
Hai readers... author datang menyapa...
Maaf author kehabisan kuota. Jadi, beli dulu dah...
Happy reading...
***************************************
Qameella menatap telapak tangannya sendiri setelah menampar wajah Garda. Siapa yang mengira akan terjadi hal buruk seperti ini. Tentu tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Juga merupakan pengalaman keduanya menampar wajah orang lain. Dan hal ini membuatnya Dejavu.
Tetapi, mengingat ucapan songong yang telah dilontarkan pria yang masih memalingkan wajah darinya, benar-benar membuat Qameella sesak napas seperti orang asma. Bawaannya geram ingin meninju wajah tampan itu menjadi bonyok tidak berbentuk.
"Saya rasa ini adalah jawaban dari saya atas pertanyaan Bapak barusan," ujarnya sarkas. Berharap ucapannya ini bisa memukulnya lebih sakit dari tamparan tadi. Mungkin ini yang disebut marah dengan cara elegan. May be? But, I don't care about it!
Qameella memperhatikan ekspresi terkejut Garda hingga tertegun seraya menolehkan wajah ke arahnya. Sementara tangan kanannya bergerak slow motion mengusap pipinya yang masih terasa sakit. Kini pandangan mata keduanya saling bertemu.
"Terimakasih atas tuduhan Bapak yang tidak berdasar tadi. Dan saya pastikan pada Bapak, bahwa saya tidak terlibat skandal apa pun dengan orang lain untuk menjebak Bapak. Karena saya yakin, saya juga korban sama seperti Bapak."
Qameella memberanikan diri menunjukkan keangkuhannya. Walau pun pria di depannya adalah anak pemilik Negara's Group, dia berusaha keras pada pendiriannya. Seolah berkata, 'I don't care!' Toh, dia sudah siap bila harus mengundurkan diri.
"Terserah Bapak mau percaya atau tidak, itu urusan Bapak sendiri. Bila Bapak tidak percaya, silahkan selidiki saja. Dan satu lagi, saya pastikan besok pagi surat pengunduran diri saya akan sudah berada di atas meja atasan saya di perusahaan cabang."
Garda speechless.
Qameella langsung melenggang pergi keluar dari kamar VIP, tempat menghabiskan malamnya bersama anak pemilik Negara's Group.
Jebret!!
Suara pintu dibanting.
Sebenarnya Qameella tidak sengaja menutup pintu sekeras itu. Hingga dia kaget sendiri. Tapi apa mau dikata sudah terlanjur terjadi. So, what gitu loh!
Kemudian dia segera beranjak pergi meninggalkan hotel laknat itu dengan perasaan campur aduk. Juga rasa nyeri di inti tubuhnya yang terasa sangat janggal.
Dari kejauhan, berjarak satu pintu kamar hotel, seseorang berdiri di ambang pintu kamar hotel, tempatnya menginap semalam. Memperhatikan Qameella sejak awal keluar pintu.
Dia yang sengaja tidak memunculkan diri, hanya mengintip dari balik kusen pintu, karena belum saatnya dia menunjukkan diri.
Pria itu, tidak lain adalah Ryan alias Keling, terkejut melihat penampilan Qameella yang berantakan, tidak seperti ketika malam tadi. Kemudian netranya tidak sengaja melihat bercak merah keunguan di sekitar leher Qameella, ketika sedang mengibaskan rambutnya kebelakang. Dia pun tersenyum devil. Itu tandanya usahanya berhasil menyatukan sepasang sejoli yang sudah lama terpisah.
Flash back on
Ryan melihat Qameella saat baru tiba di pesta. Namun dia tidak menyapanya karena sedang mengobrol dengan orang lain sambil membahas pekerjaan. Lagi pula Qameella sedang bersama teman kantornya. Khawatir hanya akan menjadi pengganggu kebersamaan mereka.
