
Hai readers....
Happy reading...
**************************************
Akhirnya orang yang sudah ditunggu-tunggu sejak tadi muncul. Didampingi Pak Ridwan, sosok tampan, tubuh tinggi, kekar dengan kharisma seorang pemimpin muncul dari balik pintu aula.
"Mari kita sambut kedatangan Pak Pandega, selaku CEO baru di perusahaan pusat.
Beliau adalah salah satu lulusan terbaik dari Harvard University, Amerika," begitu kata Mas Fadhlan yang didapuk sebagai MC dadakan.
Sontak mereka semua mengalihkan pandangan ke arah pintu. Mereka benar-benar tersihir dengan sosok pria muda yang sedang berjalan melewati mereka. Senyum menawan dengan lesung pipi yang mempesona. Sambil berjalan mengikuti arahan Pak Ridwan, dia mengangguk seolah sedang menyapu mereka.
Qameella mengangkat wajahnya saat nama 'Pandega' diucapkan oleh Fadhlan. Berharap nama yang didengarnya salah. Tapi jika benar, berharap nama itu bukan Pandega Garda Negara. Mantan suaminya yang telah lama meninggal dunia.
Tetapi, ketika netranya melihat sosok CEO baru itu. Sepasang mata indahnya di balik kacamata minusnya terbeliak kaget.
"Gar-da?!" bisiknya pelan.
Gak mungkin! Qameella menggeleng gelisah.
Di waktu yang bersamaan. Qarmitha bersama ketiga murid perempuannya, setengah berlari masuk ke dalam ruang IGD klinik Mitra Sehat Medika. Tempat kedua muridnya mendapat pertolongan pertama.
Mereka cukup panik saat melihat kedua murid laki-lakinya, dengan wajah bonyok hampir tidak berbentuk.
"Anda walinya?" tanya seseorang dari balik punggung Qarmitha tiba-tiba.
Qarmitha memutar tubuhnya cepat.
"Bukan!" jawabnya singkat.
Mendadak netranya berserobok dengan tatapan pria muda berjas putih. Refleks matanya membeliak kaget dengan kehadiran sosok di hadapannya.
"Re-ga?!" ujar Qarmitha.
Hah?!
Semua murid Qarmitha tampak terkejut melihat sang guru yang ternyata sudah mengenal sang dokter incaran mereka.
"Oh, hai... Mitha?" Rega tampak ragu.
Sudah lama rasanya tidak berjumpa dengan teman-teman SMA-nya. Sejak lulus sekolah, lalu menuntut ilmu di negeri orang. Lalu mulai berkarir di bidangnya. Cukup lama jeda waktu dilalui hingga detik ini. Tetapi untuk gadis satu ini dia masih sangat ingat. Apalagi ada jejak pengalaman yang tidak mengenakkan pada gadis berkostum olahraga itu. Dan dia belum sempat membuat perhitungan dengannya.
Qarmitha tersenyum canggung.
__ADS_1
Setelah mengurus administrasi, tentu saja bukan Qarmitha. Melainkan tata usaha sekolah yang melakukannya. Qarmitha meninggalkan klinik bersama ketiga muridnya.
Berhubung hanya luka ringan, Fakhri dan Rifqi diperbolehkan pulang. Pihak sekolah pun mengizinkan mereka tidak melanjutkan kegiatan belajar mengajar hari ini sampai selesai. Tentu saja setelah mendapat ceramah panjang dari bapak kepala sekolah. Kedua bocah bangor itu memang patut dihukum, karena perbuatan mereka nama baik sekolah bisa tercemar.
Alhasil, Rifqi dan Fakhri di skor selama satu Minggu untuk instrospeksi diri. Juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama dilain hari.
"Bu, kok ibu bisa kenal sih sama dokter ganteng L?" tanya Nia penasaran saat dalam perjalanan kembali ke sekolah.
"Namanya bukan L. Tapi, Rega," sahut Qarmitha meralat ucapan Nia.
"Oh, iya deh. Kok bisa gitu?" desak Nia.
Sementara Sari dan Nailam mengangguk antusias, ingin mendengar penjelasan guru olahraga mereka.
"Bisa lah, kenapa nggak?" jawab Qarmitha cuek.
"Ibu kenal dimana?" kali ini Sari yang buka suara.
