
Happy reading
***********************************
Semua orang histeris melihat Gusti jatuh pingsan di depan meja akad. Buru-buru Mitha menopang kepala sang Ayah agar tidak sampai membentur lantai. Dia jatuh terduduk di lantai memangku kepala Gusti. Dengan derai air mata Mitha mengusir Dicky dari hadapannya. Namun pria itu tidak mau menggeser langkahnya barang sejengkal pun.
"Pergi kau Dicky, aku gak sudi lagi melihat wajahmu!"
"Gak, aku gak akan kemana-mana. Aku akan tetap di sini menemani kamu," tolong Dicky teguh.
"Pergi! Pergi!" teriak Mitha membahana di dalam gedung.
Tikeng yang geram melihat sikap keras kepala Dicky, dengan cepat mendorong tubuh pria itu kasar. Hingga terjungkal ke belakang. Para tamu histeris.
Amel buru-buru menarik lengan suaminya agar tidak terjadi keributan yang akan menambah kacau suasana yang sudah balau.
Sarah dan Yasmin berusaha membujuk Dicky agar segera pergi saja dari tempat ini. Tapi Dicky terlalu keras kepala, begitu susah diajak kompromi. Kedua gadis itu memilih menyerah sudah kehabisan ide untuk bernegosiasi.
"Yah, Ayah, Ayah bangun Yah...," Maryam langsung terduduk di samping Gusti. Menepuk pelan wajah suaminya.
Semua rasa malu dan gengsi Mitha sirna saat melihat kondisi Gusti terbujur tidak sadarkan diri. Meraung memanggil Gusti dengan sebutan Ayah. Dia tidak menghiraukan omongan miring tentang pernikahannya yang memalukan setelah ini. Karena di antara para tamu sudah hadir semua rekan guru dan kepala sekolah, juga beberapa orang dari dinas pendidikan kota. Serta para wali murid dan para siswa walau belum seratus persen hadir semua.
Meella ingin berlari menembus kerumunan orang di depan. Tapi tenaganya tidak cukup kuat membelah tembok manusia itu. Bagai orang bodoh yang hanya bisa menyaksikan dari jauh.
"Dokter! Dokter! Apakah ada diantara para tamu yang berprofesi sebagai dokter?" salah satu orang dari pihak wedding organizer berteriak berharap mendapatkan pertolongan pertama dengan segera.
Sementara orang-orang yang tergabung dalam panitia pernikahan dari wedding organizer, tanpa komando langsung berbagi tugas. Ada yang membopong tubuh Gusti menuju ruangan lain yang lebih steril. Dan ada yang bertugas memberikan instruksi pada para undangan agar tetap tenang. Tidak ketinggalan menenangkan pak penghulu dan empat orang saksi yang terlihat kebingungan. Lalu mengarahkan mereka berpindah ke tempat yang lebih tenang.
Tidak lama berselang seseorang mengaku berprofesi dokter menghampiri. Meminta izin memeriksa kondisi Gusti.
Mitha dan Maryam saling berpelukan dalam tangis pilu. Tiba-tiba Mitha melepaskan pelukannya saat bahunya terasa ada yang menyentuh. Rupanya Meella yang muncul di hadapannya. Tanpa bicara dia langsung memeluk saudari satu rahimnya itu. Menangis sejadi-jadinya tidak peduli make up nya akan luntur oleh air matanya yang lebih mirip air hujan, sangat deras.
Meella pun tidak bisa menutupi kesedihannya, atau berpura-pura kuat. Air matanya jatuh sama banyaknya dengan air mata Mitha.
Maryam pun ikut berbaur memeluk kedua putri kembarnya dengan isak tangis yang tiada henti.
"Pasien sudah siuman," imbuh seorang lelaki yang mengaku sebagai dokter itu, setelah selesai memeriksa Gusti.
Tanpa komando Meella, Mitha dan Maryam saling melepas pelukan masing-masing. Kemudian bergerak menghampiri orang itu. Ternyata adalah Rega. Dokter yang biasa menangani Gusti setiap kali periksa ke rumah sakit.
"Pasien ingin bertemu dengan keluarganya," ujarnya datar.
Tanpa berkata apapun Mitha langsung menerobos masuk menemui sang Ayah, masih tergolek lemah di atas kasur sederhana.
"Ayah..." Mitha segera memeluk Gusti.
Meella dan Maryam tertegun melihat sosok fotokopian Garda. Netra mereka saling bertemu dan membisu.
"Maaf, saya permisi," seru Rega sopan pada kedua perempuan di depannya. Dia hendak beranjak pergi. "mau menghubungi ambulance dari rumah sakit."
"Makasih, dokter... Rega...," ucap Meella ragu. Membuat si pemilik nama menoleh lalu mengangguk seakan berkata, sama-sama.
