
Happy reading...
************************************
Meella sengaja merahasiakan keberadaannya pada siapa pun. Nomor pribadinya untuk sementara di non aktifkan demi menyempurnakan persembunyiannya. Walau pun bersifat sementara tidak mengapa. Asalkan dapat menenangkan diri dengan jauh dari segala apa yang dapat memantik ketidaknyamanannya.
Tetapi Meella tidak bisa menghindari ketidaknyamanan yang ada di kantor barunya. Bagaimana tidak? Satu-satunya orang yang sangat dihindari dan ingin dijauhinya, malah jadi atasannya. Siapa lagi bila bukan Garda alias Pandega.
Ya, rupanya Meella dimutasi ke perusahaan pusat. Alih-alih ditempatkan di divisi perencanaan. Malah menjadi sekretaris pribadi Garda, menggantikan sekretaris lama yang entah mengapa mendadak resign.
Untunglah saat ini Garda bisa sangat profesional pada bidangnya juga urusan pribadinya. Hingga Meella tidak perlu was-was menjalankan tugasnya sebagai seorang sekretaris pribadi Garda. Walau pun pada hari pertama dan kedua Meella bekerja, Garda membuatnya tidak nyaman. Seakan mengintimidasi dengan memberikan pekerjaan yang banyak, serta masih mengulang pertanyaan-pertanyaan yang berputar pada peristiwa malam itu.
Alhasil, Garda tidak lagi melakukan hal yang sama. Karena Meella bersikeras membantah semua tuduhan itu. Serta tidak ada bukti kuat yang menunjukkan keterlibatannya. Pada akhirnya Garda tidak menyinggung hal itu lagi.
Setelah melewati semua berbagai macam dugaan dan konflik panas, hingga pernah terbersit dalam benak Meella untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Tetapi konsekuensi yang akan dihadapinya tidak mudah. Bisa saja berdampak pada keselamatan diri dan keluarganya. Kini, Meella dan Garda bisa menikmati hari-hari sebagai atasan terhadap bawahan. Meskipun sedikit canggung keduanya tetap menunjukkan sikap profesionalitasnya di kantor.
Hampir dua Minggu bekerja menjadi bawahan serta sering bertemu Garda setiap hari, Meella mulai membiasakan diri mengerjakan tugas hariannya. Selain mengurus agenda kerja, membuat laporan, sampai membuat kopi yang biasa sang bos minum. Tentu saja sesuai takaran dan cita rasa yang pas di lidahnya pula.
Seperti pagi ini. Setelah sang bos datang, tanpa diminta Meella langsung menyuguhkan secangkir kopi panas ke hadapan Garda. Ini adalah ritual yang wajib dilakukan sebelum bos-nya melakukan aktivitas di pagi hari.
"Apa agenda saya hari ini?" tanya Garda tanpa memandang orang yang diajaknya berbicara. Netra dan tangannya sibuk pada file yang sedang dibaca lembar demi lembar dengan cepat.
Meella langsung mengeluarkan buku sakunya dari dalam saku blazer yang dikenakannya.
"Pagi ini Bapak tidak ada jadwal keluar. Tapi Bapak ada agenda bertemu dengan Bapak Joseph dari Marine Company, di restoran barat sebelum jam makan siang. Dan sorenya, Bapak menyambut kedatangan Mr. Darwin dari Australia untuk menandatangani surat kesepakatan kerjasama dengan perusahaan kita," tutur Meella.
"Bagaimana dengan malam harinya? Apakah sudah tidak ada agenda lagi?" selidik Garda memastikan.
"Sepertinya tidak ada, Pak. Karena Bapak belum menyetujui, apakah mau hadir atau tidak dalam perjamuan itu?" sahut Meella sedikit ragu.
"Perjamuan?" Garda meminta penjelasan.
"Iya, Pak. Perjamuan makan malam dengan calon mertua Bapak di restoran Italia."
Garda menghela nafas berat. Entah mengapa bila mendengar kata 'calon mertua', ada rasa enggan yang sangat kuat di hatinya.
Setelah menutup file yang telah selesai ditandatangani, Garda menatap wajah polos sekretaris barunya.
Bukan tanpa make-up tapi gadis itu hanya memakai sedikit usapan bedak agar kulit wajahnya tidak terlalu pucat. Dan lipstik nude yang nyaris sama dengan warna bibirnya. Sementara mata dan alisnya bersembunyi di balik kacamata bening, tembus pandang.
Benar-benar tidak menarik sama sekali. Menatap wanita model seperti ini hanya akan merusak mood. Sangat tidak good looking!
"Ada lagi?" tanya Garda tidak sabar.
Meella mengangkat wajahnya. Tatapan matanya langsung bersirobok dengan netra coklat Garda. Sesaat dia terhanyut pada angannya tentang Garda. Namun dia segera berdehem menetralkan pikirannya agar kembali fokus pada pekerjaan.
