
"Tolong berhenti di sini aja." pinta Qameella memecah keheningan saat mobil yang ditumpanginya bersama Garda dan seorang teman Garda, bernama Ryan tiba di depan pos satpam gerbang menuju kompleks perumahan XX. Kompleks perumahan kelas menengah, tempat dimana rumah Qameella berada.
Setelah bermalam berdua dengan Garda di tempat yang asing. Akhirnya mereka dijemput oleh Ryan, sahabat Garda yang juga teman satu mejanya. Kemarin malam mereka terjebak di tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Sesudah menyelesaikan urusan di kantor RT setempat, lantaran Qameella dan Garda dituduh melakukan perbuatan mesum di pos ronda yang mereka singgahi untuk tidur sambil menunggu pagi diperbolehkan pulang. Ketika baru membuka mata Qameella dikejutkan dengan kedatangan warga yang menggerebeknya bersama Garda. Kemudian mereka dibawa ke kantor RT untuk disidang.
Selama perjalanan hanya Garda dan Ryan yang terlibat percakapan. Sementara Qameella hanya diam dengan tampang dingin dan ekspresi wajah datarnya. Sesungguhnya apa yang terlihat di luar dan apa yang dirasakan di dalam hati gadis bernama lengkap Qameella Aulia Rahmah sangat berbeda. Di balik sikapnya yang tenang ada kegelisahan yang sedang berkecamuk di dalam sanubarinya. Entah apa yang sedang dirasakannya, hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.
Ryan yang duduk di belakang kemudi langsung menghentikan laju mobilnya. Garda menoleh ke arah Qameella yang duduk di kursi penumpang di belakang sopir.
"Yakin lo mau turun di sini?" tanya Garda memastikan.
"Iya. Rumah gue udah dekat kok. Jadi, gak perlu kalian antar lagi." sahutnya dingin. Qameella bergerak membuka pintu hendak keluar.
"Gue gak peduli rumah lo mau jauh atau dekat." sanggah Garda dingin.
Qameella menghentikan aktifitasnya, segera menoleh ke sumber suara.
"Yah... seenggak-nggaknya elo ajak gue mampir ke rumah lo. Minimal tawarin gue minum gitu."
"Owh!" Qameella tidak berbicara hanya diam seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Kok cuma 'owh' doang?" Garda mengerutkan dahinya tidak senang dengan ekspresi yang ditunjukkan gadis itu. Dia memutar tubuhnya menyamping menghadap Ryan. Pun kepalanya memutar menghadap Qameella. "emangnya elo..."
__ADS_1
"Sori, gue gak bisa ajak kalian mampir ke rumah gue. Karena gue gak pernah ngajak orang asing datang ke rumah." sahut Qameella cepat memotong ucapan Garda. Setelah itu dia membuka pintu mobil, beranjak keluar dan menutup kembali pintu mobil milik Ryan. Dengan cueknya dia pergi tanpa permisi.
Garda dan Ryan dibuat heran dengan sikap angkuh Qameella. Mereka menatap kepergian gadis itu sampai punggungnya hilang menjauh masuk ke dalam blok.
"Busyet dah! Tuh cewek angkuh banget. Pergi selonong boy aja." keluh Ryan sambil menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Iya. Gue baru nemuin cewek dingin kaya dia. Dan baru kali ini gue ngerasa ditolak sama seorang cewek." timpal Garda merasa harga dirinya sebagai cowok playboy terluka.
"Hahahah." Ryan tertawa geli melihat tampang kecewa sang sahabat yang selama ini terkenal flamboyan.
"Diam lo, Bambang!" sergah Garda sewot.
Dalam sejarah hidup Garda yang selalu menjadi idola para cewek, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Tidak ada istilah kata ditolak atau diabaikan oleh cewek mana pun. Dia yang biasa digilai dan menjadi rebutan para cewek tentu saja sangat syok dengan sikap dingin dan cuek gadis yang baru saja dikenalnya. Bukan tanpa alasan. Pasalnya hal itu telah mencederai citra playboy-nya yang selama ini dibanggakan. Sudah dapat dipastikan bertemu dengan cewek kalem, dingin, dan cuek seperti Qameella adalah untuk yang pertama kalinya. Seakan jiwanya tertantang untuk menaklukkan hati sang gadis.
*
Qameella mengeluarkan kunci dari dalam tasnya setelah melihat pintu gerbang rumahnya masih tergembok rapat. Semalam Qarmitha menginap di rumah temannya. Mama dan Ayahnya masih menginap di rumah nenek yang sedang sakit, lusa mereka baru akan kembali.
