
Happy reading
Meella berjalan menyusuri lorong untuk pergi meninggalkan rumah sakit seorang diri. Hatinya sedih walau bukan dia sendiri yang mengalami semua penderitaan yang dialami Mitha. Tetap saja rasa bersalah seakan mengubur dirinya dari kenyataan.
Pada saat yang bersamaan. Garda baru saja selesai memarkirkan mobilnya di halaman parkir rumah sakit. Dengan tergesa dia masuk ke dalam untuk melihat kondisi saudara iparnya, Mitha.
Saat sampai di lobi rumah sakit Meella dan Garda berada secara bersamaan. Tapi keduanya tidak saling menyadari keberadaan antara satu sama lain. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, hingga tidak menoleh ke arah kiri maupun kanan. Hanya fokus pada jalan di depan mereka. Apalagi kala itu situasi di depan lobi memang sedikit ramai orang dengan berbagai keperluan masing-masing di sana.
Alhasil, jika Garda ingin segera beranjak masuk mencari ruang rawat Mitha. Maka Meella bergerak keluar melewati pintu lobi.
Setelah mendapat informasi tentang keberadaan dimana ruangan Mitha dirawat via telepon. Garda segera mempercepat langkahnya. Selain ingin melihat kondisi saudara kembar wanita dicintainya. Dia juga punya tujuan utama yaitu menemui kekasih hatinya. Siapa lagi jika bukan Meella.
Sedikit berbasa-basi menanyakan kabar perkembangan Mitha pasca operasi. Garda mulai memberanikan diri untuk menanyakan keberadaan Meella. Pasalnya sejak menjejakkan kakinya di dalam ruangan itu. Netranya sama sekali tidak mendeteksi sinyal keberadaan orang yang dicarinya.
''Meella?'' reaksi bingung Gusti, Maryam dan Karina hampir bersamaan mereka tunjukkan. Lantaran sejak mereka datang di rumah sakit ini, tidak melihat keberadaan gadis itu sama sekali. Kini para orang tua itu sedang duduk di sofa yang ada dalam ruangan inap Mitha.
''Meella memang tadi sempat nemenin aku di depan ruang operasi. Tapi setelah Ayah sama Mama datang, aku gak tahu kemana perginya,'' ini suara Rega, memberi jawaban. Pria itu baru saja kembali dari ruang dokter, menanyakan kondisi istrinya lebih jelas lagi.
''Ja-jadi? Lala...'' Maryam terbata dengan suara lirih. Wajahnya sendu menyiratkan kesedihan mendalam. ''Ayah, berarti tadi Lala ada di rumah sakit ini. Tapi, tapi kenapa...''
''Sudahlah, Ma... jangan sedih gitu,'' hibur Gusti seraya mengelus punggung Maryam lembut. ''mungkin Lala lagi ada urusan mendesak. Jadi, dia pergi buru-buru.''
Maryam hanya mengangguk lesu, berusaha memahami.
''Benar, Mbak. Ucapan mas Gusti ada benarnya,'' Karina yang duduk di sofa tunggal, angkat bicara ikut memenangkan Maryam.
Garda segera berpamitan meninggalkan ruang rawat Mitha. Sebelum pergi dia menitip salam pada Rega untuk Mitha jika sudah siuman nanti. Dia hanya ingin meminta maaf pada perempuan yang kini masih belum sadarkan diri. Karena tunangannya telah mencelakai Mitha. Tidak lupa dia berjanji untuk menegakkan keadilan untuk kakak iparnya.
Gusti sangat geram mendengar pengakuan Garda yang satu itu. Jika tidak takut malu dan mengganggu Mitha yang memang butuh ketenangan. Pria itu ingin menangis sekeras-kerasnya. Menangisi nasib kedua putri kembar kesayangannya yang tidak beruntung. Kendati Mitha lebih beruntung karena bisa menjalani rumah tangga yang normal. Tetapi dia menjadi korban salah culik, dan berakhir ditusuk oleh tunangan Garda. Sementara putrinya yang satu lagi, Meella. Lebih memprihatinkan nasibnya. Sudah banyak penderitaan yang dialaminya. Hingga detik ini belum juga mendapatkan kebahagiaan.
Gusti menatap nanar kepergian Garda. Sampai punggung pemuda itu hilang di balik pintu.
Maryam beranjak dari duduknya. Lalu bergerak menuju brankar dimana Mitha terbaring lemah dengan wajah pucatnya. Dalam hati beribu kata yang dilantunkan dalam doanya. Demi kesembuhan sang putri kesayangannya.
__ADS_1
'Cepatlah sadar, Nak. Kami semua ingin kau cepat sembuh. Dan kita bisa berkumpul kembali seperti dulu,' batin Maryam lirih. Angannya bergerak ke masa lalu, bersamaan dengan tangan yang terulur dan bergerak mengelus sayang kepala Mitha.
*
Hahhh...
Meella menghela napas panjang. Berharap dua rongga dadanya sedikit lebih lega dari sesak yang seakan menghimpitnya. Kemudian bangkit berdiri dari bangku taman rumah sakit. Setelah puas berdiam diri melepas semua pikiran yang berkecamuk hebat dalam otaknya. Walau pada kenyataannya tidak berdampak apa-apa. Karena cuma bengong doang. Alhasil tetap saja pikiran itu tidak bisa hilang dengan mudah. Namun setidaknya dia tidak perlu lelah mengeluarkan air mata. Juga bisa melipir dari keramaian dunia yang tidak disukainya.
