Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#23


__ADS_3

Hai readers... author bawa cerita lanjutan kemarin. Maaf ya telat banget update-nya, maklum bulan puasa, author auto banyak tidur karena harus bangun masak sahur dll dah...


Happy reading aja ya and enjoy...


*************************************


Perlahan tapi pasti Rombeng mengeluarkan semua isi dari dalam amplop yang Ryan bawa lembar demi lembar. Ada beberapa tumpukan tipis kertas HVS dengan deretan tulisan yang belum sempat Rombeng baca. Serta dua buah lembar foto berukuran post card. Dia dapat mengenali orang dalam foto tersebut karena memang wajahnya sudah sangat familiar.


"Rega? Ini foto Rega kan, Ling?" tanya Sonik meraih salah satu foto itu. Lalu menggantungnya di udara seraya menunjukkan pada Ryan.



Ryan mengangguk membenarkan.


"Iya."


Kemudian Buchek juga meraih foto lainnya, yang sudah tentu berparas sama dengan Rega.


"Yang ini juga, foto Rega juga, kan?" melakukan hal yang sama dengan Sonik.


Rombeng mengambil foto di tangan Sonik dan Buchek. Lalu meletakkan kasar di atas meja.


"Ngapain elo bawa foto si Rega, terus elo nunjukin ke kita, hah?"



Ryan tidak menjawab. Dia hanya mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jasnya. Setelahnya mengambil sebatang, melemparkan sisanya yang masih terbungkus rapi dalam bungkusnya di atas pelan.


Dilanjutkan mengambil pemantik api dari saku lainnya. Tanpa berbicara sepatah kata pun, langsung menyalakan rokoknya. Lalu menghisapnya perlahan. Begitu pula saat menghembuskan asapnya.


"Ada apa nih? Elo lagi kangen sama dia (Garda)?"


Ryan hanya nyengir santai seraya membuang abu rokok ke dalam asbak.


"Iya," sahut Ryan pada akhirnya.


Serta merta Rombeng, Buchek dan Sonik mencebik meremehkan kompak.


"Ck, gaya lo spa banget, Ling..., Ling...," decak Sonik mengeluhkan sikap Ryan.


Tanpa di sangka ucapan Sonik dapat membangunkan macan yang sedang tidur. Mau tidak mau dia harus menerima konsekuensinya. Rombeng dan Buchek juga ketiban pulung akibat ulahnya.


Plak! Plak! Plak!


Tanpa ba-bi-bu Ryan langsung mengeplak kepala Sonik, Rombeng dan Buchek dengan kertas-kerta yang didapatnya dari atas meja.


Mereka yang tidak sempat ngeles hanya bisa pasrah menerima keadaan. Lalu mengusap kepala masing-masing nyaris bersamaan.


"Busyet dah, macan ngamuk!" gumam Buchek masih mengelus kepalanya.


"Lah, elo kok jadi mukul kepala kita-kita pada, Ling?" protes Rombeng tidak terima dengan sikap Ryan. Mengelus kepalanya yang terasa sedikit oleng.


"Itu, pelajaran buat elo-elo juga elo," jari telunjuk Ryan mengacung tepat di depan hidung Rombeng, Buchek dan Sonik secara bergantian.


Ketiga pemuda itu hanya mengerutkan kening masing-masing, masih belum faham maksud Ryan. Lalu saling melempar pandang dengan ekspresi bingung.


"Dari dulu kagak pinter-pinter elo pada. Masa dari dua foto ini elo-elo pada kagak peka sama sekali? Geblek lo pada!"

__ADS_1


"Gue bukannya kagak peka, Keling. Tapi, emang orang yang ada dalam foto, juga orang yang sama mau gimana lagi?" sanggah Rombeng.


Buchek dan Sonik menganggukkan kepalanya kompak.


"Emang dasar geblek! Orang yang ada di foto emang sama persis. Tapi beda orang bege! Karena mereka berdua kembar," Ryan berusaha menjelaskan seraya menunjuk foto-foto itu.


"Hah?!"


"Jadi?"


"Maksud lo?"


Ketiga pemuda itu berucap hampir tak ada jeda. Mereka ingin mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya masing-masing. Langsung celingak-celinguk tidak tahu harus berkata apa.


"Elo-elo selain geblek ternyata pada gak sabaran, ya? Ngomong bukannya satu-satu malah pada rebutan."


Ryan menghela napas panjang.


"Ya udah, gini aja. Kalo pun gue ngomong begini-begitu lo pada gak bakalan langsung faham. Mending sekarang elo dengerin gue baik-baik."


"Oke dah, gue dengerin," sahut Buchek yang langsung diangguki Rombeng dan Sonik.


Sebelum membuka mulut Ryan sempatkan menatap wajah ketiga sahabatnya itu, satu per satu yang tampak mulai menegang. Lalu menarik napas panjang, dihembuskannya perlahan.


"Sebenarnya foto itu diambil secara diam-diam oleh orang suruhan gue," tuturnya jujur.


Sebetulnya di antara Sonik dan Buchek ada yang ingin menyela ucapan Ryan. Namun dihalangi oleh Rombeng dengan suara yang amat pelan, nyaris tanpa suara.


"Seperti yang gue bilang tadi, kalo orang yang ada dalam foto itu orang berbeda tapi wajah nyaris sama. Atau kata lain kembar. Yang ini foto Rega, dan ini foto Garda," ungkap Ryan sambil menunjuk foto itu.


"Ma-mak-sud lo... Garda...." suara Rombeng terbata dan terasa tercekat ditenggorokkan.


"Iya, gue tahu. Bahkan sampai sekarang kuburannya masih ada di pemakaman umum," tukas Ryan membenarkan.


"Kalo elo udah tahu, jadi sekarang elo lagi halu?" selidik Buchek.


