
Hai readers... author datang bawa update episode terbaru nih. Mohon maaf telat update soalnya author kemarin bingung banget karena bab sebelumnya masih direview, dan gak tahu kapan keluarnya. Mungkin muatan ceritanya terlalu berat jadi review nya lama deh. Dan Alhamdulillah udah lolos review hari ini.
Jangan lupa kasih author vote, karena sampai saat ini Lom ada yang vote lagi. Tinggal klik kotak bertuliskan vote di bawah deskripsi cover. Juga like n komentar positif author harapkan.
Stay at home and happy reading...
...****************...
Arah jarum jam menunjukkan pukul 10.10 malam. Gusti yang sedang sibuk menghitung pemasukan dan pengeluaran dalam pembukuan usaha rumah makannya di ruang tengah, tiba-tiba tersadar bahwa Qameella belum kembali sejak izin ke rumah Tari.
"Ma, Lala sudah pulang atau belum, ya?" tanya lelaki itu sambil menurunkan kacamata bacanya.
"Kayanya belum, Yah," sahut Maryam tidak yakin.
"Ya sudah, coba Mama hubungi nomor telepon Lala atau Tari. Suruh Lala cepat pulang. Tidak baik anak gadis malam-malam masih keluyuran di luar rumah. Apa kata tetangga nanti," Maryam langsung mengiyakan titah suaminya.
Wanita itu beranjak masuk ke dalam kamar tidurnya, mengambil ponselnya yang diletakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Setelahnya mengaktifkan ponsel, mencari nomor kontak Tari yang sengaja disimpan di dalam draf kontak ponselnya.
Tetapi setelah mendeal nomor kontak tersebut, hanya terdengar suara tunggu panjang, lalu diakhiri dengan suara merdu operator yang menginstruksikan untuk kembali menghubungi beberapa saat lagi.
*
Semua kesalahpahaman telah berakhir, setelah Qameella menceritakan tentang kondisi Tari terkini.
Hati Garda benar-benar sedih mendengar semua penjelasan Qameella. Rahangnya mengeras disertai gigi-giginya yang saling mengancing erat, menahan amarahnya yang ingin segera meledak. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih di atas kedua pahanya.
Dengan sekali ucap Garda menginstruksikan kepada semua anak buahnya untuk bergerak mencari keberadaan Dimas dimana pun. Walaupun dia bersembunyi di dalam lubang semut sekali pun, bocah tengik itu harus segera ditemukan.
Kini tinggallah Qameella dan Garda yang tersisa di dalam basecamp. Keduanya duduk bersisian di sofa panjang, namun ada celah kosong yang memberi jarak antara mereka. Rasa canggung menyergap hati Qameella.
"Uh, hmm... makasih ya, udah mau nolongin," ujarnya tergugu. Wajah Qameella tertunduk sembari memainkan jari-jarinya yang saling mengait di atas pangkuannya. "ehh... makasih banget udah mau bantuin buat cari Dimas. Tolong juga sampai'in makasih gue ke teman-teman lo yang lain. Dan makasih juga udah mau care sama Tari."
"Ehmh... maaf, tadi udah bikin rusak suasana. Dan maaf juga karena masalah tadi, gue... udah bikin cewek lo celaka," lanjutnya dengan menekan kata 'cewek lo'. Ada desiran aneh yang mengusik relung hatinya.
Garda tersenyum miring. Lalu memutar kepalanya menatap gadis di sebelahnya. Mengamati gerak tangan dan mimik wajah Qameella membuat hatinya tergelitik. Apalagi setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Huh, cuma gara-gara lihat gue duduk deketan sama Fiola, jadi dia pikir gue sama Fiola pacaran? Dasar cewek pencemburu. Tapi gue suka. Karena dengan begitu gue jadi tahu perasaannya sama gue.
Garda meletakkan ujung sikunya di atas sandaran sofa. Lalu menggunakan kepalan tangannya untuk menunjang kepalanya. Tatapan matanya hangat ditujukan kepada gadis kesayangannya. Segaris senyum tertarik di sudut bibirnya.