Gadis itu langsung merebahkan diri di atas kasurnya yang empuk. Tubuhnya terasa lelah, kaku, seakan mau patah setelah semalaman tidur di dalam pos ronda dengan posisi duduk bersandar. Gara-gara bocah tengik yang wajahnya sangat mirip dengan Rega, cowok incarannya sejak SMP. Namun sampai kini tidak ada seujung kuku pun keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya pada Rega. Jadi, sampai detik ini dia hanya menjadi pengagum rahasia saja.
Sudah pukul sepuluh pagi. Untunglah hari ini hari minggu. Qameella tidak perlu khawatir mengurus aktifitas sekolahnya. Dia cukup santai hari ini selama kedua orang tua dan Qarmitha tidak ada di rumah. Kali ini dia ingin menikmati paginya dengan berleha-leha ria dulu. Meluruskan tulang punggungnya yang terasa bengkok.
__ADS_1
Mendadak Qameella teringat dengan sosok cowok yang merupakan duplikatnya Rega. Dia mencoba membandingkan Rega dengan cowok itu. Meskipun secara fisik hampir 90% memiliki kemiripan. Tetapi dari segi penampilan dan sikap sangat jauh berbeda. Selama ini yang dia tahu Rega adalah tipikal cowok yang kalem, pendiam, suka senyum, peramah, dan sopan. Jauh sangat berbeda dengan cowok yang dari semalam hingga beberapa menit yang lalu bersamanya. Rame, cerewet, suka senyum juga agak peramah, namun urakan. Bagaikan satu mata uang yang memiliki dua sisi yang berbeda. Mungkinkah cowok itu bukan Rega? Atau malah sisi lain dari kepribadian Rega yang sesungguhnya? Huh... jawabannya Meella gak tahu.
Qameella merubah posisinya dengan memiringkan tubuhnya. Tiba-tiba seutas kalung rantai emas putih dengan liontin persegi panjang, terulur dari lehernya jenjangnya. Netranya langsung menangkap benda asing yang biasa digunakan sebagai aksesoris cowok itu. Tangan kanannya mengambil liontin yang teronggok di atas kasurnya, dan masih terkait dengan kalung yang menggantung di lehernya.
"Garda." ucapnya lirih membaca ukiran yang terdapat pada liontin itu. Dia terdiam sejenak mengingat nama lengkap Rega. "Rega Garda Negara." masuk akal bila kalung itu bertuliskan nama itu, merupakan bagian dari namanya. Tetapi mengapa bukan Rega aja. Dia kan dipanggil Rega. pikirnya tidak mendapatkan titik temu.
Flashback On
Lima jam yang lalu. Qameella yang baru saja bangun tidur, tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah jaket menutupi bagian depan tubuhnya. Belum hilang rasa terkejutnya, dia kembali dikejutkan dengan kehadiran lima orang bapak-bapak, merupakan warga setempat dengan tatapan tajam. Mereka berdiri tepat di depan pos ronda yang sedang ditempatinya. Sontak gadis itu meringkuk ketakutan. Namun ada sesuatu yang berat menimpa pahanya. Rupanya cowok yang mirip Rega itu tengah tertidur pulas berbantalkan pahanya sambil meringkuk dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Qameella dan Garda digiring ke kantor RT untuk diadili. Keduanya dianggap telah berbuat mesum di pos ronda di lingkungan warga. Mereka menganggap perbuatan kedua remaja itu telah mencemari lingkungan. Dan memberi dosa zina kepada warga.
Kedua remaja kelas XI dari SMA yang berbeda itu sudah berkali-kali membantah tuduhan mereka. Tetapi karena posisi tidur mereka yang berdekatan, maka tidak ada yang percaya. Mereka pun tidak bisa mentolerir perbuatan mereka. Alhasil mereka dinikahkan di kantor RT.
Flashback Off
"Hufhh!" Qameella menghela nafas berat. "Nikah, gue udah nikah? Heh, siapa yang percaya. Mendingan gue tutup mulut aja. Anggap aja gak ada yang terjadi." gumamnya sambil melepaskan kalung itu dari lehernya. Lalu disimpan di dalam laci nakas di samping tempat tidurnya.
*****
🙋 Hai readers... akhirnya author bisa update lagi. Tapi 🙏 maaf ya updatenya kelamaan. Semoga ceritanya dapat menghibur... 🤗✌️
__ADS_1
Happy reading.... 🥰🥰🥰