Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#49


__ADS_3

Happy reading...


*****************************************


Tiba-tiba sesuatu terjadi di dalam gedung itu. Alangkah terkejutnya dia saat ini. Bukan karena ada acara pelemparan bunga yang spektakuler. Bukan pula ada acara yang berbau romantis sehingga orang-orang terbawa perasaan dan meleleh dibuatnya.


Padahal sebelumnya Meella sempat membayangkan. Seandainya acara ini adalah acara akad nikahnya dengan Garda yang dibarengi pernikahan Mitha dan Dicky. Wah... Alangkah indahnya saat itu, bila benar-benar terjadi.


Namun sayang, hal yang dilihatnya saat ini bukan hal yang diinginkannya. Sepasang irisan hitam dibalik kacamata minusnya, menangkap adegan mengejutkan, serta menyedihkan penuh air mata. Entah apa yang sebenarnya terjadi sebelum kedatangannya di sini. Yang jelas hal itu membuat semua orang yang ada di dalam gedung ini tercengang sambil berurai air mata.


Ada apa ini?


Apa yang terjadi?


Batin dan otak Meella dipenuhi banyak pertanyaan. Tetapi dia memilih diam di tempat, tidak berani mendekat walaupun hanya untuk mendapatkan jawaban yang diinginkan. Dia hanya berdiri mematung di belakang kerumunan tamu undangan, kebetulan mereka sedang berdiri di depan kursi masing-masing.


Semua mata tertuju pada meja yang akan digunakan untuk acara akad nikah. Di sana sudah berdiri Gusti, Maryam, Mitha, yang saat ini sudah memakai baju pengantinnya, lengkap dengan sanggul serta aksesorisnya. Mereka bertiga tengah berhadapan langsung dengan Dicky, yang justru belum memakai pakaian layaknya calon pengantin pria pada umumnya. Selain itu ada kedua orang tua Dicky yang didampingi beberapa kerabatnya.


Suasana saat ini terasa sangat menegangkan. Sepertinya tidak layak bila disebut pesta pernikahan melainkan medan pertempuran. Sangat aneh memang tapi itulah yang terjadi saat ini.


Meella mengerutkan keningnya hingga kedua alisnya nyaris bertaut. Dia sedang berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi di sini. Mengapa mendadak menjadi kacau seperti ini?


Sedangkan pak penghulu yang seharusnya bertugas untuk menikahkan Dicky dan Mitha, dan 4 orang saksi mereka tampak duduk diam di kursi masing-masing dengan wajah bingung.


Semua para undangan hanya menonton dan berbisik membicarakan Dicky dan Mitha. Anehnya suara mereka yang berisik itu, terdengar bagai suara lalat yang berdenging di telinga Meella. Membuat kepalanya terserang rasa sakit dan mual secara bersamaan.


Meella tidak bisa mendengar percakapan Gusti dengan keluarga Dicky. Dia hanya bisa melihat mimik wajah pria itu merah padam penuh amarah. Mitha dan Maryam hanya menangis tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya bagi Meella melihat Mitha menangis sampai segitunya. Pasalnya yang dia tahu, Mitha bukan tipikal cewek cengeng. Bahkan hampir tidak pernah menangis sepanjang hidupnya, meski sesakit apapun penderitaan yang dialaminya.


Yasmin, Sarah, dan Amel yang duduk di kursi tamu, buru-buru berlari menghampiri Mitha. Mereka memeluknya dari belakang dan samping seakan memberi kekuatan padanya agar tetap tegar.


Tidak lama berselang Raisya datang bersama kedua orang tuanya juga. Mereka tidak kalah menghebohkan terutama suara Mamanya, terdengar menggelar. Wanita itu sangat murka pada Mitha. Dia menuduh dan meminta pertanggungjawaban atas kekerasan fisik yang dilakukan Mitha pada Raisya.


Di tengah perdebatan itu tiba-tiba layar putih di sisi pelaminan menyala, memutar sebuah video.


Entah siapa yang melakukannya. Yang jelas bukan pihak dari panitia event. Mereka tampak kebelingsatan untuk menghentikan video yang sedang berputar. Namun tidak bisa mereka lakukan.


