
Happy reading
'Misi selesai. Wanita itu sudah terluka. Dan langsung dilarikan ke klinik terdekat. Kemungkinan wanita itu akan cacat seumur hidup.'
'Bagus. Aku akan transfer sisa pembayarannya, sekalian bonus untukmu atas kerja bagusmu hari ini.'
'Terima kasih. Senang sudah bekerja sama dengan anda, nona.'
Si pria misterius itu tersenyum senang seraya menggenggam ponselnya erat. Sebentar lagi dia akan mendapatkan uang banyak dari seseorang yang telah menggunakan tenaganya.
*
Kresh!
''Ah aaaww...," pekik Maryam pelan merasakan sakit pada jari telunjuk kirinya yang teriris pisau. Wanita paruh baya itu sedang mengiris bawang mewah.
"Ada apa, Ma?" tanya Gusti panik. Lelaki tua itu baru saja meletakkan kantong belanjaannya di atas meja makan, bergegas menghampiri istrinya di dapur.
''Gak apa-apa sih, Yah. Jari Mama cuma kepotong pisau aja. Gak gede, kecil doang,'' sahut Maryam bergerak ke arah westafel. Memutar keran air, mencuci jarinya yang luka dengan air mengalir.
Gusti melongok jari istrinya yang terluka. Lalu beranjak ke sudut ruangan, membuka kotak p3k yang menempel di dinding. Dia mencari obat merah dan plester agar lukanya tidak infeksi. Setelahnya membantu sang istri mengobati luka dan menutupnya dengan plester.
''Makanya hati-hati dong, Ma. Kalo pegang pisau yang diiris itu sayurannya bukan jarinya,'' ujar Gusti mengingatkan Maryam.
''Duh... si Ayah. Mama juga tahu kalo yang diiris itu sayuran. Emangnya Mama tentara Jepang, iris jari karena mendapat hukuman harakiri,'' sahut Maryam tidak mau digurui sang suami.
''Hus! Kalo ngomong jangan sembarang, Ma. Lagian harakiri kan hukuman bunuh diri. Bukan potong jari," ungkap Gusti menjelaskan.
"Eh, Mama kira... harakiri itu potong jari kiri. Tapi bunuh diri. Serem juga, ya?" kata Maryam menyadari kesalahannya.
Gusti mengangguk lalu membuang bungkus bekas plester tadi ke tong sampah. Kemudian mengeluarkan semua barang belanjaannya yang berupa sayur mayur dari dalam kantong belanja. Dia dan istrinya sedang menyiapkan barang dagangannya. Mereka akan membuka usahanya jam setengah enam sore.
Kini pasangan suami istri tua itu membuka usahanya di rumah yang baru berjalan selama dua bulan. Menggunakan halaman depan rumah sebagai kios kecil-kecilan mereka. Setelah usaha rumah makannya gulung tikar tiga bulan lalu. Bukan tidak laku. Melainkan sudah tidak sanggup lagi membayar sewa ruko yang digunakan tempat usahanya. Setiap tahun selalu naik dan naik. Ditambah beberapa bulan lalu Gusti sakit. Memerlukan biaya tidak sedikit untuk biaya pengobatan di rumah sakit.
Sebenarnya, gejala kebangkrutan yang dirasakan Gusti sudah lama. Sejak Meella menjalin hubungan dengan Garda. Usaha Gusti kian hari kian merosot. Ditambah membayar biaya rumah sakit pasca kecelakaan yang dialami Meella ketika itu. Tetapi dia masih tetap bertahan meskipun pemasukan dari rumah makannya, tidak sebanding dengan pengeluaran yang harus ditanggungnya.
Kasihan memang sepasang suami istri itu. Di usianya yang tidak lagi muda, masih belum bisa menikmati hidup dengan baik. Gusti tidak mengandalkan uang pemberian Meella yang setiap bulannya selalu masuk dalam rekening pribadinya. Karena dia enggan memakai uang tersebut. Selama dia sendiri masih mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan istrinya. Dia tidak akan mau menyusahkan orang lain. Sekali pun anak kandung sendiri.
"Ayah, kenapa ya perasaan Mama jadi gak enak gini?" tanya Maryam menyentuh dadanya.
"Iyalah, Ma... kamu kan abis kepotong jarinya. Wajarlah, kalo merasa gak enak gitu," Gusti tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya.
"Iya sih... tapi ini rasanya lain, Yah. Bukan sakit karena jari Mama abis kepotong. Ini rasanya di sini yang gak enak," tunjuk Maryam pada jarinya sendiri.
Gusti mendongakkan kepalanya. Melihat ke arah yang ditunjuk istrinya. Pria itu mengernyit bingung. Tidak mengerti apa yang dimaksud wanita itu.
__ADS_1
"Maksud Mama apa? Sakitnya tuh di sini, ya?" Gusti terkekeh setelah memperagakan gerakan istrinya yang menyentuh dada.
