
Hai readers...
🙏🙏🙏Maaf ya, episode kali ini author buat sweet n romantis dulu ya. Tidak sesuai dengan rencana awal yang ingin buat episode berbau bawang. Jadi tisunya disimpen dulu ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan meninggalkan vote, like, hadiah, dan komentar yang bisa membangkitkan mood booster author yang sering turun naik 🤭🤭🤭
See you next episode
Happy reading...
**********************************
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Tamparan keras dilayangkan Andika pada wajah-wajah empat bodyguard suruhannya, sebagai hukuman mereka yang telah lalai menjaga Garda.
Berbagai macam hinaan, cacian mulai dari kata-kata kotor hingga nama-nama hewan satu kebun binatang keluar semua dari mulut bos besar mereka.
"Dasar body guard bodoh, otak udang semua. Hanya menjaga satu orang saja tidak becus. Hanya menang badan besar saja, otak kecil. Bisa-bisanya dikelabui bocah ingusan seperti Garda," hardik Andika pada keempat pria yang berdiri berjajar di depannya. Dengan wajah mereka tertunduk dalam.
"Maaf tuan," sahut mereka kompak.
Andika menghembuskan napas berat. Berusaha menekan emosinya agar tetap terkendali.
"Oke. Sekarang kalian masih saya beri kesempatan terakhir. Jika kalian gagal lagi, siap-siap dengan hukuman yang akan kalian hadapi nantinya. Yang jelas, akan lebih buruk dari ini."
"Terima kasih, tuan."
"Hng. Sekarang tugas kalian adalah mencari Garda sampai ketemu. Dan kalian saya beri waktu hanya sampai besok. Mengerti?"
"Mengerti, tuan."
"Ya sudah, kerjakan sekarang!"
"Baik, tuan." Mereka berempat segera beranjak pergi dari hadapan Andika.
Andika mendengus resah. Mengingat pesta megah yang telah dirancang sesempurna mungkin, hancur seketika dan meninggalkan malu yang teramat besar di depan para tamu undangan. Serta keluarga Fiola.
Di tempat berbeda, Fiola menangis pilu dalam pelukan sang ibu, Susanti. Karena pertunangannya dengan Garda berakhir pada kegagalan, gadis itu sangat kecewa dan malu. Hingga terasa tidak punya muka lagi di depan teman-teman yang telah diundangnya.
Rusli sangat menyesal telah terbujuk rayuan Andika untuk menjodohkan Fiola dengan Garda. Alih-alih menjalin kerjasama yang saling menguntungkan, malah dibuat geram serta menanggung malu.
"Brengsek, si Andika itu!" umpatnya dengan suara tertahan dan penuh penekanan. Kepalan tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.
"Akan aku buat perhitungan untukmu, juga anakmu itu. Karena telah melukai hati anak kesayanganku," janjinya pada diri sendiri.
*
"Sebenarnya tujuan kita mau kemana sih?" tanya Qameella gelisah, masih dalam perjalanan.
"Kita akan ke rumah nenek saya," sahut Garda cepat.
"Ke rumah nenek kamu?" nada suara Qameella terdengar gamang.
"Iya. Di sana kita akan memulai hidup baru."
"Tapi saya..."
"Kamu takut?" tanya Garda langsung menebak isi pikiran Qameella yang tampak risau.
Qameella mengangguk pelan di balik punggung Garda.
Cukup lama dan jauh mereka melakukan perjalanan. Namun masih belum jua tiba di tempat tujuan. Karena rumah nenek Garda sangat jauh dari berada di luar kota. Apalagi letak rumahnya yang berada di pelosok desa. Kian menambah jauh rute perjalanan mereka.
Hari kian larut. Tidak mungkin rasanya Garda meneruskan perjalanan yang baru setengah jalan. Dia pun tidak tega melihat kondisi Qameella yang sedang berupaya menahan kantuknya. Kemudian dia memutuskan menghentikan perjalanan untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah lelah. Kebetulan di tengah perjalanan menjumpai sebuah penginapan sederhana.
Untunglah penginapan itu tidak memiliki persyaratan yang aneh-aneh, atau meminta dokumen tentang status hubungan Garda dan Qameella seperti surat nikah. Walau pun sudah menikah, mereka belum memiliki buku nikah sebagai legalitas hubungan mereka dimata hukum negara dan hukum agama.
Setelah mendapatkan kunci kamar Garda dan Qameella masuk ke dalam kamar yang telah mereka sewa. Lalu Garda menguncinya dari dalam.