Mereka sangat panik. Lantaran video yang sedang tayang itu bukan video rangkaian kisah perjalanan cinta antara Mitha dan Dicky. Untuk mempersiapkan video itu mereka sudah shooting sebulan sebelum hari pernikahan mereka. Untuk dijadikan momentum indah dari bagian hidup mereka. Melainkan video syur antara Dicky dan wanita lain, tidak lain adalah Raisya. Suaranya dalam video itu sengaja dibuat sekeras mungkin hingga menggema seantero gedung.


Sontak semua orang yang hadir dalam gedung pernikahan itu langsung mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara. Mereka tercengang sekaligus terkejut. Ada pula yang berteriak histeris saking kagetnya melihat adegan memalukan itu.


Oh, astaga!


Masya Allah!


Astaghfirullah!


Wajah Dicky tampak pucat tertunduk malu. Begitu pula dengan Raisya dan kedua orang tuanya. Mereka tertampar sendiri oleh perbuatan anak-anak mereka.


"Brengsek! Bajingan!" hardik Gusti refleks tangannya terangkat ke udara menampar wajah Dicky begitu keras.


Pria itu sangat murka dengan mereka yang seakan sudah melempar kotoran ke wajahnya. Juga membuat malu di depan para tamu undangan yang hadir disini.


Semua orang langsung terdiam menyaksikan pertunjukan itu. Tidak ada yang berani bersuara.


Mitha menutup mulutnya yang menganga kaget dengan sebelah tangan. Air matanya tumpah lagi. Begitu pula dengan Meella. Tanpa disadari dia bergerak refleks sama dengan Mitha.

__ADS_1


Setelahnya Gusti mendadak memegangi dadanya yang terasa nyeri disertai sakit dan sesak secara bersamaan. Lalu jatuh tidak sadarkan diri di lantai.


*


Garda langsung melesat pergi meninggalkan kantornya. Dengan mengendarai mobil sport mewahnya, dia pergi menuju yang diduga tempat persembunyian orang yang sudah terlibat dalam malam panasnya bersama Meella beberapa waktu yang lalu. Setelah mendapat informasi itu dari orang suruhannya beberapa saat lalu.


Sebenarnya jikalau pun Garda mau memperpanjang masalah ini, tidak ada yang mengkhawatirkan akibat dari insiden itu bagi perkembangan karir mau pun hubungannya dengan Bianca. Hubungan pertunangannya juga masih adem ayem. Tidak ada protes yang berpotensi merusak semua rencana masa depannya bersama tunangannya.


Tetapi entah mengapa ada sesuatu yang selalu mendorong hati Garda untuk selalu mencari tahu. Harus! Tidak boleh tidak! Bila tidak, akan ada sesuatu yang membuat jiwanya tidak tenang.


Sampai lah Garda pada bangunan berbentuk bengkel dan steam dengan nama,


BENGKEL SEPEDA MOTOR ABABIL


STEAM PENCUCI MOTOR DAN MOBIL ABABIL


Seketika Garda yang baru turun dari mobilnya tertegun, berdiri mematung melihat nama ABABIL pada plang itu. Sungguh, dia sangat familiar dengan nama itu, ABABIL. Namun memori otaknya tidak menyimpan apa pun tentangnya. Hingga tidak ada kenangan yang bisa diingat.


Garda melangkah mantap masuk ke dalam bangunan itu. Meninggalkan mobilnya terparkir di pinggir jalan. Mengedarkan pandangan ke seluruh bagian tempat yang tidak ingin dikunjungi. Tapi langkah kakinya menuntun sampai ke tempat asing ini. Padahal mobilnya tidak butuh perawatan atau dicuci di steam itu.


"Bos, ..." dengan senyum ramah Rombeng menyapa sambil berjalan menghampiri. Semua karyawan ABABIL memang selalu memanggil Bos pada setiap pengunjung yang datang ke tempat mereka sebagai sapaan akrab.


Rombeng menatap pria berjas yang masih membelakanginya. Tidak ada pikiran aneh-aneh dalam benaknya menerima kedatangan orang itu. Hingga saat sosok itu membalikkan badan menghadap ke arahnya. Sepasang mata berseragam khas karyawan bengkel itu membelalak kaget.


'Ga-Garda?' batin Rombeng berteriak. Matanya berkaca-kaca. Hatinya bersorak gembira atas kedatangan orang yang sudah bertahun-tahun dirindukannya. Ternyata benar kata Ryan, bahwa Garda memang masih hidup.