"Ih, Ayah. Jangan bercanda deh. Mama serius. Mama khawatir takut terjadi apa-apa dengan Thatha dan Lala, Yah. Gitu!"
Gusti mendadak terdiam mendengar nama kedua putri kembarnya diucapkan istrinya. Wajahnya tampak murung mengingat keduanya yang tidak lagi tinggal bersama di rumah ini. Karena hampir sudah dua Minggu ini Mitha memutuskan tinggal bersama suaminya, Rega, di apartemen. Sedangkan Meella? Anak itu entah apa kabarnya. Sekarang berada di mana. Gusti tidak tahu sama sekali. Entah kapan terakhir mereka bertemu. Gusti pun sudah tidak ingat karena terlalu lama tidak bertemu. Putrinya seakan raib begitu saja tanpa kabar. Kendati uangnya tetap mengalir dalam rekeningnya.
Gusti memang butuh uang untuk tambahan modal usahanya yang mulai ramai. Tapi kalau bisa memilih. Dia ingin bisa tinggal lagi bersama anak itu. Seorang putri yang selalu diabaikan perasaannya. Bahkan terkadang keberadaannya pun hampir tidak diperhatikan. Padahal putrinya yang satu itu selalu berusaha menyenangkan hatinya. Acap kali Gusti kecewa dengan kelakuan nakal Mitha. Maka dialah yang berusaha menghiburnya.
Tapi dia tidak mau peduli. Apalagi Meella tidak bisa mewujudkan impiannya. Egois dan pilih kasih. Itulah Gusti. Entah mengapa dia sangat terobsesi agar Meella bisa mewujudkan impiannya yang tidak bisa digapai saat muda. Sementara pada Mitha, dia menuntut apa pun selain kedisiplinan. Karena putrinya itu terlalu cuek dan tomboi.
Lala, kamu dimana, nak? Maafkan Ayah. Saat ini Ayah kangen sekali denganmu. Kapan kamu pulang ke rumah lagi? batin Gusti berbisik lirih.
''Mama harap mereka semua baik-baik aja ya, Yah,'' doa Maryam memenangkan perasaannya sendiri.
Gusti masih larut dalam pikirannya sendiri. Hingga tidak mendengar apa yang diucapkan istrinya. Namun dia tidak mau mengecewakan istrinya yang mengabaikannya. Maka dia hanya tersenyum saja.
*
''Saya butuh penjelasan kamu,'' todong Garda.
''Kalian sudah menikah? Apa dia pria yang sudah merenggut kesucian kamu, Meel?'' kejar Mirza tidak mau kalah.
Meella menggelengkan kepalanya. Ingin mengenyahkan suara-suara yang terus saja berputar di kepalanya. Dia tidak mau buka suara pada siapa pun seputar hubungannya dengan Mirza. Atau hubungannya dengan Garda yang benar-benar tidak jelas.
Meella sudah menyiapkan surat pengunduran dirinya pada Garda. Dia akan menyerahkan langsung pada CEO nya itu saat kembali masuk kerja. Setelah masa istirahat selama tiga hari selesai akibat Kecelakaan di pabrik.
*
Mitha memanyunkan bibirnya saat menatap keluar jendela dari dalam kamar apartemen yang ditinggalinya bersama Rega. Menatap langit malam yang kelam. Bukan hanya bintang yang bisa ditatap di langit. Tetapi dia bisa melihat lampu-lampu kota, tampak seperti bintang yang bertebaran di bumi. Pada ketinggian yang kalau dikira-kira berapa ya? Mitha tidak tahu jawabannya. Karena dia tidak pernah mengukur dengan meteran. Setinggi apa gedung apartemen ini.
Tinggal di lantai yang angkanya banyak. Hampir setiap hari dia salah lantai atau salah unit, lantaran semua pintu di unit apartemen ini memiliki warna yang sama. Mungkin dia terlalu cuek tidak mau mengingat dengan baik apa saja yang telah dipesankan suaminya. Untungnya hal itu hanya terjadi selama empat hari. Dia terlalu malu nyasar terus di unit orang lain.
Kini dia sedang sendiri. Rega belum pulang. Masih ada operasi katanya di rumah sakit. Dan akan selesai jam sebelas malam nanti. Saat ini dia sedang enggan kemana-mana. Khawatir salah unit bukan lagi jadi alasan. Karena sudah hafal dimana letak unitnya sendiri. Namun lebih pada rasa malas alias mager juga gabut secara bersamaan.
Pasalnya dari setengah hari tadi sampai menjelang sore, Mitha sudah habiskan waktu bersenang-senang bersama ketiga sahabatnya di restoran Sarah. Sebelum pulang pun dia menyempatkan diri mampir ke rumah orang tuanya. Bantu-bantu sebentar ikut merapikan kios dagang Ayah dan Mamanya yang kebetulan sedang ramai pembeli. Juga mengantarkan pesanan pelanggan yang makan di tempat. Serta membantu membungkus makanan bagi pelanggan yang take a way.
