
Happy reading...
*******************
Rega menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah bergaya minimalis. Sederhana dan tidak berlebihan. Dengan carport yang hanya memuat satu mobil saja. Rumah itu adalah rumah milik seseorang. Orang yang pada awalnya tidak memiliki hubungan hanya sekedar dokter dan pasien. Kini berkembang menjadi menantu dan mertua. Benar, itu rumah Gusti.
"Makasih ya, udah dianterin pulang," imbuh seseorang yang duduk di bangku penumpang, di sampingnya.
Rega menoleh, terkesiap melihat sosok itu. Gadis cantik yang masih memakai gaun pengantin lengkap dengan sanggul serta tusuk konde dan ***** bengkelnya. Tidak ketinggalan roncean bunga melati, menjuntai dari bawah sanggul hingga pinggang. Dia sampai mengerjakan mata beberapa kali.
Gadis itu Mitha, saudara kembar Meella. Baru tiga jam yang lalu resmi menjadi istrinya. Pernikahan yang tidak pernah terlintas dalam benaknya sekali pun. Dan memang belum ada dalam agenda hidupnya. Sebelumnya dia berencana baru akan menikah dua atau tiga tahun lagi. Tapi kembali pada takdir dan ketentuan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya bisa berencana. Sedangkan segala keputusan final pada Sang Maha Pencipta.
Sepasang netra Rega bersirobok dengan netra Mitha. Saling mengunci beberapa saat. Keduanya dapat melihat penampilan satu sama lain.
Bila Mitha melihat penampilan Rega yang ganteng dan sempurna. Bahkan sampai mengalahkan ketampanan Dicky. Sementara Rega melihat sisi rapuh Mitha. Dengan make up yang tidak lagi terbilang sempurna. Karena luntur oleh air mata yang sempat mengalir bagai air terjun. Akibatnya mata yang berhiaskan bulu mata lentik nan palsu, tampak sembab.
Ternyata berlama-lama terkunci pandangan dalam kebisuan dengan cowok seganteng Rega, bisa merusak keimanan juga. Oleh sebab itu, buru-buru Mitha memutus kontrak matanya dengannya. Menetralkan perasaan yang mendadak tidak menentu juga semrawut.
Tanpa ba-bi-bu Mitha memutuskan membuka pintu, mendorongnya dengan sebelah tangan hingga membuat celah yang cukup besar. Lalu turun hendak keluar dari mobil Rega. Namun ketika kaki sebelah kirinya baru mendarat di atas tanah, tiba-tiba cowok sudah berstatus suaminya itu menginterupsi,
"Kamu gak ngajak saya mampir? Atau sekedar menawari secangkir teh pada saya?"
Terpaksa Mitha menoleh ke belakang melalui bahunya. Dia melihat wajah cowok yang rupanya juga sedang menatapnya. Rasanya canggung sekali mendapat tatapan datar dan dingin seperti itu. Hingga terkesan misterius juga horor. Membuatnya bergidik ngeri.
Lagi, Mitha memutus kontrak matanya dengan cepat. Tidak mau beban deritanya bertambah parah. Huh, alay!
"A-ayo mampir. Aku buatin kamu teh panas dingin," Mitha tidak bisa mengontrol ucapannya yang terdengar tidak karuan. Kemudian beranjak pergi tanpa menunggu sahutan dari lawan bicaranya.
Rega mengangkat sebelah alisnya. Mencerna ucapan Mitha yang mengatakan 'teh panas dingin?' Aneh!
Mengabaikan rasa herannya tentang ucapan Mitha barusan. Rega pun ikut turun mobilnya.
Mitha bergerak menuju pintu gerbang yang sengaja digembok sebelum kedua orang tuanya pergi meninggalkan rumah. Dengan kunci serep yang dimiliki, dia membukanya dan menggeser pintunya agar terbuka lebar.
"Ayo masuk!" serunya pada Rega yang masih berdiri mematung di samping mobilnya.
Setelahnya bergerak menuju pintu depan sekaligus pintu utama rumahnya. Memasukkan anak kunci ke dalam lubangnya sampai terbuka. Mitha langsung mendorong pintu itu lebar-lebar agar memudahkan orang masuk ke dalam rumah.
Rega hanya jalan mengekori, mendengar instruksi si empunya rumah. Tanpa suara apalagi bicara. Cowok satu ini memang irit bicara. Hal itu pun terjadi sejak dirinya berinisiatif mengantar Mitha pulang dari rumah sakit. Selama dalam perjalanan tidak ada obrolan yang tercipta. Baik Rega mau pun Mitha tidak ada yang mau memulainya. Alhasil, suasana dalam mobil sepanjang perjalanan hening. Seolah keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Silakan duduk!" lagi-lagi hanya suara Mitha yang terdengar hidup. Sementara lawan bicaranya, bila tidak menganggukkan kepala, maka diam saja. Huh, seperti bicara pada batu saja!