Garda mengernyit heran melihat ekspresi penuh rindu yang ditujukan pria yang sudah tidak dikenalnya. Seketika dia bergidik ngeri, takut pria di hadapannya bukan pria tulen. Tetapi pria belok yang suka jeruk makan jeruk. Ih, amit-amit deh!


Namun ada hal yang tiba-tiba mengusik di relung hatinya yang terdalam. Entah apa dan bagaimana dia tidak tahu dengan jelas. Hanya saja pria yang mendadak mematung di hadapannya terasa tidak asing di matanya. Meskipun tidak bisa mengingat tentang kenangan apa saja yang sudah terjadi.


"Maaf, Bos. Ada yang bisa kita bantu?" imbuh Rombeng memecah kebekuan. Senyum ramah dan hangat kembali tersungging di bibirnya.


"Ah..." Garda tergagap, mendesah bingung harus berkata apa untuk membalasnya.


Tidak mungkin rasanya kesopanan yang sudah ditunjukkan pria itu dibalas dengan umpatan. Walau pada kenyataannya dia sedang marah, ingin menemui seseorang yang telah membuatnya tidur dengan Meella. Dan ingin membuat perhitungan dengannya. Sayangnya dia masih belum tahu siapa orang itu. Tentu Garda tidak berani berbuat ceroboh yang pada akhirnya akan menyusahkan diri sendiri.


"Bos, mau cuci steam apa mau perawatan mobilnya?" tanya Rombeng sekuat tenaga menahan gejolak di dada.


Sonik yang sedang berkutat pada sepeda motor yang sudah dibongkar, melirik ke arah Rombeng yang sedang berbicara dengan seorang pria berjas di depan sana.


Seketika obeng di tangannya terlepas begitu saja, saat netranya menangkap sosok itu. Sosok yang sangat dirindukan selama ini. Bukan dibuat-buat, tapi memang sungguhan. Tidak terasa air mata lolos dari mata Sonik.


"Garda!" bisiknya lirih beranjak berdiri. Menatap lebih lekat lagi tubuh kekar itu namun wajahnya tidak terlihat berubah sedikit pun.


Langkah Sonik pelan namun mantap. Selangkah demi selangkah kakinya menuntun hingga tepat di depan Garda.


Garda terkejut dengan kedatangan Sonik yang begitu tiba-tiba di hadapannya. Terlebih melihat sorot mata yang dipancarkan sama dengan orang yang pertama kali menyapanya.


Ada apa ini?


Siapa mereka?


Mengapa ekspresi wajah mereka terlihat aneh?


Batin Garda terus bertanya tanpa tahu jawabannya.

__ADS_1


Tiba-tiba kepala Garda berdenyut sakit disertai bayangan-bayangan masa lalu yang datang silih berganti. Semakin dia berusaha mencoba mengingat, maka sakit itu terasa sangat sakit seakan ingin membunuhnya. Kedua tangan Garda sudah terangkat menyentuh sisi kepalanya. Tubuhnya menggeliat gelisah menahan rasa sakit yang menderanya.


"Gar, Garda, Garda, elo kenapa?" entah suara siapa itu masuk ke dalam rungunya. Begitu panik dan peduli.


"Elo kenapa, Bro?" tanya suara yang lain.


Suara-suara itu sangat-sangat akrab di telinganya. Namun dia tidak bisa mengenali si pemilik suara. Garda sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya. Kepalanya terus tertunduk dengan tangan yang bukan lagi memijat. Melainkan menjambak kuat hingga tercengkeran dalam genggamannya.


"Aaaarrghhh!" pekiknya terus merasakan denyut sakit di kepalanya. Kepalanya bergerak gelisah. Bahunya bergetar. Peluh di keningnya mengucur deras membasahi wajah dan lehernya.


Tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali Garda berteriak histeris dengan posisi yang sama. Bukan tidak pernah dia mengalami hal yang sama. Melainkan baru kali ini merasakan sakit yang sedahsyat ini.


"Ada apa sebenarnya ini? Mengapa kepalaku sakit banget, seakan terasa mau pecah? Aaaarrghhh!" desisnya yang diakhiri teriakan keras.


Bukan hanya Rombeng dan Sonik yang panik. Karyawan lain dan beberapa pelanggan yang saat itu sedang duduk di bangku tunggu yang disediakan, ikut panik dan menghambur ke arah Garda.


