Hanya kesedihan dan air mata. Terlebih ketika matanya harus menyaksikan calon pengantinnya menikah dengan pria lain. Pelaminan yang seharusnya menjadi singgasananya sebagai raja dan ratu sehari direbut orang lain. Sungguh sangat menyesakan dada.


Kedua orang tua Dicky pun tidak menggubris sikap putranya. Keduanya tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana pun mereka merasa putranya tidak bersalah. Karena mereka tahu watak aslinya. Selama berpacaran dengan Mitha, Dicky tidak pernah berselingkuh. Apalagi sampai bermain api dengan wanita lain.


Mereka hanya tahu, Raisya adalah gadis jahat yang tega merusak kebahagiaan kakaknya sendiri. Membuat hubungan Mirza dan Meella kandas. Padahal hari pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Dan yang paling mereka benci adalah saat gadis gila itu menjebak Dicky. Di saat hari pernikahan putranya tinggal menghitung jam. Dengan dalih mengadakan pesta lajang, Raisya berhasil naik ke atas ranjang Dicky.


Dasar murahan!


Itulah hardikan yang diberikan ibunya Dicky.


Selang sebulan dari hari kejadian. Raisya dan keluarganya datang ke rumah keluarga Dicky meminta pertanggungjawaban. Ketika itu Raisya sudah hamil selama enam Minggu.


Dicky yang tidak pernah mencintai Raisya tentu menolaknya dengan keras. Tetapi dia tidak tega melihat ibunya Raisya yang menangis memohon, meminta dikasihani putri kesayangannya. Mereka tidak ingin menanggung malu atas kehamilan Raisya tanpa suami. Apalagi video mesum Raisya dan Dicky sempat viral di dunia maya.


Tanpa pesta meriah. Tamu undangan pun hanya kerabat dekat saja. Dicky dan Raisya menikah. Setelah melalui proses tawar-menawar yang alot di antara kedua keluarga kaya itu. Pada akhirnya keluarga Raisya menyerah dan menerima saja keputusan Dicky. Karena mereka sadar, putri kesayangannya lah yang salah dalam hal ini.


Selama menikah sepasang pengantin baru itu tidur di kamar terpisah. Tidak ada kewajiban yang harus dilakukan selama pernikahan ini berlangsung. Apalagi minta hak sebagai pasangan. Dicky sangat jijik dan benci pada wanita cantik itu. Juga mereka telah sepakat akan bercerai setelah anak yang dikandung Raisya lahir.


Tidak butuh waktu lama bagi Dicky untuk menyelesaikan makannya. Hanya dalam waktu beberapa menit dia bangkit berdiri, meninggalkan meja makan tanpa pamit. Langsung menuju mobilnya yang sudah dibukakan pintunya oleh Pak Dirman, sopir pribadinya.


Raisya mengejar sampai di ambang pintu. Wanita itu menatap sedih kepergian suaminya. Semula dia pikir akan bahagia jika sudah menikah dengan pria yang dicintainya. Namun kenyataan berkata sebaliknya. Setiap makan hati mendapat perlakuan dingin dari Dicky. Bahkan dia dilarang keras masuk ke dalam kamar pribadinya. Setiap malam dia merasa bagai janda bersuami. Tidak ada kehangatan. Selimut yang membungkus tubuhnya pun terasa dingin. Benar-benar sangat hambar.


*


Di apartemen mewah milik Rega.


Mitha dan Rega juga menikmati sarapan pagi mereka di meja makan. Jangan ditanya siapa yang memasak sarapan pagi mereka. Jangan pula berani menebak Mitha yang membuatnya. Karena urusannya bisa panjang. Dan Rega sedikit banyak sudah mulai mengerti karakter istrinya yang unik itu. Sebab itu, Rega tidak mengizinkan Mitha menyentuh dapurnya. Jika ingin dapurnya selamat.


Bila ditilik dari awal perjumpaan hingga terjalin hubungan suami-istri di antara keduanya. Seratus persen dapat dipastikan tidak ada cinta pada hati keduanya. Mitha yang sampai detik ini masih menyimpan sisa cintanya pada Dicky. Namun jika ditimbang masih lebih besar rasa bencinya. Rega tidak tahu siapa pemilik hatinya sebelum menikahi Mitha.


Bagi Rega, ada atau tidaknya cinta dalam hubungan rumah tangga. Maka sebisa mungkin dia akan menumbuhkan rasa cintanya pada pasangan. Demi utuhnya hubungan pernikahannya. Dia tidak mau jika suatu saat nanti, anak-anaknya kelak merasakan sama seperti saat kecilnya dulu.


Rega masih ingat saat masa kecilnya dulu. Dia dan Garda sering menyaksikan pertengkaran Papa dan Mamanya setiap hari. Entah apa yang dua orang dewasa itu ributkan. Sepasang anak kembar kecil itu tidak mengerti. Mereka hanya ingin kedua orang tuanya tidak lagi bertengkar.