"Eh... tadi saya dapat telepon dari asisten Nona Bianca, Pak," jawabnya jujur.
"Apa katanya?" wajah Garda tidak menunjukkan kesenangan tidak pula terlihat antusias. Ekspresi wajahnya tampak biasa saja.
"Katanya, Bapak diminta datang ke butik bridal XX, nanti jam sepuluh pagi ini. Untuk fitting baju di acara akad dan resepsi pernikahan Bapak dan Nona Bianca," tuturnya.
Garda mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu boleh keluar," titahnya yang langsung diiyakan oleh sekretaris barunya.
Meella kembali ke mejanya. Berjibaku dengan beberapa laporan yang harus dikerjakan secepatnya.
Garda menyentuh dadanya yang mendadak berdetak kencang saat berhadapan dengan Meella barusan. Entah mengapa dia selalu merasakan perasaan yang sangat akrab antara dirinya dan Meella.
Tidak hanya hari ini dia merasakan keanehan ini. Tapi sejak awal pertama kali berjumpa dengannya. Dan terus berlanjut pada pertemuan berikutnya hingga saat ini.
Ada apa ini?
Sedangkan saat bersama Bianca hatinya biasa-biasa saja. Tidak ada perasaan istimewa atau yang lainnya.
Dunia memang penuh misteri!
*
Gusti duduk bersandar dengan dua bantal di punggung dan kepalanya. Wajahnya sengaja dimiringkan menghadap jendela kamarnya. Pandangan matanya menatap kosong ke luar jendela.
Sejak pulang dari rumah sakit, kegiatan Gusti tidak banyak. Hanya rebahan di kasur dan tidak banyak bicara. Dia hanya bicara jika diajak mengobrol oleh Maryam atau Mitha.
Dalam diamnya Gusti hanya memendam rasa rindu dan bersalahnya pada Meella. Hanya bisa berharap satu hari Meella pulang untuk menjenguknya. Kendati entah kapan hal itu akan terjadi. Dia akan terus berharap dalam doanya, putrinya itu akan pulang.
Sering Gusti menangis dalam kesendiriannya. Menyesali semua perbuatannya pada Meella. Begitu banyak kesedihan dan penderitaan yang dialami Meella karena ulahnya. Mungkinkah dosanya termaafkan?
"Ayah, waktunya minum obat," ujar Maryam pelan mengingatkan, menyadarkan Gusti dari lamunannya.
Gusti mengalihkan wajahnya pada wanita yang sudah dua puluh lima tahun mendampinginya. Baik dalam suka maupun duka. Dia tersenyum tipis melihat senyum tulus istrinya.
"Iya," sahutnya lemah.
"Hari ini Lala sudah bisa dihubungi, Ma?" tanya Gusti sendu.
"Belum, Yah..." jawab Maryam jujur sembari membantu menyeka sisa air di sudut bibir Gusti dengan selembar tisu.
Gusti mendesah resah seraya memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Sabar, Yah... mungkin Lala masih butuh waktu untuk memulihkan hatinya. Tidak mudah baginya menghadapi semua ini sendirian. Biarkan saja dulu seperti itu. Semoga setelah semuanya pulih, pasti Lala akan kembali pada kita lagi."
Hati Gusti sangat sedih. Saking sedihnya hingga keluar liquid bening dari ujung matanya.
Tidak ada yang bisa Maryam lakukan selain menghibur sang suami yang sedang sakit. Serta memberikan sentuhan lembut pada punggung tangannya.
"Ma... jika Ayah minta maaf, apakah Lala mau maafin Ayah tidak, ya?" tanya Gusti tiba-tiba. Angannya mengawang jauh, mengingat semua kesalahannya pada Meella.
"Pasti, dong... Lala anak yang baik, pasti dia mau memaafkan Ayahnya sendiri," jawab Maryam menghiburnya.
Gusti hanya tersenyum getir. Tidak yakin dengan jawaban istrinya. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamarnya.
*
Mitha meniup peluit panjang tanda jam olahraga yang diampunya berakhir. Semua muridnya yang memiliki giliran pelajaran olahraga pun langsung membubarkan diri. Setelah sebelumnya mendapat instruksi dari guru bidangnya.
Sambil menunggu murid dari kelas lain, yang juga memiliki jadwal pelajaran olahraga. Mitha duduk di bangku pinggir lapangan. Mengelap keringat yang keluar dari pori-pori wajahnya dengan handuk kecil. Kemudian meraih botol air minumnya. Menenggak air hingga hampir setengah botol.
__ADS_1
Sudah beberapa hari ini Mitha tidak seenergik biasanya. Semangat empat limanya mendadak memudar begitu saja. Mungkin akibat buntut dari masalah gagalnya pernikahan Meella dan Mirza. Lantaran bocah stress yang bernama Raisya.