Di dalam kamar yang tidak terlalu besar itu, hanya terdapat sebuah tempat tidur ukuran sedang dengan sprei dan sepasang bantal berwarna putih. Juga selimut berwarna coklat susu. Qameella dan Garda duduk bersisian di pinggir tempat tidur.
Keduanya tampak kikuk antara satu sama lain. Degup jantung mereka berdebar tak menentu. Hingga keduanya tidak bisa menutupi kegugupan masing-masing. Padahal mereka sudah lama saling kenal dan dekat satu sama lain. Tetapi kelakuan mereka sudah seperti orang yang baru pertama kali saling bertemu.
Hufth. Aneh, kenapa sama gue ya? Kok bisa sih kaya gini? Pikir Garda merasa konyol sendiri.
__ADS_1
Qameella masih terdiam sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Bi, maaf ya tadi saya rada maksa kamu, supaya mau ikut sama saya," ujar Garda merasa bersalah.
Qameella mengalihkan atensinya pada Garda di sisinya.
"Soalnya..., saya takut kalo kamu gak ikut saya kali ini, kita gak akan bisa ketemu lagi seperti dulu."
Tatapan serius Qameella hanya tertuju pada Garda. Dia masih setia mendengarkan Garda hingga selesai bicara.
"Kamu pasti udah dengar kan tentang masalah pertunangan saya dengan Fiola?" Qameella mengangguk pelan membenarkan. Pendar kesedihan terpancar jelas di matanya.
"Bi," Garda memiringkan tubuhnya seraya memegang kedua bahu Qameella, juga melakukan hal yang sama padanya agar bisa saling berhadapan.
"Plis, percaya sama saya. Kalo itu semua rencananya Papa. Beneran Bi, saya gak bohong," ucap Garda meyakinkan.
Qameella menyentuh punggung tangan Garda lembut, tersenyum tipis.
"Saya percaya sama kamu, Garda," sahutnya namun tidak membuat Garda bahagia.
Cowok itu mendengus kecewa.
"Kenapa? Kamu gak mau saya percaya?" Qameella balik tanya, mengira Garda tidak suka dengan jawabannya.
Garda melepaskan pegangan tangannya pada bahu Qameella.
"Bukan itu," jawabnya lesu.
"Lho? Kalo gitu apa?" tanya Qameella lagi masih tidak mengerti arah kekesalan Garda.
Garda terdiam sejenak, kedua tangannya memegang erat ujung pinggiran tempat tidur yang sedang didudukinya. Kepalanya menoleh pada Qameella masih dengan ekspresi tidak enak dilihat.
"Apa, hm?"
"Kenapa kamu panggil saya Garda?"
"Heh?!" kali ini Qameella yang menunjukkan ekspresi aneh sekaligus kaget. "Jangan aneh deh kamu, Gar. Kaya anak kecil, tahu."
Garda benar-benar kesal dengan Qameella. Lantaran Qameella lupa panggilan sayang padanya. Namun gadis itu tidak sengaja melupakan panggilan yang dibuatnya sendiri untuk Garda.
"Baru beberapa hari gak ketemu udah lupa," Garda merajuk seraya memalingkan wajahnya ke samping.
"Ahhh... saya tahu!" cetusnya menjentikkan jari.
Sontak Garda tersenyum girang. Langsung memfokuskan atensinya pada Qameella.
Dengan senyum cerah Qameella mengulurkan tangan kanannya. Menggerakkan matanya memberi kode pada Garda agar segera membalas jabatan tangannya.
Garda yang tidak peka tentu tidak mengerti hanya menatap bingung tangan dan wajah Qameella secara bergantian.
"Kamu mau apa?"
"Hisss. Nyebelin," desis Qameella kesal karena belum mendapat respon, tangannya sudah pegal terus menggantung di udara. Alhasil dia memaksa Garda untuk menjabat tangannya.
"Gini aja masa gak paham sih?" gerutunya seraya menggerakkan tangannya dan tangan kanan Garda ke atas lalu ke bawah secara bergantian serta seirama.
"Nah, begini baru benar," serunya hanya ditanggapi senyum miring meremehkan oleh Garda.
"Selamat ulang tahun..." imbuhnya penuh semangat. Garda mengernyit.
"Kamu tadi marah karena saya belum ngucapin selamat ulang tahun kan ke kamu? Sori tadi belum sempat, tapi saya gak lupa kok..."