Dengan langkah gontainya Meella berjalan ke arah gerbang keluar rumah sakit. Dia berencana akan kembali ke kedainya Tari. Mungkin bila di sana hatinya lebih tenang. Banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di sana. Bukan mengharapkan imbalan, dia hanya butuh pelarian saat ini.
Pengecut! Ya, untuk saat ini anggaplah seperti itu. Meella pun tidak peduli. Selain tidak punya teman selain Tari. Juga tidak punya tempat untuk pulang. Karena selama ini Meella merasa seakan hidup sendiri. Orang tua yang seharusnya menjadi tempatnya mengadu. Bukan lagi menjadi tempat ternyamannya. Sedangkan kekasih, di mata Meella sudah lama mati. Jika pun masih hidup dia hanya orang lain yang menjelma seperti dia.
Grab
Tiba-tiba langkah kaki Meella tertahan saat sepasang tangan memeluknya dari belakang. Nyaris saja dia berteriak sekuat tenaga meminta bantuan, takut menjadi korban tindak pelecehan.
"Jangan takut, ini saya," suara bariton itu berbisik di telinga Meella.
Sontak Meella menolehkan kepalanya ke samping kanan. Matanya langsung terbelalak kaget dengan napas tercekat hingga mulutnya menganga. Bersamaan dengan
Setetes air mata meluncur dari pelupuk mata Meella. Sejuta rasa berbaur bersamaan membuncah begitu saja di dalam dadanya.
Garda melepaskan dekapannya, mundur satu langkah lalu memutar tubuh Meella agar dapat saling berhadapan, juga memandang wajah wanita yang sangat dirindukannya.
Kedua tangan Garda menangkup pipi Meella.
''Terima kasih karena kamu udah menjaga diri kamu sendiri, dan bisa selamat dari segala marabahaya,'' ujarnya penuh syukur, kemudian merengkuh tubuh Meella masuk dalam pelukannya.
Meella hanya mengerutkan keningnya. Agak tidak mengerti arah pembicaraan Garda. Tapi dia enggan menggubrisnya. Dan pasrah saja tubuhnya berada dalam pelukan pria ini. Dia tidak memberontak tidak pula menerima, hanya diam menikmati aroma tubuh Garda yang entah mengapa begitu menenangkan. Tanpa sadar dia mengakui dalam hati bahwa pelukan seperti ini yang dibutuhkannya.
*
Entah sudah berapa lama Mitha terpengaruh oleh obat bius guna keperluan operasi yang dijalani. Kini kelopak matanya perlahan membuka, mulai siuman.
__ADS_1
"Emm... ngehh," Mitha mengerang seraya menggeliatkan tubuhnya perlahan.
Rega yang tengah menatap ke luar jendela. Mendadak mengalihkan pandangannya pada wanita yang berbaring lemah di atas kasur pasien. Setelah mendengar lenguhan dan pergerakan lemah wanita itu.
"Mitha," ujarnya segera beranjak ke samping brankar. Senyumnya mengembang sempurna melihat Mitha akhirnya siuman.
Rega menyentuh sebelah tangan Mitha, menggenggamnya erat seraya duduk di kursi samping tempat tidur.
Kelopak mata Mitha bergerak lambat beberapa kali. Berusaha membuka lebar indra penglihatannya. Menggerakkan kepalanya mengikuti sumber suara.
"Re-ga," suaranya terdengar lirih dan tidak bertenaga.
"Iya, aku di sini, sayang," sahutnya cepat mengecup punggung tangan Mitha. Tatapannya sendu seraya membelai surai hitam sang istri. Saat ini mereka hanya berdua karena Rega sengaja meminta kedua mertua serta Mamanya pulang. Mengingat kondisi fisik para tetua itu yang tidak memungkinkan untuk tetap berjaga di rumah sakit dengan tempat tidak senyaman di rumah sendiri.
"Ada yang sakit?" tanya Rega khawatir.
Mitha tersenyum kecil. Menggelengkan kepalanya pelan seakan mengatakan dia baik-baik saja.
''La-la. Aku ingin ketemu Lala,'' pintanya lemah.
''Lala?'' Rega mengerutkan dahi merasa tidak kenal dengan orang bernama 'Lala' itu.
''Meella. Maksud aku Meella,'' Mitha yang mengerti kebingungan suaminya langsung menjelaskan.
''Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Bisa tolong hubungi Lala? Ah, maksudnya Meella,'' Mitha tidak mau menanyakan kondisi tubuhnya yang baru saja selesai menjalankan operasi. Walau dalam hati ingin. Tapi dia merasa bertemu dengan saudara kembarnya merupakan hal yang lebih penting.
Rega terdiam sejenak. Sedikit terkejut dengan permintaan istrinya. Biasanya setiap orang yang baru siuman apalagi setelah menjalani tindakan operasi, pasti akan menanyakan kondisi dirinya sendiri. Apakah efek dari tindakan tersebut. Atau bertanya seputar kapan diperbolehkan pulang, dan butuh berapa lama akan sembuhnya. Tapi kenapa wanita ini malah menanyakan saudara kembarnya. Ada apa ini sebenarnya?
Awalnya dia khawatir saat Mitha akan bertanya seputar dirinya. Apalagi setelah tahu kenyataan pahit yang seputar fakta yang bisa jadi membuatnya syok.
*
Hai readers... sampai di sini dulu ya ceritanya. Nanti kita sambung dulu di episode selanjutnya.
__ADS_1
See you next episode 😘🥰❤️❤️🙏