"Iya. El... maksudnya kamu emang selalu bikin rusak suasana," tutur cowok itu dengan tampang yang sangat serius. Qameella tersentak kaget, sontak memutar kepalanya menatap wajah Garda.
"Terutama suasana hati saya," lanjutnya dengan senyum khasnya. Desiran halus mendadak terasa menggelitik hati Qameella. Hingga terasa jungkir balik bak menaiki rollercoaster yang sedang melaju cepat, kemudian berputar dan naik turun menguji adrenalin.
Tatapan mata sepasang insan berbeda jenis kelamin itu tampak saling mengunci. Tidak berkedip mereka saling bertukar pandang. Terlihat jelas dari sorot mata keduanya yang menyiratkan rindu. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengatakannya.
Garda mengambil inisiatif sendiri. Memajukan wajahnya agar bisa mencium bibir Qameella. Dan Qameella tidak berusaha untuk menghindari. Cewek itu tampak hanyut terbawa suasana. Baru maju beberapa sentimeter tiba-tiba ponsel Qameella berbunyi nyaring, mengejutkan serta mengurungkan niat Garda. Dalam hati cowok itu merutuki kebodohannya.
Buru-buru Qameella mengambil ponselnya dari saku celana jeans-nya. Nama 'Thatha Qarmitha' muncul di layar ponselnya. Hatinya penuh tanda tanya. Langsung saja dia menyentuh ikon tombol berwarna hijau.
"Halo, La! Elo dimana?" suara Qarmitha di seberang sana terdengar tidak sabaran.
"Gue..."
"Elo lagi bareng Garda, ya?" sela Qarmitha tidak memberi kesempatan Qameella untuk menjawab.
Qameella terdiam membisu sejenak. Dia heran bagaimana Qarmitha tahu, bila dirinya saat ini sedang bersama Garda. Mungkinkah saudari kembarnya memiliki mata batin yang tidak diketahuinya?
"Siapa?" tanya Garda setengah berbisik seraya meraih lengan Qameella yang sedang menggenggam ponsel, dan menempelkannya di telinga. Hingga memaksa gadis itu menoleh sambil menurunkan ponselnya.
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban Qameella, dengan sengaja Garda menyentuh tombol load speaker. Agar dirinya bisa mendengar pembicaraan sepasang gadis kembar secara dua arah.
"La..." cicit Qarmitha menanti jawaban Qameella.
"Gue..."
"Meella lagi sama gue," suara Garda menginterupsi si empunya ponsel.
"Elo... siapa?" terdengar suara Qarmitha heran namun tidak membuatnya terkejut. "Garda?"
"Iya," jawabnya lugas, melirik Qameella yang sedang menatapnya dengan tatapan tidak terbaca.
"Sekarang dia lagi sama gue."
"Bagus!" Qarmitha lega. Dahi Qameella mengernyit heran. Lalu bertukar pandang dengan Garda dengan ekspresi penuh tanya.
"Di rumah ayah lagi nanyain elo terus, karena elo belum pulang sampai jam segini. Mama lagi sibuk nelponin Tari sedari tadi,"
"Hah! Ya ampun udah jam berapa ini?" Qameella kalangan kabut. Langsung melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Gawat! Hampir jam 11 malam!" serunya panik. "gimana ini?"
"Tenang Bi..."
"Gak bisa, gue harus pulang sekarang!" tukasnya beringsut dari tempat duduknya.
"Bi..." Garda menahan lengan Qameella.
"La... Lala..." suara Qarmitha berhasil menginterupsi.
"Apa?"
"Elo jangan panik. Di sini gue akan berpura-pura jadi elo. Gue pura-pura tidur di kamarnya lo," cetus Qarmitha. Ide ini sebenarnya pernah mereka lakukan saat SMP. Mereka bertukar posisi untuk mengelabui guru mereka.
