Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Diam-Diam Menghanyutkan


__ADS_3

"Berhenti!" pekik Qameella dengan suara lantang, menghentikan segala aktivitas yang ada.


Garda melongo melihat sikap Qameella yang berani menghentikan kehendaknya. Selama ini tidak ada seorang pun yang bernyali baja berdiri di depannya, mengacaukan apa yang sudah menjadi keputusannya. Karena mereka semua tahu menentang keputusan Garda berarti menantangnya. Dan mereka pun tahu bagaimana bila Garda sudah marah.


Cowok tampan bak pangeran itu akan berubah menjadi malaikat maut. Itulah sebabnya Garda sangat ditakuti. Jika ada yang ingin berurusan dengan Garda. Maka mereka akan berpikir seribu kali. Meski itu musuhnya sekali pun.


Tapi kali ini orang yang sudah berani menghentikan kehendaknya adalah istrinya, Qameella. Rasanya tidak mungkin dia melakukan hal yang kejam pada gadis itu. Walaupun rasa di dalam hatinya sakit akibat pengkhianatan sang istri dan temannya, Ryan.


"Gar, tolong lepasin Ryan," Garda terkesiap mendengar permintaan Qameella seraya meraih lengannya kuat.


Garda menatap dalam dan dingin wajah Qameella. Tatapan mata mereka bertemu satu sama lain. Amarahnya masih belum reda. Hatinya pun terluka, dan bertambah parah saat melihat kesungguhan Qameella membela Ryan.


"Gar, plis, Ryan gak salah," wajah Garda memberengut, dahinya mengernyit membentuk beberapa lipatan dengan sepasang alis tebalnya yang nyaris bertaut.


"Jangan gantung Ryan. Dia benar-benar gak salah," rengek Qameella menggoyangkan lengan Garda.


"Bener bos... gue gak salah," sahut Ryan pilu.


Garda bergeming mencari kejujuran dengan menatap wajah polos Qameella. Dan tidak ada kebohongan yang terpancar dari sepasang netra yang terbingkai cantik dibalik kacamata minus itu.


Dalam hati Qameella sangat berharap Garda mau mengampuni Ryan. Bocah itu memang tidak bersalah sama sekali. Dan jujur saat ini gadis itu sangat takut menghadapi Garda. Dia baru tahu ternyata cowok ganteng itu benar-benar kejam dan bengis bila sedang marah. Garda bisa diibaratkan bagai bunga mawar yang indah. Namun dibalik keindahannya menyimpan duri sebagai pertahanan diri.


Pantas saja Rega pernah mengingatkan Qameella agar tidak dekat-dekat dengan Garda. Apakah karena masalah ini?


Tatapan mata elang Garda membuat Qameella meneguk salivahnya sendiri, untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba kering kerontang. Lalu dia langsung sadar tangannya masih memegang lengan Garda.


Hah?!


Buru-buru Qameella menyingkirkan tangannya sendiri dari lengan cowok itu takut-takut.


"Maaf..." cicitnya pelan.


"Kenapa kalian diam? Cepat..."


"Jangan!" sergah Qameella menginterupsi. Sontak mereka yang hendak menyeret Ryan terdiam. Sementara Ryan masih pada posisi berlututnya dengan kedua tangan mengatup.


"Garda, plis, plis, elo gak boleh galak begini," Qameella mengatupkan kedua tangannya. Dia sadar cowok yang berdiri menjulang tinggi di depannya tidak akan menuruti permintaannya.


Garda mengernyit heran.


"Elo gak boleh berbuat kasar sama orang lain. Gimana pun dia adalah teman terbaik lo, iya kan?" Garda tidak menjawab. "elo juga tahu kan kalo di negara ini punya hukum dan undang-undang yang melindungi warga negaranya. Jadi, plis elo jangan sampai melanggar hukum."


Fiola, Nadin dan Mona menyeringai aneh sambil mencibir ucapan Qameella yang menurut mereka hanya omong kosong belaka.


Sedangkan anggota geng motor ABABIL tampak terlihat bodoh, tidak mengerti apa yang akan dilakukan istri ketua geng mereka.


"Kalian gak boleh main hakim sendiri. Ryan bukan sampah yang harus kalian hukum seenak jidat sendiri. Di sekolah, pasti kalian udah belajar tentang sila ke dua Pancasila, kan?"


Ryan tersenyum mendapat pembelaan dari cewek yang selalu dipanggilnya nyonya bos, bila bicara dengan Garda.


Sebisa mungkin Qameella menguasai diri, mengatur degup jantungnya yang berdebur kencang. Panas dingin menyerang tubuhnya saat semua pasang mata menatap intens hanya padanya.


