
Happy reading...
*****************************
"Hai, Meel," ujar Dita yang tiba-tiba muncul di kubikel Meella.
Sontak Meella tersentak kaget. Buru-buru menoleh ke sumber suara.
"Eh, ..." Meella tampak gugup. Dia bingung hendak mengatakan apa pada Dita. Apakah harus to the poin tentang barang pinjaman Dita, atau cari aman dengan cara berbohong?
"Dita ..." dia tampak ragu.
"Nih!" tiba-tiba Dita menyodorkan kotak kacamata milik Meella, yang kemarin sengaja ditinggalkan di rumah Dita.
Meella tampak kaku menerima kotak yang disodorkan Dita. Kemudian dia berusaha menguatkan diri untuk berkata jujur pada wanita yang tengah berbadan dua itu. Namun belum sempat dia berucap, mendadak Arien datang menginterupsi.
"Meel, kamu dipanggil ke ruangan Pak Ridwan, tuh."
"Kenapa lo, Meel? Kok bisa sih Pak Ridwan manggil elo ke ruangannya?" pertanyaan Dita yang membuat Meella memucat takut. Lalu menggeleng pelan sebagai jawaban bahwa gadis itu tidak tahu apa-apa.
Kendati dalam hati begitu banyak pertanyaan yang bermunculan. Juga sempat menghubung-hubungkan dengan kejadian pagi sialan itu.
"Hah, gak tahu? Masa sih?" Dita membaca gerakan Meella.
Oh, Tuhan... cobaan apa lagi yang menimpa saya saat ini?
"Udah... sana, cepetan ke ruangannya Pak Ridwan, gak enak kan kalo sampai atasan nungguin bawahannya," Arien mengingatkan.
"Ah, iya," sahut Meella linglung. Beranjak pergi meninggalkan kubikelnya. Tidak lupa memakai kacamata minusnya.
Arien dan Dita langsung membuang muka masing-masing saat pandangan mereka tidak sengaja bertemu. Setelahnya menempati kubikelnya sendiri-sendiri.
*
Mirza masih berusaha mencari tahu keberadaan Meella yang tidak kunjung belum ada kabar. Berkali-kali dia datangi rumah kontrakan sang tunangan pun tidak tampak batang hidungnya. Bahkan di rumah calon mertuanya juga tidak ditemukan.
Dimana kamu, Meel?
Ah, tiba-tiba saja Mirza teringat Dita, teman kantor Meella. Kebetulan dia menyimpan nomor kontaknya.
"Huh, kenapa gak kepikiran dari kemarin sih?" gumamnya menyalakan kebodohannya sendiri.
Tanpa pikir lama Mirza mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya. Membuka pola yang hanya dia saja yang tahu. Mencari nama Dita pada daftar kontak.
Ah, ketemu!
Mirza langsung mendeal nomor telepon itu. Beberapa detik dia harus menunggu. Setelah terdengar dering ketiga barulah tersambung.
__ADS_1
"Halo, siapa ini?" tanya dari seberang sana cepat. Sepertinya tidak mau berbasa-basi.
"Halo, ini aku, Mirza, calon suaminya Meella. Masih ingat aku kan?" sahutnya yang juga langsung memperkenalkan diri.
"Oh... ya ya ya..." suara wanita itu terdengar bersemangat.
"Kamu cowok yang tempo hari nganterin Meella ke kantor kan?"
"Iya, benar. Itu aku."
Beberapa menit berbicara dengan Dita terbilang cukup membuat Mirza bahagia. Pasalnya, telah mendapatkan informasi tentang Meella. Walau pun sampai detik ini masih belum bisa berbicara secara langsung dengan calon istrinya, lantaran sedang berada di dalam kantor Pak Ridwan. Entah membahas tentang apa Dita tidak memberi tahu lebih rinci.
Setelahnya Mirza menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya. Lalu melanjutkan aktivitasnya seperti biasa.