Dia pun melihat Qameella menangis di sudut ruangan. Entah apa sebabnya dia tidak tahu jelas. Bahkan saat seorang gadis muda menyapa Qameella dengan menyebut nama Mitha. Mengernyit heran bin aneh tentu saja. Hingga sempat berpikir dialah yang salah mengenali orang. Karena penampilan Qameella yang tak berkacamata, ternyata sangat mirip dengan Mitha, saudari kembarnya.
Mitha? Apa iya? Tapi...
Ketika pikirannya masih meneliti Meella atau Mitha, mendadak dia kehilangan jejak.
__ADS_1
Lho, kemana dia pergi?
Buru-buru Ryan mencari Qameella. Lantaran firasatnya tidak enak. Dan benar, dugaannya tidak meleset. Dia melihat dengan mata kepala sendiri, Qameella sedang dibopong dalam keadaan tidak sadarkan diri oleh seorang pria asing menuju sebuah kamar hotel.
Sebagai seorang pria berpengalaman, dia bisa menebak pria yang sedang membopong Qameella bukan pria baik-baik, yang ikhlas begitu saja menolong gadis cantik tanpa pamrih. Tentu saja ada udang dibalik bakwan. Wih, mantep dah kalau dimakan selagi hangat. Maknyuuus!
Ups! Pembahasannya melenceng!
Ryan tidak boleh bergerak gegabah. Dia harus hati-hati dalam bertindak bila ingin menyelamatkan Qameella.
Diam-diam dia membuntuti orang itu dari belakang. Saat sesekali orang itu menoleh ke kanan atau ke kiri, dengan gerakan gelisah dan rasa was-was, khawatir ada orang lain yang membaca gelagat anehnya. Buru-buru Ryan bersembunyi di balik dinding, atau berpura-pura sedang melakukan sesuatu yang membuat orang itu tidak curiga.
"Ini dp buat lo. Ingat, setelah gue terima foto-foto tak senonoh lo sama cewek itu gue terima. Gue janji, bakal transfer sisanya," pria itu mendengar suara seorang wanita di dalam kamar yang dimasuki lelaki tadi yang dibuntutinya dari balik pintu.
"Siaap, elo gak usah khawatir. Gue paling jago untuk masalah ini," kini terdengar suara pria seakan menunjukkan kepongahannya.
"Sialan, rupanya mereka mau nyelakain Meella," gumam Ryan pelan. Dia tampak marah dan ingin segera mendobrak pintu.
"Trus, abis difoto mau diapain lagi cewek ini?"
"Terserah elo mau diapain. Gue gak peduli sama cewek ****** itu. Gue cuma ingin dia hancur," tutur si wanita sinis.
"Bangsat tuh cewek! Ternyata dia mau ngancurin teman gue," si pria di balik pintu geram, setengah berbisik.
Hanya selang lima menit, wanita itu keluar dari kamar dengan senyum jahatnya.
Sebelum wanita itu keluar, sebenarnya Ryan ingin segera bertindak. Namun lebih dulu dicegah oleh Rombeng dan Buchek, yang langsung meluncur setelah mendapat shareloc dari Ryan sebelumnya. Keduanya menyeret Ryan ke sudut koridor, tidak jauh dari kamar hotel yang akan didobrak cowok yang kerap dipanggil Keling itu.
"Emangnya elo mau ngapain barusan? Jangan bilang elo mesum, apalagi mau berbuat anarkis?" tegur Rombeng.
"Sompret lo!" Ryan tampak nyolot.
"Gue paham kalo elo galau. Tapi gak gini juga kali dong...," seloroh Buchek.
"Jangan gila lo, Bro!" Rombeng ikut berceloteh mendorong bahu kiri Ryan hingga hampir menyentuh dinding.
"Elo..."
Tiba-tiba Ryan dan kedua sahabatnya terdiam kompak, ketika wanita jahat lewat di sebelah mereka. Tetapi wanita itu tidak menyadari keberadaan mereka, karena mereka segera membungkam mulut mereka. Juga bersembunyi dengan merapatkan tubuh mereka pada dinding setelah dikodekan Ryan.