"Kita harus menghargai orang lain sesuai sila kedua Pancasila. Kalian tahu kan bunyi sila tersebut?"

__ADS_1


Beberapa dari mereka ada yang merapalkan bunyi sila yang disebutkan Qameella. Tidak kompak dan ada yang salah mengucapkan. Hingga suara mereka terdengar seperti suara lebah.


"Kemanusiaan yang adil dan beradab," ujar Qameella memimpin mereka. "jadi, kalian harus memperlakukan Ryan dengan norma yang berlaku. Lagian Ryan kan bukan penjahat, iya kan?" gadis itu berusaha meyakinkan mereka semua.


"Heh, cewek *****! Sebenarnya apa sih mau lo?" tanya Fiola menginterupsi.


Apa, cewek *****? Batin Qameella terasa panas mendengar kata-kata itu.


"Iya, sok pintar pake ngajarin tentang Pancasila lagi. Lo pikir ini di sekolah?" timpal Nadin sinis.


"Apa? Lo bilang tadi apa, Fiola?" tanya Qameella menyipitkan matanya menatap gadis cantik dengan rambut panjang terurai.


Sesungguhnya dalam kondisi normal Qameella tidak akan meladeni Fiola. Sejak awal pertemuan mereka gadis itu memang sangat tidak menyukainya. Selalu berusaha mencari masalah dengannya. Tapi kali ini sudah keterlaluan, menghinanya dengan sebutan yang tak layak didengar. Seandainya Garda mau turun tangan untuk membelanya, mungkin hal ini tidak perlu terjadi.


"Cewek lon-te," cicit Fiola mengulangi.


Tangan Qameella mengepal erat menggantung di sisi tubuhnya. Kali ini dia tidak bisa mentolerir sikap Fiola yang selalu merendahkannya. Masa bodo bila Garda akan marah padanya nanti. Karena telah menyentuh cewek barunya.


"Cewek *****..." ujar Fiola berulang-ulang menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.


Plak!


Sebuah tamparan keras tiba-tiba mendarat mulus di pipi cantik Fiola. Saking kerasnya tamparan itu membuat tubuhnya limbung. Untung Nadin menangkap tubuhnya hingga tidak sampai jatuh terjerembab di lantai.


"What!" pekik Fiola mendongakkan wajahnya sambil memegangi pipinya yang panas. Lalu menatap tajam Qameella.


Kontan semua yang ada di dalam basecamp terperanjat kaget melihat sikap kasar Qameella. Tidak terkecuali Garda. Tetapi setelah itu dia tersenyum lebar.


"Aw, sakit..." Tikeng memegangi pipinya sendiri seolah dia yang mendapat tamparan.


Di rumah Qameella memang anak yang sangat penurut kepada kedua orang tuanya. Apa pun akan diterimanya tanpa berani menolak. Karena dia sangat patuh, taat dan menghormati mereka. Tapi Fiola bukan siapa-siapanya. Hanya orang asing yang berusaha menyakiti dengan menghinanya.


Akhirnya terjadilah keributan antara Qameella dan Fiola. Beberapa kali Fiola memukul wajah Qameella. Dengan gesit gadis berkacamata minus itu menepis dan membalikkan keadaan. Menjadikan Fiola korban.


Nadin dan Mona pun tidak tinggal diam. Kedua gadis itu membantu Fiola menyerang Qameella.


Garda tidak tahan melihat drama adu jotos para cewek itu. Dengan cepat dia menginstruksikan anak buahnya melerai mereka. Dan dalam satu hentakan cowok itu berhasil menarik pinggang Qameella.


"Tikeng, Rombeng, Sonik!" pekik Garda lantang. Sontak mereka yang merasa disebut namanya mendekat. "bawa mereka pergi. Antar mereka ke rumah masing-masing!" titahnya tanpa mau dibantah.


Secepat kilat mereka langsung mengikuti perintah sang ketua geng.


Qameella terus menggerak-gerakkan kaki dan tangannya ingin memukul mereka bertiga. Dia masih belum sadar jika gerakannya sangat terbatas. Lantaran Garda masih memeluk pinggangnya posesif. Hingga punggung dan dada mereka saling berdekatan.


"Udah. Mereka udah pergi," suara Garda terdengar sangat jelas dan dekat di telinga Qameella.


Qameella menghela napas panjang. Tiba-tiba merasa ada sesuatu yang terasa melilit di pinggangnya. Tangannya meraba di tempat yang terasa janggal. Kemudian menundukkan kepalanya melihat sesuatu itu.


Hah?!