Meella menyusul masuk ke dalam setelah Maryam lebih dulu beranjak meninggalkannya. Namun ia hanya sampai pintu. Tidak jadi masuk. Memilih menyembunyikan diri di balik tembok pembatas ruangan yang dipijak dengan ruangan tempat Gusti berada.
Tidak berapa lama dua orang panitia membawa penghulu dan empat orang saksi tadi ke dalam ruangan, tempat Gusti berada. Lalu Rega datang setelahnya.
__ADS_1
Meella yang berdiri di sekitar situ hanya menatap kedatangan mereka dengan tatapan bertanya. Kemudian entah bagaimana awalnya, samar-samar Meella mendengar suara penghulu memulai proses akad nikah di dalam. Yang segera disambut oleh suara seorang pria mengucap ijab kabul.
Pelan-pelan Meella memiringkan kepalanya, menjulur mengintip dari pintu yang terbuka lebar. Air matanya mengalir lagi ketika melihat proses akad nikah itu. Mungkin atas permintaan Gusti yang sedang sekarat agar acara itu tetap berjalan sebagaimana mestinya. Walau tidak sesuai dengan apa yang sudah dirancang dengan baik oleh pihak wedding organizer. Dan yang paling mencengangkan adalah sosok mempelai prianya adalah bukan Dicky. Melainkan Rega.
"Saya terima nikah dan kawinnya Qarmitha Aulia Rahmah binti Gusti Nugroho dengan maskawin dibayar tunai."
Lelaki itu dengan mantap dan lancar mengucap ijab kabul di Gusti, didampingi Maryam, sambil menjabat tangan penghulu dan para saksi.
Meella terperanjat kaget saat bahunya tiba-tiba ditepuk dari belakang. Kontan mendongakkan wajahnya.
"Kenapa gak langsung masuk aja?" tegur Yasmin.
"Iya, masuk aja sih, ngapain juga cuma antap-intip doang," timpal Sarah heran.
Meella diam dengan tersenyum yang dipaksakan.
*
Gusti terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya sangat mengkhawatirkan. Setelah kembali tidak sadarkan diri selesai Rega mengucapkan ijab kabul dan disahkan oleh para saksi. Dengan segera dibawa dengan mobil ambulance.
Maryam menangis tersedu-sedu tiada henti dalam mobil ambulance bersama sang suami. Selain meratapi kondisi Gusti. Dia khawatir akan keselamatan suaminya.
Mitha dipapah oleh Sarah dan Yasmin masuk ke dalam mobil Yasmin. Mereka menyusul Gusti dan Maryam ke rumah sakit. Sementara Amel menggunakan mobilnya bersama anak-anak, serta suaminya, Tikeng.
Kondisi Mitha tidak baik-baik saja. Sama halnya dengan Maryam. Bahkan sebagai orang yang mengalami penderitaan, Mitha lebih terpukul dan lebih sedih dari pada yang lainnya. Belum lagi rasa malu yang tak terperi. Meskipun Rega sudah mau berkorban untuk menutupi rasa malu keluarga. Tetap saja hal itu tidak lantas menjadi baik seluruhnya. Mungkin seumur hidup belum tentu orang-orang akan bisa melupakan. Tentu saja menjadi aibnya sepanjang hidup.
Heh, sial!
Satu demi satu kemudian menjadi lebih banyak, para tamu undangan meninggalkan gedung pesta pernikahan gagal itu. Tidak ada yang mau mempedulikan dan bertahan setelah semua yang terjadi.
"**** ..." Raisya mencoba menyapa hendak berbicara. Gadis itu berjongkok di depan pria yang dianggap miliknya. Menyentuh lengan Dicky lembut. Namun langsung disentak kasar oleh si empunya.
"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini. Aku malas melihat wajahmu itu," sahut Dicky mengusir gadis yang tidak kalah buruk darinya.
"Tapi, ****..., aku..." Raisya ragu melanjutkan ucapannya.
Dicky mendongakkan wajahnya hendak memberikan kalimat umpatan untuk Raisya. Pasalnya semua yang terjadi kemarin malam adalah ulahnya. Jika bukan gadis itu yang tiba-tiba menghubunginya. Berpura-pura mabuk di klub malam. Lalu menjebaknya dengan memaksa untuk minum segelas air yang sepertinya sudah dibubuhi sesuatu. Jika tidak, Dicky tidak akan menggila. Melampiaskan nafsu bejatnya pada Raisya. Juga karena bujuk rayunya yang membuat Dicky terlena dan lupa diri. Hingga terjadilah malam panas mereka di dalam hotel.
