Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#2


__ADS_3

Gusti, Maryam, Qarmitha dan Tari sekeluarga pun segera bergerak menuju rumah sakit tempat Qameella di


rawat. Selama dalam perjalanan menuju rumah sakit mereka larut dalam pikiran masing-masing. Tidak ada interaksi yang tercipta di dalamnya. Hanya keheningan dan kebekuan yang menguasai suasana saat ini.


Sesekali terdengar suara isak tangis Maryam memecah keheningan. Tidak ada yang bisa menandingi kesedihan hati seorang ibu seperti Maryam. Ingin protes dengan sikap kaku Gusti saat ini terasa sia-sia. Karena selama ini dia hanya berlaku diam saat melihat Qameella menerima banyak ketidak adilan dari Gusti. Sebagai istri, dia hanya ingin patuh dan taat dengan perintah suami. Hanya manut tidak ingin menjadi istri pembangkang.


Tetapi setelah melihat peristiwa demi peristiwa hingga kecelakaan ini terjadi. Hatinya terkoyak dan luluh lantah tak berbentuk. Andai saja dari awal dia berani membela Qameella, mungkin putrinya tidak perlu kabur bersama Garda. Mungkin kecelakaan ini tidak terjadi. Mungkin saat ini dia bisa melihat senyum ceria Qameella. Senyum


yang telah lama hilang, tidak lagi menghias bibir mungil salah satu putri kembarnya.


Senyum yang dulu pernah hadir saat Qameella berusia balita. Sangat cantik dan manis kala itu. Tetapi senyum itu perlahan memudar setelah Qameella kembali dari kampung, setelah dirawat oleh adik Gusti. Senyum yang memberi napas lega di hati Maryam, berganti trauma yang membuat Qameella selalu takut ditinggalkan. Cukup lama Qameella berusaha melupakan perasaan itu, meski tidak seratus persen hilang. Sesekali perasaan itu muncul bila hatinya tengah kalut.


Maryam baru melihat senyum Qameella kembali saat melihatnya bersama dengan Garda. Cowok yang begitu terang-terangan mengakui telah menikahi Qameella. Entah kapan dimana tidak ada yang tahu.


Maryam, Qarmitha dan Tari serta kedua bapak ibunya segera berjalan cepat mengekori Gusti saat sudah tiba di rumah sakit. Wajah-wajah panik dan gelisah terlihat jelas pada mereka.


Mereka segera masuk dalam ruangan di mana Qameella di rawat secara intensif, setelah sebelumnya mencari informasi di meja resepsionis.


Tangis Maryam akhirnya pecah juga. Melihat tubuh Qameella yang tergolek lemah di atas tempat tidur pasien. Dengan berbalut perban di kepala, tangan dan kaki. Selang dan jarum infus menancap di tangan kirinya, serta selang oksigen yang menempel di lubang hidungnya. Lebih parahnya kini gadis itu tengah koma.


*


Dalam alam bawah sadar Qameella.


Qameella berdiri di tengah hamparan padang rumput yang luas dan rimbun. Sejauh mata memandang tidak ada satu manusia pun di sini kecuali dirinya. Angin berhembus sepoi-sepoi menerpa wajahnya lembut. Rambutnya yang tergerai panjang bergerak bebas oleh hembusan angin. DIbiarkannya ujung-ujung rambutnya menari-nari tanpa irama. Sesekali tangannya bergerak merapikan kekacauan pada rambutnya. Lalu diselipkan di belakang telinganya.


Dimana Garda?


Batinnya gelisah saat menyadari tidak menemukan sosoknya. Seharusnya dia tidak sendirian di tempat asing ini. Seharusnya ada Garda bersamanya. Dia ingat sebelumnya bersama Garda. Cowok itu akan membawanya ke tempat yang akan membuat mereka bahagia. Inikah tempat yang dijanjikannya?


Qameella berjalan membelah rerimbunan rumput yang panjang menjulang hingga nyaris mencapai pinggangnya.


"Garda..." pekiknya membahana memecah keheningan. Namun tidak ada jawaban sama sekali, menandakan adanya makhluk hidup selain dirinya. Hanya gema yang memantulkan teriakannya sampai ke ujung sana.