Akhirnya pertengkaran mereka berakhir di meja hijau. Kedua orang tuanya memilih berpisah dan bercerai. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang. Justru menjadi alasan untuk pergi. Begitulah yang dialami Rega kecil. Dia dipaksa pergi oleh Mamanya. Berpisah dengan saudara kembarnya juga Papanya. Memboyongnya ke tempat baru. Jauh dari orang-orang yang selalu bersamanya.


"Nanti aku mau ke apartemennya Meella. Mau jenguk dia lagi sakit," imbuh Mitha sela suapannya.


"Aku..."

__ADS_1


"Sebenarnya, aku sih gak peduli mau diizinin atau gak. Karena aku tetap akan pergi ke sana," selanya memotong ucapan Rega.


Sebenarnya Mitha tidak peduli dengan suaminya itu. Biasanya jika mau pergi kemana-mana dia langsung slonong boy aja. Tapi dia ingat pituah Maryam yang selalu mengingatkan Mitha agar menjadi istri yang baik. Karena surganya seorang istri ada pada suaminya. Mitha masih hamba yang normal kaleee... walau pun bukan ahli ibadah. Dia gak mau masuk neraka juga.


Rega mendengus. Menghadapi makhluk berstatus istrinya itu ternyata tidak mudah. Walau pun dia selalu berhasil menaklukkannya di atas ranjang. Tapi bila kakinya di atas lantai. Maka akan kembali ke mode awal. Cuek, rese, keras kepala, susah diatur dan... menyebalkan.


"Mau diantar?" sahut Rega menawarkan diri. Entah sedang serius atau sekedar basa-basi.


"Hmmm," Mitha tampak sedang berpikir. Kedua matanya menatap ke atas dengan wajah sedikit mendongak, dan dahi yang mengkerut-kerut.


"Gak deh, makasih. Kamu kan orang sibuk. Pasti gak ada waktu," jawabnya seraya menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


"Tapi aku bisa meluangkan waktu untukmu, bila kamu mau," sanggah Rega berharap sang istri mau menerima niat baiknya.


"Masa?" Mitha menunjukkan mimik wajah mencemooh. Karena dia tidak yakin dengan ucapan suaminya yang memang super sibuk.


Rega harus datang ke kliniknya sebelum berangkat ke rumah sakit. Belum lagi jika ada jadwal operasi. Jadi mana mungkin masih ada untuk Mitha. Istri yang tidak diharapkan apalagi dicintai.


"Bisakah kau bersikap lebih lembut sedikit?'' pinta Rega lembut.


''Wah, sayang sekali Pak dokter. Anda salah orang kayanya... Kalo anda minta aku jadi wanita lembut...,'' Mitha mengangkat dan menggerakkan jari telunjuk kanannya ke kiri-kanan di udara. Bersamaan dengan gelengan kepalanya. ''Emmm.''


''Aku gak bisa. Kalo disuruh jadi perempuan bar-bar, aku bisa,'' lanjutnya penuh percaya diri.


''Sepertinya kamu harus belajar menjadi lebih lembut. Terutama bersikap lembut pada suami.''


''Jadi, kalo aku bersikap bar-bar, kamu mau mencari wanita lain. Yang bisa bersikap lebih lemah lembut, lemah gemulai di luar sana, gitu? Terus ninggalin aku?'' Mitha tiba-tiba tersulut emosi. Dia gemas sekali pada pria yang tanpa pikir panjang mau menikahinya itu.


''Aku bukan...''


''Gak papa Pak dokter. Aku akan senang hati jika itu terjadi. Menikahlah dengan wanita yang benar-benar bisa membuat kamu bahagia, Pak dokter. Jangan cari seperti aku lagi. Gak cocok soalnya,'' tutur Mitha dengan nada mengejek seraya terkekeh pelan. Lalu beranjak dari duduknya hendak meninggalkan meja makan.


Dengan cepat Rega menggenggam tangan Mitha. Menahan kepergian istrinya yang terlihat sudah kehilangan nafsu makannya.


''Habiskan dulu sarapanmu,'' titahnya dengan suara rendah.


''Makasih, Pak dokter. Aku udah kenyang. Aku mau buru-buru ketemu saudara kembarku,'' sahut Mitha tanpa menoleh pada suaminya. Lalu menepis genggaman tangan Rega dari tangannya.


''Biar aku antar.''


''Gak usah. Aku udah pesan taksi online. Mungkin sekarang udah sampai di depan lobi,'' Mitha acuh tak acuh meninggalkan meja makan. Setelah mengambil sling bag nya dia beranjak pergi meninggalkan unit apartemen Rega.