Wajahnya langsung mendongak, menoleh ke belakang melalui celah bahunya. Matanya membulat sempurna. Alangkah terkejutnya dia melihat Garda dalam posisi sedekat ini. Dengan cepat dia menepis tangan Garda dari pinggangnya. Mundur beberapa langkah ke belakang. Setelahnya menundukkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya.


"Maaf, udah buat keributan," cicit Qameella menyesal. Berbanding terbalik dengan beberapa saat tadi. Gadis yang terlihat begitu ganas, kini berubah 180 derajat menjadi sangat kalem.

__ADS_1


Garda melipat kedua tangannya di depan dada. Tersenyum miring mengingat tingkah polah istrinya yang luar biasa.


"Maaf?" Garda pura-pura marah.


"Iya. Maaf, udah bikin cewek lo babak belur. Tapi, gue gak 100% salah. Dia yang mulai duluan ngatain gue lon... te..." Qameella sengaja menjeda kalimat terakhirnya, tidak sanggup mengucap kata itu. Hatinya terluka dihina seperti itu. Padahal dia tidak pernah merendahkan orang lain. Tapi mengapa...


"Apa yang elo mau lakuin buat menebus kesalahan lo?" Garda berjalan mendekati Qameella. Setiap langkah maju Garda, maka Qameella akan melangkah mundur.


"Eh, minta maaf," sahutnya cepat.


"Apakah semua kesalahan yang elo perbuat cukup dengan mengucapkan kata maaf aja?"


Qameella tidak menjawab. Hanya terdiam sambil menggigit dalam bibirnya.


"Kesalahan yang elo buat sama monyet Keling aja belum elo tebus. Sekarang elo bikin kesalahan lagi," Garda menghentikan langkahnya. Melirik Ryan yang masih duduk di lantai bersama anggota geng lainnya, berdiri mengitarinya.


"Kalo soal Ryan...." Qameella menatap kasihan pada cowok itu.


"Kenapa? Elo mau melanjutkan lagi hubungan kalian, begitu?" suara Garda meninggi.


"Nggak. Nggak seperti itu. Gu-gue gak punya hubungan apa pun sama Ryan," tukasnya.


"Ry-an! Manis banget ya manggilnya," sindir Garda.


"Garda, gue berani sumpah kalo diantara gue sama Ryan emang gak ada apa-apa."


"Kalo kalian gak ada apa-apa, terus elo ngapain datang jauh-jauh ke sini, malam-malam begini?" telisik Garda dengan sorot mata mengintimidasi.


"Padahal, sewaktu kita masih bersama, elo gak pernah datang ke sini buat nemuin gue? Kenapa coba? Bi... atau jangan-jangan gara-gara si cengunguk itu elo selalu minta putus, iya?"


"Nggak! Semua itu gak ada hubungannya sama Ryan. Gue sini mau minta tolong doang sama Ryan buat nyari si Dimas,"


"What?!" pekik Garda kaget. Wajahnya terlihat suram dengan kerutan yang tercetak jelas di dahinya.


Begitu pula dengan Ryan dan anggota geng lainnya yang masih stay di sini. Mereka terkejut. Sejak perkelahian malam itu, Garda melarang keras untuk para anggota geng menyebut-nyebut nama Dimas. Bagi mereka mantan anggota geng itu telah mati.


"Tunggu, Bi! Jangan bilang anak yang elo kandung itu anak dari..." Garda tidak bisa melanjutkan ucapannya. Hatinya sangat sakit.


"Iya."


"Hah?!"


"Eh, tunggu!" Qameella mencoba mengoreksi. "tadi ngomong apa? Gue ngandung? Siapa bilang?"


Mendadak suasana riuh rendah. Mereka berkomentar dan mengingatkan Qameella, bahwa dirinya sendiri yang mengatakan hamil.


Qameella terdiam mengingat apa yang telah diucapkannya.


"Masa sih?" tanyanya linglung.


Mereka berdecak sebal. Lantaran ucapan Qameella nyaris memporak-porandakan geng motor ABABIL. Hingga nyaris melenyapkan Ryan yang memang tidak bersalah sama sekali.


Setelah menyadari hanya kesalahpahaman Garda membebaskan Ryan dari hukuman. Dan gara-gara desakan Qameella, cowok itu mau meminta maaf untuk pertama kalinya. Karena menurut Qameella, cowok sejati itu adalah cowok yang mau mengakui dan mempertanggung jawabkan perbuatannya. Walaupun hanya sekedar mengucapkan kata 'maaf'. Jika tidak, maka cowok itu bukan cowok sejati, melainkan banci.

__ADS_1


Hah, dari pada dibilang banci, terpaksa deh gue minta maaf sama si cengunguk Keling! Ternyata Qameella diam-diam menghanyutkan juga! pikir Garda. Tersenyum lebar.


__ADS_2