Bocah stress! Begitulah kata Mitha bila teringat Raisya. Bagaimana mana tidak stress bila sudah menghancurkan impian kakaknya sendiri. Bocah waras mana yang tega menjebak calon istri kakaknya sendiri tidur dengan lelaki lain? Padahal calon istri kakaknya tidak pernah menyinggungnya.
Tidak lama berselang, murid-murid yang sudah lama ditunggunya tiba di lapangan. Tanpa membuang waktu lama, Mitha meniup peluitnya, tanda kegiatan olahraga saat ini telah dimulai.
Mitha kembali ke kantor guru setelah jam pelajaran olahraga berakhir. Dia melewati beberapa kubikel untuk sampai di kubikelnya sendiri.
"Hei Bu guru... mau jadi manten kok masih doyan kasih materi di lapangan sih? Gak takut nanti kulitnya jadi gosong? Terus, pas jadi pengantin gak pangling gitu?" entah sebuah nasehat atau ejekan pada Mitha. Ketika itu dia baru saja melewati kubikel Bu Ratna, wali kelas VII B.
Bu Ratna memang memiliki perangai yang ceplas-ceplos. Namun tidak pandai membaca situasi dan suasana hati orang lain.
"Benar itu! Apalagi hari 'H'-nya Bu Mitha kan tinggal seminggu lagi. Seharusnya ibu sudah dipingit sekarang. Luluran, maskeran, puasa juga penting Bu Mitha. Katanya biar pangling kalo jadi pengantin," timpal Bu Ambar kian membuat Mitha meradang.
Tetapi pengendalian diri Mitha cukup bagus. Mampu mengendalikan diri dan mengatur emosi.
"Oya, sudah mengajukan cuti belum ke kepala sekolah?" tegur Bu Ratna mengingatkan.
"Iya tuh, itu penting," sahut Bu Ambar.
Lidah mereka terlalu lemah gemulai dan fasih dalam gibah menggibah masalah orang lain.
Dengan perlahan Mitha membalikkan badannya menghadap kedua guru perempuan itu. Menampilkan senyum yang dibuat-buat.
"Tenang aja Bu Ratna juga Bu Ambar. Semuanya udah saya lakuin semua. Pengajuan cuti nikah sama kepala sekolah, luluran, maskeran juga udah. Jadi, ibu-ibu gak usah khawatir. Yah... cuma puasa aja yang nggak. Karena bukan puasa Ramadhan yang wajib saya lakuin."
Mitha sangat berharap tidak ada komentar lain setelah ini. Dia langsung memutar badannya kembali hendak ke kubikelnya. Tapi harapan patah saat Bu Ambar tiba-tiba menyinggung masalah Meella.
"Oya, gimana dengan pernikahan kakaknya Bu Mitha, apa masih tetap dilakukan barengan sama ibu?"
"Gak kali Bu... kan... kakaknya selingkuh sama cowok lain," sambung Bu Ratna setengah berbisik, namun masih bisa didengar Mitha dengan jelas.
Dasar lemes! Umpat batin Mitha kesal. Lalu terpaksa menghentikan langkahnya.
Memang sudah menjadi rahasia umum jika acara pernikahan Mitha akan dilaksanakan bersamaan dengan pernikahan Meella. Termasuk isu perselingkuhan Meella yang mengakibatkan batalnya pernikahannya. Sayang, isu yang beredar sering tidak seratus persen sesuai dengan kenyataan.
"Ssstth!..." Bu Ambar mencoba mengingat dengan memberi kode.
Mitha menatap kedua orang bermulut tak berakhlak itu dengan tatapan kesal.
Kedua perempuan itu pun sontak takut dan gugup.
"Hati-hati ya Bu kalo ngomong. Kakak saya gak selingkuh, tapi dijebak. Ingat itu!" Mitha memberi klarifikasi dengan mata berapi-api. Setelahnya dia pergi dari hadapan mereka.
"Ibu sih, ngomongnya gak hati-hati," bisik Bu Ambar menyesali perbuatan Bu Ratna.
"Iya Bu, maaf. Aku tadi keceplosan," jawab Bu Ratna jujur. "tapi, ibu juga salah. Karena sudah mancing-mancing pakai pertanyaan itu. Jadinya saya ikutan deh," lanjutnya balik menyalakan Bu Ambar.
Mitha duduk di kursi dalam kubikelnya dengan hati yang kesal. Akibat ulah kedua perempuan itu moodnya menjadi bertambah buruk saja.
*
Hai readers... sampai di sini dulu ya update episode kali ini.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote, hadiah, like dan komen sebagai mood booster author semangat update.
See you next episode... 😁😘🥰❤️