"Garda..."


"Garda..."


"Garda..."


Masih tidak ada jawaban. Hanya kekosongan dan keheningan yang tercipta setelahnya.


"Kemana sih nih orang? Tega banget ninggalin saya sendirian. Awas aja kalo udah ketemu," rajuknya menahan emosi yang sudah hampir sampai ubun-ubun.

__ADS_1


Kakinya masih terus melangkah tanpa lelah. Tetapi setelah sekian lama berjalan Qameella masih belum bisa menemukan dimana ujung dari tempat ini.


"Huh... hmhh..." Qameella menghembuskan napas lelah. "perasaan saya udah jalan jauh banget deh, tapi kok belum nyampe-nyampe ya?" tanyanya pada diri sendiri heran. Memutar tubuhnya melihat jejak yang telah ditinggalkannya. Dia menaksir sudah sangat jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


"Bi..." tiba-tiba rungunya mendengar teriakan suara Garda dari kejauhan, memanggilnya dengan panggilan khas-nya. Suaranya terdengar menggema hingga menghasilkan bunyi pantul berulang-ulang.


Qameella melempar pandangannya ke seluruh penjuru, mencari sumber suara. Tetapi tidak ada siapa pun. Kemudian dia mempercepat langkahnya di antara rimbunan tanaman berwarna hijau kekuningan itu. Hingga setengah berlari.


Hampir putus asa rasanya saat masih belum bisa menemukan sosok yang dicarinya. Memutar kepala ke kanan dan ke kiri, bahkan membalikkan tubuhnya melihat ke belakang. Tetap saja tidak ada siapa pun di sana selain dirinya seperti layangan putus. Terombang ambing terbawa hembusan angin.


Kini langkahnya telah menuntunnya di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga berwarna-warni. Semerbak mewangi aroma bunga menusuk indra penciumannya. Beberapa ekor kupu-kupu dengan warna yang tidak kalah cantiknya, terbang ke sana ke mari. Menghinggapi bunga-bunga yang bermekaran. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan.


Seulas senyum tersungging di bibir Qameella. Sejenak melupakannya akan sosok yang sedari tadi dicarinya. Setelahnya dia kembali mendengar suara Garda memanggilnya.


"Bi," kali ini terdengar lebih dekat dan sangat jelas. Sontak Qameella membalikkan tubuhnya. Tatapannya bersirobok dengan Garda.


Netra hitam Qameella melebar lalu perlahan berubah sayu dan sendu. Matanya memanas saat air bening membanjiri pelupuk. Dadanya berdesir melihat Garda tersenyum, mencetak dua lesung pipi yang membuatnya terlihat lebih menawan.


Bagaikan pertemuan Adam dan Hawa di Jabal Rahmah. Pertemuan Qameella dan Garda terasa dramatis. Seakan sudah berabad-abad lamanya tidak bertemu. Dan Qameella sangat merindukan Garda.


"Bi," panggil Garda lembut.


Qameella langsung menghambur dalam pelukan Garda. Menumpahkan keluh kesahnya di dada bidang sang suami.


"Kamu kok tega banget biarin saya sendirian di tempat asing kaya begini? Saya kesel sama kamu," rajuknya memukul pelan bahu Garda. Bukannya marah Garda malah tersenyum senang.


"Maaf Bi, bukan mau saya kita berpisah. Saya juga gak mau jauh-jauh dari kamu. Saya mau selalu bersama kamu. Saya mau kita bisa menua bersama. Menikmati hari-hari indah dan bahagia bersama kamu," jawab Garda lembut.


Qameella mengendurkan pelukannya. Mendongakkan wajahnya menatap Garda penuh arti. Lalu mengangkat jari kelingking kanannya.


"Janji?"


"Iya, saya janji," sahuhtnya mengaitkanjari kelingkingnya pada jari kelingking Qameella.


"Benar ya?"


Garda mengangguk mengiyakan.


Qameella tersenyum puas kembali memeluk Garda erat.


"Tapi..." Garda menggantung ucapannya, melonggarkan pelukannya. Kemudian mendorong pelan bahu Qameella, menciptakan jarak di antara mereka.