Dicky tidak tahu siapa orang yang sudah memberi informasi pada Mitha tentang dirinya dan Raisya di hotel itu? Hingga gadis itu kalap menghajar Dicky juga Raisya tanpa ampun. Namun Dicky tidak menyalahkan perbuatan Mitha yang bar-bar. Dia sangat memahami bagaimana perasaannya gadis itu saat melihat calon suaminya tengah melakukan perbuatan tidak senonoh. Walau bagaimana pun Dicky masih tetap mencintai Mitha. Untungnya tidak dibuat mati di tangannya. Ya, masih dikatakan untung walau babak belur. Karena dia tahu bagaimana sifat Mitha bila lepas kendali. Dengan kemampuan beladiri yang mumpuni bukan mustahil bila gadis itu sampai hati menghabisi nyawanya saat itu juga.
Ya Tuhan... mengapa jadi seperti ini? Seandainya kemarin malam Dicky tidak datang menemui Raisya, mungkin semua ini tidak perlu terjadi. Dan bisa saja pernikahannya dengan Mitha dapat berjalan dengan baik. Sah menjadi pasangan suami istri dengan rona bahagia. Seandainya... seandainya... sekarang hanya tinggal kata seandainya dan berandai-andai...
"Hm... ternyata ini tujuan kamu, Raisya?"
Sontak dua makhluk bejat itu menoleh ke arah datangnya suara. Keduanya mendongakkan wajah, menatap gadis berkacamata minus berdiri menjulang di hadapan mereka.
"Sekarang saya baru paham. Mengapa kamu mau menghalalkan segala cara untuk menghancurkan pernikahan saya dan Mitha. Sebegitu terobsesinya kamu pada Dicky, sampai kamu mengabaikan perasaan kami. Dan, yang paling parah adalah kakak kamu. Karena keegoisan kamu, kamu begitu tega menghancurkan perasaannya. Padahal kamu, satu-satunya adik yang paling disayanginya."
"Itu... itu... aku gak tahu kalo yang aku lihat itu kamu," bantah Raisya tergagap. Dia beranjak berdiri. Diikuti oleh Dicky.
"Jika aku tahu itu kamu, mana mungkin aku melakukan semua itu," lanjutnya lantang.
Meella tersenyum meremehkan.
"Lagian ngapain kamu berdandan seperti itu? Setahu aku penampilan kamu kan cupu dengan kacamata baca kamu yang jelek itu," Raisya tidak mau mengakui kesalahannya. Sebisa mungkin dia membela diri dan mencari pembenaran agar tidak disalahkan.
__ADS_1
"Jadi, ini wajah asli kamu, Dek?" tiba-tiba suara Mirza menginterupsi. Entah sejak kapan dia sudah ada di sini. Tidak ada satu pun di antara mereka yang menyadarinya.
Raisya terkejut mendengar suara familiar itu. Tanpa diberi tahu dia sudah bisa menebak siapa pemilik suara itu. Pelan-pelan dan dengan gerakan kaku gadis itu menoleh. Sepasang matanya terbelalak kaget melihat wajah kaku sang kakak.
"M-Mas Mirza," ujarnya lirih. Matanya panas menatap wajah dingin sang kakak.
"Benarkah begitu, Dek?" todong Mirza serius.
Raisya mengeluarkan air mata buayanya untuk mendapatkan pengampunan dari Mirza. Senjata ampuh yang tidak pernah meleset dari sasaran. Namun kali ini sepertinya senjatanya sudah tumpul, hilang kesaktiannya. Pasalnya reaksi Mirza terlalu datar dan dingin. Tidak seperti biasanya yang begitu penyayang dan hangat.
"Mas Mirza, a-aku..."
"Dek, kamu tahu kan betapa sayangnya Mas sama kamu? Apa pun yang kamu minta, bahkan yang kamu gak minta sekalian pun, Mas selalu kasih dengan tulus buat kamu?"
Raisya hanya menangis mengingat betapa baiknya Mirza padanya. Lelaki itu tidak pernah menuntut balas atas kebaikan yang telah diberikan. Dia hanya ingin melihat adik satu-satunya selalu tersenyum bahagia tanpa kesedihan yang mendera.
"Ma-maaf-in aku, Mas... aku gak pernah bermaksud menghancurkan impian Mas Mirza," ucapannya lirih penuh penyesalan. "aku..."
"Sebaiknya kalian bicarakan masalah kalian berdua secara kekeluargaan di rumah, bukan di muka umum seperti ini. Gak etis juga gak pantes dilihat banyak orang," suara Meella terdengar menginterupsi, menyela Raisya yang sedang berbicara pada Mirza.
