
Happy reading
Meella menggigit bibir bawahnya kuat. Kemudian memalingkan wajahnya ke samping seraya sebelah tangannya menutup kedua matanya, agar laju air matanya tak terlihat siapa pun. Namun dia tidak bisa menutupi tubuhnya yang bergetar karena tangis yang memilukan. Hatinya terluka lagi dengan ucapan Gusti. Walau sudah yakin merasa terlalu biasa menerima kalimat tidak menyenangkan hingga mengklaim sudah kebal. Faktanya rasa sakit itu tetap terasa menggigit dan membuatnya berdarah tapi tak terlihat.
Maryam memeluk tubuh Meella. Mengucapkan kata-kata sayang pada sang putri. Dia pun menyesal kenapa tidak dari dulu membela Meella dengan terang-terangan acap kali Gusti merundungnya. Ibu macam apa ia yang tidak bisa membahagiakan putrinya. Sementara putri yang lainnya begitu bebas menjalani hari-harinya.
Mitha pun berurai air mata. Ikut merasakan kepedihan yang dialami Meella. Dia merasa sangat bersalah padanya. Karena hampir tidak pernah melakukan apa pun untuk saudaranya itu. Selama ini dia hanya sibuk dengan dunianya. Tanpa memperhatikan bagaimana tersiksanya batin Meella menjalani hari-harinya di bawah tekanan sang Ayah. Bahkan beberapa kali dia merebut kebahagiaan Meella. Sungguh, begitu jahat dan egoisnya ia pada saudara kembarnya sendiri.
*
Pagi-pagi sekali Meella sudah mengemasi barang-barangnya yang tidak seberapa ke dalam tas. Karena hari ini dia sudah bisa keluar dari rumah sakit. Baju pasien yang sejak kemarin dipakainya sudah ditanggalkan, dan dilipat rapi di atas kasur.
Langkahnya melaju pasti melewati setiap lorong rumah sakit ini. Meella sempat terkejut melihat Rega sudah menunggu di depan pintu rumah sakit. Bukan bermaksud apa-apa. Dia hanya ingin mengantar kakak iparnya itu pergi ke stasiun kereta. Rencananya pagi ini Meella akan bertolak ke daerah Jogja. Tempat asing yang tidak ada sanak saudara, sahabat atau orang yang dikenalnya. Dia pun belum tahu akan tinggal di mana selama tinggal di sana. Baginya, yang terpenting saat ini bisa pergi meninggalkan kota ini. Kota berjuta kenangan dengan suka dukanya.
Rega merupakan satu-satunya orang yang tahu akan rencananya ini. Karena saat itu Rega menanyakan rencana Meella selanjutnya pasca operasi pengguguran kandungan palsunya. Ya, Meella memang meminta tolong pada pria itu terkait sandiwaranya agar bisa lepas dari Garda. Serta membebaskan keluarganya dari bayang-bayang ancaman Andika.
"Makasih," ujar Meella tulus saat mobil baru berhenti di area parkir stasiun kereta. Setelah sebelumnya hening tanpa interaksi apa pun di antara Meella dan Rega, tentu ini merupakan kata pertama yang diucapkan Meella berhasil memecah keheningan.
"Nggak perlu sungkan. Kita sudah menjadi saudara ipar. Sudah selayaknya aku mengantar kakak iparku, bukan?" sahut Rega dengan senyum yang begitu mirip dengan Garda. Ah, sudah pasti mirip karena mereka kembar.
"Gak perlu mengantar, biar aku aja jalan sendiri," cegahnya saat Rega hendak beranjak turun.
Ingin sekali Rega bertanya 'kenapa?' pada wanita hamil di sampingnya ini. Penasaran alasan apa yang melatarbelakangi.
"Jika kamu turun dan mengantar aku sampai dalam, aku takut. Aku takut tekad aku untuk pergi akan goyah," seperti tahu isi kepala lawan bicaranya, Meella langsung menjawab. Lalu menjeda ucapannya dan menghela napas lelah.
