Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
First Kiss (POV QAMEELLA)


__ADS_3

🙋Hai… readers… I come back again…


Ayo, siapa yang belum kasih jejak like n komen yang buat author?


Plis… donk, kasih author like n komen juga vote kalian, supaya karya author bisa punya level n lulus kontrak.


Happy reading ya…


****************************


POV Qameella


Setelah mengungkapkan semua keluh kesah dan mengembalikan kalung pemberian Garda, aku pergi meninggalkannya begitu saja di tengah jalan ramai lalu lintas. Aku tidak tahu mengapa bisa seberani itu mengungkapkan semua unek-unek di hatiku kepadanya.


Entah mengapa aku bisa menjadi cewek yang tidak tahu malu di depan cowok yang selalu menganggap dirinya sebagai suamiku. Padahal aku tidak pernah mengakuinya. Karena terlalu seringnya aku mendengar pengakuannya, aku seperti terdoktrin olehnya. Akhirnya aku mengakuinya walau hanya dalam hati.


Tetapi, kepercayaanku mulai luntur dengan kata-katanya. Aku mulai mempertanyakan apa sebenarnya posisiku di hatinya masih tetap sama atau berubah. Setelah aku menyaksikan dengan kepala mataku sendiri, Garda sering datang setiap jam pulang sekolah ke sekolahku. Sayangnya, cewek yang duduk di jok belakangnya bukan aku, melainkan saudari kembarku, Qarmitha. Apalagi kedua orang itu tanpa rasa berdosanya mengabaikan aku, seakan aku tidak ada di mata mereka. Terutama Qarmitha yang seakan tidak punya hati. Sudah pasti hatiku sakit dan terluka.


Aku merasa menjadi orang yang tidak terlihat di antara Garda dan Qarmitha. Dan aku tidak pernah berusaha bertanya atau mencari tahu penyebab dari semua itu. Yang aku tahu hanya Garda lebih cocok bersama Qarmitha. Saudari kembarku itu orang yang serba bisa dengan prestasi yang diraihnya. Aku dengar Garda pun bukan cowok sembarangan. Dia punya pengaruh yang besar di sekolahnya. Dibandingkan dengan diriku yang tidak memiliki prestasi apa pun yang bisa dibanggakan.


Diam-diam aku menangis di jalan. Aku berusaha tidak mempedulikan orang-orang yang menatapku aneh. Tapi aku malu saat tiba-tiba Tari datang dan melihatku menangis. Untunglah dia tidak banyak bertanya seakan tahu, aku belum bisa berbagi cerita dengannya. Kemudian kami pulang bersama dengan sepeda motor miliknya.


Mendadak di tengah jalan Tari berputar arah. Aku tidak tahu apa sebabnya. Aku tidak focus dengan apa yang diucapkan sahabatku itu. Pikiranku masih mengawang tidak tentu arah.


Aku turun dari jok motor Tari kala tiba di tempat penyewaan lapangan futsal. Lalu mengajakku masuk.


Tanpa banyak bertanya aku hanya mengekorinya. Tari berjalan begitu tergesa seakan takut kehilangan jejak.


Saat aku menjejakkan kaki di dalam, mataku tidak bisa diam. Pandanganku berkeliling mengamati keadaan sekitar. Asing, itulah kata yang terlintas di benakku. Karena aku memang tidak mengenal mereka sama sekali.


Aku memiliki kebiasaan buruk di tempat yang baru aku datangi, yaitu rasa gugup juga takut. Aku berusaha mengenyahkan rasa itu dengan tanganku sibuk memilin tali tasku yang melintang di depan dada. Tentu saja hal itu kulakukan tanpa kusadari.

__ADS_1


“Hei, Tar,” sapa seseorang yang suaranya terdengar sangat familiar di telingaku. Sontak mataku teralih kepada orang itu.


Ah, ya ampun itu Ryan. Bisikku dalam hati.


Aku benar-benar gugup saat menyadari semua yang ada di dalam gedung ini adalah teman-teman Garda. Itu berarti Garda juga ada di sini. Detak jantungku menjadi tidak karuan. Perutku pun terasa melilit ingin segera pulang.


Aku lihat Ryan langsung menghampiri Tari dan mengobrol. Kini posisi keduanya saling berhadapan.


Gue nggak boleh ketahuan! Aku berseru di dalam hati.


Buru-buru aku berpaling menyembunyikan wajahku sendiri agar tidak terlihat. Alih-alih menghindari Ryan, pandanganku malah bertemu dengan sosok Garda. Dia sedang duduk di tribun penonton bersama seorang cewek cantik di sampingnya.


Aku terperanjat kaget dengan mata terbuka lebar. Apa yang aku hindari ternyata ada di dekatku. Segera aku memutar tubuh membelakanginya sebelum dia benar-benar melihatku juga. Namun gerakkanku kurang cepat, Garda sempat menyadari kehadiranku. Sepertinya dia sudah sangat mengenaliku. Dengan cepat Garda beranjak berdiri.


“Mau kemana, Gar?” aku mendengar suara seorang cewek menegurnya bingung.


Garda tidak merespon. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku. Aku panik. Buru-buru aku pamit dengan Tari yang tampak masih berbicara dengan Ryan.


Baru dua langkah kakiku melangkah, tiba-tiba lengan kiriku ada yang mencekal, dan memaksaku menoleh ke belakang.