"Udah, percaya sama gue. Lagian kita kan pernah ngelakuin hal ini dulu sewaktu kita masih SMP," Qarmitha mengingatkan. Qameella terhenyak dari pikirannya sendiri.
"Iya, tapi... gue gak yakin bisa berhasil," kilahnya tidak yakin.
"Serahin semua sama gue. Yang penting elo harus bisa berakting sesempurna mungkin di depan Ayah dan Mama. Jangan sampai elo buat kesalahan, oke?" Qameella terdiam, terharu dengan ide gila saudari kembarnya.
"Garda, gue titip saudari kembar gue. Awas lo kalo sampe lecet, gue cincang lo jadi tetelan!" pungkas Qarmitha, setelahnya memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
"Tha, Tha..." Qameella masih berharap suaranya masih bisa didengar sampai di ujung sana. Sayang, sambungan teleponnya sudah benar-benar terputus.
"Udah... percuma, kamu teriak-teriak sampai serak juga gak berguna. Mitha udah matiin teleponnya," ujar Garda mengingatkan.
Qameella mendengus berat.
"Ayo duduk!" seru Garda membawa Qameella duduk di sampingnya. Ditanggapi decakan kesal Qameella.
"Ihh, gue harus cepat pulang. Kalo gak ayah gue bakal ceramah sampai besok pagi," gadis itu hendak beranjak berdiri. Namun langsung dicegah Garda.
"Untuk apa buru-buru pulang? Mitha tadi kan bilang, dia yang akan memback up kamu. Lagian ada saya di sini. Saya tempat kamu pulang."
"Ngarang lo. Mana ada elo tempat gue pulang? Emangnya elo rumah apa? Aneh!"
Garda tersenyum ambigu.
"Saya emang rumah buat kamu, Bi... tempat pulang kamu. Karena..."
__ADS_1
"Gak mungkin!"
"Apanya yang gak mungkin. Kamu masih istri saya," ucap Garda membuat Qameella melongo.
"Salah. Gue bukan istri elo lagi. Kita udah putus. Kalung pemberian lo aja udah gue balikin. Itu tandanya kita udah gak ada hubungan," Qameella keukeh pada pendiriannya.
"Nggak, Bi... kita masih punya hubungan. Hubungan kita berdua gak sesederhana kaya orang pacaran. Kita lebih dari itu. Dan harus kamu tahu, hubungan kita gak bisa berakhir cuma bilang putus gitu aja...," tutur Garda lembut. Satu tangannya bebas menggenggam sebelah tangan Qameella. Tangan yang bebas dipergunakan untuk mengelus pipi gadis di hadapannya lembut dan penuh kasih sayang. Qameella merinding mendapat sentuhan Garda.
"Hubungan kita sakral, sayang. Hubungan yang terjalin untuk seumur hidup," lanjutnya dengan suara lebih lembut.
"Tapi, gu-gu-gue sukanya sama orang lain," Qameella berusaha berkilah. Tidak mau tenggelam dalam buaian ucapan Garda yang serasa menina Bobonya. Buru-buru Qameella menyingkirkan tangan Garda dari pipi dan tangannya. Beranjak berdiri lalu berjalan beberapa langkah menjauhi cowok itu.
"Elo udah tahu kan itu? Waktu itu gue udah terus terang sama elo. Lagian, kayanya elo udah bahagia tanpa gue. Elo punya banyak teman cewek yang bisa mengisi kekosongan di ruang hati lo," tambahnya sambil berdiri memunggungi. Tangannya saling mengait, dan bergerak-gerak gelisah.
Garda menatap punggung Qameella. Dia mengulum senyumnya. Menundukkan wajahnya sambil menghela napas pendek. Setelahnya berdiri, bergerak maju mendekati Qameella. Memeluk punggung gadisnya posesif. Qameella terjengit kaget. Berusaha menepis pelukan Garda.