"Bagaimana pun wajah kamu akan selalu mengingatkan aku dengan Garda. Aku takut hilang kendali, lalu memeluk kamu karena pikiran aku yang menganggap kamu adalah dia," lanjutnya seraya menundukkan wajahnya. Memainkan jari-jarinya di atas pangkuannya untuk menghilangkan gugup yang sedari dulu tidak pernah hilang bila berada di dekat lelaki ini.
Rega kecewa dengan penuturan ibu hamil di sampingnya. Hingga dia hanya bisa menelan sebaris kalimat yang ingin diucapkan. Bagaimanapun perasaannya tidak pernah berubah pada wanita muda itu. Walau sudah lama perasaan itu tertimbun oleh waktu. Tetap saja jika berhadapan dengan orang yang dimaksud masih mengundang getaran aneh di dasar hati. Mungkin inilah alasannya mengambil keputusan gila, menikahi Mitha tanpa perasaan apa pun. Hanya sebatas penghibur dan pengobat rindu akan perasaannya yang tidak sampai.
Alhasil, Rega hanya bisa mencengkeram gagang setir mobilnya erat sebagai pelampiasan. Kemudian saat menoleh ke samping tempat tadi Meella duduk di sebelahnya. Rupanya kursi penumpang itu sudah kosong. Entah kapan perempuan itu keluar. Tiba-tiba hilang begitu saja bagai kapas yang tertiup angin.
Buru-buru Rega keluar dari mobilnya hendak mengejar perempuan yang diam-diam dikaguminya sejak bangku SMA. Lagi, dia kembali kecewa, karena tidak menemukan Meella di tengah hiruk pikuk para calon penumpang kereta.
Dalam hati dia berharap bisa mengucapkan selamat tinggal padanya. Juga bila boleh ingin memeluknya untuk pertama dan terakhir kali.
__ADS_1
Seorang gadis yang sangat pendiam. Selalu mencuri-curi pandang saat di dalam ruang perpustakaan.
Dia yang tidak pernah berbicara panjang lebar. Hanya lebih banyak diam dan menjadi pendengar juga penonton setia.
Dia yang diam-diam membuatnya tersenyum hanya melihat polah malu dengan wajah sedikit merona.
Dan dia yang pernah membuatnya patah hati, saat melihat saudara kembarnya mencumbu gadis yang disukainya, di koridor sekolah setelah acara turnamen di sekolahnya selesai.
Kenapa penyesalan selalu datang terlambat lambat. Kenapa dulu dia begitu pengecut untuk mengakui perasaannya pada gadis berkacamata minus itu. Kendati dia tahu si gadis tidak akan pernah mau mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Tapi bodohnya ia, selalu menunggu hal itu terjadi. Hanya bisa saling mengerti akan perasaan masing-masing dari tatapan mata yang acap kali tidak sengaja bertemu.
*
Sejak sepulang dari pasar setelah subuh tadi. Gusti masih berkutat di dapur meracik bumbu. Juga memasak beberapa masakan dengan penuh semangat.
Bukan bermaksud menciptakan menu baru untuk menambah daftar menu di kedai sederhananya. Tetapi dia sedang membuat makanan untuk putrinya yang sedang di rumah sakit. Sayang sekali putri yang dimaksud bukan Mitha. Melainkan Meella.
Semalaman Gusti sudah merenungi semua ucapan dan sikapnya pada Meella selama ini. Tidak ada yang baik sebagai bentuk hubungan antara Ayah dan anak. Maka dari itu, pagi ini dia sudah menyusun rencana untuk memperbaiki hubungannya dengan sang putri. Berawal dengan membuatkan makanan kesukaan yang Gusti sendiri tidak yakin apa makanan kesukaan putri yang sering diabaikannya itu. Dia hanya berharap masakannya enak dan dapat disukai Meella.