Rega langsung duduk di sofa dalam ruang tamu ruang Gusti. Eh, ralat deng, bapak mertuanya. Rumah yang baru pertama kali disinggahinya. Walau pun saat zaman sekolah dulu Rega pernah berteman dengan Meella, tentu karena pernah satu kelas. Tidak pernah sekalipun cowok itu iseng atau sengaja datang untuk bertemu. Pasalnya, selain tidak akrab, baik Rega mau pun Meella sama-sama memiliki kepribadian yang tertutup.
Uniknya, saat masih duduk di bangku kelas 2 SMA, Rega suka dengan Meella. Tentu saja suka berujung cinta. Dan dia sadar saat itu Meella sepertinya memiliki perasaan yang sama dengannya. Walau tidak pernah sekalipun gadis pendiam itu mengungkapkan perasaannya. Tapi feeling-nya mengatakan hal itu benar adanya. Entah dari mana pemikiran itu, Rega tidak ambil pusing.
Tetapi Rega ternyata kalah start dari cowok lain. Tidak lain adalah saudara kembarnya sendiri, Garda. Terbukti hampir setiap hari Garda datang dan menunggu di depan pintu gerbang sekolahnya untuk menjemput Meella. Hal itu sempat disaksikan dengan mata kepala sendiri.
Juga ada satu momen yang paling bikin sakit hati Rega. Yaitu saat dia tidak sengaja melihat Garda mencium bibir Meella di koridor sekolah yang sepi. Tanpa malu cowok brandal itu melakukan perbuatan gak ada akhlak di lingkungan sekolah.
Bukan salah Meella yang berhubungan dengan Garda. Tapi salahnya sendiri yang yang kurang gercep alias gerak cepat mendapatkan gadis pujaannya.
Kini tahun-tahun itu sudah berlalu. Namun anehnya, saat ini dia malah menikahi saudara kembar Meella, Mitha. Entah mengapa garis takdirnya mempertemukannya pada gadis yang menjadi jodohnya dengan cara yang unik. Dan tidak disangka-sangka.
Rega menggelengkan kepalanya saat otak jeniusnya tidak mampu mengungkap misteri takdir hidupnya. Karena memang sejatinya hanya Tuhan yang maha tahu.
Prang!
Tiba-tiba terdengar suara benda berbahan kaca terdengar jatuh dan membentur lantai. Hingga pecah berkeping-keping. Sontak suara itu membuyarkan lamunan Rega. Dengan segara bangkit dari tempat duduknya, beranjak mencari sumber suara yang berasal dari dapur.
Mitha berjongkok di depan pecahan beling itu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Punggungnya bergerak naik-turun dan samar suara orang menangis. Dan benar saja gadis itu sedang menangis di sana.
Mitha terkesiap kemudian melepaskan tangan yang sedari tadi menutupi wajahnya. Dengan tatapan bertanya dia mendongakkan wajahnya menatap Rega. Tidak peduli dengan riasan wajahnya yang sudah sangat berantakan. Hingga warna kebiruan yang mulai menghitam terlihat begitu jelas.
"Kamu..." Rega tidak menyelesaikan ucapannya karena Mitha memotong ucapannya.
"Rega... aku... aku gak tahu harus gimana ngadepin semua ini? Aku malu... aku juga takut dengan kondisi Ayah kedepannya. Tadi aja pingsan. Terus... kalo tetangga tahu semua ini, mereka pasti julidin keluarga aku. Aku takut kondisi Ayah jadi semakin memburuk. Aku..." Mitha sangat kalut hingga terus saja meracau tidak karuan.
"Sstt... udah jangan takut! Ada aku di samping kamu," imbuh Rega menenangkan Mitha yang terlihat sangat tertekan sekali. Seraya membantunya berdiri, memeluk bahu Mitha guna mengajaknya bergerak ke arah meja makan. Lalu mengarahkan tubuh tidak berdaya itu untuk duduk di kursi.
"Aku akan membantu kamu, agar Ayah kamu bisa sembuh kembali. Jadi, kamu gak usah takut lagi," Mitha mengangguk lemah menyetujui ucapan lelaki yang tanpa diduga menjadi suaminya.
Rega menyisir pandangannya ke setiap sudut dapur. Mencari alat kebersihan untuk membersihkan pecahan gelas yang dikhawatirkan akan melukai kaki setiap orang yang menginjaknya bila tidak segera dibersihkan. Dia pun bergerak setelah menemukan benda yang dicarinya. Menggunakan sesuai fungsinya. Dan menyapu bersih hingga tidak tersisa.