Sepasang mataku dibalik kacamata minus terbeliak kaget. Semua orang yang ada di sana pun tidak kalah kaget.


Aku merasakan atmosfer ketakutan dan kekhawatiran berbaur menjadi satu di dalam hatiku. Aku takut Garda marah karena masalah di jalan raya tadi. Aku pun takut jika dia sampai berbuat kasar, tidak terima dengan


keputusan yang kuambil secara sepihak. Karena diawal-awal pertemuan kami diwarnai insiden kekerasan. Jadi aku bisa membayangkan kemarahannya bila sampai membuncah. Entah apa yang akan terjadi pada diriku.


Garda!


Tanpa basa basi Garda menarik lenganku begitu kuat, hingga tubuhku limbung dan wajahku membentur dada bidangnya.


Hidungku menangkap aroma maskulin dari tubuh kekarnya. Mengingatkanku saat malam kami dikejar oleh segerombolan orang seusia kami. Sedetik aku terhanyut berada dalam dekapan hangatnya. Ini adalah kali pertama aku berada dalam tanpa jarak dengannya pasca resmi menjadi istrinya.

__ADS_1


Sedetik berikutnya aku tersadar lalu berontak berusaha melepaskan diri darinya. Diluar dugaanku cowok itu malah mengeratkan peluknya.


Mendadak suasana menjadi hening. Semua aktifitas terhenti bersamaan tenggelamnya diriku dalam peluknya lagi. Aku tidak tahu mengapa Garda tiba-tiba begini. Dia kalut.


“Maaf, maafin gue,” bisiknya lirih di telingaku.


“Lepas! Lepasin gue, Garda!” pintaku berontak tanpa mengindahkah permintaan maafnya.


Garda melonggarkan pelukannya. Wajahnya menunduk dan menatap ke arahku yang masih terperangkap dalam peluknya.


Aku tidak bisa mengartikan tatapan matanya. Kemudian aku terkejut saat tangannya terulur lembut membelai puncak kepalaku membuat bulu kudukku merinding. Dadaku berdesir hebat mendapat sentuhan darinya. Degup jantungku mulai tidak bisa dikondisikan.


Lagi-lagi aku tidak mengerti apa maksud dari perbuatannya. Karena aku tidak yakin dia sedang mengungkapkan perasaannya kepadaku. Karena aku sudah memutuskannya entah sudah berapa menit yang lalu. Reflex aku mendogakkan wajah. Pipiku terasa memanas, padahal tidak sedang demam.


Jujur aku katakan dalam hatiku, aku bahagia mendapat perlakuan seperti ini. Perlakuan yang tidak pernah aku dapatkan selama bersamanya kemarin-kemarin. Alasannya sepele, aku terlalu menjaga jarak dengannya. Anehnya Garda tidak pernah protes dengan permintaanku ini. Dia sangat memaklumiku. Hatiku menghangat mengingat setiap momen bersama dia.


Tiba-tiba kewarasanku menguasai otakku. Saat melihat kebersamaan Garda dan Qarmitha tempo hari membuat hatiku berasap pekat, seakan terasa hangus terbakar api cemburu. Kemudian aku berusaha menepis rasa bahagia itu dari dalam hatiku sendiri. Aku pun marah sebagai bentuk protes tidak terima mendapatkan perlakuan seperti ini darinya. Tapi belum sempat bibirku berucap, tiba-tiba Garda membungkam bibir ranumku dengan bibir lembutnya.


Sontak tubuhku membeku. Sepasang mataku terbuka lebar. Ada rasa aneh yang mendadak muncul dan meletup-letup di dua rongga dadadku.


Ada begitu banyak kata-kata seruan yang mendakan keterkejutan, terlontar dari bibir mereka, para penonton gratis dalam siaran langsung itu.


Tari menutup mulutnya yang terbuka lebar. Matanya melebar kaget melihat pertunjukkan di hadapannya.


Garda mencium bibirku dalam, namun aku diam tidak membalasnya.


Ya ampun, ciuman pertama gue!


Aku langsung tersadar, mendorong dada Garda sekuat tenaga hingga ciumannya terlepas dari bibirku. Dengan cepat aku menggosok bibir kasar dengan punggung tangan kiriku, menghapus jejak ciumannya. Rasanya aku tidak sudi bibir perawanku ternoda. Sementara tangan kananku reflex menampar wajah Garda. Aku tertegun dengan perbuatanku sendiri. Tanpa kusadari aku bisa berbuat kasar kepada orang lain. Kutatap telapak tanganku yang terasa berdenyut setelah menampar pipi mulus orang yang pernah kuharapkan kehadirannya untuk mengisi hari-hariku. Setelah itu aku kabur begitu saja sambil menangis.


Setelah berada diluar aku langsung memberhentikan ojek yang kebetulan lewat di jalan. Aku sudah tidak peduli lagi dengan Tari yang mengajakku datang ke tempat itu, atau pun Garda yang sukses merebut ciuman pertamaku. Di benakku bagaimana caranya segera pergi dari hadapan mereka. Aku terlanjur sangat malu menghadapi insiden sore ini.

__ADS_1


“Kebut bang!” seruku dengan suara parau sambil menepuk-nepuk pundak tukang ojek. Aku menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengejarku.


__ADS_2