Gusti senyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi wajah Meella yang menyukai masakannya. Lalu memujinya sambil memberikan pelukan hangat. Pelukan yang entah kapan mereka berpelukan sebagai Ayah dan anak. Sepertinya sudah terlalu lama hingga memori kepala tuanya sudah tidak bisa mengingatnya lagi.
"Ayah, ngapain masih pagi buta sudah di dapur?" tegur Maryam memergoki suaminya yang masih berkutat dengan saksi dan wajan penggorengan.
"Biasanya juga nunggu Mama yang buatin sarapan," sindirnya membuat Gusti mengalihkan pandangannya pada wanita yang kini berdiri di sampingnya. Menghidu aroma masakan di dalam wajan.
"Ayah lagi buat makanan buat Lala, Ma," sahut Gusti kembali memfokuskan perhatiannya pada wajan di hadapannya.
Maryam mengernyit heran. Tidak biasanya pria di sampingnya ini begitu perhatian pada Meella. Lantaran terlalu abai pada putrinya yang satu itu. Hingga sempat berpikir dia telah salah mendengar.
"Ayah gak ingat masakan kesukaan Lala apa. Tapi Ayah harap Lala suka dan makan lahap masakan Ayah ini," senyum tulus berkembang di sudut bibir Gusti.
Maryam tertegun mendengar pertanyaan sang suami. Mungkinkah suaminya kesambet setan pasar? Sampai berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini.
"Mama pasti bingung dengan sikap Ayah ini," ujarnya menerka isi kepala istrinya. Yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Ayah mau memperbaiki hubungan kami. Karena Ayah sadar, selama ini Ayah udah sangat keterlaluan," Gusti terdiam dengan wajah sendu. Tetapi tatapan matanya tidak lepas dari wajan di hadapannya.
__ADS_1
"Ayah," suara Maryam bergetar sambil menyentuh bahu Gusti.
Mendadak Gusti merubah ekspresi wajah menjadi ceria dengan senyum cerahnya. Mengalihkan pandangannya pada wajah wanita yang selalu setia menemaninya dalam suka maupun duka. Belahan jiwanya yang selalu mengerti akan dirinya.
"Doakan agar usaha Ayah ini berhasil ya, Ma," pintanya meraih tangan sang istri.
"Amin," hanya itu yang bisa Maryam ucapkan untuk mendukung usaha Gusti. Air matanya menetes dari pelupuk matanya
*
Seikat bunga mawar merah tergenggam erat di jemari kokoh Garda. Langkahnya pasti dan lebar menapaki setiap lorong rumah sakit yang dilaluinya. Sesekali ia menghidu aroma wangi bunga di tangannya. Senyum lebar tidak henti-hentinya menyungging di ujung bibirnya. Membayangkan wajah Meella yang sangat dirindukannya.
Dia sengaja datang pagi ini ke rumah sakit untuk menjenguk, sekalian menjemput pulang Meella. Pasalnya dia tahu pagi ini wanitanya sudah diizinkan pulang. Melalui informasi dari asisten pribadinya, Dandi.
Namun sang asisten belum mengabarkan tentang Meella yang sudah keluar dari rumah sakit satu jam lalu. Hingga dia dibuat membeku saat mendapati ruangan yang kemarin ditempati Meella sudah kosong juga rapi.
"Sus, pasien yang kemarin di ruangan ini, mana ya?" tanya Garda dengan panik.
"Oh, pasien atas nama nyonya Qameella ya, Mas?" Garda langsung mengangguk mengiyakan.
"Sudah pulang satu jam yang lalu," sahut wanita berseragam suster itu.
Bunga yang ada di tangannya jatuh seketika di lantai.
Bi, Bi.... kamu kenapa pergi gak nunggu aku datang dulu?
Bi... kamu dimana sekarang?
*
Hai readers... maaf baru update. Semoga cerita ini bisa menemani kalian bermalam Minggu ya...
Jangan lupa tinggalkan jejak cantik kalian ya...
See you next episode 😘🥰❤️🙏
__ADS_1