*
Garda memakai stelan jas berwarna abu-abu tua tengah duduk bertopang dagu, dengan siku penopang menempel di bawah kaca jendela mobil yang tertutup rapat. Dia duduk mematung di kursi penumpang belakang. Sementara Dandi yang menjadi sopirnya.
Sepasang netra coklat yang menawan milik Garda tampak sempurna dengan wajah gantengnya. Pandangan matanya menatap kosong ke luar jendela. Menampilkan arus lalu lintas kota metropolitan yang tidak pernah sepi dari aktivitasnya. Tetapi pikirannya tertuju pada gadis yang telah berhasil naik ke atas ranjangnya. Heh, untung dia bukan seorang gadis yang butuh pertanggungjawaban bila hamil nanti.
Garda nyengir sendiri bila memikirkan itu. Namun gadis bernama Qameella itu, tampaknya tidak keberatan atas hilangnya kesucian yang kebanyakan perempuan belum menikah tabu bila tidak perawan lagi sebelum malam pertama bersama suaminya. Buktinya gadis itu sendiri yang tegas dan sungguh-sungguh tidak butuh pertanggungjawaban Garda. Rasa khawatir bila suatu saat nanti akan hamil pun tidak terlihat di matanya.
Garda menghela napas panjang.
Dandi hanya diam di kursi kemudinya. Sesekali pemuda itu melihat pergerakan bosnya dari kaca spion depan.
Saat bangun dari koma lima tahun lalu, yang selalu digumamkan di bibirnya adalah kata 'Bi'. Tidak tahu kenapa yang jelas memori otaknya hanya menyimpan itu.
Kemudian Andika membawa seorang gadis bernama Bianca. Menurut penuturan lelaki yang selalu dipanggilnya Papa itu, gadis bernama Bianca adalah pacar Garda.
Garda tertegun menatap gadis yang sangat asing di matanya. Hatinya tidak menerima atau pun menolak. Hanya kebingungan yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
'Apa mungkin kami pernah saling cinta sebelumnya? Tapi kenapa saya tidak ingat apa-apa tentang dia?' Garda hanya bisa membatin.
Andika sangat menyadari keresahan putranya. Namun dia menutup mata dan terus menyakinkan bahwa selama ini Garda sangat mencintai Bianca, dan memiliki panggilan khusus untuknya yaitu 'Bi'. Itulah sebabnya mengapa Garda selalu menyebut nama itu saat sebelum sadar dari tidur panjangnya.
Garda yang didiagnosis menderita amnesia, bagai kaset kosong yang tidak dapat mengingat kenangan apa pun dari memori otaknya. Tidak bisa mengingat kenangan apa pun yang pernah dialaminya sebelumnya. Apalagi tentang gadis itu.
Makanya, Garda hanya bisa langsung percaya semua ucapan Andika serta menyetujuinya begitu saja. Kendati hati nuraninya tetap meragu.
Siang ini Garda berencana menemui tunangannya, Bianca, di tempat pemotretan. Ya, kini karier gadis itu bisa dibilang sedang naik daun. Naik kelas dari hanya menjadi aktris kelas 'B' yang tidak terlihat kualitasnya. Kini sudah menjadi aktris yang selalu dilirik produser rumah produksi. Walau pun bukan dari kualitasnya, melainkan koneksinya.
Tentu semenjak publik tahu tentang pertunangan Bianca dengan Garda. Seakan bagai lahan subur yang gembur bagi karier Bianca. Saat ini aktris itu bukan hanya akting, namun sudah berkembang mencoba dunia modeling dan periklanan. Tidak sedikit produk dari perusahaan ternama menyuntingnya sebagai brand ambassador.
Lagi, Garda menghela napas panjang. Enggan rasanya dia datang menemui Bianca. Biasanya dia menolak undangannya dengan seribu alasan yang sengaja dibuat-buat olehnya. Untuk kali ini cowok itu tidak bisa berkutik karena Andika yang turun tangan ikut membujuknya. Rupanya diam-diam Bianca mengadu pada calon mertuanya.