Qameella mengerutkan keningnya bingung.

__ADS_1


"Tapi untuk saat ini saya pergi dulu. Kita masih belum bisa bersama," ucap Garda lembut namun mengisyaratkan ketegasan.


"Lho, kenapa? Tadi kan kamu bilang, kamu gak mau kita berjauhan. Mau selalu bersama, menua bersama. Tapi kenapa sekarang malah bilang mau pergi?" protesnya marah. Meraih tanggan Garda dan menggenggamnya erat.


"Iya. Tapi memang saya harus pergi sekarang," tukas Garda menepis tangannya dari genggaman Qameella.


"Gak bisa! Kamu gak boleh pergi!" Qameella tidak ingin dibantah. Air mata pun terjun tidak terkira.


Namun Garda tidak mau mengindahkan keinginannya. Cowok itu pergi menjauh meninggalkan dirinya sendiri. Sebelum benar-benar menghilang Garda berbalik dan melambaikan tangan pada Qameella.


"Garda..." Tanpa malu Qameella meraung. Menangis pilu.


"Garda... jangan pergi..." teriak Qameella histeris.


*


Di dalam ruang rawat inap Qameella. Tari duduk di kursi samping tempat tidur Qameella terbaring tidak berdaya. Kondisinya yang masih hidup namun seakan terlihat tidak bernyawa karena masih koma. Sudah satu minggu berlalu tetapi belum ada tanda-tanda Qameella akan siuman.


"Meel... bangun dong, elo jangan tidur mulu. Entar mata lo bengkak lho kalo kebanyak tidur," celoteh Tari seakan sedang berbicara pada Qameella dalam kondisi sadar. Tatapan matanya tidak lepas dari wajah pucat sang sahabat.


"Gue tahu elo kuat. Gue juga tahu elo orang yang tegar. Makanya sekarang elo bangun. Gue kangen sama elo. Walau pun elo bukan orang yang asyik buat becanda. Tapi elo orang yang paling enak dijaiin tempat curhat. Gue juga bisa elo jadiin tempat curhat lo. Yah... walau pun gak sebaik elo," Tari berhenti sejenak menyeka air matanya yang jatuh tidak tertahankan.


"Meel... Meella..." suara Tari bergetar menahan tangis. "maafin gue gak bisa jagain elo dengan baik. Gue tahu elo bakal marah kalo gue ngomong kaya gini sama elo. Elo pasti bilang, 'emangnya gue anak bayi yang musti dijagain. Gue udah gede kali... lagian ada Garda yang bakalan jagain gue selamanya," dia memperagakan seperti Qameella sedang bicara. Lalu tertawa sumbang dengan deraian air mata. Sebisa mungkin dia menahan suara tangisnya agar tidak pecah dan mengganggu istirahan Qameella.


"Meel... gue... gue gak sanggup lihat elo kaya gini. Dan gue lebih gak sanggup lagi kasih kabar ke elo soal Garda. Gue juga gak tahu gimana caranya ngomong ke elo buat nyapeinnya. Gue takut lihat reaksi lo setelah tahu semuanya."


Tiba-tiba dan perlahan jari Qameella bergerak perlahan.


Tari tidak menyadarinya. Gadis itu masih menangis tersedu-sedu. Juga sibuk mengurus air mata dan ingusnya yang keluar bersamaan.


"Meel..." Tari ingin melanjutkan dengan tangan masih sibuk membersihkan air matanya dengan tisu.


"Garda," suara Qameella terdengar lirih dan nyaris tidak terdengar karena mirip suara gumaman. Matanya masih terpejam layaknya orang yang sedang tidur.


Sekali, dua kali, Tari masih belum menyadari. Setelah ketiga kali gadis itu mulai peka. Ada suara lain yang sedang menggumam.


"Garda... jangan pergi..." kali ini suara Qameella terdengar lebih jelas.


Tari pun terbeliak kaget. Kemudian tersenyum bahagia.


"Meel... Meella, el-elo udah sadar?" beranjak berdiri mendekati Qameella. "oya, panggil dokter," gadis itu beranjak keluar memanggil dokter.


Akhirnya Qameella siuman dari tidur panjangnya.

__ADS_1


__ADS_2