"Cepet kita selamatin Meella!" seru Ryan setelah wanita tadi sudah menghilang dari pandangan mereka.
"Apa, Meella? Maksudnya" Buchek meminta penjelasan.
"Ahh, kelamaan! Ayo cepat!" Ryan segera berlari menuju kamar hotel tempatnya menguping tadi.
Buchek dan Rombeng saling beradu pandang. Keduanya tidak mengerti apa yang dimaksud Ryan. Namun tidak bisa mengabaikan seruan Ryan. Kemudian mereka langsung menyusul Ryan yang sudah tidak ada lagi dalam pandangan.
Buchek dan Rombeng panik ketika mendapati Ryan sudah baku hantam dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel. Belum sempat mereka turun tangan pria itu jatuh terkapar di lantai tepat di bawah kaki mereka.
__ADS_1
Sontak Rombeng dan Buchek menundukkan wajah mereka, melihat pria malang yang sudah tidak lagi bergerak. Tetapi bukan mati, hanya pingsan dihajar Ryan.
"Bro, elo apain anak orang?" tanya Rombeng.
"Elo tenang aja. Dia gak sampai mati. Paling pingsan doang. Entar juga bangun," sahut Ryan remeh.
Rombeng dan Buchek speechless.
"Udah, gak usah urusan cecunguk bangsat itu. Mending elo bantu gue," tangan Ryan mengacung pada sosok tidak berdaya yang masih terbaring di atas kasur dengan selimut tebal.
"Mitha?!" Rombeng dan Buchek kompak bersuara.
"Kalian salah, ini Meella bukan Mitha," jawab Ryan mantap.
"What!"
Flash back off
Rombeng menepuk pundak Ryan, membuyarkan semua lamunan pria bertubuh kekar itu.
"Sialan lo! Ngagetin gue aja lo," sungut Ryan, beranjak keluar kamar hotel yang terpaksa disewanya.
"Nah, elo sendiri ngapain di situ? Ngalangin jalan aja lo," Rombeng tidak mau disalahkan.
"Diam lo kampret! Jangan banyak cing cong lo," Ryan bertambah kesal.
"Perasaan elo marah-marah aja lo, Ling? Padahal masih pagi," tegur Buchek heran.
"Lagi PMS kali. Soalnya pacar gue gitu. Kalo lagi datang bulan, bawaannya keseeeeel mulu sama gue. Nih, persis sama kaya Bro kita ini," sindir Rombeng seraya memberi kode dengan menggerakkan bola matanya.
"Aaahh. Pada berisik lo!" bentak Ryan dengan pandangan mata masih terbagi antara melihat kedua sahabatnya, dan Qameella yang sudah tidak tampak lagi di ujung koridor hotel.
"Cepat, ikut gue!" titah Ryan tidak mau dibantah. Dia langsung melenggang pergi mengejar Qameella.
Rombeng dan Buchek tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah Ryan. Keduanya segera berjalan mengekori Ryan yang sudah berjalan jauh di depan mereka.
*
Hampir satu jam Mirza menunggu kepulangan Qameella di depan pintu rumah kontrakannya. Namun masih belum ada tanda-tanda sang kekasih muncul menyambut hangat kedatangannya. Ini hanya halusinasi Mirza. Karena pada kenyataannya Qameella tidak akan melakukan apa pun seperti wanita pada umumnya.
Wanita dingin itu hanya akan menunjukkan ekspresi datar dan monoton. Bahkan senyum saja sangat irit. Hufh... nasib... nasib.
Sebetulnya bukan Mirza yang harus dikasihani. Melainkan kotak makan berisi nasi goreng spesial buatannya sendiri yang sudah dingin. Dan bila sampai tidak termakan tentunya akan mubazir nantinya.
"Kamu di mana sih, Meel?" tanya Mirza pada dirinya sendiri.
*
Sampai disini dulu ya readers, author mau lanjut kerja di dunia nyata. Kalo udah kelar baru kita berjumpa di dunia Maya.
__ADS_1
See you next episode 😁😁