''Huh, nyesel gue ikut pindah ke sini. Udah kaya satpam unit aja gue di sini,'' Mitha menghembuskan napas. Kesal sekali tidak memiliki teman di sini.
''Tahu begini, mending gue nginep aja di rumah nyokap. Dari pada gue kesepian begini. Badan gue pada kaku rasanya,'' gerutunya membalikkan badan. Lalu berjalan ke arah kasurnya.
Di atas nakas Mitha melihat ponselnya tergeletak di sana. Dia meraihnya. Namun bingung mau menelepon siapa. Karena dia tidak mungkin menelepon ketiga sahabatnya. Mereka baru saja ketemuan. Telepon Mamanya lebih tidak mungkin lagi. Wanita itu pasti sedang repot melayani pembeli yang sudah antre di kiosnya. Telepon Rega lebih tidak mungkin lagi. Bukan sedang sibuk atau tidak bisa dihubungi. Melainkan Mitha sendiri yang ogah menghubunginya.
''Mending gue telepon Lala aja. Udah lama gue gak denger suaranya,'' cetusnya langsung mencari nomor kontak saudara kembarnya. ''apa kabarnya dia, ya?''
Terdengar suara dering tersambung. Pada dering ketiga barulah sambungannya benar-benar diangkat dari ujung sana.
__ADS_1
''Halo,'' suara datar dan dingin milik Meella menyapa gendang telinga Mitha.
''Ya halo, La,'' sahut Mitha riang.
''Apa kabar lo? Kenapa elo gak hubungin gue sih? Kalo bukan gue yang nelpon elo. Elo gak bakal nelpon gue balik. Apa elo udah lupa sama gue? Satu-satunya saudara elo yang mukanya fotokopian elo banget,'' berondongnya dengan berderet pertanyaan panjang. Seakan tidak butuh jawaban dia memberikan pertanyaan tanpa henti.
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari ujung telepon. Sepertinya Meella terlalu lelah meladeni saudara satu-satunya ini.
''Gue sibuk. Ada banyak pekerjaan yang harus gue kerjain. Setiap hari gue harus ngejar deadline biar gak kena marah bos. Intinya... gue gak ada sempat buat nelpon elo,'' jawab Meella jujur.
''Masa sih setiap hari elo sibuk terus?'' protes Mitha. ''Ya... elo kan bisa nelpon gue di hari libur. Misalnya hari Minggu gitu. Atau pas tanggal merah kan bisa.''
''Gak mungkin kan elo kerja terus,'' lanjutnya setelah sempat menjeda ucapannya dengan suara lemah.
''Maaf.''
Mitha mengerutkan keningnya mendengar satu kata itu.
''Kenapa?''
''Gue terlalu sibuk. Sampai lupa sama keluarga,'' terdengar suara sengau dan agak bergetar di ujung sana. Lalu terdengar suara tarikan ingus dari hidung Meella.
''Elo kenapa?'' tanya Mitha lagi. Entah mengapa dia merasa saudaranya itu sedang tidak baik-baik saja.
''Elo sakit?'' dia mulai khawatir setelah beberapa saat menunggu jawaban. Meella tidak juga buka suara lagi. Dia sampai menjauhkan ponselnya dari telinga. Untuk mengetahui apakah sambungan teleponnya masih terhubung atau tidak.
''La...''
''Ya, gue masih di sini,'' akhirnya suara Meella terdengar di rungu Mitha.
''Gue memang lagi sakit. Gue abis kecelakaan sewaktu meninjau pembangunan pabrik di Bandung. Tapi gue udah gak papa kok. Gue udah dapet perawatan dari klinik terdekat. Jadi, elo gak usah khawatir lagi, ya,'' ungkap Meella agar Mitha tidak mengkhawatirkannya. Sebisa mungkin dia berusaha menahan kesedihannya agar tidak diketahui oleh Mitha. Itu sebabnya dia berkali-kali menghela napas. Suaranya pun agak tersendat.
Sayangnya usaha Meella untuk mengelabuhi Mitha gagal. Karena tangis saudara kembarnya pecah saat sebelum menyelesaikan ucapannya. Dan parahnya suara tangis Mitha membuat telinganya sakit saking kerasnya menangis.
''Gak mungkin gue gak khawatir sama elo, La. Justru gue jadi khawatir banget sekarang. Di sana elo gak punya siapa-siapa. Keluarga elo ada di sini semua," kilah Mitha menangis.
Air mata Mitha sudah seperti air hujan yang jatuh dari langit lalu membanjiri bumi. Alhasil, kedua saudara kembar itu menangis bersama di ujung telepon masing-masing.
***
😭😭😭 ini mungkin ungkapan dua saudara yang saling rindu ya...
See you next episode ya readers...
Jangan lupa jejak manisnya author tunggu ya... 😘🥰🙏
__ADS_1