"Humph!" Garda mendengus kesal seraya menarik tangannya dari genggaman Qameella. "masih gak peka," gerutunya.
Qameella tidak mengerti kenapa Garda menjadi sesensitif ini. Seperti cewek yang lagi PMS, Labil!
Tapi Qameella tidak habis akal untuk membujuk Garda. Kemudian dia meminta Garda menunggunya beberapa saat di tempat. Sementara dia pergi meninggalkan kamar penginapan sendiri tanpa bisa dicegah Garda.
"Dasar cewek gak peka! Gue kan cuma pengen denger dia manggil gue pake sebutan waktu itu. Masa dia lupa?" gerutunya sebal.
Garda beranjak berdiri, membuka jas formal yang sedari tadi membalut tubuhnya. Ternyata gerah juga pakai baju beginian. Apalagi di dalam kamar ini pendingin ruangannya tidak sesejuk di rumahnya. Kemudian menggantunnya pada hanger yang ada di dalam lemari di sudut ruangan.
Yah, namanya juga penginapan murah. Duit juga bisa ngomong kali??! Semakin banyak uang yang dikeluarkan, pasti semakin banyak kesenangan yang bisa kita dapatkan. Begitu juga sebaliknya, kalau uang dikeluarkan seadanya, ya terima ala kadarnya, bener gak sih?
Sudah lewat sepuluh menit Qameella belum juga kembali ke kamar.
"Kemana sih dia, katanya cuma sebentar. Kok sampai sekarang belum balik? Jangan-jangan dia kenapa-kenapa lagi?" tiba-tiba Garda merasa khawatir. Tanpa pikir panjang dia langsung menyusul Qameella keluar.
Garda berusaha mencari ke setiap sudut penginapan. Bahkan sempat bertanya pada bagian resepsionis penginapan di lobi. Tidak banyak informasi yang didapatkan. Hanya mengatakan gadis yang dicarinya pergi keluar penginapan dengan terburu-buru.
Mau kemana dia? Katanya cuma sebentar, tapi sampai sekarang belum balik. Batin Garda khawatir. Dia pun memutuskan untuk menyusul Qameella keluar penginapan. Takut terjadi sesuatu pada Qameella. Apalagi saat ini mereka sedang dalam pelarian. Ah, jangan-jangan...
__ADS_1
Garda berlari melewati pintu lobi hingga pintu gerbang penginapan dengan panik. Di luar penginapan pandangannya menyisir ke seluruh penjuru. Hanya ada pedagang kaki lima yang mengisi sisi jalan raya.
Cowok itu tampak frustrasi tidak dapat menemukan bayangan istrinya dimana-mana. Hanya geram sendiri sambil menggaruk kasar kepalanya yang tidak gatal. "Akh!" pekiknya frustrasi.
Garda tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, jika terjadi sesuatu pada Qameella. Atau ada seorang yang berani mengganggu istrinya, maka dia tidak akan segan-segan membunuhnya.
"Kamu ngapain di sini?" Garda membulatkan matanya mendengar suara yang sangat familiar di balik punggungnya.
Dengan cepat dia membalikkan tubuhnya, menghadap orang yang sedari tadi ia cari hingga nyaris putus asa. Tanpa ba-bi-bu menarik tubuh kurus gadis itu masuk dalam pelukannya. Mengecup puncak kepala gadisnya cepat dan mengeratkan pelukannya.
Qameella terkesiap dan tidak memiliki persiapan saat Garda memerlukannya posesif. Dia tidak pernah menyangka akan mendapat perhatian dan perlakuan hangat dari Garda seperti ini. Yang paling mengejutkan adalah kekhawatiran Garda padanya terkesan berlebihan.
"Kamu dari mana aja, hah? Kenapa kamu lama banget baliknya? Dari tadi saya khawatirin kamu, tahu? Saya takut kamu kenapa-kenapa diluar sana," todong Garda dengan memberondong banyak pertanyaan sekaligus. Hingga Qameella bingung harus menjawab dari mana dulu.
"Iya, maaf," cicit Qameella merasa bersalah.
Garda melonggarkan pelukannya. Menurunkan pandangan menatap wajah gadis dalam dekapannya.
"Ta-tadi, saya beli ini," imbuhnya seraya mengangkat plastik putih susu yang dibawanya.
Garda mengalihkan pandangan pada kantong plastik di tangan Qameella.
"Apa?"