Rega mendengus pelan. Bahunya luruh ke bawah. Menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Setelah pandangan matanya menatap kepergian Mitha, dan menghilang di balik pintu.

__ADS_1


''Ternyata lebih mudah mengajaknya bertarung di atas ranjang. Dari pada berdebat seperti tadi. Kepala jadi pening,'' gumamnya putus asa.


*


Sebelum tiba di apartemen Meella, Mitha menyempatkan diri mampir ke toko roti di pinggir jalan. Rencananya dia ingin membeli brownies kukus kesukaan saudara kembarnya. Setelahnya membeli makanan ringan. Kebetulan selang satu toko dari toko roti tempatnya membeli brownies, ada sebuah minimarket.


Ketika hendak menuju taksi online yang disewanya selesai berbelanja. Mitha melihat pria yang mirip sekali dengan suaminya, Rega. Entah dari mana pria berasal. Tetapi mengapa cepat sekali sudah sampai di sini. Apakah dia gak pergi ke klinik atau rumah sakit? pikirnya.


"Ah, bodi amat. Emang gue pikirin!" tukasnya tidak mau ambil pusing. "mau dari neraka juga bukan urusan gue."


Mitha pun melanjutkan langkahnya yang terhenti. Namun tidak berlangsung lama. Setelahnya dia kembali menghentikan langkahnya lagi. Lalu berputar arah berjalan ke arah pria berwajah Rega itu. Lidahnya terasa gatal ingin mengucapkan sepatah kata ucapan selamat karena telah berhasil mendapatkan wanita yang lebih cantik, dan mungkin saja lemah lembut. Sekalian aja punya wanita dari bangsa lelembut sana.


"Wah, hebat ya Pak dokter. Baru tadi pagi berencana ingin dapat wanita lembut. Eh, sekarang udah dapat aja. Udah kaya jinnya si Aladin. Bim salabim langsung dapat aja. Selamat ya Pak...," Mitha sengaja membuat suaranya semanja mungkin.


Si pria hanya mengernyit heran menatap wanita yang begitu mirip sekali dengan Meella. Dengan kacamata bening seperti Meella sering pakai. Tapi kakinya tampak sehat wal Afiat. Padahal baru saja kecelakaan. Mungkinkah secepat itu sembuhnya?


"Hei, perempuan gila. Kamu lagi, ya?" todong wanita berkacamata hitam, yang tadi berjalan beriringan dengan pria itu. Dia membuka kacamata hitamnya.


Seketika matanya membulat lebar. Seakan bola matanya ingin keluar dari tempatnya. Melihat gadis yang dianggapnya Meella berdiri dengan baik pada kedua kakinya. Tanpa pincang seperti orang yang habis kecelakaan. Juga tidak ada cacat sama sekali. Semuanya tampak normal. Padahal menurut orang suruhannya Meella akan mengalami cacat seumur hidup.


"Sialan!" hardiknya dalam hati.


"Oh... Anda lagi nona?" Mitha mengejek wanita muda itu. Sepertinya usia mereka sebaya. ''biasa aja dong matanya. Gak pake melotot gitu.''


"Titip ya suami aku. Hati-hati jangan sampai lecet. Ingat ya selalu bersikap lembut," Mitha menjeda ucapannya.


Dalam hati dia geram sekali pada perempuan gatal penggoda suaminya. Apakah populasi pria di muka bumi ini sudah mulai mengalami kepunahan? Sampai suami orang lain diembat juga. Belum aja jika istri sahnya marah. Maka rambut si pelakor itu akan botak habis dijambak. Lalu mengerlingkan sebelah matanya.


"Karena suami aku cuma suka sama wanita yang penuh kelembutan. Kalo bisa yang berasal dari bangsa lelembut sekalian. Biar cucok gitu, hehehe," lanjutnya masih dengan nada suara yang dibuat-buat. Kemudian terkekeh pelan.


Mitha hendak berbalik tapi urung. Dia kembali menatap ke arah sepasang kekasih tidak halal itu. Dengan telunjuk manjanya dia menunjuk ke arah si pria.


"Oh, iya. Sayang nanti aku pulang telat. Jadi, kamu gak usah nyariin aku. Dan jatah malam ini terpaksa aku skip ya sampai dua atau tiga Minggu ke depan. Karena Minggu berikutnya kamu harus siap-siap aku kebiri," pungkasnya dengan menekan kata kebiri. Setelah puas menyampaikan isi hatinya yang membuncah kesal. Mitha melanjutkan perjalanannya menuju apartemen Meella.


Si pria dan wanita itu hanya bisa menatap punggung Mitha, sampai menghilang masuk ke dalam kabin mobil.


"Dasar wanita sinting!" hardik si wanita marah.


***


Sampai di sini dulu ya ceritanya. Author udah gak kuat melek. Pengen bobo cantik di kasur.


See you next episode...😘🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2