"Gue gak halu. Tapi ini faktanya. Fakta yang harus kita terima, kalo Garda masih hidup. Karena gue udah ketemu sama dia langsung, face to face," tekan Ryan tegas. "Garda kemungkinan amnesia akibat kecelakaan waktu itu," lanjutnya murung saat mengingat sikap Garda yang terasa asing padanya.


Rombeng, Buchek dan Sonik masih ragu dengan penjelasan Ryan. Pasalnya saat acara pemakaman Garda, mereka semua ikut menghadiri dan melihat bagaimana tubuh Garda masuk ke dalam liang lahad.


"Elo yakin kalo itu Bro kita, Ling?" telisik Sonik.


"Banget! 1000% malah. Dan gue tahu dalang dibalik semua ini," Ryan memasang wajah seriusnya.


"Siapa?"


"Om Andika," jawabnya lugas. Tentu saja tebakan Ryan tidak meleset karena sejak Andika tahu hubungan Garda dan Meella, pria itu bekerja sangat keras sekali untuk memisahkan dua insan yang sedang dimabuk asmara itu. Bahkan dia rela memalsukan identitas Garda.


*


Pagi ini Qameella dikejutkan dengan kedatangan Mirza tepat di depan pintu kontrakannya. Sepasang netra dua manusia berlainan jenis itu bersirobok, tanpa kedip untuk per sekian detik.


"Mirza? Kamu datang..." Qameella yang sudah tampak rapi dan siap berangkat ke kantor, tertegun di ambang pintu, dan tangan kirinya masih mencengkeram gagang pintu.


Dengan santainya Mirza menyunggingkan senyum menawan seraya mengangkat keresek putih ke udara.


"Kita sarapan bersama?"

__ADS_1


Qameella tidak bisa menolak atau pun mengusir pria itu, calon suaminya. Mau tidak mau mempersilahkan masuk.


Mirza langsung mengeluarkan isi dari keresek putih yang dibawanya, setelah masuk dan duduk di kursi ruang tamu minimalis milik Qameella.


"Aku sengaja berangkat pagi-pagi dari rumah tanpa sarapan. Karena aku ingin sarapan bersama dengan calon istriku," pria itu menatap Qameella dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


"Ehemm, uhuk!" Qameella berusaha bersikap sewajarnya agar tidak mengecewakan Mirza. Kendati dalam hati sosok pria itu masih asing dan sulit menerimanya.


"Biar aku ambil piring dan sendok di dapur," ujarnya beranjak berdiri.


Mirza mengangguk setuju.


"Kamu mau dibuatin minum apa, biar sekalian ke dapur," Qameella mencoba menawarkan jasa walau terasa kaku juga tidak percaya diri.


"Aku suka minum kopi."


"Oh, biar aku beli dulu di warung," gadis itu sadar tidak memiliki persediaan seperti yang diminta Mirza. Pasalnya dia tidak suka minum kopi. Dia hendak bergerak keluar.


Tiba-tiba Mirza meraih tangan kiri Qameella. Kontan menghentikan langkah gadis itu.


"Beli ke warung?" ekspresi wajah Mirza terlihat berubah dengan dahi berkerut.


"Iya, karena aku gak punya kopi," sahutnya jujur. "aku gak pernah ngopi."


"Ya sudah, gak usah. Buatkan aku air hangat saja, itu sudah cukup," secepat kilat ekspresi wajah Mirza berubah cerah.


Qameella tertegun mendengar permintaan Mirza yang begitu sederhana. Tetapi dia tidak berniat untuk membantah atau menawarkan pilihan lain.


"Baik, tunggu sebentar," ujarnya.


Namun saat hendak beranjak ke dapur, Qameella baru sadar bahwa tangan Mirza masih menggenggam tangannya. Hingga menyulitkannya untuk bergerak bebas.


"Ehemm... tangannya bisa dikondisikan sebentar gak? Soalnya aku mau ke dapur," Qameella tidak bisa berbicara terlalu gamblang dengan Mirza.


Mirza langsung melepaskan tangannya setelah sadar, jika tangannya masih memegang tangan Qameella.


"Oh, sori gak sengaja," ungkapnya canggung.


Qameella langsung beranjak ke dapur mengambil semua keperluan yang dibutuhkan, termasuk air hangat permintaan Mirza.


"Kok cuma satu sih?" tegur Mirza saat melihat perlengkapan makan yang dibawa Qameella di atas meja.


"Aku udah sarapan tadi, sebelum kamu datang," jawab Qameella tidak mengada-ada. Karena memang kenyataannya dia baru saja selesai sarapan.


Wajah Mirza mendadak murung.


"Wah, sayang banget bubur yang aku bawa bakalan mubazir, kalo gak ada yang makan. Apalagi bubur ini rasanya enak banget," Mirza memang tidak meminta langsung pada Qameella untuk mencicipi bubur yang dibawanya. Namun gadis itu cukup cerdas dapat memahami maksud dari kata-katanya.


"Ya udah, disimpan aja dulu. Nanti aku bawa ke kantor biar gak mubazir," dengan gaya yang tidak luwes Qameella berusaha menghibur.


"Oke. Tapi jangan lupa dimakan ya," wajah Mirza terlihat semringah.


Qameella tersenyum kaku. Dalam hati dia tidak akan memakannya karena perutnya masih kenyang. Dia pun tidak mungkin memaksakan diri untuk memakannya. Bisa-bisa dia akan sakit perut. Mungkin dia akan menghibahkan pada teman kantornya yang belum sarapan. Lumayan sedekah pagi untuk mendapatkan pahala dari Yang Maha Kuasa.


*


Bersambung dulu ya...

__ADS_1


See you next episode...


__ADS_2