Buru-buru Rombeng menghubungi Ryan dan mantan anggota geng ABABIL lainnya via telepon. Mengabarkan kedatangan Garda serta kondisi terkininya.


Sonik meminta karyawan bengkel yang lain tetap melakukan tugasnya seperti biasa. Tidak perlu terpengaruh dengan kejadian itu. Setelahnya bersama Rombeng menyeret tubuh Garda yang mulai melemah, perlahan tidak sadarkan diri masuk ke dalam.


*


Garda membuka matanya perlahan. Mengerjap beberapa kali untuk menetralkan kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul sempurna.


Entah sudah berapa lama Garda terbaring di atas sofa panjang, dalam sebuah ruangan yang entah ada dimana. Begitu sunyi seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Lampu LED yang tergantung di plafon atas wajahnya terlihat terang. Juga menerangi seluruh ruangan yang dapat dijangkau oleh indera penglihatannya.


Masih dalam posisi berbaring, Garda celingukan mencari makhluk-makhluk penghuni rumah ini. Sepertinya mustahil sekali bila dirinya hanya seorang diri di sini.


Garda masih ingat tentang awal keberadaannya di sini. Walau ada ingatannya yang terputus. Mungkin tadi dia sempat pingsan. Jadi, bagian itu tidak bisa tersimpan dengan baik dalam memori otaknya. Menghela nafas panjang.


Dengan enggan Garda bangkit dari posisi berbaringnya menjadi duduk. Kedua kakinya menyentuh lantai. Sedangkan kedua tangannya berada di sisi tubuh menyentuh sofa.


Mengedarkan pandangannya menyisir setiap sudut ruangan. Hingga tatapannya tidak sengaja jatuh pada sebuah foto yang menempel di dinding. Tidak terlalu besar juga tidak kecil ukuran foto itu.


Garda bangkit berdiri untuk melihat dengan jelas foto apakah itu. Hanya sebuah foto sekumpulan anak remaja lelaki berseragam putih abu-abu. Tidak rapi dan terkesan urakan. Sangat tidak mencerminkan murid sekolah yang baik dan taat aturan.


Dalam foto itu terlihat, tiga pemuda tanggung berjongkok, berjajar saling merangkul. Di belakang mereka, seorang bertubuh tinggi terlalu tinggi dan tubuhnya gempal, kulitnya yang paling gelap di antara yang lainnya. Dia sedang berdiri di tengah, diapit dua sepeda motor yang bisa dikatakan tidak terlalu bagus, juga tidak jelek. Dengan posisi menyamping bersandar pada salah satu motor di sisinya.


Sepeda motor di sisi kiri cowok berkulit gelap itu, diduduki oleh dua orang pemuda seusianya. Tapi... bukan hanya mereka, melainkan semua pemuda yang ada dalam foto memiliki usia yang sama. Mungkin hanya berbeda bulannya saja. Satu duduk di depan pegang stang motor, satunya lagi duduk di jok belakang sambil tersenyum dengan kepala dimajukan ke depan.


Sedangkan sepeda motor satunya lagi. Juga diduduki oleh dua pemuda. Satu di belakang dengan ekspresi konyol. Dan yang paling depan, sebelah tangannya memegang stang motor, satu tangannya yang lain menjepit sebatang rokok yang menyala menggunakan jari telunjuk dan jari tengah.


Garda sempat mengagumi sosok pemuda tanggung itu, yang terbilang paling keren dibandingkan dengan yang lainnya. Juga paling tampan karena kulitnya yang paling putih dari pada yang lainnya. Apalagi kemeja putihnya dibalut dengan jaket coklat susu. Persis sama dengan jaketnya yang dulu pernah dimiliki saat....


Eh, tunggu! Garda mengerutkan keningnya, mengenali siapa sosok itu.


Ini kan aku?!


*


Hai readers... maaf ya niatnya episode ini mau di update bareng dengan episode kemarin. Untuk memenuhi permintaan readers ingin double up. Berhubung belum kelar jadi menyusul sekarang. Jadi lain kali aja deh ya author usahakan.


Oke, jangan lupa tinggalkan jejak manis dan manja kalian ya....


See you next episode...😘🥰♥️

__ADS_1


__ADS_2