"Siapa?" Garda berbisik di telinga Qameella. "siapa yang kamu sukai? Rega?" gadis itu terdiam sejenak, lalu mengangguk. Rasa sakit dan nyeri menyerang hatinya yang rapuh. Tetapi dia tidak boleh menunjukkan kerapuhannya.
Garda melepas pelukannya. Kemudian dia memutar tubuh Qameella agar saling berhadapan. Kedua tangannya memegang bahu Qameella. Sedikit membungkukkan badan mensejajarkan tinggi mereka.
"Tatap mata saya, Bi," titahnya tidak ingin dibantah. Gadis itu pun menurut. "tataplah! Apa wajah saya sama dengan orang yang kamu sukai?" refleks Qameella mengangguk. Seulas senyum kecil terbit di bibir Garda.
"Apa kamu pernah berpikir, setiap kali kamu lihat wajah saya, kamu seperti melihat wajah Rega?" cewek berkacamata minus itu mengangguk lagi. Senyum Garda terlihat melebar.
"Apa perasaan kamu sering kacau bila bertemu saya?" lagi-lagi Qameella mengangguk. Senyum cowok itu semakin lebar menyiratkan kemenangan.
"Jadi, kamu tahu apa artinya itu, Bi?" Qameella menggeleng tidak mengerti.
"Itu artinya kamu juga suka sama saya, Bi."
Deg! Degup jantung Qameella terasa berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Mana mungkin? Walaupun kalian berdua memiliki wajah yang sama, tetapi kalian punya kepribadian yang berbeda," Qameella tidak terima dengan kesimpulan Garda. "Rega tipe cowok yang kalem, tenang, dan sopan. Sedangkan elo, gragas, grusa-grusu, dan..." dengan cepat dia menggigit bibir bawahnya. Tidak berani melanjutkan kalimatnya.
"Dan?" Garda meminta penjelasan.
"Mesum," bisiknya tertunduk malu. Garda tergelak tidak tahan mendengar kejujuran Qameella yang terasa menggelitik hatinya.
"Mesum?" cicit Garda mengulangi. Melepaskan pegangan tangannya pada bahu Qameella.
"Iya, elo mesum. Suka seenaknya cium orang," ketus Qameella.
"Kalo lama-lama sama elo gue bisa kehilangan keperawanan," bisik Qameella yang masih bisa didengar oleh Garda.
"Saya gak separah itu, Bi. Saya juga punya batasan. Kecuali kalo kamu mau menyerahkan dengan sukarela akan memberikan keperjakaan saya sama kamu," seloroh Garda malah membuat Qameella geram.
"Ih, dasar mesum!" decaknya kesal seraya mendorong pelan dada Garda agar jarak antara mereka lebih jauh lagi.
"Oya, kenapa kita gak coba aja sekarang? Yah, sekalian mengecek kamu benar-benar perawan atau gak. Karena tadi kamu sempat ngomong hamil, kan?" cetus Garda iseng menggoda cewek kalem itu.
"Dasar cowok brengsek, mesum!" satu pukulan mendarat di lengan atas Garda. Membuat cowok itu mengaduh kesakitan. "elo pikir gue kelinci percobaan apa?" gadis itu terlihat sangat marah. "gue masih perawan, tahu?"
Garda terkekeh geli.
"Perawan? Jadi, ciuman waktu itu, ciuman pertama kamu, Bi?" Qameella terdiam membeku. Garda tersenyum girang atas keberuntungannya.
*
Maryam membuka pintu kamar Qameella, setelah sebelumnya menelepon Tari. Namun yang menerima Raffi, adiknya Tari. Karena gadis itu sedang tidur tidak bisa menjawab telepon.
__ADS_1
"Mbak Meella udah pulang Bude," ucap Raffi saat itu.
Wanita itu bernapas lega karena anak gadisnya sudah berada di dalam kamarnya. Bergelung dalam selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya. Dia hanya berdiri di ambang pintu, tidak masuk ke dalam. Setelah itu menutup pintu kembali, beranjak pergi memberi laporan kepada Gusti.