"Dulu, sewaktu SMA kami satu sekolah. Yah, maklum lah ibu kan murid populer jadi banyak yang kenal ibu," Qarmitha tampak sangat membanggakan dirinya. Walau pun tidak akrab dengan Rega, setidaknya pernah kenal.
"Masa sih, Bu?" Nailam ikut-ikutan kepo.
"Iya lah... biar gini-gini, ibu dulu atlet basket sekolah lho," Qarmitha menyeringai penuh kebanggaan.
Ketika sudah tiba di sekolah, Qarmitha dan ketiga muridnya langsung memisahkan diri.
"Yah, telat deh," gumamnya setelah melirik jam tangannya. Lalu melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi.
*
Qameella sudah tidak lagi bisa mengontrol dirinya yang mulai hilang kendali. Setelah melihat wajah itu tiba-tiba kepalanya terasa pening. Dan tubuhnya limbung, hilang keseimbangan. Bila dipaksakan tetap bertahan sampai akhir. Dia khawatir akan ambruk. Tentu hal itu membuatnya malu dan hilang muka di depan semua karyawan lain.
Oleh sebab itu, tanpa permisi dia membawa langkahnya pergi. Terseok-seok melewati deretan pagar manusia yang sudah mengisi sebagian besar aula itu. Tidak peduli dengan tatapan penuh selidik orang-orang yang telah dilewatinya. Dia terus berjalan ke belakang.
Dita dan Arien tampak keheranan melihat sikap aneh Qameella. Keduanya tidak sempat bertanya hanya sekedar menanyakan, 'ada apa?' Gadis itu telah pergi begitu tiba-tiba meninggalkan tempat. Tanpa permisi, tanpa sepatah kata.
Niat hati Dita ingin pergi menyusul Qameella. Namun dengan kondisi tengah berbadan dua, rasanya tidak mungkin dia menerobos keluar. Sementara Arien, memilih tidak mau terlalu ikut campur urusan pribadi orang lain. Walau pun dia cukup lama berhubungan dalam satu ruang kerja yang sama. Ternyata dia tidak terlalu akrab dengan Qameella. Canggung rasanya bila tiba-tiba terlihat lebih peduli dari biasanya.
Sulit sekali Qameella bernapas setelah berhasil keluar dari dalam aula. Dia menyandarkan punggungnya kasar pada dinding, lalu menempelkan kepalanya sedikit menengadah. Napasnya begitu berat dan terasa sesak. Sesekali dadanya dipukul sendiri agar dapat mengurangi rasa sesaknya. Tetapi pada kenyataannya tidak berkurang sedikit pun.
Dengan langkah gontai Qameella menyeret kakinya masuk ke dalam toilet wanita yang ada di lantai itu. Menyalakan keran air di westafel. Melepas kacamata minus yang bertengger nyaman di pangkal hidungnya. Meletakkan kacamata itu di sisi kiri westafel.
Sedikit membungkukkan badan dengan kedua tangannya menengadah di bawah air yang mengalir deras. Lalu membasuhkan pada wajahnya kasar. Berulang-ulang hingga beberapa kali. Tidak peduli dengan napasnya yang tersengal-sengal setelahnya.
Kemudian Qameella terdiam dengan wajah tertunduk dalam. Sepasang netra gelapnya tertuju pada westafel putih tulang di bawahnya. Kedua tangannya masing-masing mencengkeram erat ujung tepinya.
__ADS_1
Air dengan bebas meluncur dari ujung hidung dan wajah Qameella yang basah. Dia sengaja belum menyekanya dengan apa pun. Berharap keolengan otaknya luruh bersama buliran air. Tapi sia-sia, karena hal itu tidak memberikan pengaruh apa pun. Terlebih pada hati dan pikirannya.
Entah apa yang terjadi pada dirinya kini. Sungguh dia tidak tahu. Dia hanya sedang berusaha menguatkan hatinya sendiri. Meyakinkan bahwa pemuda itu bukanlah Garda. Garda sudah lama meninggal. Orang yang sudah meninggal tidak mungkin hidup lagi, setelah bertahun-tahun tertimbun tanah.