Setelahnya dia bergegas pergi meninggalkan semua kekacauan ini. Dan dia tidak mau berlama-lama berada dalam lingkungan dua orang pendosa yang sudah tega menyakiti hati Mitha, saudari kembarnya. Bukan berarti Meella orang suci tanpa dosa. Bisa jadi dosa Meella malah lebih besar dari orang lain. Akibat perbuatan hina yang pernah dilakukannya tapi tidak sengaja. Karena tidak ada manusia yang tidak memiliki dosa dan salah di muka bumi ini. Kecuali Nabi Muhammad saw.
Terlebih dengan keberadaan Mirza yang tiba-tiba. Sungguh membuat Meella kian tidak nyaman. Serta rasa berdosa itu terasa lebih nyata. Meella tidak mau menyakiti Mirza lagi. Tidak hanya rasa berdosa saat tidur bersama lelaki lain. Kendati pernah bertunangan dengannya. Tetapi diam-diam dia sudah membohongi orang lain, termasuk Mirza juga dirinya sendiri.
Meella mengatakan telah membuka hati menerima pria itu menjadi suaminya. Pada kenyataannya pintu hatinya tidak pernah benar-benar terbuka. Hingga sampai detik ini, pikiran dan hatinya hanya dipenuhi oleh Garda dan Garda. Meskipun tidak bersama jiwa dan badannya. Namun Meella selalu merasa Garda akan tetap hidup di sanubarinya, hingga hayat di kandung badan terpisah dari jasadnya.
Mirza segera mengalihkan pandangannya pada gadis yang sangat dirindukannya. Matanya berkaca-kaca dengan tatapan merindu. Bibirnya mengulas senyum kecil, hampir tidak terlihat. Bahagia membuncah di dalam dadanya. Ingin sekali dia berlari ke arahnya, lalu memeluk erat agar tidak mudah terlepas.
Begitu besar rindunya pada Meella sampai tidak dapat menghitung, berapa kali dia membuang waktunya dengan percuma. Mencari keberadaan Meella yang entah dimana. Seakan-akan jejaknya hilang ditelan bumi. Mirza luntang-lantung di jalan seperti orang gila. Merusak diri sendiri dengan mengkonsumsi minuman haram di klub-klub malam yang didatanginya.
Sejak malam itu Mirza tidak lagi bisa bertemu, bertatap muka langsung dengan Meella. Kecuali dalam mimpi hampir di setiap tidurnya. Mirza tidak hanya berpangku tangan mengharap kehadiran Meella.
Sebisa mungkin dia berulang kali berusaha menghubungi Meella via telepon setiap hari. Walau pada akhirnya Mirza menelan kekecewaan akibat nomor yang ditujunya tidak pernah diangkat oleh si empunya nomor.
Tidak berhenti di situ. Mirza pun masih berupaya mengirimkan puluhan pesan singkat dan pesan suara pada nomor yang sama. Lagi, dia kecewa lantaran semua pesannya tidak jua ada satu pun balasan darinya. Bahkan dibaca pun tidak. Hanya ceklis satu. Sampai dia sempat berpikir, mungkinkah Meella sudah mengganti nomor kontaknya?
Langkah Mirza tertatih ingin mendekatkan diri pada orang yang dirindukannya. Tetapi baru dua langkah Meella sudah melangkah menjauhinya dengan sorot dinginnya.
"Meel..." Mirza buru-buru mencekal lengan gadis itu sebelum benar-benar pergi menjauh dan menghilang dari pandangan matanya.
Sontak langkah Meella terhenti mendadak. Menoleh, melihat lengannya yang sudah tercekal oleh pria yang memang sengaja dihindarinya. Dia tidak mau melihat pria itu terluka lebih dalam atas apa yang sudah terjadi. Bukan maksud hati untuk menyakiti. Tapi semua ini sudah suratan takdir dari Yang Maha Kuasa. Meskipun melalui perantara Raisya.
Belum sempat Meella meminta lengannya dilepaskan dari cengkeraman tangan Mirza. Juga pandangannya belum terangkat sempurna. Tiba-tiba Mirza menarik lengan Meella lebih kuat lagi. Sampai tubuh Meella terpelanting dan terjatuh dalam pelukan Mirza.
Grab!
"Meella, tolong jangan pergi lagi, Meel... Aku sangat merindukanmu. Sangat, sangat, sangat rindu kamu. Aku gak mau kita berpisah lagi. Aku gak bisa hidup tanpa kamu di sisi aku," lirihnya setengah berbisik di depan telinga Meella.
Meella terdiam, mematung tanpa bisa berkata-kata.
*
Hai readers... author up lagi nih... 3 hari 3 malam author berpikir keras mau dibawa kemana alur cerita ini supaya bisa nyambung dengan cerita dan ide di otak.
Jangan lupa tinggalkan jejak-jejak manjanya berupa hadiah, vote, like dan komen di bawah ya.
__ADS_1
Episode selanjutnya sedang dalam proses penulisan. Tunggu aja yang sabar ya... 😘