Qameella hanya tersenyum simpul. Kemudian mengajak Garda duduk di kursi taman yang ada di samping penginapan tempat mereka menginap malam ini.
Dengan sangat hati-hati Qameella mengeluarkan isi dari kantong plastik yang dibawanya. Garda hanya mengamati setiap gerak gerik Qameella dalam diam.
"Nah, ini... tadi saya beli ini," ujarnya setelah berhasil mengeluarkan barang belanjaannya.
"Tapi maaf, saya gak bisa beliin kamu kue tart, ya karena saya gak bisa nemuin toko bakery di sekitar sini," lanjutnya menyesal.
"Berhubung saya cuma lihat ada toko kecil yang jual donat. Jadinya saya beli ini," menunjukkan lima buah kue berbentuk cincin besar dengan toping beraneka rasa. Ditumpuk membentuk Piramida dan diletakkan di atas piring sterofom. Tidak ketinggalan lilin yang berbentuk angka satu dan delapan di atas donat yang paling atas.
"Walau pun bukan kue ulang tahun beneran, kamu tenang aja. Saya udah beli lilin buat kamu tiup. Semoga kue ini bisa mewakili kue ulang tahun. Dan semoga kamu senang ya, gak uring-uringan kaya tadi ya..."
Garda tersenyum seraya mengacak-acak puncak kepala Qameella. Dengan tatapan haru memeluk tubuh kurus Qameella.
"Makasih, makasih karena kamu mau repot-repot ngerayain ulang tahun saya. Walau pun sederhana, tapi sangat berarti besar untuk saya," ucapnya lirih.
"Sama-sama. Saya juga mau ucapin makasih ke kamu. Karena kamu udah hadir dalam hidup saya. Walau pun kisah kita gak seindah cerita di dalam novel maupun di cerita film atau sinetron. Saya tetap bahagia dan bersyukur karena kamu gak pernah ninggalin saya sendiri," sahut Qameella lirih juga dan hampir menitikkan air mata. Sebelah tangannya mengusap lembut punggung Garda.
Setelah beberapa saat tenggelam dalam rasa haru, sepasang suami-istri remaja itu melepaskan pelukan mereka masing-masing.
"Oiya, saya nyalain lilinnya ya," izin Qameella langsung menyalakan lilin-lilin itu tanpa menunggu jawaban dari Garda.
"Semoga aja angkanya gak salah ya," celotehnya karena tidak tahu pasti usia Garda.
Garda hanya tersenyum seraya mengacak puncak kepala Qameella. Memaklumi jika memang salah. Tapi sebenarnya tidak.
Qameella menyanyikan lagu ulang tahun untuk Garda.
Garda terus menatap manik mata Qameella yang jernih. Senyum cerah ditampilkan sebagai wujud rasa syukur atas karunia Tuhan yang telah memberikan pasangan hidup untuknya. Walau pun terlalu dini menyandang status menikah. Baginya adalah anugerah yang tidak boleh diingkari.
Dalam hati Garda berjanji pada diri sendiri, untuk membahagiakan Qameella. Memberikan yang terbaik demi masa depan bersama. Dan segudang rencana untuk tetap bisa hidup bersama dengan Qameella tanpa harus terpisah lagi. Semoga Tuhan mendengar-Nya. Juga mencatat-Nya dalam buku kehidupan dia dan Qameella.
"Eh, kalo lilinnya saya tiup, entar saya ilang gak?" celoteh Garda sebelum meniup lilin.
"Hah, ilang? Emangnya kenapa?" tanya Qameella penasaran.
Garda terkekeh melihat kepolosan Qameella.
"Kaya babi ngepet gitu. Kan kalo lilinnya ditiup jadi ilang." Qameella memukul bahu Garda kesal karena tertipu. Pasalnya tadi dia sempat berpikir apa yang diucapkan Garda adalah hal sungguhan yang akan terjadi.
"Ih, dasar! Emangnya kamu babi ngepet apa?"
"Ya gak lah!"
"Huh, nyebelin!"
Garda masih terkikis.
"Ya udah cepatan, tiup lilinnya udah pegel nih," pinta Qameella manja.
"Iya, iya."
Garda langsung meniup lilin itu. Lalu mengambil alih piring sterofom yang berisi tumpukan donat di tangan Qameella. Meletakkan di atas kursi di sisi belakangnya. Setelahnya, mengecup kening Qameella lembut.
"Makasih, Bi. I love you," bisiknya sambil memeluk Qameella.
"Love you too."
__ADS_1