Alhasil Garda membuang waktu berharganya demi memenuhi keinginan sepele Bianca.
__ADS_1
*
Meella kembali ke kubikelnya setelah cukup lama berada dalam ruangan Pak Ridwan. Mendudukkan bokongnya di atas kursi kerja. Wajahnya tampak lesu tidak bergairah.
'Syukurlah surat pengunduran dirinya udah diterima sama Pak Ridwan. Sekarang tinggal beres-beres,' batin Meella berucap lega.
Cukup lama Pak Ridwan melobi keputusan Meella yang ingin segera resign dari perusahaan. Padahal Meella salah satu karyawan yang terpilih untuk ditempatkan di kantor pusat. Hingga pada akhirnya menyerah lantaran gadis itu bersikukuh tetap resign karena sedang sibuk mengurus pesta pernikahannya yang hanya tinggal tiga Minggu lagi.
Walau pun hanya alasan yang terlalu mengada-ada karena semua urusan itu dilakukan Mirza dan Mitha-Dicky. Berhubung Meella mengungkapkan dengan sikap yang serius, Pak Ridwan pun tidak lagi memaksa. Kenyataannya dia ingin resign memang sudah kadung janji dengan Garda, sebagai bentuk bukti bahwa dirinya benar-benar tidak bersalah, juga tidak terlibat dalam konspirasi apa pun.
Pasalnya Meella pantang mengingkari janjinya. Dia tidak mau dianggap munafik yang ingin menjilat ludah sendiri.
"Pak, tolong terima surat pengunduran diri saya, karena saya tidak bisa bekerja di perusahaan ini lagi," permintaan yang sempat membuat Pak Ridwan mengernyit bingung.
"Tapi kenapa saya harus menerima surat pengunduran diri kamu yang tiba-tiba ini? Sedangkan kinerja kamu selama bekerja di perusahaan ini sangat baik. Bisakah kamu memberikan alasan yang lebih logis lagi?"
Meella terdiam dengan tatapan sendunya.
"Meel," suara Dita menginterupsi saat melihat Meella bergerak mengumpulkan semua barang-barang milik pribadinya, satu persatu dimasukkan ke dalam sebuah kardus bekas.
Gadis berkacamata minus itu langsung tersadar dari lamunannya.
"Elo mau kemana, kok beres-beres?" tatapan menyelidik wanita hamil itu membuat Meella harus berkata yang sejujurnya.
"Iya, hari ini saya baru aja resign, Dit," sahut Meella jujur.
"What! Elo jangan bercanda deh sama ibu hamil kaya gue," ucapan terkejut Dita mengundang perhatian Arien dan Fadhlan yang kebetulan sedang duduk dalam kubikel masing-masing.
"Emang kenapa, ada apa elo ngedadak resign?"
"Siapa yang resign, Dit?" tanya Fadhlan ingin tahu langsung bangkit dari duduknya, berdiri menghadap ke arah kubikel Dita yang berada di depannya, yang terhalang oleh dinding kubikel. Tampak wajah tampan nan penasaran yang terlihat setengah badan.
"Meella, Mas," jawab Dita sedih.
"Beneran, Meel?" Fadlan segera mengalihkan pandangannya pada gadis itu, meminta penjelasan yang hanya anggukan darinya sebagai jawaban.
"Lho, kok bisa tiba-tiba gini?" tegur Fadhlan heran.
Meella hanya menunduk sulit untuk menjelaskan semua urusan hatinya dengan jujur pada mereka semua.
"Saya mau nikah," jawaban yang biasa saja namun mampu memberikan kejutan pada mereka semua. Lalu Meella tersenyum seindah mungkin, walau dalam hatinya merasakan yang sebaliknya.
*
Readers... maaf ya jika episode kali ini kurang memuaskan. Maaf juga author sering menunda update nya karena harus membagi waktu dengan kerja serta kegiatan di dunia nyata.
Jangan bosen- bosen buat kasih author like, vote hadiah dan komentar ya...
__ADS_1
See you next episode 😁🙏😘🥰❤️