Tanpa terasa air matanya menetes tidak bisa dibendung lagi. Dalam hati sempat terbersit keinginan untuk mengunjungi makam Garda yang sudah lama tidak didatanginya lantaran sibuk bekerja. Untuk membuktikan bahwa makam suaminya itu masih utuh. Tetapi hanya mengingat wajah pria itu sama persis dengan Garda. Benar-benar membuat otaknya ingin meledak saat itu juga.
Di antara ragu dan rasa penasaran yang kuat. Qameella menyeret langkahnya yang berat mendekati makan sang suami. Kedua tangannya mengerat sebuket bunga Lily putih. Hingga tampak meremas dan hendak menghancurkannya.
Ruang dalam dua rongga dadanya terdengar berdentum, bertalu tidak menentu membuat gadis itu gelisah. Tiba-tiba tertegun melihat gundukan tanah yang sudah tertata rapi dengan ubin keramik di sekitarnya.
Air matanya langsung mengalir, membanjiri pipinya saat netra gelapnya lurus pada batu nisan milik Garda. Namun hatinya terasa ambigu. Ia pun menghambur memeluknya erat. Kemudian menegakkan tubuhnya. Meletakkan bunga yang dibawanya di atas pusara.
"Garda, sayang..." jari lentiknya menyapu permukaan nisan batu berwarna hitam dengan goresan tinta emas, menulis nama Garda.
Setelah membaca doa Qameella mencurahkan isi hatinya pada sang suami. Gadis itu duduk di tepi makan yang sudah di keramik.
"Saya senang kamu berada dalam damai di sana. Terbebas dari ruwetnya urusan dunia yang fana. Tidak seperti saya yang setiap saat berjuang melewati pahit getir dan manisnya hidup. Tanpa kamu di samping saya, membuat saya benar-benar sendirian dan kesepian. Terkadang saya berpikir untuk mengakhiri hidup agar bisa bersama kamu. Tapi kamu selalu datang di setiap mimpi-mimpi saya. Membuat saya selalu merasa kehadiran kamu yang tak kasat mata di sisi saya."
"Sayang, saya rindu, rindu banget sama kamu," tiba-tiba Qameella teringat laki-laki dalam aula tadi. Dan entah mengapa degup jantungnya berdetak begitu cepat.
Qameella tersenyum getir menatap sendu batu nisan itu. Dengan tidak enak hati berkata,
"Sayang, hari ini saya bertemu seseorang. Dan... wajah orang itu sama persis seperti wajah kamu. Jujur saya terkejut, juga sempat mengira dia itu kamu. Tapi kamu gak usah cemburu ya, sayang. Karena cinta dan hati saya udah gak bisa berpaling lagi selain kamu," tuturnya tersenyum. Lalu mendaratkan kepalanya di atas nisan sambil jemarinya terus mengelus lembut.
*
Qarmitha tampak cantik dengan gaun indah pemberian Dicky. Namun agak jengah baginya memakai gaun dengan model dada rendah seperti ini. Di tambah ia merasa agak aneh pada diri sendiri yang selalu tampil tomboi, kini harus terlihat feminim. Apa boleh buat, dia harus terlihat cantik dan anggun saat mendampingi sang calon suami.
"Kamu sangat cantik malam ini, Beb," puji Dicky terpesona.
"Cuma malam ini aja, nih? Jadi, yang kemaren-kemaren aku jelek?" uji Qarmitha mengetes mental cowok tampan itu.
"Cantik dong... kamu selalu terlihat cantik. Berhubung malam ini kamu pakai gaun pemberian aku jadi lebih spesial gitu," sahut Dicky jujur.
"Jadi, yang cantik itu karena gaunnya? aku-nya? atau karena barang pemberiannya?" Qarmitha tampak serius. Sepertinya jengkel karena jawaban Dicky.
"Yah, aku salah ngomong kayanya nih," gumamnya menyesal, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Niat mau memuji dan merayu sang pacar, malah terjebak ucapan sendiri.
Wajah Qarmitha tampak cemberut dengan bibir yang sengaja dikerucutkan ke depan. Kedua tangannya terlipat di depan dada sambil membuang muka ke samping.
Dicky mendengus resah. Bila sudah seperti ini, maka dia harus ekstra keras meluluhkan hati Qameella yang terbilang susah-susah gampang.
*
Sampai di sini dulu ya episode kali ini. See you next episode...😘
__ADS_1