Mitha menatap kosong Rega yang sedang sibuk menyapu lantai akibat ulah bodohnya.
"Maaf," Rega mendongakkan wajahnya menatap gadis yang sedang mengajaknya bicara sesaat. Lalu menunduk lagi agar tidak ada pecahan gelas yang tertinggal di lantai.
"Maaf, udah ngelibatin kamu dalam masalah aku ini. Gara-gara calon suami aku yang bejad itu kamu jadi terseret dalam bencana ini," sesal Mitha dengan menekan kata 'bejad' dalam ucapannya.
__ADS_1
Rega menghentikan gerak tangannya yang masih menyapu lantai. Mendengarkan dengan seksama setiap kata dalam curahan hati Mitha.
Mitha mulai menangis lagi, membuatnya menjadi cewek yang paling cengeng di dunia. Padahal sedari kecil dia jarang sekali menangis. Beberapa kali mengusap air mata di bawah matanya makin memperjelas sisa perbuatannya semalam. Bukan sesuatu yang menyenangkan tapi sebaliknya. Karena semalam dia hampir mati dikeroyok preman. Nekat! Begitulah sifat asli Mitha yang memang tomboy sejak dulu.
Rega menyerok sampah beling-beling itu menggunakan pengki. Lalu membuangnya ke dalam tong sampah yang ada di sudut dapur, dekat pintu belakang rumah hingga terdengar suara gemerisik saat dituangkan.
"Jujur, aku gak mau semua ini terjadi dalam hidupku. Diselingkuhin, pernikahan batal, Ayah masuk rumah sakit, aku..." Mitha begitu emosional hingga tidak mampu melanjutkan ucapannya sendiri.
"Dikeroyok preman," sambung Rega ringan sontak membuat Mitha mendongakkan wajahnya, menatap lawan bicaranya yang kini sudah duduk di hadapannya.
"Juga, pernikahan kamu gak batal. Karena aku udah nikahin kamu," tegasnya melanjutkan.
"Tapi memang kenyataannya pernikahan aku sama Dicky gagal kok," semburnya sewot. Karena itu adalah fakta yang sesungguhnya.
Rega hanya tersenyum miris. Semiris hatinya yang tidak tahu harus dibawa ke mana dalam hubungan yang tidak diinginkan ini.
"Makasih. Aku ucapin makasih karena kamu udah mau nolongin aku dan keluargaku dari musibah memalukan ini. Yah... anggap aja, ini musibah buat kami atas kebodohan si Dicky brengsek itu," ucapannya berapi-api saat menyebut nama mantan suaminya. Tangannya terkepal kuat hingga kukunya menancap kuat menembus kulit telapak tangannya sendiri.
"Aku yakin kamu punya wanita idaman kamu sendiri. Wanita yang akan kamu nikahi kelak. Atau memang kamu sudah berencana menikahinya dalam waktu dekat."
Rega menatap lekat wajah gadis yang mencoba kuat atas cobaan hidupnya yang tidak ringan. Tetapi air matanya lolos juga menyapu sisa bedak yang masih menempel di pipinya.
"Aku gak keberatan jika pernikahan ini, antara kamu dan aku berlangsung hanya sebentar. Bahkan jika kamu mengakhirinya saat ini juga, aku gak akan nolak," putusnya tanpa keraguan.
Rega mengangkat sebelah alisnya dengan mata nyalang. Terkejut sudah pasti atas keputusan sepihak dari Mitha. Tanpa bertanya dan meminta persetujuan darinya, gadis itu langsung mengakhiri hubungan yang baru terjalin kurang dari empat jam. Speechless. Sungguh miris sekali!
*
Meella masih menunggui Gusti yang masih belum sadarkan diri. Dia duduk di kursi di samping brankar yang di tiduri Ayahnya. Dengan tatapan sedih mengamati pasien tidak berdaya itu. Dalam hati berulang kali memanjatkan doa untuk kesembuhan orang yang mungkin bila sadar nanti tidak ingin melihat wajahnya lagi. Karena terlalu banyak luka dan malu yang ditorehkan.
'Ayah, maafkan anakmu yang durhaka ini. Lala gak tahu gimana caranya supaya nama baik Ayah kembali. Karena terlanjur dipandang jelek di mata orang-orang. Maaf Ayah, hanya kata maaf ini aja yang bisa Lala kasih buat Ayah. Maaf,' bisik hati Meella pilu.
*
Sampai di sini aja ya episode kali ini. 🙏🙏 Maaf banget baru bisa update sekarang karena kemarin aplikasi tiba-tiba terhapus tanpa sengaja. Padahal udah separuh jalan mau update.
Jangan lupa jejak cantiknya sebagai mood booster author rajin update.
See you next episode... 🤭😘🥰
__ADS_1